DI ANTARA DIA

DI ANTARA DIA
Call You Mine


__ADS_3

Dee tidak melepaskan pandangannya kepada Ricchi yang sedang belajar berjalan pada besi panjang dengan di dampingi oleh dua terapis. Langkah tertatih Ricchi bertumpu pada tangan kanan yang dominan dibandingkan tangan kiri yang telah di buka dari gipsnya, aktor itu terlihat kewalahan. Sesekali pria tampan itu menoleh ke arahnya, melemparkan senyuman manis yang dibalas Dee mengacungkan kepalan tangan untuk menyemangati.


"Kamu bisa kak." teriak Dee mengumbar senyuman kepada Ricchi, pria yang 2 bulan lalu mengalami insiden kecelakaan menghancurkan mobil mewahnya. Untungnya saat kejadian naas terjadi Ricchi langsung mendapatkan pertolongan dari orang yang melintas, dan itu terjadi sebelum mobilnya meledak. Terlambat sedikit saja, jutaan fans pria itu akan meraung kehilangan.


Kulit putih Ricchi terpancar dari tempat Dee duduk, walau rambut wajahnya menumbuh yang dibiarkan saja oleh pria itu. Sepanjang Dee mengenal Ricchi, untuk pertama kali ia melihat sang aktor brewokan yang dulunya sangat klimis.


Sementara ada Mike yang telah menunggu dengan alat cukurnya kapan pun sang aktor menginginkan penampilan lamanya kembali, sayangnya Ricchi masih bertahan dengan pendirian. Aktor itu beralasan inilah waktu dia tidak perlu memikirkan penampilannya.


"Mengkhayal apa ?" Sapa Ricchi lembut yang telah berada di samping Dee


Dee terkekeh ringan kemudian merunduk pada Ricchi yang duduk di kursi roda.


"Mengkhayal tentang ini." Dee menarik kumis Ricchi, pria yang menjadi korban tarikan membulatkan mata tak percaya akan kejahilan Dee.


"Sumpah, aku lagi memikirkan brewokmu ini kak. Rambutmu juga sudah bisa diikat." Dee menyeka keringat Ricchi yang membasahi pelipis dan lehernya.


"Sepertinya Kak Mike yang menyuruhmu untuk meluluhkan hatiku Belviyah Dawn Ragala." Ricchi memberenggut pura-pura kesal.


Dee tergelak tawa dalam hati mengiyakan perkataan Ricchi. Mike dan dirinya sedang taruhan, siapa yang akan jadi pemenang mengembalikan Ricchi kepada tampilan aktornya. Dan hadiah yang disiapkan oleh Mike adalah ponsel apel tergigit seri terbaru.


"Tuh kan." Ricchi mengerutkan alisnya, mencari jawaban


"Yuk makan kak, aku lapar." Dee mengalihkan percakapan, wanita berambut panjang itu pun lalu mendorong kursi roda Ricchi meninggalkan ruang terapi.


Seharusnya Ricchi sudah keluar dari rumah sakit, namun aktor itu memilih untuk tetap bertahan menjalani program terapi insentifnya.Jika memikirkan harus bolak-balik kediamannya dan rumah sakit, Ricchi memilih untuk memperpanjang masa inapnya.


Ricchi pun sempat mengemukakan akan mundur selama setahun dari dunia yang membesarkan namanya, semu demi penyembuhan total sekaligus menikmati cuti bermain film.


Dee bisa memikirkan bahwa mungkin saja Ricchi lelah dengan puluhan tahun bermain film di tanah air dan begitu pindah di Los Angeles pun melakukan hal yang sama. Mengejar puncak dunia.


Selepas terapi, keduanya mempunyai rutinitas harian yakni duduk di taman sambil menyantap burger yang di beli di kafetaria rumah sakit. Keduanya akan menghabiskan siang hari dengan berbincang banyak hal, tentang progress terapi Ricchi hingga hal yang terjadi di dunia. Mereka pun lebih dekat dari sebelumnya, mungkin lebih dekat daripada saat keduanya berpacaran.


"Bahkan burger rumah sakit pun lebih enak daripada burger di Indonesia." Gumam Dee menggigit burgernya.


Ricchi tersenyum tipis melirik wanita cantik di sebelahnya, perkataan sama tiap hari didengarnya. Salah satu alasan Ricchi bertahan di tempat berbau obat ini adalah Dee yang sangat menyukai burger rumah sakit.


Dee terlihat menghentikan kunyahannya, lalu berbalik menatap Ricchi, pias.


"Kenapa ?" Ricchi heran melihat mata Dee membulat lalu menyerahkan sisa burgernya. Wanita itu langsung beranjak dengan tergesa ke tempat sampah terdekat dan memuntahkan isi makanannya.


