DI ANTARA DIA

DI ANTARA DIA
I Love You Till The End Of Time


__ADS_3

Dee menangkup bibirnya dengan mata meloloskan cairan bening dengan deras, Ricchi meraih jemari tangan wanita tersedu itu.


"Ibu.. kenapa ibu menangis?" Tanya Shadow kebingungan sembari menarik ujung dress Dee


Sadar akan kehadiran Shadow, Ricchi melepaskan tangannya dan berjongkok di depan gadis kecil bermanik hitam yang sangat cantik


"Shadow.. sekarang sudah besar yah nak? Pasti sudah lupa dengan papi." Ucap Ricchi menyentuh jemari mungil Shadow, gadis kecil mendongakkan kepala melihat ibunya yang masih terisak kemudian kembali menatap pria asing di depannya.


"Paman siapa?"


"Bukan paman, tapi papi.. yang merawat Shadow sejak kecil."


Mata gadis kecil itu mencari pembenaran kemudian Ricchi menganggukkan kepala.


"Terus kenapa papi baru ketemu sekarang dengan Shadow? Kenapa tidak dari dulu.. papi dan ayah sama yah, bu?" Celoteh anak Dee membuatnya terhibur kemudian ia pun menghapus air matanya dan ikut berjongkok sejajar dengan Ricchi


"Iya.. sama.. Ada ayah dan papi."


"Kenapa papi, harusnya papa.. bu"


Ricchi tertawa kecil lalu meraih tubuh Shadow dan menggendongnya "Anak papi cerewet yah? Mirip siapa?"


"Ayah." Sahut Shadow menjatuhkan kepala di cerukan leher Ricchi. Kembali sang aktor itu terkekeh


Ricchi berjalan dengan Shadow di gendongannya sementara Dee mengikut dari belakang si pria berkaos abu kebesaran dengan kacamata rayban dibiarkan bertengger di atas kepalanya.


"Kau sedang apa, Dee ?" Tanya Ricchi mengedarkan pandangan sekeliling ruang tengah dan terpaku pada dapur di mana bumbu-bumbu yang disiapkan berada di atas island kitchen


"Mau masak, buat makan malam."


"Ya sudah teruskan pekerjaanmu, biar Shadow main denganku. Ya kan nak?"


Dee pun sempat bertatapan dengan Ricchi namun kemudian mengalihkan pandangan tanpa berkata apa-apa dan berjalan ke arah dapur


"Papa.. mainan Shadow di sana." Ucap Shadow menunjuk ke arah samping ruang tengah di mana berbagai boneka berserakan .


"Baiklah.. papa temani main."


Ricchi pun larut dengan celotehan Shadow yang menerangkan semua nama bonekanya, setelah itu mereka berdua berakting memainkan peran dari berbagai macam barbie milik gadis kecil itu. Tak jarang Ricchi mencuri pandang pada wanita yang sibuk dengan masakannya, Dee yang cantik dan menangis begitu melihatnya.


Butuh 2 bulan ia memikirkan pembicaraan terakhirnya dengan Liam, menimbang segalanya secara matang. Ricchi kemudian membulatkan tekad kembali ke Indonesia, berdiri di depan pintu kediaman Liam dan Dee.


Sesaat tadi jelas Ricchi melihat kilatan mata Dee yang sama dengan setahun yang lalu.


Ah Dee.. wanita yang sekarang lebih banyak diam. Menjawab sekenanya, dan menghindari bertatapan muka lama.


Aku salah apa ?


Hampir 60 menit kemudian pria jangkung bermata sipit pun pulang dari kantor, Liam Farubun. Sang ayah penuh kharisma tersebut disambut seruan Shadow, anak gadisnya berlari dan melompat ke pelukan Liam.


"Pantesan kau tidak membalas pesanku lagi, rupanya sibuk bermain dengan Shadow." Ucap Liam melihat Ricchi membereskan boneka barbie gadis kecil yang sangat pintar berlakon.


