
Kepindahan sementara Dee mengikuti Liam ke Georgia, negara bagian Amerika sama sekali tidak pernah diprediksikan sebelumnya. Namun mengingat kondisi Dee yang sedang hamil anak pertama, tentu saja sebagai suami, Liam tidak akan membiarkan istrinya seorang diri tinggal di Los Angeles.
Sebelumnya Liam menginap di hotel terdekat dari lokasi syuting, namun ketika membawa serta Dee yang sedang hamil, sang sutradara jangkung itu pun akhirnya menyewa sebuah rumah. Menurut Liam rumah jauh lebih nyaman dibandingkan Dee ikut serta merasakan keramaian hotel yang telah disediakan yang mana terisi oleh para aktor dan kru film.
Kenyamanan istrinya adalah prioritas Liam, lagipula rumah yang disewanya tidak begitu jauh dari tempatnya bekerja.
Terkadang ketika jadwal syuting tidak padat, Liam membawa serta Dee ikut bersamanya untuk melihatnya bekerja, dan dengan mudah wanita cantik itu berbaur dengan kru film bahkan berteman baik dengan para aktor.
Dee pun menjadi kesayangan dengan sikapnya yang supel, di waktu senggang istri sang sutradara itu membawakan kue buatannya untuk semua orang di lokasi syuting.
...
Pria bersweater merah terlihat melangkahkan kaki dengan gontai menuju mobil van yang disediakan untuknya sebagai sutradara.
"Wifey.." ucap Liam pelan membuka pintu, sebuah senyuman terukir di wajahnya kala melihat Dee tertidur di sofa bukan di bed. Istrinya yang sangat dikenalnya adalah tipe manusia bisa tertidur dimana saja dengan sangat lelap.
"Dawn." Liam membelai wajah kekasihnya "Bangun, kita pulang ke rumah."
Erangan manja dari Dee membuat Liam mengecup kening istrinya dengan penuh cinta, wanita cantik yang sedang mengandung anaknya kini telah memasuki bulan ke enam.
Mata berbulu lentik itu pun mengerjap dengan senyuman tipis melihat wajah Liam yang berseri.
"Syuting akhirnya selesai juga kak, lega." Ucap Dee yang berusaha bangun dari tidur yang dibantu oleh Liam.
Pria bermata sipit menghela napasnya panjang "6 bulan berkutat dengan syuting film ini, kemudian kita akan kembali ke Los Angeles masuk ke proses editing. Sungguh panjang." Ucap Liam sembari menaruh tangannya di perut Dee yang menampakkan baby bump -nya
"Maafkan ayah nak, kamu harus ikut seperti ini dengan ibumu."
Dee terkikih kecil melihat suaminya yang sebenarnya sudah sangat lelah malah mencurahkan isi hatinya kepada bayi mereka. Dee kemudian mengecup puncak kepala Liam sambil membelai tengkuk prianya.
"Terima kasih sudah berjuang Ayah."
Dengan wajah lelahnya Liam tersenyum lebar, matanya menghilang karena bahagia. Sesaat tadi ia masih merasakan capek yang luar biasa, namun setelah melihat dan mendengar perkataan istrinya semua menghilang dalam sekejap.
"Tunggu disini, aku siapkan barang-barangmu Dawn." Liam langsung berdiri mengambil tas istri dan barang pribadinya.
Dee hanya menggelengkan kepala melihat Liam yang tak kenal lelah, bahkan selama 5 hari terakhir jam tidur suaminya tak lebih dari 4 jam.
"Kita pulang ke rumah, Wifey. Aku ingin tidur dan memelukmu hingga besok." Liam mengalungkan syal di leher Dee, mengancingkan jaket kemudian menggenggam tangan istrinya keluar dari van.
"Apa semua pemain film sudah kembali ke States kak?" Tanya Dee melayangkan pandangan pada deretan van yang kemarin masih ramai dengan para asisten aktor yang berlalu lalang.
"Mereka di hotel, beristirahat mungkin beberapa ada yang berpesta. Besok juga masih ada pesta perpisahan di set, setelah itu terserah. Kalau kita kapan Dawn? Kamu masih ingin di sini atau pulang ke L.A ? Kakak masih ada waktu seminggu sebelum kembali bekerja di studio."
Dee mengeratkan genggaman tangannya lalu menatap wajah lelah suaminya "Lusa, kita kembali ke L.A kak. Kita harus mengecek kandunganku, dan apartemen kita perlu dibersihkan."
Mata Liam kembali berpijar "Tentu saja Dawn, kita harus memeriksakan kandunganmu. Soal apartemen kita tinggal memanggil jasa cleaning service. Aku pikir kamu masih mau berjalan-jalan di kota ini."
Dee menggelengkan kepala lalu menangkup wajah Liam sesaat di samping mobil sewaan rumah produksi "Kakak harus istirahat, aku dan bayi kita juga. Selama 5 bulan di sini, aku sudah kemana-mana kak. Walau hanya sebatas toko-toko di pusat kota." Dee menyunggingkan senyuman simpul dengan mata memuja pria di depannya.
