
Tidak ada yang berubah dari Liam, pria itu masih tetap posesif mengikuti Dee kemana pun gadis kecilnya bergerak di dalam rumah. Ya, kecuali saat Dee ke kamar mandi.
"Kakak seperti truk gandeng " protes Dee melihat Liam mengikutinya ke dapur saat mengambil buah anggur di lemari pendingin.
"Aku tidak mau kehilanganmu lagi." Liam berdiri di sebelah Dee sambil bersedekap.
"Ampun deh kak, koperku di kamar kakak. Aku sudah kasih nomer ponsel, alamat tempat tinggalku lengkap di Moskow, kantorku, nomer ponsel mama, alamat rumah di Bandung. Kurang apalagi coba?" Sungut Dee menoleh ke arah Liam dengan cemberut.
"Tidak bisakah kamu kembali tinggal di Indonesia Dawn? Di sini bersamaku?" Lanjut Liam mencerca gadis yang rambutnya dicepol ke atas. Leher jenjang dipamerkan secara terbuka, membuat Liam menelan salivanya setiap kali mengarahkan pandangannya ke sana.
Liam sedang berusaha menahan Dee yang 3 hari lagi akan kembali ke Rusia. Mereka akan terpisah dengan jarak yang sangat jauh.
Dee tidak menjawab melainkan berjalan gontai membawa piring berisi buah menuju sofa, Liam akan memutarkan film buatannya bergenre drama romantis berakhir tragis, film yang bercerita tentang cinta seorang pria kepada wanita namun hanya bertepuk sebelah tangan. Yang tak lain kisah Liam sendiri mencintai Dee secara sepihak.
"Bodoh.!" Umpat Dee sambil memasukkan anggur di mulutnya "Marissa harusnya menerima Alvin. Pria itu tulus mencintainya." sambungnya tanpa sadar jika film yang ditontonnya bercerita tentang dirinya sendiri.
Liam memandang ke arah Dee yang bersila di atas sofa sambil memangku piring buahnya, ia lalu bergeser mendekat, meraih tubuh gadis kecilnya, merengkuh dalam pelukan.
"Jodoh pasti bertemu, Dawn." gumamnya pelan sambil mengusap lengan Dee.
"Seperti itu?" Dee menaikkan pandangannya ke arah wajah Liam, pria itu mengangguk dengan senyuman simpul.
"Besok kita ngapain, Kak?"
"Dawn mau ikut ke kantor kakak? Mau ngecek persiapan gala premier film terbaru,"
Dee terdiam lalu bersandar di dada Liam.
"Kenapa?" Tanya Liam kali ini mengalungkan kedua tangannya di tulang selangka Dee
"Tidak ada Ricchi kok" Liam menjelaskan, seolah menebak isi kepala gadis kecilnya.
"Kamu masih cinta sama Ricchi ya ,Dek?"
Dee tersentak dengan pertanyaan Liam, sejenak ia menatap wajah pria yang hanya berapa centimeter dari wajahnya.
"Kak Ricchi sudah punya tunangan, tidak mungkin aku punya perasaan cinta kepadanya, Kak. Sayang iya, karena Ricchi pernah menjadi terbaik di hatiku,"
Liam mengeratkan pelukannya dengan bibir dimajukan "Wanita itu cepat move on yah" gumamnya pelan.
Dee tertawa kecil mendengar perkataan Liam "Sudah 3 tahun berlalu kak, tidak mungkin ada orang yang bisa menyimpan perasaan cinta selama itu,"
"Ada." Gumam Liam.
Kegelapan hati Liam bertahun mulai tercerahkan oleh penjelasan-penjelasan Dee, ia akan mencari kesempatan terbaik untuk melakukan pendekatan kembali dan meluluhkan kebekuan hati gadis itu.
...
