
Shadow penuh syukur memiliki Ricchi sebagai papanya. Berkat Ricchi yang berkeras di depan Liam dan Dee, hingga ijin tinggal sendiri di
apartemen pun didapatkannya. Sebelum kembali mengajukan keinginan itu, Shadow telah meminta dukungan dari Ricchi. Dan papanya pula yang membelikannya apartemen di daerah Sunset Road, sangat mahal jika diukur dengan isi rekening banknya sebagai sutradara yang masih merintis di perusahaan orang tua.
Bahkan tabungan yang disimpan selama bertahun mungkin hanya bisa membeli gagang pintu apartemennya. Shadow berbeda dengan Sunshine, adiknya sejak kecil telah menghasilkan uang sendiri. Sementara Shadow hingga dewasa menghabiskan uang orang tua mereka untuk membiayai project film yang tidak bisa mendapatkan bayaran yang setimpal.
Awalnya Shadow akan menyewa apartemen bermodel studio, yah sesuai dengan dompetnya. Itupun setelah ia menghitung gaji yang akan diterima dari Farubun and Maheswara, cukup realistis, ditambah dengan biaya hidup. Sepenuhnya Shadow ingin melepaskan diri dari sokongan dana orang tuanya.
Ricchi, papanya tidak membiarkan anaknya tinggal di tempat seperti yang diutarakan Shadow, pria paruh baya itu memberika syarat kepada
anaknya, akan berjuang di depan Liam dan Dee, asalkan menerima apartemen mewah tersebut.
Shadow terpaksa mengiyakan syarat tersebut.
Dari keterpaksaan tersebut membuahkan sebuah apartemen dengab 2 kamar tidur dengan tambahan 1 ruangan untuk Shadow bekerja. Gadis yang berusia 23 tahun 3 minggu lalu itu selalu memuja akan kepekaan hati Ricci, papanya. Terkadang ia memposisikan diri sebagai Dee, ibunya. Andai ia adalah Dee, tentu saja akan memilih Ricchi dibandingkan Liam.
Pemikiran berat sebelah tersebut Shadow yakini karena Ricchi-lah yang merawat dirinya dan Sunshine. Walaupun ia tahu jika Liam adalah
ayah biologisnya. Shadow tidak menampik, peran Liam hingga ia memiliki bakat directing diatas rata-rata teman kuliahnya. Liam pula menyokong semua project filmnya, tanpa tarik ulur dalam pendanaan, ayahnya sangat total dalam hal itu.
Hanya saja perbedaannya adalah Ricchi menjadi sosok papa sekaligus mama di kehidupan Shadow.
Ting tong !
Bunyi bel pintu apartemen Shadow membuat gadis jangkung itu beranjak keluar dari ruang kerjanya, dari layar kamera depan ia melihat jika
Liam adalah tamunya di Sabtu siang itu.
Dengan tergesa Shadow membuka pintu.
“Ayah.” Ucap Shadow memeluk tubuh Liam. Selama seminggu di kantor, Liam mendiaminya berlagak seolah mereka tidak mengenal. Pun pria
memberi Shadow gen tubuh tinggi itu tidak membantunya pindahan, Liam acuh melihat anaknya berkemas.
Liam mengecup puncak kepala Shadow lalu menghela napas panjang “Kau tidak mempersilahkan ayahmu masuk ?” ucapnya sambil menatap design apartemen anaknya, sungguh isi kepala Ricchi mendominasi ruangan tersebut.
Shadow tersenyum simpul dan menggenggam jemari Liam “Ayah mau minum apa?”
Liam melipat bibirnya kembali memeluk tubuh Shadow “Maafkan ayah, nak. Tidak mengerti akan keinginanmu. Ayah pasti menjadi sosok jahat di
matamu, Shadow.”
Gadis kecil Liam menggelengkan kepala dalam pelukannya “Tidak, Shadow tidak pernah membenci ayah. Baru kali ini ayah menentangku, sebelumnya tidak pernah. Ayah selalu mengabulkan apapun keinginanku.”
“Tetap saja kau lebih mencintai Ricchi, papamu.” Liam mengurai pelukan, Shadow melihat raut wajah papanya datar sedikit kesal yang pura-pura. Shadow tergelak tawa, menarik tangan papanya menuju sofa berwarna coklat
“Ya bisa dibilang itu benar.” Canda Shadow sambil
membaringkan kepalanya di dada Liam, pria paruh baya itu menjawail pipinya.
“Papamu memang selalu jadi yang terbaik, lihat bagaimana apartemenmu.” Puji Liam
“Ya, papa selalu memberikan yang terbaik.” Ucap Shadow mengiyakan ucapan ayahnya.
