
Dee sedang mengajar Shadow mengerjakan tugas dari sekolahnya, sementara pemilik pipi yang menggemaskan memilih duduk di pangkuan ibunya. Sang matahari mengikuti pergerakan Dee dan Shadow seolah-olah gadis kecil itu mengerti padahal matanya sudah meredup berkali-kali namun ditahannya.
"Sunshine mengantuk?" Tanya Dee lembut kepada anak bungsunya, ia melihat manik coklat seperti milik Ricchi mengerjap dan membulatkannya
"Ibu... Sunshine mengantuk kalau belajar." Sahutnya merajuk maksimal, ucapan gadis kecil itu terdengar oleh Ricchi dan Liam yang sedang membahas project film yang akan mereka kerjakan. Kedua pria dewasa tersebut langsung tergelak tawa yang keras.
"Tapi kan yang belajar kakak Shadow, bukan Sunshine." Dee mengelus rambut anaknya yang sedang merebahkan kepala di dadanya.
"Ibu.. kita main saja. Kak Shadow sudah belajarnya? Ayo main."
Shadow memajukan bibirnya lalu menusuk pinggang adiknya dengan pensil.
"Sebentar lagi anak manja. Ayah, kata Sunshine mau tidur di sini." Seru Shadow melapor kepada Liam, pria bermata sipit itu mengarahkan pandangan pada anak gadisnya yang mengintip dari balik bahu Dee
"Tidak benar, ayah. Sunshine di sebelah saja bobonya sama papa." Sergah gadis berpipi empuk itu sembari berteriak
Shadow dan Dee tertawa kecil melihat Sunshine jadi melupakan kantuknya. Gadis kecil itu beranjak berjalan menuju kedua pria kesayangannya.
"Ayah." Ucap Sunshine naik keatas paha Liam menyela diskusi para pria.
Ricchi hanya bisa terkekeh melihat perilaku Sunshine, gadis kecil itu mewarisi sifatnya, minat rendah dalam belajar dan suka menganggu orang lain dengan tingkah manjanya.
"Ada apa, Sunshine?" Ucap Liam menyerahkan ipadnya kepada Ricchi yang duduk di sebelah.
"Ayah.. apakah sekolah itu wajib? Kenapa tidak sekolahnya siang saja, bukan pagi. Atau sekolahnya di rumah." Ucap gadis kecil itu mencurahkan isi hati
Liam terkekeh melirik pada Ricchi yang kelihatannya acuh namun melipat bibirnya menahan tawa.
"Jika anakmu saja seperti ini, aku tidak bisa membayangnya papa dan mama saat kau masih kecil, Ricchi."
"Aku bersembunyi di bawah tempat tidur, di lemari karena tidak mau sekolah." Sahut Ricchi terbahak tawa mengingat masa lalunya yang memalukan tersebut.
Masih dengan tawa ringan Liam memandang ke arah Sunshine yang mengerucutkan bibir karena menanti lama jawaban dari ayahnya.
"Sekolah itu wajib, Sunshine. Bukan untuk pintar, tapi untuk berteman. Kalau Sunshine di rumah saja nanti temannya siapa ? Burung ? Kura-kura peliharaan Kakak Shadow? Karena Kakak Shadow pasti pergi sekolah, ayah dan papa pergi kerja. Ibu juga kadang ikut dengan ayah ke kantor. Terus Sunshine mau sendiri jaga rumah?" Ucap Liam memberikan penjelasan yang bisa ditelaah gadis kecilnya yang menatap dengan mata membulat.
Perlu berapa detik Sunshine mencerna perkataan Liam dan kemudian gadis kecil itu menggelengkan kepala dengan keras.
"Iya.. Sunshine mau sekolah." Ucapnya dengan nada lemah
"Nanti kalau sudah ulang tahun ke 18 baru boleh memilih sekolah atau mau jadi artis, kayak papa." Liam menangkup pipi bakpao milik Sunshine
Anak kecil itu menautkan alisnya seolah berpikir kemudian bersorak kegirangan, Sunshine pun turun dari pangkuan Liam dan kembali ke tempat Dee, bergelayut pada leher ibunya.