Kantor Liam yang dikatakannya semalam ternyata berada di pusat kota Jakarta, sebuah bangunan tinggi berlantai 45, dan kantornya sendiri mengambil 5 lantai yang terbagi dengan berbagai macam divisi. Seingat Dee 3 tahun lalu kantor Liam hanya berupa ruko berlantai 3 yang berada tak jauh dari kantor akuntan tempatnya bekerja.
"Kakak semakin sukses" puji Dee saat mereka berada di dalam lift menuju lantai 44 sesuai angka yang di tekan pria jangkung yang menggenggam jemarinya.
"Demi kamu." Liam tersenyum miring menatap Dee yang memajukan bibirnya lalu mendesis.
"Kakak pernah mau mengirimkan uang saat kamu menghilang, buat biaya kuliah. Ternyata kamu sudah menonaktifkan nomer rekeningmu, Dek" ujar Liam menelengkan kepalanya tak percaya "Isi kepalamu itu sungguh detil yah Dawn, hal kecil seperti itu pun tak lepas dari pengamatanmu untuk menghilang tak berjejak," sambungnya manyun.
Dee tersenyum tipis mengingat sebelum kepergiannya ke Moskow semua telah disiapkan olehnya, pemindahan tabungan, rumah diserahkan kepada agen dan tak lupa dia mengembalikan mobil dan kartu debit milik Ricchi. Meninggalkan semua seperti itu membuat Dee merasa lega tanpa beban selama di negara barunya.
...
Tatapan pegawai Farubun Pictures -nama rumah produksi film Liam- semua menatap ke arah CEO-nya yang untuk pertama kali dalam sejarah menggandeng seorang wanita ke kantor atau di mana pun itu. Dee sendiri jengah dengan mata-mata tajam pegawai Liam, seolah sebentar lagi dirinya kembali masuk ke tabloid gosip.
"Kita langsung ke ruang meeting, kumpulkan yang lain." ucap Liam tegas ke arah wanita yang mungkin sepantaran dengan Dee, wanita muda berkulit coklat itu mengiyakan sembari mencuri pandang ke arah gadis dalam genggaman CEO-nya.
Liam pun menuntun Dee untuk bergerak maju ke arah ruang yang diperkirakannya adalah ruang meeting berdinding kaca, di dalamnya terdapat meja kaca panjang berkursi lebih dari 20 buah.
__ADS_1
"Kak, apa boleh aku menunggu di ruangan kantor kakak saja?" Tanya Dee mendongakkan kepalanya memandang wajah pria jangkung itu begitu mereka telah memasuki ruang meeting yang masih sepi.
"Tidak boleh" tegas Liam sambil menelengkan kepalanya "Duduklah di sampingku, aku sudah bilang Dawn, aku takut kehilanganmu." lanjutnya menaruh kedua tangannya di bahu Dee sembari menurunkan kepalanya mensejajarkan pandangan mereka.
"Tapi aku malu kak, aku tidak ada sangkut pautnya dengan meeting kakak" Dee menatap lurus ke mata sipit pria di depannya.
Sebuah belaian halus di pipi Dee yang membuatnya merah merona dengan degup jantung berdetak dua kali lipat "Apa yang aku lakukan sekarang, kamu berhak tahu, Dek."
Ketukan di pintu kaca membuat Liam menghentikan kemesraan yang perlahan ia bangun, sambil meringis CEO jangkung itu mengangguk kepada orang-orang yang berdiri di luar ruangan.
...
Setelah meeting Liam mengajak Dee ke pusat perbelanjaan untuk santap siang di restoran japanese food. Liam memang terkenal namun tidak serta merta menjadi pusat perhatian saat berjalan dengan pria itu. Dee bisa leluasa melayangkan pandangannya ke toko-toko yang mereka lewati.
"Ada yang ingin kamu beli?" Tanya Liam.
"Mau beli beberapa kemeja batik, dan pernak pernik khas Indonesia kak. Buat oleh-oleh teman kantor." ucap Dee gamblang.