Liam mengecup kening anaknya “Ibu memarahi ayah, karena mendiamimu selama seminggu. Sebenarnya ayah tidak tahu bersikap atau mungkin ayah masih kecewa dengan keputusanmu ingin tinggal sendiri. Jujur, ayah belum siap berpisah denganmu, nak.”
Shadow pun belum siap, Yah.
“Ayah bisa datang menginap di sini, jika rindu.” Hibur Shadow tersenyum geli
“Baiklah malam ini ayah akan menginap di sini.” Ucapan Liam membuat Shadow tersentak, ia pun menaikkan tubuhnya menatap sang ayah.
“Serius ?” tanya Shadow membulatkan mata indahnya
Liam menganggukkan kepala.
“Biarlah ibu dengan Sunshine dan papamu. Aku dengan anakku. Kita juga perlu waktu bersama setelah perang dingin.” Gurau Liam kembali menjawil pipi Shadow.
“Oh ya, ayah punya kado untukmu.”
Shadow membulatkan mata dengan mengulum senyuman “Apa ?” ucapnya riang
Liam berdiri dan meraih jemari anak sulungnya, kedua ayah dan anak itu berjalan sambil
berangkulan keluar dari apartemen. Shadow terus menatap wajah Liam yang terus menarik senyuman di bibirnya.
Apartemen Shadow berada di lantai 4 dari 7 lantai bangunan mewah tersebut. Tidak terlalu besar, terkesan eksklusif. Ia tahu jika yang tinggal di
bangunan tersebut adalah orang-orang yang berkecimpung di dunia yang sama dengannya.
Liam terus merangkul anaknya bahkan ketika pintu lift terbuka sesaat sampai di lantai dasar, Shadow pun bergelayut manja dalam langkah tegap ayahnya.
Bunyi alam mobil dinonaktifkan membuat Shadow mengurai pelukan. Gadis cantik itu terpekik kaget melihat mobil Audi R8 Spyder mengedipkan lampu, menandakan bahwa itulah kado dari Liam.
__ADS_1
“Ayah !”seru Shadow, membulatkan mata lalu kembali memeluk Liam
“Selamat ulang tahun, nak. Saatnya kau berhenti nebeng dengan papamu ke kantor dan menggunakan taksi.”
Shadow melepaskan pelukan ketika Liam mengangsurkan kunci mobil berharga ratusan ribu dollar tersebut.
“Ini cantik sekali, Yah. Warnanya keren.” Shadow membelai body mobil Audi berwarna kemora gray tersebut, Liam sangat tahu jika ia
menyukai warna gelap. Shadow mempunyai selera sama dengan Ricchi, menyukai
warna netral dan tidak terlalu menyolok mata. Berbanding dengan Sunshine menyukai hal berwarna cerah, persis seperti Liam.
“Sekarang ajak ayah jalan-jalan.” Ucap Liam menaiki mobil, raut wajah berseri Shadow menyalakan mesin yang sangat halus itu.
“Thank you, Yah.” Shadow mencondongkan badannya mengecup pipi Liam, ayahnya.
…
Kegiatan anak dan ayah tersebut setelah berjalan-jalan, shopping pakaian dan kebutuhan apartemen lainnya adalah Liam memasakkan makan malam. Setelah bersantap, keduanya pun membahas film yang akan dikerjakan Shadow.
Project pertamanya sebagai sutradara Farubun and Maheswara. Liam pun banyak memberikan masukan, karena nantinya ia tidak akan ikut ke Eropa tepatnya ke Perancis Selatan untuk syuting film tersebut.
“Shadow, apa ayah boleh tahu alasan kau mau tinggal sendiri, nak. Kalau mandiri sepertinya itu bukan alasan yang tepat. Ayah sangat tahu
jiwamu nak. Tidak bisa lepas dari kami, kau sangat dekat papamu, aku dan ibu. Sunshine
adalah teman tidurmu. Namun sejak di Bali sepertinya ada yang mengganjal di hatimu, Shadow.”
Gadis yang memiliki rambut sedikit ikal tersebut menaruh script ke atas meja, ia lalu menggeser tubuhnya hingga berhadapan dengan Liam
di sofa. Shadow menggigit bibir dan matanya sendu menatap sang ayah.
Liam menghela napas menangkup wajah kecil anak gadisnya “Biar ayah tebak. Apa karena Richard ?”
Air mata pun tumpah dari pelupuk mata Shadow. Liam menarik tubuh anaknya dalam rengkuhan. Shadow meluapkan semua kesedihan yang ia pendam selama berapa bulan terakhir.
“Kau mencintai Richard ?” tanya Liam mengelus punggung Shadow.