Liam tersenyum simpul lalu memeluk tubuh Dee "Mengingat dulu sebelum bertemu denganmu aku sudah terbiasa bekerja dari pagi hingga pagi, ini hal biasa Wifey. Tapi kakak akui jika film ini adalah film yang terpanjang proses syutingnya. Sungguh melelahkan, tapi denganmu di sini semua terasa lebih ringan Dawn." ungkap Liam sembari membelai pelan punggung istrinya
...
__ADS_1
Kabar kepulangan Dee dan Liam pun telah sampai di telinga Ricchi, tak butuh waktu lama sang aktor yang masih cuti dari karier keartisan langsung mendatangi kediaman wanita yang sangat dirindukannya.
Sebetulnya selama 5 bulan terakhir mereka berkomunikasi dengan lancar, namun tetap saja berbeda dengan kehadiran sosok Dee di dekatnya.
Ricchi menekan bel apartemen Dee dengan tidak sabaran, suara wanita dari dalam memintanya untuk menunggu membuat lengkungan di ujung bibirnya yang naik keatas.
"Deee." Ucap Ricchi begitu pintu terbuka, sosok wanita dicintainya nampak makin berisi.
"Kak Ricchi." seru Dee langsung memeluk pria tampan itu "Kakak sudah sembuh." lanjutnya melepaskan pelukan lalu menatap kaki Ricchi yang telah kembali kokoh seperti semula.
"Ya ampun kak ! Ini sebuah keajaiban." ucap Dee dengan wajah berbinar
Ricchi terbahak tawa melihat respon Dee yang begitu gembira melihatnya telah berdiri tanpa bantuan apapun.
"Kamu juga sayang, semakin besar perutnya, kalian sehat semua kan?" Tanya Ricchi mengelus perut Dee dengan lembut "Dek, aku merasakan dia bergerak." Sambungnya dengan mata berkaca-kaca.
"Kemarin kami sudah memeriksakannya lagi kak, dan yah semua sehat. Menurut dokter gadis kalian akan lahir saat musim dingin."
Gadis kalian ? Hati Ricchi berdesir hebat mendengar perkataan sederhana dari Dee.
"Jadi beneran cewek." Ucap Ricchi menggamit lengan bumil cantik ke sofa lalu mendudukkan tubuh mereka.
"Kakak, berapa kali aku bilang kalau cewek, memangnya Kak Ricchi mau anak laki-laki ? Padahal Kak Liam senang sekali, katanya bisa didandani pakai baju-baju yang cantik." Sungut Dee melirik Ricchi yang tertawa
"Aku apa saja sayang, yang penting kamu sehat. Tapi anak cowok lebih asyik, bisa di ajak main bola." Ricchi tergelak tawa ketika Dee memukul lengannya dengan manja.
"Kamu sedang apa Dee?" Pria tampan berkulit putih itu meraih tablet Dee di atas meja yang di atasnya berbagai macam selebaran iklan property.
"Kami sedang mencari rumah kak, apartemen ini tidak memadai untuk membesarkan seorang bayi. Sangat sempit dan kakak bisa lihat sendiri."
Dee menyapukan pandangannya ke apartemen mereka dan Ricchi pun melakukan hal yang sama. Dapur dan ruang tamu berada dalam satu ruangan kemudian dua kamar tidur yang satunya telah menjadi ruangan kerja Liam.
"Ya, dan aku membeli apartemen itu seperempat dari harga jual apartemen ini. Walau sekarang kami menyewa, tapi harganya aku tahu dari tetangga sebelah. Hidup di L.A sangat tinggi biayanya kak."
"Kalian tidak kesusahan kan?" Ricchi mencandai wanita di sampingnya yang sedang menggeser layar tabletnya
Ekor mata Dee melirik Ricchi kemudian kembali ke layar datar di tangannya.
"Kami sebelumnya tidak pernah berpikir akan menetap di sini kak, saat melihat iklan-iklan ini aku terus memikirkan rumah yang di Jakarta. Walau ada yang merawat, tapi tetap beda jika ada yang menempati."
Ricchi tertawa kecil lalu mencubit pipi Dee "Kamu sudah seperti mamak-mamak, sayang. Oh iya, memang sudah jadi mama sih."
Dee mendengus pelan mencoba tak menggubris candaan Ricchi "Belum, karena bayinya belum lahir. Masih calon ibu." Jelasnya
Bunyi pintu terbuka membuat keduanya menolehkan kepala dan melihat sosok jangkung yang membawa dua kantongan belanjaan di kepitan tangannya.
"Rupanya Pria Idaman Lain sudah datang." Sindir Liam melihat Ricchi yang langsung beranjak dari kursi membantu membawa bawaannya ke meja dapur.
Ricchi tertawa keras dengan perkataan Liam yang pasti pria itu sepenuhnya bercanda.