Dengan mata berair Dee menyelesaikan drama muntahannya dan sudah ada Ricchi menjulurkan sebotol mineral water di sebelahnya.


"Aku menjijikkan kak." Ucap Dee dengan hidung memerah lalu meminum air mineralnya.


"Kamu hamil yah Dee ?" Celetuk Ricchi memandang ke wajah Dee, yang menyeka keringatnya di pelipis menggunakan bagian tangan sweaternya.


Mulut Dee membuka dengan mata yang bergerak kiri dan kanan seolah berpikir.


"Hamil ?" tanya balik Dee


Ricchi mengangguk mengiyakan pertanyaan Dee. Wajah wanita yang dicintainya pun sekarang terlihat pucat pasi.


"Kak." Dee kembali berjongkok dengan menggulirkan air mata


"Ayo kita pergi periksa, biar lebih jelas." Ricchi mencondongkan badannya menyentuh tangan Dee untuk berdiri.


...

__ADS_1


Ricchi membuka kontak telepon dari ponsel berwarna rose gold, dengan gampangnya dia menemukan nomer yang hendak dikabarinya.


"Wifey, ada apa ?" Suara Liam terdengar di telinga Ricchi, hanya setelah dua kali bunyi panggilan


"Oh, jadi kamu memanggil kekasihku dengan "wifey" bang ?" Ricchi tertawa kecil


"Ricchi ..., Ada apa ? Mana Dawn ?" Ucap Liam terdengar panik.


"Dee sedang berbicara dengan dokter" Ricchi menyunggingkan senyuman terus melancarkan aksinya


"Ricchi !" Suara Liam meninggi membuat Ricchi tergelak tawa "ada apa dengan istriku"


"Istrimu yang juga kekasihku" tambah Ricchi namun tak di protes oleh Liam


"Bang, kamu bakal jadi ayah, Dee hamil" Ricchi mengucapkan perkataan itu sembari mengarahkan pandangannya pada wanita yang terlihat gugup luar biasa.


"Kamu bercanda kan ?" Suara Liam terdengar bergetar atau mungkin disertai isakan kecil


"Jika kamu tidak mau mengakui dan pulang ke L.A, aku dengan senang hati akan mengurus Dee dan anak yang dikandungnya. Tenang saja bang, aku pasti menyayangi anakmu seperti anak kandungku sendiri."


"Sialan kamu Ricchi. Aku akan pulang, saat ini juga !" Liam mematikan panggilan secara sepihak meninggalkan gelak tawa bagi Ricchi. Ia pun kemudian menggerakkan kursi rodanya mendekat ke samping Dee dan mendengarkan arahan dokter dengan seksama.


Ketika sore tiba sesosok pria jangkung setengah berlari menuju ruangan tempat Ricchi di rawat. Pria yang tak lain adalah Liam yang sedang melayang di atas awan kebahagiaan, ia tak hentinya berdebar kencang selepas mendengar kabar yang meruntuhkan jantungnya.


Dirinya akan menjadi seorang ayah !


"Dawn !" Liam berteriak begitu membuka pintu kamar Ricchi tanpa diawali dengan ketukan.


Dua orang di dalam kamar pun tersentak kaget, Dee yang terbaring mengambil tempat tidur Ricchi, sementara sang aktor bersandar di sofa asyik dengan permainan di ponsel.


"Kak Liam." Dee bangun dari posisi yang dipaksakan Ricchi berapa jam yang lalu.


Ricchi kemudian menggunggah foto mereka ke sosial medianya dengan keterangan kata "ini aku yang jadi obat semprot nyamuk di Hollywood" dan tak lupa menandai pasangan tersebut. Unggahan kedua setelah dirinya mengalami kecelakaan, yang mana unggahan pertamanya adalah foto yang diambil oleh Celestina, mamanya.


"Apa kata dokter, Wifey ?" Liam mengacuhkan keberadaan Ricchi di belakang yang terus berdeham mencari perhatian


"Katanya harus banyak istirahat, bayi kita sudah berusia 6 minggu kak." Dee menjelaskan kepada suaminya dengan singkat. Liam menitikkan air mata bahagia sambil memegang perut Dee. Keduanya yang disibukkan dengan pekerjaan dan menemani Ricchi membuat lupa bahwa hal yang paling dinantikan oleh sepasang suami istri telah mereka dapatkan.


"Terima kasih Dawn, terima kasih sayang." Ucap Liam penuh haru mendekap tubuh istrinya.


"Apakah dokternya masih ada? Aku ingin mendengar langsung penjelasannya"


"Kakak sepertinya tidak yakin." Tawa kecil yang renyah dari Dee membuat Liam tersenyum simpul penuh makna


"Bukan begitu Wifey, aku harus memikirkan ke depannya seperti apa. Mengingat pekerjaanku masih lama di Georgia. Dan tidak mungkin aku meninggalkanmu di sini sendirian."