Ricchi menarik napas panjang menatap anaknya "Dia sepertinya berbakat di jalanku, bang. Tapi aku tidak berani melepaskan Sunshine menjadi artis terkenal, kita lihat sendiri kebanyakan artis cilik di Hollywood tidak sedikit yang masa remajanya hancur, drugs, kecanduan minuman keras, kemudian yang terus-terusan diberitakan kehidupan pribadinya. Aku ingin dia bisa kuliah, seperti Dee."
Liam menatap ke arah Sunshine yang sedemikian ceria bercanda dengan Dee dan menggoda kakaknya.
"Kau masih terlalu dini untuk memikirkan itu, Ricchi. Dia masih 3 tahun setengah, sekolah pun masih preschool."
"Dee.. kau ngidam apa sih waktu hamil Sunshine ?" Ucap Ricchi
Wanita cantik berambut panjang itu berbalik menatap Ricchi dengan wajah merenggut "Kakak tahu sendiri kok, kenapa bertanya lagi."
Dee kembali terfokus pada Shadow yang telaten belajar sementara si pengganggu sedang memainkan rambut ibunya.
"Sunshine masih bisa berubah, kita ada waktu untuk membimbingnya. Sementara ada Dawn mengajar anaknya, dia ibu yang sangat sabar. Tidakkah kau melihat perubahan besar Dawn setelah melahirkan Sunshine?"
Ricchi menganggukkan kepala "Makin tenang, sifat keibuannya sangat tinggi. Dulu dia bisa berbicara lantang mengeluarkan isi kepalanya. Sekarang hidupnya hanya terisi dengan Shadow dan Sunshine, tidak membantah apa pun yang kita pinta. Bang, apa Dee tertekan dengan kehidupan yang dijalaninya? Apa kita membuatnya tertekan ?" Wajah tampan Ricchi mendadak pias
Liam menoleh menatap Ricchi, keduanya saling berpandangan penuh makna.
...
__ADS_1
Dee berjalan dengan hati-hati karena di tangannya sedang membawa sepanci sup daging ke rumah sebelah. Ricchi mengatakan sedang sibuk menulis, sementara kedua anaknya tertidur hingga pria itu tidak bisa ke sebelah untuk makan siang bersama.
"Kak.." panggil Dee sembari menaruh panci anti lengket tersebut di atas kompor. Wanita yang mengenakan t-shirt berwarna abu dan celana kulot putih tulang menaiki tangga menuju ruang kerja Ricchi yang bersebelahan dengan kamar tidur utama.
"Kak." Panggil Dee lagi setelah melihat Ricchi sedang fokus dengan macbooknya
"Ya.." sahut Ricchi tanpa berbalik, Dee pun mendudukkan badannya pada sofa berbahan kulit. Ia sangat tahu ketika Ricchi menulis, pria itu tidak bisa diganggu.
Sang aktor itu pun selalu mengambil kesempatan menulis ketika Shadow dan Sunshine tertidur, Dee kadang heran melihat Ricchi bangun pagi teratur mengurus kedua anaknya lalu mengantarnya ke sekolah.
Sembari menunggu Dee melayangkan pandangannya pada ruangan kerja Ricchi, tidak terlalu banyak perabotan sangat minimalis yang pastinya di dominasi warna oleh hitam dan coklat.
Mata Dee terpaku pada kotak kecil berbahan beledu berwarna hijau di rak belakang kursi kerja Ricchi.
Perlahan Dee berjalan dan meraih kotak tersebut, ia hampir terpekik melihat isinya. Sebuah cincin berlian berbentuk hati berwarna rose gold yang sangat indah.
"Kak Ricchi, mau melamar siapa ?" Tanya Dee tidak bisa menahan diri untuk mengetahui gadis beruntung yang akan memiliki cincin tersebut
Ricchi menaikkan pandangannya menatap lekat pada Dee kemudian kembali pada laptopnya "Itu buatmu" ucapnya pelan
"Hah ?"