"Dia tak mau berhenti mementaskan bonekanya, dan aku pun larut dengan drama Melisa, Kathy, Monika, Sabina." Ricchi berdiri setelah menyelesaikan pekerjaan berbenahnya, ia pun menghampiri Liam yang berdiri menguasai ruang tengah dengan dominasi tubuhnya.


"Kau sudah bicara dengan Dee ?" Tanya Liam separuh berbisik, ekor matanya tertuju kepada wanita yang sedang menyiapkan lauk di atas meja makan.


"Shadow mengambil waktuku dan Dee sibuk dengan kegiatan memasaknya."


Liam menganggukkan kepala mengerti dengan ucapan Ricchi.


"Bicaralah setelah makan malam..." Ucap Liam lalu melirik anaknya yang menguap di cerukan lehernya "Shadow, makan dulu baru tidur yah nak." Liam mendapatkan jawaban berupa anggukan lemah dari anak gadisnya.


Suasana makan malam berjalan biasa, hanya Ricchi dan Liam lebih banyak berbicara. Dee sibuk membantu Shadow untuk makan, wanita cantik itu hanya mendengarkan pembicaraan para pria tanpa bermaksud ikut serta terlebih bukan ranahnya.


"Bisakah kita bicara, Dee ?" Tanya Ricchi membantu Dee membereskan meja makan, sementara Liam telah naik ke lantai atas membawa anaknya untuk tidur lebih awal.


"Setelah ini bersih." Ucap Dee sembari mengangkat piring kotor ke kitchen sink


"Biar aku yang mencucinya, sejak tadi kau sudah bekerja, istirahatlah." Ricchi menyerobot di belakang kitchen sink, Dee pun mundur untuk memberikan kesempatan pria itu mengerjakan tugasnya.


"Aku tunggu di kolam renang." Ucap Dee meninggalkan Ricchi, sang aktor pun tersenyum simpul dan menganggukkan kepala.


...


"Buatmu.." Ricchi menyodorkan orange jus yang diambilnya di lemari pendingin, wanita cantik itu pun menerima dengan ucapan terima kasih yang terdengar samar dari bibirnya


Dee pun perlahan menyesap orange jus untuk membasahi kerongkongannya yang mendadak kering karena kehadiran Ricchi. Aktor tampan yang terlihat kurus dan kulitnya memucat kekurangan cahaya matahari.


"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi sore, Dee. Apa kabarmu ?" Tanya Ricchi menopang dagunya menatap lurus ke depan, tepat di wajah Dee.


"Baik, aku selalu baik.."


Senyum mematikan itu pun terbit di bibir Ricchi.


"Kabarku.. hari ini moodku yang terbaik selama setahun belakangan.. bahkan mengalahkan saat aku mendapatkan Emmy Awards sebagai aktor terbaik 7 bulan lalu."


"Selamat kak."


Senyum Ricchi mengembang mendengar kata "Kak" akhirnya keluar dari bibir wanita cantik itu.


"Harusnya kau memberiku ucapan selamat 7 bulan lalu, padahal aku mempostingnya di sosial media."

__ADS_1


Dee menghela napas dalam lalu menatap Ricchi "Kak Ricchi masih bersama dengan wanita yang menemani ke Emmy's?"


"Kami sudah pisah.. tidak cocok. Kenapa malah menanyakan itu, bukan penghargaannya. Apakah kau cemburu, Dee?" sahutnya dengan kecepatan cahaya kilat


Wanita berambut hitam itu mencebikkan bibirnya, Ricchi tergelak tawa


"Aku pikir kakak akan menikah dengan seorang supermodel. Kalian nampak sempurna bersama di layar televisi."


Mata Ricchi membulat lalu kembali tertawa, atmosfer ceria pun hadir se kolam renang, halaman belakang kediaman Farubun.