Dee mendengar keinginan suaminya, ia pun menggangguk kemudian menggeserkan pandangan ke arah sofa, ada Ricchi mengulum senyuman menatapnya.


"Aku tidak apa-apa dek, lagian jika kamu bertahan di Hollywood aku tidak akan mengijinkanmu datang setiap hari seperti sekarang." Ucap Ricchi yang mendengar setiap perkataan kedua orang tersebut.


"Tapi kak ?" Dee beranjak dari tempat tidur di bantu oleh suaminya lalu mendekat ke sofa.


"Kamu lebih penting Dee, nanti ada Kak Mike yang membantuku menjalani terapi. Seperti janjiku dari awal, akan bersungguh-sungguh untuk cepat sembuh seperti semula. Kalian telah banyak berkorban." Ricchi menaikkan pandangannya ke arah Liam, pria yang memiliki Dee.


"Makasih bang." Sambungnya pelan penuh ketulusan, Liam pun mengangguk dan memegang bahu sang aktor.


Dee memandangi secara berganti kedua pria yang mencintainya, walau dengan berat hati ia pun harus mengikuti keinginan suaminya.

__ADS_1


"Dawn, kita periksa lagi. Ricchi. kami sekalian pamit." Liam meremas bahu Ricchi sambil menyungggingkan senyuman tipis.


Berikutnya Ricchi melepas kedua suami istri yang keluar dengan saling bergenggaman tangan.


Sambil menghela napas panjang dia pun meraih tongkatnya dan berjalan menuju tempat tidur.


Ricchi mengusir kehampaan hatinya dengan mengirimkan pesan kepada Mike untuk membelikannya makanan khas Turki, salah satu makanan yang cocok di lidahnya sejak menetap di States.


"Kak !" Dee berdiri di ambang pintu yang tak di sadari kedatangannya oleh Ricchi


"Bukannya kamu sudah pulang dek." Ricchi tersenyum semringah, wanita dicintanya kembali


"Aku belum pamitan dengan Kak Ricchi." Dee mendudukkan badannya di tepian tempat tidur


"Kan tadi sudah." Pendeknya menyahut


Wanita bermata indah itu pun meraih jemari Ricchi dan menggenggamnya.


"Sudah periksa lagi dengan dokter dan katanya aku bisa ikut bersama Kak Liam." Sampai di sini Dee menghela napas pendek lalu memandang manik mata Ricchi yang berwarna coklat


"Berat rasanya meninggalkan kakak dengan kondisi masih seperti ini." ucap Dee lirih


"Tidak." Ricchi menelengkan kepalanya "Jika kita bersama, aku tidak bisa menjagamu dan kamu juga tidak akan kubiarkan menemaniku. Tadi sudah aku katakan ada Kak Mike, papa dan mama juga masih di sini kok. Jadi pergilah sayang."


Dee tertunduk menatap kaki Ricchi lalu menarik bibirnya ke dalam.


"Kakak janji sering-sering menghubungiku, panggilan video, pesan juga. Harus terus mengabari perkembangan kakak. Ya ?"


Ricchi terkekeh ringan lalu mengelus pipi wanita hamil muda itu "Harusnya aku yang mengatakan itu. Ya, aku akan mengganggumu dengan telepon-telepon tidak pentingku."


Kembali Dee menghela napas namun lebih dalam


"Kami akan berangkat besok pagi. Kak Ricchi harus sembuh, telepon aku kapan pun."


"Dee, jangan lupakan aku selama di Georgia." Perasaan kehilangan kembali muncul di hati Ricchi.


"Tidak akan." Dee memeluk Ricchi agak lama


"Saat aku kembali, kakak pasti sudah bisa jalan." Sambung Dee mengurai pelukan


Ricchi mengganggukkan kepala dan lalu tersenyum menyakinkan Dee.


Mereka pun bertatapan lekat "Aku sayang Kak Ricchi."


"Aku lebih dari itu Dee." sahut Ricchi menyunggingkan senyuman mematikannya


"Kalian tidak berniat selingkuh di depanku, bukan? Ayo Dawn, kamu harus istirahat." Ujar Liam yang sedang bersandar pada daun pintu.


Ricchi dan Dee pun terbahak tawa, menolehkan pandangan ke arah pria bermata sipit.


"Sampai ketemu kak." Dee menghadiahi kecupan ringan di pipi Ricchi, kemudian bumil itu beranjak dan melangkahkan kaki ke arah suaminya yang sedang menatap tajam sang aktor yang terkekeh bahagia.


###


aku kok ngerasa chapter ini nyesek tapi bahagia, bahagia tapi nyesek juga.. apa kalian merasakan hal yang sama 🥺


__ADS_1



__ADS_2