"Kita makan dulu, baru ke toko tadi" Liam mengurai senyum simpulnya, walau hati diterpa sedih mendengar Dee sudah membulatkan niat untuk kembali ke Rusia.
"Thank you, Kak."
Liam hanya menghela napasnya dalam sambil menatap lekat ke arah gadis kecilnya.
Dua jam kemudian, Liam bersikukuh membayar semua belanjaan Dee di toko batik, walau ketika memilih buah tangan sang sutradara itu menanyakan untuk siapa saja, dan lebih detil ketika barang tersebut untuk seorang pria.
"Sini kakak bawa." Liam meraih kantongan belanjaan dari tangan Dee
Dee hanya menyerahkan dua kantongan dan 1-nya ia jinjing sendiri.
"Dawn, adalagi yang mau kamu beli?" Tanya Liam sendu.
Dee menelengkan kepalanya sembari mengulum senyum.
Liam menggigit bibir bawahnya memandang Dee sebentar lalu melayangkan pandangannya ke toko perhiasan di depan mereka. Liam pun menggamit erat tangan Dee memasuki toko tersebut yang begitu bercahaya dengan lampu sedemikian terang.
Pegawai wanita berblazer hitam senada dengan roknya langsung menyambut Liam dan Dee dengan ramah.
"Selamat siang Bapak Liam" sapa pegawai dengan papan nama Lina di sebelah kanan blazernya "Ada yang bisa kami bantu?"
Jantung Dee sekarang berdebar 5 kali lipat detakannya dibandingkan debaran normal organ penting tubuhnya itu bekerja.
"Kami mencari cincin couple mbak, bisa merekomendasikan model yang terbaik?" Liam menyunggingkan senyuman simpul ke arah Lina yang bisa mengenali dirinya.
Tak lama kemudian Lina mengeluarkan beberapa model cincin pasangan. Tangan Liam merangkul punggung Dee.
"Gimana dengan yang ini?" Kata Liam meraih cincin bermodel sederhana dan meminta persetujuan Dee.
"Kak" gumam pelan Dee menatap ke arah Liam, hatinya penuh kebimbangan.
"Ya?" Tanya Liam menundukkan wajahnya mendekat ke arah Dee.
Entah setan apa yang membantu Liam hingga Dee menganggukkan kepalanya dengan lemah.
Bahkan saat mencoba ukuran sizenya pun, seolah kedua cincin tersebut dibuat khusus untuk Liam dan Dee. Sangat pas.
"Miss Lina, apa bisa menambahkan tulisan di cincinnya?"
"Bisa Pak Liam, mau tulisan apa?" Balas Lina bertanya sambil mengambilkan secarik kertas kecil putih beserta sebuah pena.
Liam pun langsung menuliskan sesuatu di kertas putih itu dan Dee menarik bibirnya tersenyum simpul setelah membaca tulisan sang sutradara berwangi maskulin manis.
"Menunggu 30 menit yah mbak dan Pak Liam" kata Lina mengangguk.
"Pembayarannya, Miss." ucap Liam sopan lalu berdiri mengambil dompet dan meraih kartu debit platinumnya, ia pun menyerahkan ke pegawai Emerald Jewerly ke teman sejawat Lina yang bernama Lestari.
__ADS_1
Sambil menunggu Liam mengenggam kedua tangan Dee, mengecupnya.
"Dawn, perasaanku tidak pernah berubah kepadamu. Masih dengan perasaan yang sama dengan 3 tahun lalu. Kita berdua masih sendiri, jadi bolehkah kita memulai sebuah hubungan yang lebih sekadar kakak dan adik?"
Rasa haru menyergap sanubari Dee, entah kenapa pernyataan Liam membuatnya seemosional ini.
"Tapi kita akan terpisah, Kak?" Ujar Dee dengan mata memburam, bibirnya bergetar samar.
Perkataan Dee membuat Liam tersenyum lebar, bukan sebuah penolakan didapatnya.