"Dengarkan yah, sayang. Sekali saja aku mengatakan ini, tolong jangan tanyakan lagi. Dan jangan memaksaku... " Ricchi menghela napas panjang, ia kemudian menaikkan tangan seolah meminta jemari Dee untuk bergabung.


Senyuman merekah membentuk lesung pipi yang dalam terpampang di wajah Ricchi begitu Dee menyatukan tangan mereka.


"Aku memilih untuk tidak menikah, Dee. No complain, sayang. Ini hidupku.. aku yang menentukannya, pernikahan tidak cocok denganku. Aku tidak bisa membayangkan seorang wanita menemaniku seumur hidup, melihatnya tiap hari, membelenggunya dalam ikatan pernikahan dan membelengguku juga."


"Apa karena aku?"


Ricchi mengangguk sembari tersenyum simpul "Hatiku telah kau ambil semua, Belviyah Dawn.. tak tersisa. Jadi untuk apa aku menikah dengan wanita lain yang tidak bisa aku cintai. Aku hanya akan menyakitinya atau siapa pun itu. Toh sekarang hidupku berjalan baik, aku memiliki segalanya."


"Tidak keluarga.." bibir Dee bergetar dan cairan bening meloloskan diri dari pelupuknya "Kak Ricchi, tolong jangan begini.. Kau membuatku makin bersalah, aku pikir kita tidak saling menghubungi membuat kakak bisa beranjak. Jujur aku bahagia melihat kakak dengan supermodel itu."


"Bohong... Sekarang pun aku bisa membaca rasa cemburumu, sayang. Aku punya kalian, keluargaku. Abang, kau dan Shadow." sergahnya


Dee berusaha menarik tangannya namun ditahan oleh Ricchi.


"Kita tidak berkomunikasi tapi saling merindukan, bukan begitu? Kita sedang menyiksa diri."


"Terus Kak Ricchi maunya apa? Aku sudah bahagia dengan Kak Liam."


"Hidup berdekatan, aku ingin melihatmu tiap hari.. hingga aku mati, dan terlahir kembali untuk menagih janjimu yang kemarin." Ucap Ricchi tegas


Tangis Dee pun pecah, dengan sigap Ricchi berdiri dan merengkuh tubuh wanita yang teramat dirindukannya masuk dalam pelukan.


"Wanita bodoh.. kenapa kau menyuruhku menikah dengan wanita lain, sementara kau mencintaiku.. dan aku sangat mencintaimu."


...


10 bulan kemudian..


Pria jangkung bermata sipit menggendong gadis kecil berambut hitam menuju kedai gelato yang sama saat Shadow berada dalam kandungan. Di belakang seorang wanita berjalan sangat pelan dalam rangkulan pria yang mempunyai senyuman khas, sebuah senyuman yang bisa membuat semua fansnya meleleh sekaligus meledak.


"Kau cantik, sayang.. Kehamilan yang sekarang." Ucap Ricchi menyentuh perut Dee yang membesar dan semakin mendekati hari persalinan


"Gombal." Celetuk Liam berbalik melihat keduanya dengan seringaian di bibirnya.


Ricchi terkekeh bahagia, ia pun mengecup pipi wanitanya "Aku tidak pernah menggombalmu."


Liam kembali berbalik menatap malas Ricchi dan Dee yang terkekeh kecil "Kalian itu.. Syukur anak kita yang protes, bagaimana jika paparazzi mengambil foto ciuman tadi.. bertiga akan terkenal dengan kehidupan aneh yang kita jalani."


"Sorry.." ucap Ricchi menaikkan tangannya


Liam mendecih lalu berjalan memasuki kedai gelato langganan mereka


"Shadow mulai nanti malam temani papa tidur yah nak.." bujuk Liam


"Tapi Yah.. Shadow mau tidur dengan adek kalau lahir, bukan dengan papa."


"Nahh.. karena papa nanti yang tidur dengan adek."


Bibir mungil itu lalu membulat seperti donat disertai mata mengerjap indah.