Ricchi menghentikan pekerjaannya lalu memutar kursi tempatnya duduk ke arah Dee yang sedang berdiri "Ya, itu untukmu, sayang. Sini aku pasangkan." Pria beralis melengkung indah meraih kotak cincin dari tangan Dee lalu memasangkannya pada jemari manis wanita yang sedang menggigit bibir bawahnya.
"Hanya kamu, Dee. Tidak akan ada yang lain." Ucap Ricchi mengecup punggung jemari tangan kanan tempat cincin yang dipasangkannya, sementara tangan kiri wanita cantik itu melingkar cincin pertunangan dan pernikahan Dee dengan Liam.
...
Liam sedang duduk di meja makan hendak menyantap menu lunch yang sangat menggiurkan namun pandangan matanya kemudian tertuju pada kilauan cincin di jemari kiri istrinya.
"Dawn, kapan kau beli cincin? Modelnya cantik." Ucap Liam tersenyum tipis mulai menyendok nasinya
Dee menatap lurus ke arah Liam sembari tersenyum lebar "Di kasih Kak Ricchi, aku pikir buat melamar seseorang ternyata buatku, kak."
Liam tersedak dan langsung meraih gelas berisi air minum lalu menenggaknya dengan buru-buru.
"Hei Ricchi... Ke pintumu cepat. Aku mau bicara."
"Apa sih bang." Ricchi terdengar malas mengangkat teleponnya
Tak lama pria menggunakan t-shirt biru kebesaran dan celana jogger abu muncul dari balik pintu rumahnya.
"Apa maksudmu melamar istriku sementara aku masih hidup. Kau mendoakan aku mati ?" Geram Liam di telepon sementara melihat Ricchi yang tergelak tawa keras
"Selamat ulang tahun, bang yang ke 40."
"Sialan kau Ricchi, bahkan ulang tahunku masih 3 hari lagi dan kau telah membuat jantungku seperti mau copot."
Ricchi makin tertawa keras, sebenarnya mereka tidak perlu saling menelepon karena suara keduanya bisa terdengar jelas dengan jarak sedekat itu.
"Sebuah peringatan buat abang agar menjaga kesehatan, jika tidak Dee bakal jadi milikku."
Liam mengacungkan jari tengah ke arah Ricchi dan pria tampan itu makin terbahak tawa yang keras.
"40 tahun usia yang sangat matang dan sempurnanya seorang pria. Aku bahkan masih bisa menambah adik buat Sunshine. Seorang anak laki-laki sepertinya akan melengkapi keluarga kita." Ucap Liam memasang seringaian di wajahnya
"Abang !" Pekik Ricchi dibalas lambaian tangan oleh Liam disertai panggilan telepon yang terputus
...
Liam merengkuh tubuh istrinya dalam pelukan hangat, wanita yang tidak pernah mengeluh dengan dua anak yang mempunyai karakter yang sangat berbeda sementara dua pria dewasa menjadi teman hidupnya, luar biasa banyak aturan dan celotehan.
"Hari ini sangat melelahkanmu yah Wifey ?" tanya Liam sembari membelai kepala istrinya yang beraroma jeruk berpadu dengan mint
"Tidak ayah.. Hanya menemani Shadow dan Sunshine main tidak membuatku capek." Sahut Dee sembari memejamkan mata
"Tapi kau juga memasak banyak, Ricchi pun sibuk menulis. Aku juga sibuk. Butuh pembantukah kita ?"
__ADS_1
Dee mengembuskan napasnya pelan lalu menggelengkan kepala "Siapa juga yang mau bekerja di tempat seperti ini tiap hari kak, ke kota berjarak 4 kilometer dan memasuki hutan."