"Ya itu aku." Sahut Ricchi sambil menaikkan kedua alisnya menatap ke arah Liam
"Jadi kamu sudah sembuh total ?" Liam mengamati kaki dan tangan Ricchi yang nampak kembali semula, badan aktor itu pun sudah mulai kembali berisi dengan ototnya yang padat
"Seperti yang abang lihat." Ricci tersenyum semringah membalikkan badannya "Ini berkat kekasihku yang setiap hari memberikan semangat untuk menjalani terapi." Kedua pria itu pun melayangkan pandangan ke arah Dee yang sedang sibuk dengan tabletnya
__ADS_1
"Itu berarti kamu berutang budi kepadanya. Sekarang kamu yang masak kalau mau balas budi." Liam terkekeh kecil melihat perubahan raut muka Ricchi
"Kak Ricchi tidak bisa masak kak, aku tidak mau bayiku teracuni oleh masakannya." Protes Dee menoleh ke arah kedua pria yang berdiri dari balik meja dapur.
Ricchi mendesis tidak terima sementara Liam terbahak tawa sambil memukul lengan aktor tampan itu.
"Satu kekuranganmu di mata istriku adalah kamu tidak bisa memasak. Sementara aku bisa memasakkannya apa saja. Itu kenapa Dawn memilih aku dibandingkan dirimu Ricchi Maheswara." Pamer Liam mulai mengeluarkan isi belanjaannya
Sang aktor itu pun mendecih kasar "Aku akan belajar sayang." Teriaknya membuat Liam kembali tertawa
"Masak itu berkaitan bakat, sama halnya kamu bakatnya akting sementara bakatku di belakang layar. Semua bisa dipelajari, namun ada sebagian besar lahir dengan talenta itu." Celoteh Liam menggurui Ricchi yang sedang memajukan bibirnya.
"Kamu bisa mengupas alpukat ?" Liam menyodorkan dua buah hijau di depan Ricchi beserta dengan pisaunya "Cuci dulu." Perintahnya yang dipatuhi oleh Ricchi
Dee tertawa kecil yang melihat kejadian langka di dapur mereka. Dua orang pria yang mempunyai perasaan sama kepadanya berdiri bersisian dengan fokus pada pekerjaan masing-masing.
"Kalian akur sekali." Ucap Dee mendekat sembari memerhatikan keduanya, Liam mengukus kentang, sementara Ricchi membuka buah yang disarankan dokter untuk nutrisi kandungan yang menginjak trimester ketiga.
"Mungkin cuma kita yang hidup seperti ini, suami istri dan pria idaman lainnya akur seatap." Sahut Liam menatap bergantian Ricchi dan istrinya
"Bang, bagaimana jika kita tinggal bersama saja." Ricchi meletakkan pisau dan memandang ke arah Liam "Kalian sedang cari tempat tinggal, sementara aku punya rumah dan tinggal sendirian. Kak Mike sudah pindah karena memilih serumah dengan pacarnya. Jadi ya, kamar ada 5 cukuplah untuk kita bertiga dan gadis kita."
Liam terdiam kemudian mengarahkan tatapannya kepada Dee, istrinya yang terlihat kaget mendengar usulan Ricchi.
"Terus kita tidur bertiga begitu maksudmu ?" Tanya Liam menaikkan bibirnya sebelah kanan
Ricchi tergelak tawa "Kalau boleh."
"Tidak mau !" Sanggah Liam namun memamerkan senyum yang ditahannya
"Ayolah bang. Kita cuma bertiga loh di sini, di Amerika harusnya saling mengasihi. Ya kan Dee? Kamu mau kan tinggal bersama denganku. Tinggal sendiri dengan tekanan Hollywood yang lebih kejam dibandingkan di tanah air, bagaimana jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Banyak artis yang mati karena over dosis, party-party. Di tambah kejadian seperti yang aku alami kemarin."
"Diam !" Liam menaikkan telunjuknya di depan wajah Ricchi
Seketika itu pula Ricchi tidak berani menambah panjang penuturannya.
Liam menatap wajah istrinya yang sedang tertawa karena celotehan Ricchi "Dawn, sepertinya kita sudah mempunyai babysitter yang memiliki sebuah rumah."
Pekikan bahagia dari Ricchi yang langsung memeluk Liam dengan erat "hahaha, selamat datang di kediaman Ricchi Maheswara, eh bukan.. mungkin kita harus mencari nama yang mewakili Farubun, Maheswara dan Ragala."
Liam memegang kedua bahu Ricchi agar pria itu bisa lepas tadi tubuhnya.
"Ricchi, aku sudah normal tidak tertarik kepada pria, apalagi denganmu."
Ricchi terbahak tawa sampai wajahnya memerah, Dee ikut pun tertawa.
"Sama bang, aku juga sudah sembuh. Sangat normal, ya kan sayang ?" Ucap Ricchi mengalihkan matanya kearah wanita yang sangat dicintainya.
"Entahlah." Sahut Dee mencebikkan bibirnya lalu kembali tertawa sambil mengelus perut. Anaknya seolah mengerti akan keriuhan yang terjadi dengan terus bergerak aktif di dalam sana.
Sambil tertawa kecil kedua pria itu kembali meneruskan pekerjaan tertundanya, menyiapkan makan malam untuk satu wanita yang mengisi relung hati mereka.
###
__ADS_1
no komplain yah... hidup mereka bertiga, kita yang baca 😊