"Baiklah.. Papa, Shadow mau tidur dengan papa.." seru riang Shadow dari balik badan Liam, gadis kecil berusia 3 tahun .


Ricchi mengiyakan perkataan anak gadisnya dengan anggukan kepala lalu melirik penuh cinta kepada wanita yang menatapnya dengan senyuman merekah.


...


Ricchi tidak bisa menahan tangisan begitu perawat menyerahkan bayi mungil berkulit putih ke gendongannya.


"Bersinar seperti matahari " gumam lirih Ricchi memerhatikan bayi mungil itu seksama "Dia mirip aku, bang. Matahariku." Lanjutnya memamerkan kepada pria jangkung yang berkaca-kaca melihat anggota keluarga baru mereka.


"Mirip kau, karena dia anakmu." Ucap Liam mengecup tangan mungil si matahari


"Dari wanita yang aku cintai.." Ricchi masih menjatuhkan air mata bahagia


"Dari istriku.." ucap Liam tak mau kalah


"Delilah Sunshine Maheswara nanti ketemu kakak Ophelia Shadow Farubun." Ucap sang papa lembut penuh kasih.


Bayi mungil itu benar adalah anak Ricchi dengan Dee, bayi hasil inseminasi. Tiga orang dewasa mempunyai pikiran melewati batas kewarasan orang pada umumnya, sepakat mengikat hubungan dengan memberi berkat kepada pria yang tidak menginginkan sebuah pernikahan. Dee sampai jenuh menasehati Ricchi dan pria itu tak bergeming. Namun ketika mendengar usulan inseminasi, Ricchi menangis seharian karena terharu dan bahagia.


...


Ricchi bergerak pelan turun dari tempat tidur berjalan menuju kamar mandi yang melewati walking closet yang cukup besar. Ia pun melakukan ritual membersihkan badan, setelah itu Ricchi mengenakan suit berwarna biru. Ia pun lalu mengambil dua pasang baju dengan ukuran berbeda dan menaruhnya di atas sofa panjang.


Pria yang sukses sebagai penulis, aktor, produser lalu melangkahkan kakinya kembali ke tempat tidur.


"Papa kasih waktu 30 menit untuk bangun dan mandi." Ucap Ricchi membelai kepala satu persatu dua gadis kecil berambut hitam lalu mengecup pipi pualam anak-anaknya.


"Papa tunggu di meja makan." Sambungnya meninggalkan kamar

__ADS_1


Gadis kecil berusia 6 tahun yang pertama mengulet sesaat papanya pergi, sambil mengerjap mata melihat sekeliling yang mulai terang.


"Sunshine...ayo bangun." Shadow menggoyangkan badan adiknya yang masih meringkuk


"Kakak Shadow.. aku malas sekolah." Erang Sunshine


"Ayo bangun." Shadow menarik tangan adiknya dengan paksa dimana gadis kecil berambut pendek itu sengaja memberatkan badannya.


"Besok sudah hari Sabtu, Sunshine.. kita sudah libur sekolah.. Ayo semangat, bertahanlah untuk hari ini" Shadow sudah terbiasa menghadapi sifat adiknya. Ia pun berusaha menuntun Sunshine menuju kamar mandi. Adiknya yang masih menutup mata.


"Kalian terlambat 2 menit, hampir saja papa naik." Seru Ricchi melihat kedua anaknya berjalan saling bergandengan tangan.


"Adek kenapa lagi, Shadow? Malas sekolah ?" Tanya Ricchi melihat wajah Sunshine merenggut dengan bibirnya mengerucut


Shadow naik keatas kursi setelah menganggukkan kepala "Papa.. kalau Sunshine tidak mau sekolah, suruh tidur sama ibu dan ayah saja."


