DI ANTARA DIA

DI ANTARA DIA
Shape of My Heart


__ADS_3

Ricchi menutupi badan anaknya dengan sarung Bali yang diambilnya dari lemari, syukurnya resort milik keluarga mereka berada di lahan yang aman dari orang yang berjalan di pantai belakang kediamannya. Tubuh Shadow tidak terekspos kepada mata nakal, hal itu penting baginya sebagai ayah yang harus melindungi anaknya.


"Papa, Shadow sudah pakai sunblock." Gerutu gadis berkulit coklat itu menyingkap sarung bali berwarna orange dari badannya.


"Nanti kau akan menghitam, Shadow. Bukan eksotik lagi, nak." Ricchi hanya bisa menggelengkan kepala pada anaknya yang melanjutkan sesi berjemurnya. Bahkan bekas bikini telah tercetak jelas kontras dengan kulit terbakar sinar matahari pulau Bali di tubuh Shadow.


Ricchi mendudukkan diri di kursi malas di sebelah anaknya, ia lalu melanjutkan tulisan novel misteri yang menjadi genre favoritnya selama 5 tahun terakhir.


"Semua orang belum kembali, pa ?" Tanya Shadow yang sedang tengkurap lalu menahan dagunya dengan dua tangan


"Iya, mereka katanya cuma keluar mencari bahan makanan, tapi papa sangsi sepertinya orang-orang itu sedang menikmati wisata Bali, Shadow."


Gadis berbikini hitam itu bangun dari baringnya, kembali meraih sarung bermotif abstrak untuk menutupi tubuhnya.


Ia pun mengembuskan napas berat dan sesak, Shadow memilih tinggal di resort ketimbang harus ikut dengan ayah, ibu, Sunshine dan Richard.


Ya, sahabat baiknya tersebut tidak menolak ajakan Liam saat wisuda Shadow seminggu yang lalu. Dan semenjak kedatangan mereka kemarin di Bali, Richard semakin mesra dengan Sunshine. Tragisnya lagi, di antara ketiga orang tuanya, tak ada satu pun yang tahu jika m nyeri meremas jantung Shadow melihat kebersamaan Richard dan Sunshine.


Tadinya Shadow hendak merayakan keberhasilan menyelesaikan pendidikan dengan bersantai di Bali, namun kenyataan yang ia lihat setiap hari adalah kemesraan Richard dengan Sunshine. Andai orang tuanya tidak ikut serta, tentu saja Shadow sudah pindah ke Lombok atau ke pulau lain di Indonesia.


Seminggu lalu mungkin ia masih memuja Richard, pria yang merenggut ciuman pertamanya pada tahun kedua mereka menempuh perkuliahan. Dan ciuman mereka pun bukan hanya sekali, namun Richard sama sekali tidak pernah mengatakan cinta kepadanya. Hal itu yang membuat Shadow berpikir penuh tanya hingga mereka lulus kuliah, ia tetap menunggu dengan sia-sia.


"Pa.." ucap Shadow memperbaiki letak raybannya


Ricchi berdeham tanpa menatap ke arah anaknya yang meminta perhatian.


"Pa.. kenapa papa tidak mencari ibu baru?" Tanya Shadow yang entah untuk ke sekian kali menanyakan hal sama kepada papanya. Ya, mungkin sejak ia tahu hubungan ketiga orang tuanya yang diluar nalar pada umumnya.


"Berapa kali papa sudah jelaskan, Shadow?" Gumam Ricchi menaruh ipadnya di pangkuan


Shadow mendengus pelan menatap papanya penuh sendu "Tapi papa pasti kesepian, tidak seperti ayah dan ibu. Maksudnya **** itu penting pa."


Pria paruh baya itu menautkan alisnya dengan wajah serius "Anak papa semakin dewasa, well.. kalian berdua dari sejak dini sudah papa ajar tentang sex education, tapi jika sekarang mau membahas kehidupan **** papamu itu namanya tabu, Shadow."


Shadow mencebikkan bibirnya "Tapi Shadow kasihan dengan papa."


Ricchi mengembuskan napas panjang lalu menjawil pipi anaknya "Tidak ada yang bisa mengganti posisi ibumu di hati papa, nak. Dee tidak bisa disandingkan dengan wanita manapun, Shadow. Ibumu adalah cinta sejati papa." Ucapnya penuh cinta, bahkan anak-anaknya telah dewasa perasaan kepada Dee tidak luntur sedikit pun.


Shadow meraih gelas berisi orange jus dan menyeruputnya, sekarang ia telah mendapatkan perhatian papanya.


"Apakah ibu adalah cinta pertama, papa?"


"Tentu saja bukan, Shadow." imbuh Ricchi dengsn cepat


"Terus apa bedanya cinta pertama dengan cinta sejati?"


Ricchi menatap dalam wajah bak bidadari milik anaknya, Shadow yang awalnya memiliki kulit putih bersih, tumbuh menjadi gadis berkulit eksotik hasil sengatan matahari.


"Cinta pertama adalah momen atau orang yang membuatmu mengenal cinta, pertama jatuh hati, pertama patah hati, semuanya adalah yang pertama. Sementara cinta sejati adalah cinta yang tak akan lekang sampai kapan pun itu. Tak banyak cinta pertama adalah cinta sejati bagi seseorang, namun itu tak mutlak, Shadow. Kadang ada kisah seperti papa, Dee ibumu bukan cinta pertama tetapi cinta sejati walau tak bersama dalam artian tidak bersatu dalam pernikahan, tapi ibumu mencintai papa. Intinya kisah cinta orang berbeda-beda."