“Sudah tidak, Yah.” Bohong Shadow. Walau ia telah berusaha melupakan dan mengikhlaskan Richard, tetap saja bayang-bayang pria itu melekat di sudut hatinya.
“Mungkin kabar ini akan membuatmu makin patah hati.” Gumam Liam
“Adek dan Richard pacaran.” Terka Shadow sambil menarik napas dengan hati yang sakit
“Richard adalah cinta pertamaku, Yah. Tapi mungkin hanya aku yang menaruh hati kepada Richard, sementara dia tidak mempunyai perasaan yang sama. Terbukti sekarang, Richard pacaran dengan Sunshine. Aku menghindarinya,
yah. Aku tidak kuat melihat Richard selalu datang ke rumah dan bermesraan dengan adikku sendiri. Tolong ayah jangan katakan ini kepada Sunshine.”
Liam mengembuskan napas panjang dengan kejujuran Shadow, ia akhirnya mengerti akan perubahan sikap anaknya. Shadow tidak pernah
membantahnya, namun dua kali anak gadisnya itu berani beradu argumen, hingga memancing emosi Liam.
“Ayah minta maaf tidak mengerti apa yang terjadi denganmu, nak. Ternyata gadis kecil ayah sudah beranjak dewasa, memilih menjauh seperti ini berarti kau lebih bijak menyikapi permasalahan. Langkah yang kau ambil bukan berarti melarikan diri, tapi menghindari konflik. Kau begitu menyayangi adikmu, Shadow.”
“Tentu saja aku menyayangi Sunshine, Yah. Dia adikku satu-satunya. Jika adikku bahagia aku pun bahagia, walau butuh waktu menerima itu. Maksudku, Richard adalah sahabatku, Yah. Kami telah melewati berbagai kejadian dalam waktu yang lama. Ayah, buat aku sibuk. Setelah project film ini, berikan project film lainnya.” Ucap Shadow menarik bibirnya ke dalam
Liam mengiyakan sembari menyeka air mata anaknya.
“Tapi ingat untuk menjaga kesehatanmu, nak. Saat di Perancis pun nanti kau harus menyempatkan diri untuk berolahraga.”
“Terima kasih ayah.” Shadow kembali membenamkan kepalanya dalam dekapan sang ayah.
Ia sadar jika mencintai Liam dan Ricchi secara seimbang. Mungkin seperti itu pula yang dirasakan Dee, ibunya.
…
Shadow mewarisi jiwa kerja keras Liam, selama di Eropa ia disibukkan dengan film garapannya. 5 bulan berlalu dengan cepatnya dan selama
itu pula ia telah memilah beberapa film untuk project selanjutnya. Shadow menerima pelukan
perpisahan dari kru film, setelah syuting terakhir hari itu.
“Nona sutradara.” Sapa Alexandre Marais mendekati Shadow. Pria tampan yang menjadi aktor utama film garapan Shadow. Alexandre Marais sendiri adalah aktor berkewarganegaraan Perancis namun telah bermukim di Hollywood.
“Hai Alec.” Shadow mengembangkan senyuman lebar “Terima kasih sudah bekerja baik denganku. Dan maaf jika selama syuting aku sering
melayangkan protes.” Ucapnya kemudian tertawa kecil
Alexandre mengibaskan tangannya “Oh tidak, Shadow. Kau melakukan pekerjaanmu dengan hebat. Aku pun mendapatkan banyak bantuan darimu. Ternyata banyak kesalahanku sebelum ini dan hanya kau yang berani mengoreksinya. So, thank you my beautiful director.” pria itu lalu memeluk Shadow. Wangi maskulin menguar dan menggoda indera sang sutradara, terlebih pelukan Alexandre begitu rapat. Jantung Shadow
menaikkan ritmenya.
Ketika Alexandre melepaskan pelukan, aktor itu menatap wajah Shadow. Lekat.
__ADS_1
“Sekarang kita bukan lagi, aktor dan sutradara. Karena syuting sudah berakhir jadi menurutku tidak lancang jika aku mengajakmu untuk
berkencan. Maukah Nona Shadow menjadi teman kencanku ?”
Mata Shadow membulat dengan penuturan tiba-tiba Alexandre, ia menoleh melihat suasana tenda yang mendadak sepi. Hanya ada mereka berdua.
Shadow menautkan alis sambil menatap manik indah milik sang aktor “Berkencan seperti apa ? Apakah sebuah makan malam bersama sebagai tanda ucapan terima kasih?”
Alexandre menggelengkan kepala “Bukan seperti itu. Berkencan maksudku berpacaran. Aku menyukaimu. Sejak kita mulai bekerja sama di film ini. Aku jatuh cinta denganmu nona sutradara .”