"Papa.... Tidak mau, nanti ibu suruh belajar.. Sunshine tidak mau ke rumah ibu dan ayah kalau tidak ada papa." Seru Sunshine menemukan semangat, wajahnya langsung bersinar seperti matahari yang menerangi bumi


Ricchi tertawa dengan sifat malas sekolah anaknya, replika dirinya saat kecil. Makanya ia menempuh jalan menjadi aktor karena tidak tertarik dengan dunia pendidikan.


"Sarapan dulu yang tenang." Perintah Ricchi kepada kedua anaknya untuk menyantap pancake dengan saos strawberry.


Dengan patuh Shadow dan Sunshine menghabiskan menu sarapannya tanpa bersuara.


"Sana pamit dulu dengan ayah dan ibu." Ricchi melihat anak-anaknya mereguk tak bersisa susu dari gelas masing-masing.


Pekikan riang melesat keluar dari pintu depan, sementara ia mengambil tas kerjanya beserta kunci mobil.


"Shadow Sunshine tidak usah lari-lari, nanti jatuh." Liam menghampiri dua anak gadisnya yang berlarian dari rumah sebelah. Rumah Ricchi yang berjarak 20 meter dari rumahnya, dua rumah yang berada di pinggiran L.A.


"Ayah.. bekal hari ini nasi goreng, kan? Ayah tidak lupa kan untuk kasih 2 telur mata sapi." Ucap Sunshine memeluk Liam dan mengecup pipi ayahnya


"Ayah tidak lupa Sunshine.."


Shadow yang tersenyum riang mengecup pipi ibunya.


"I love you ibu" Shadow mengalunkan tangannya di leher Dee


"I love you too, Shadow."


"Ibu.. Sunshine juga mau peluk." Rajuk gadis berpipi menggemaskan untuk dicubit itu pun bergabung dalam pelukan bertiga.


"Papa sudah menunggu.. bekalnya." Liam mengingatkan sambil memasukkan satu persatu tempat makanan ke dalam ransel dengan warna berbeda milik kedua anaknya.


"Hop hop!" Teriak Ricchi yang sudah membuka pintu geser mobilnya, kendaraan yang telah menunggu di depan rumah Liam.


"Yes Sir !" Balas teriak kedua anak gadis kecil sambil memberi hormat kepada Ricchi, lalu berlarian dengan tawa riang sambil bergenggaman tangan.


"Sama ayah dan ibu mana salamnya." Ucap Ricchi sesaat Shadow dan Sunshine yang hendak naik ke dalam mobil.


Kedua gadis kecil itu pun menarik sebelah kakinya ke belakang, kedua tangannya memegang rok lalu menundukkan kepala, ala Princess. Liam dan Dee pun tertawa melihat kelakuan anak-anaknya yang pastinya Ricchi-lah yang mengajarkan hal seperti itu.


"Sampai nanti ibu ayah." Seru riang Shadow dan Sunshine melesak naik ke bangku mobil.


Liam yang menggenggam jemari istrinya, melambaikan tangan.


"Sampai nanti, sayang.." teriak Ricchi mengirimkan ciuman kepada Dee yang ditangkap Liam kemudian diparodikan dengan menginjak-injak ciuman tersebut.


Liam menyeringai, Ricchi tergelak tawa.


Dee menaikkan jempol dan telunjuk lalu menyilangkannya. Tanda cinta.


"Yess !" Pekik bahagia Ricchi kemudian naik di belakang kemudi.


"Seatbelt sudah terpasang?" Pria bermanik coklat itu menoleh memastikan anak-anaknya telah memasang tali pengaman kendaraan.


"Sudah pa, ayo kita berangkat !" Seru riang Shadow dan Sunshine bersamaan.


###


Ophelia Shadow Farubun



Delilah Sunshine Maheswara



sang papa



ayah



Apakah Tamat ? 🤭 Author yang kejam, menyimpan Ricchi tetap single tapi punya anak 2..


author pernah punya pemikiran seperti Ricchi..


buat apa menikah..

__ADS_1


😂


__ADS_2