"Atau kau ingin kembali ke kota L.A." ucap Liam kemudian memagut bibir indah milik istrinya, ia baru saja hendak memperdalam pagutannya namun terdengar suara nyaring dari depan pintu
"Ibu ayah... Ibu ayah..." Teriakan kompak Shadow dan Sunshine membuat Liam sontak terbangun membukakan pintu kamar
"Ayah." Seru Shadow dan Sunshine memeluk kaki Liam dan mendongakkan kepala menatap ayahnya memasang wajah merajuknya
"Ayah... Kata papa, malam ini kami bisa bobo dengan ibu. Boleh kan, Yah?" Pinta kedua anaknya yang mengenakan piyama bermodel sama
Liam menganggukkan kepala kepada Shadow dan Sunshine kemudian mengalihkan pandangannya ke arah pria tampan yang sedang terkekeh jahat.
Dua gadis kecil itu pun bersorak kegirangan dan menghambur keatas tempat tidur.
"Dasar pengganggu." Liam mendesis ketika Ricchi menerobos ikut masuk ke kamar tidur. Pria yang mengenakan piyama bermotif kartun seperti halnya Shadow dan Sunshine membuka lemari dan meraih kasur tipis lalu melebarkannya di samping tempat tidur.
Dee tidak mengeluarkan protes, justru wanita itu terlihat menikmati momen kedua anaknya memeluk posesif pada tubuhnya.
Liam meraih bantal dan ikut berbaring di sebelah Ricchi, bagi mereka bertiga ini bukan kali pertama. Jauh sebelum itu ketika Sunshine lahir, mereka bergantian mengurus bayi kecil menggemaskan tersebut dalam kamar yang sama.
"Aku sedang bercerita dengan Dee dan kalian datang mengganggu." Liam melipat tangannya sembari memejamkan mata
Ricchi berdecih tidak mempercayai ucapan pria di sebelahnya "Bicara atau bermesraan. Ingat perjanjiannya bang, cukup dua anak."
"Iya.. aku mengingatnya, Ricchi. Dasar ! Aku juga tidak menginginkan Dawn masuk rumah sakit bersalin lagi."
Wanita yang disebut namanya hanya bisa tersenyum simpul mendengar pembicaraan kedua pria tersebut.
"Aku tadi mengusulkan untuk tinggal di kota dengan Dee, jika kalian berdua setuju mungkin sebaiknya kita kembali menetap di peradaban."
Kemudian hening tercipta dilengkapi oleh kegelapan kamar yang hanya sinar bulan yang masuk di sela jendela membuat kedua gadis kecil telah terlelap dalam damai sebuah pelukan ibu. Sementara dua pria dewasa sedang sibuk dengan argumentasi dalam pikiran masing-masing.
"Kita menunggu Shadow masuk sekolah dasar, sisa 5 bulan lagi bang. Pas kindergartennya kelar, dan kita memilihkan sekolah terbaik yang tidak terlalu jauh dari rumah." Ucap Ricchi memecah keheningan
"Bagaimana dengan kedua rumah ini? Aku memikirkan jika kita pindah dan rumah ini akan tidak terawat."
"Sewakan saja.." sahut Ricchi santai "Bukannya banyak kalangan aktor yang menginginkan ketenangan dengan menepi."
Liam tertawa kecil "Bukannya itu kau yang dulu, ingin menyepi mencari ketenangan."
"Itu dulu, bang. Sebelum aku memiliki Shadow dan Sunshine. Sekarang hidupku sangat tenang, apalagi tadi siang seorang wanita cantik menerima lamaranku."
Liam menggeram keras "Sialan kau, Ricchi. Sampai kapan kau menghantuiku?" Umpatnya sambil berbisik namun tetap terdengar oleh Dee. Istrinya hanya bisa terkekeh ringan mendengar percakapan dua pria di kegelapan malam
"Sampai nanti, sampai mati.. sampai kita dipertemukan kembali. Ketika saat itu tiba.. abang mengalahlah untukku. Seperti aku mengalah di kehidupan ini."
###
Shadow
Sunshine
Ayah
Papa
no complain yes, jika ingin novel ini tetap berjalan.
oh yah, rumah pertama milik liam dan dee, dan yang kedua milik ricchi.. modelnya hampir sama.
__ADS_1