"Tidak mengapa Dawn, entah kamu atau aku yang akan menyerah dengan jarak ribuan kilometer itu, namun suatu saat kita pasti bisa bersama. Kita jalani ini dulu dan saling belajar satu sama lain. Mengingat usia kita berdua bukan lagi menjalani sebuah hubungan yang main-main"
Lagi kedua jemari Dee dikecup oleh Liam, sorot mata pria itu begitu teduh. Dee salah menilai Liam yang tidak berubah, justru pria di depannya ini semakin dewasa.
Selama 24 jam lebih kebersamaan mereka, tidak bisa Dee pungkiri berkali-kali debaran di hatinya melonjak dengan perhatian, kedekatan bahkan pelukan Liam semalam saat mereka tidur bersama.
"Sekarang kamu milikku." ucap Liam saat memasangkan cincin white gold 14 karat dengan ukiran "i'll be there" di jemari manis Dee, sementara cincin di jemari Liam bertuliskan "wherever you go"
Keduanya lalu saling memandang dengan senyum lebar mengembang di wajah. Dee tidak lagi meragu, sepenuhnya ia percaya kepada pria di depannya.
...
Dua hari kemudian kebersamaan mereka harus berakhir, Dee harus kembali ke dunia nyatanya. Cuti 7 harinya telah selesai, saatnya Dee kembali ke negara terbesar di dunia.
Dee memeluk Kevin adik satu-satunya yang telah menginjak tahun pertamanya di bangku perkuliahan, pria muda yang mengalami kenaikan tinggi badan yang sangat drastis 5 centimeter di bawah tinggi Liam yang 189cm.
"Jangan macam-macam di sana" bisik Kevin di telinga kakaknya yang langsung mencubit pipinya begitu ia selesai mengucapkan perkataannya.
Ya, keluarga Dee datang tadi pagi dari Bandung demi mengantarkannya ke bandara, mereka bertemu di rumah makan dan di situ pula Liam memperkenalkan diri secara resmi kepada kedua orang tuanya.
Walau tidak menjelaskan hubungan mereka, namun Dwi Arya Ragala dan Chyntia Ragala - mamanya bisa membaca jika Dee dan Liam sedang dekat lebih dari sebelumnya. Belum lagi cincin yang sama melingkar di jemari manis keduanya, meyakinkan kedua orang tua Dee tentang hubungan istimewa anak gadisnya dengan sang sutradara terkenal tersebut.
Liam mendekap erat sembari mencium puncak kepala gadis kecilnya, ia tidak mengatakan apa pun lagi. Semalam Liam telah mencurahkan semua isi hatinya kepada Dee. Perasaan sedih ditinggalkan hingga wejangan untuk percaya dengan hubungan mereka.
"Wherever you go, i'll be there, Dawn" gumam Liam disambut senyuman merekah gadis kecilnya.
"I know, Kak" Dee mengusap lembut pipi Liam.
Dee kembali memeluk satu persatu papa, mama dan Kevin untuk terakhir kali.
Lambaian tangan riang disertai bibir mengumbar senyum lebar saat Dee berjalan menuju pintu keberangkatan yang kembali akan memisahkan mereka.
"Kunjungilah Belviyah setelah semua pekerjaanmu telah selesai, Nak" ujar Chyntia mengusap pelan punggung panjang pria spesial anak gadisnya itu.
"Pasti mom.. " sahut Liam menganggukkan kepalanya.
...
Sementara itu di tempat lain beberapa saat kemudian.
Ricchi menahan air matanya untuk tidak jatuh ketika melihat unggahan Liam di sosial media, pria yang tidak pernah mempublikasikan kehidupan pribadinya itu membagikan video Dee yang melambaikan tangan dengan senyum indahnya. Seruan dari bibir merah itu mengucap "I love you all" membuat jantungnya berdenyut sakit.
"I love you too, Sayang" ucap Ricchi pelan kembali mengulang video tersebut.
###
yang galau ðŸ¤
yang bahagia namun tetap cool 🥰
__ADS_1