Rahang Shadow jatuh dan mata melotot menatap Alexandre, ia tidak menyangka akan ditembak oleh sang aktor filmnya. Terjawab sudah sikap
berlebihan Alexandre kepadanya, selama 5 bulan pria itu sangat perhatian kepadanya. Termasuk menyiapkan makanan, kopi dan terkadang mereka pergi bersama dari hotel menuju lokasi syuting, begitu pun sebaliknya.
“Tapi aku tidak begitu mengenalmu.” Shadow menjawab dengan membeo
Alexandre tertawa kecil “Sayang, kau bisa membacanya di wikipedia. Semua hal tentangku.”
Shadow tergelak tawa “Ya, aku akan membacanya nanti.” Ucapnya menanggapi candaan aktor itu
Bunyi pesan masuk membuat Shadow membuka ponselnya.
Kakak Shadow, jangan ulang tahun adikmu minggu depan. I miss you, kak. Kehadiranmu adalah kado terbaik untukku.
Shadow menarik napas panjang sambil melipat bibirnya.
Alexandre melirik layar ponsel sutradara tercantik dalam hidupnya “Apakah aku diundang ? ulang tahun adik iparku.”
Kembali Shadow tersenyum geli akan ucapan to the point pria itu “Memangnya kau ada waktu untuk hal kecil seperti itu?” tantangnya
Sang aktor mengukir senyuman indah dengan raut wajah berseri “Tentu saja, sayang. Aku harus bertemu dengan keluarga pacarku, bukan?”
Shadow mencubit pinggang pria tampan itu “Biarkan aku belajar tentangmu, playboy.”
“Aku sangat single, sayang. Dan ini pertama kali aku mendekati seseorang dari lokasi syuting. Please, jawab perasaanku. Kasihan kru-mu
sedang menunggu.” Ucap Alexandre menurunkan kepalanya, berbisik dengan logat Perancisnya yang seksi.
Shadow pun akhirnya sadar jika suasana sepi lokasi syuting sudah direncanakan matang oleh sang aktor.
“Jadi ? Nona sutradara, berkencan atau tetap berkencan?”
“Apa? Pilihannya hanya itu? Opsi tidaknya ?” sungut Shadow merajuk
Alexandre menangkap binar dari raut wajah Shadow, ia pun langsung memeluk gadis cantik itu.
“Sutradara kita mengatakan iya.” Teriak Alexandre, seketika itu bunyi terompet dan tepukan sorak sorai dari puluhan kru film yang keluar dari tempat persembunyiannya. Setidaknya ada 5 kru membuka sampanye untuk merayakan hari bahagia sang aktor.
“Aku belum menjawab, Alec.” Bisik Shadow dengan dada bertalu kencang
Manik indah pria itu menatapnya intens sementara pelukan hanya sedikit direnggangkan “Aku mencintaimu dengan tulus. Aku juga akan menunggu hingga kau mengenalku dengan baik. Tapi selama itu, kita akan bersama. Apakah kau
keberatan ?”
Shadow sesaat termangu lalu menggelengkan kepala. Alexandre pun melabuhkan kecupan ringan di pipinya. Bibir pria itu menghantarkan panas hingga ke hati Shadow. Ia sangat yakin jika wajahnya sekarang merona bak buah plum.
Mata Alexandre menyipit dengan senyuman merekah, kembali jantung Shadow seolah diremas.
“Apakah aku sedang bermimpi atau kau sedang mengerjaiku, Alec ?” ucapnya
Aktor itu tertawa lalu mencubit pipi gadisnya “Kau tidak bermimpi dan aku tidak pernah mengerjai wanita yang aku sukai.”
“Ada baiknya jika kau berkata jujur, Alec. Aku mempunyai dua pria hebat yang akan menghancurkanmu jika mempermainkan anaknya.” Ancam Shadow memicu tawa Alexandre
“Asal kau tahu nona sutradara, jika aku tidak sabar untuk bertemu kedua pria hebat itu.” Ucapnya tanpa ragu.
###
Alexandre Marais, sang aktor
alo kesayangan 😊,
apakah Shadow bisa melupakan Richard dan memulai kehidupan cintanya dengan Alec ?
apakah aktor itu tulus sesuai ucapannya ?
menurut kalian ??
setelah novel ini kelar revisi, aku akan pindah ke Keanu.. pasti sangat berantakan. setelah itu terakhir ke Miss Bae. [aku melakukan ini agar readersku berikutnya bisa membaca novel dengan hati senang, tidak mumet dgn bahasa yang tidak jelas]
btw, happy weekend y'all ☺️ walau tidak ada yang spesial seperti terang bulan wkwkwk.. kita masih #stayhome
__ADS_1
love,
D 😘