Shadow meringis mungkin kesal mengingat ketidakpastian hubungannya dengan Richard yang menggantungnya selama 3 tahun.


"Penjelasan papa membuatku bingung." Shadow beralasan demi menutupi nyeri yang menyergap kalbunya.


"Itulah cinta, membuat semua orang bingung." Sahut Ricchi kembali kepada ipadnya.


"Pa!" Seru riang Sunshine membuat Shadow dan Ricchi menoleh, sosok gadis berkulit Asia bergerak gontai menuju tempat keluarganya bersantai.

__ADS_1


Shadow tersenyum lebar kepada adiknya, namun membuang muka setelah melihat sosok Richard berjalan di sisi Sunshine.


"Aku mau berenang dulu, pa." Shadow beranjak berdiri ketika Sunshine dan Richard hendak mengambil tempat duduk.


Ricchi menggelengkan kepala sekilas setelah melihat anaknya terus berjalan di atas pasir putih.


"Kalian dari mana? Ayah dan ibu juga sudah pulang?" Tanya Ricchi kepada gadisnya yang langsung mendudukkan tubuh diatas pahanya


Sunshine bercerita panjang kepada Ricchi, sementara Richard terpaku pada sosok Shadow, wanita yang memiliki tubuh indah bahkan dari belakang. Shadow yang tidak pernah bisa lepas dari pikirannya, kini seolah menjauh.


...


"Yakin mau turun di sini?" Tanya Liam kepada Shadow, anak gadisnya yang meminta mobil untuk berhenti di kawasan Legian, sementara orang lain sepakat akan menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan di daerah Kuta.


"Shadow mau jalan-jalan di sini, yah. Kali ketemu jodoh." Candanya yang membuat ketiga orang tuanya tergelak tawa, begitu pun Sunshine, tidak Richard. Pria itu menatap datar ke arah Shadow.


"Baiklah, jaga diri. Kalau ayah boleh request, jodohnya bukan bule Australia. Ayah tidak mau anak gadis papa diboyong ke Aussie sana, makin jauh dari L.A." ucap Liam berbalik menjawil pipi berlesung milik Shadow


"Bu, doakan Shadow yah." Gadis bersurai hitam mengecup pipi Dee, ibunya lalu beranjak turun dari mobil


"Dengarkan permintaan ayahmu, nak." Seru Dee membuat anak sulungnya terkikik di bahu jalan.


Shadow melambaikan tangan ketika mobil mewah itu berlalu, ia pun membalikkan badan melangkah ke arah yang berlawanan, mencari tempat yang bisa mendamaikan hatinya.


Perhatiannya tertuju pada gerai perawatan kuku, Shadow pun memantapkan hati memasuki tempat yang terlihat lengang akan pengunjung.


Selama 60 menit Shadow membiarkan dua pegawai salon mengerjakan kuku tangan dan kakinya, ia pun sengaja meminta warna merah tomat pada cat kuku terbarunya. Sungguh sangat menggoda walau ia tidak tahu kemana akan menebarkan pesona.


Setelah membayar paket manicure, pedicure beserta memberikan tip kepada dua pegawai wanita yang membuatnya berdecak puas akan warna kukunya. Shadow memilih berjalan menyusuri kawasan ramai akan wisatawan asing, dimana kali ini ia akan mencari menu makan siang khas Bali untuk mengisi perutnya yang mulai keroncongan.


Gadis pemilik mata indah mengerjap tak percaya akan sosok Richard telah berada di dekatnya. Bukannya pria itu tadi bertahan di mobil, tak terpisahkan oleh Sunshine.


"Lepaskan tanganmu, Rich" protes Shadow menarik tangannya, namun pria sahabatnya itu malah menggenggam lebih erat


Mata Richard berkilat dan tajam, rahangnya mengeras menatap Shadow "Kau tahu tidak, hampir sejam aku menyusuri daerah ini dan tidak menemukanmu. Ponselmu pun tidak aktif."


"Aktif, hanya saja aku memakai ponsel lokalku, bukan ponsel di L.A." sahut Shadow kesal, ia tidak bisa bertutur manis kepada Richard, setelah luka di hatinya makin melebar


"Kenapa kau seperti ini, Shadow ? Apa aku melakukan sesuatu yang membuatmu jengkel?"


Kau menciumku dan sekarang kau mendekati adikku, brengsek !


"Lepaskan tanganmu, aku ingin makan." Ucap Shadow menggunakan tangan kirinya untuk membantu membuka genggaman kuat Richard.


"Aku pun juga lapar." Genggaman tangan Richard terurai digantikan rangkulan pada bahu Shadow


"Lepaskan!" Bisik Shadow dengan menahan amarah lalu berusaha tersenyum pada pegawai restoran makanan khas Indonesia yang berdiri di pintu masuk


"Tidak, Shadow. Aku tidak akan melepaskanmu."


Shadow memejamkan mata sembari mengumpat dalam hati. Ia lemah, bahkan ketika hatinya yang sangat gusar bercampur nyeri, pria itu tetap mendominasi.


"Aku akan memesan menu yang sama dengan dia." Ucap Richard ramah kepada pelayan yang hendak mengangsurkan buku menu kepadanya.


Pria muda pelayan restoran pun meninggalkan Richard dan Shadow setelah menulis dan memastikan tidak ada kesalahan pada pesanan mereka.


"Kenapa kau menghindariku, Shadow?" Tanya Richard kepada gadis cantik yang tak menatapnya melainkan terpaku pada ponselnya

__ADS_1


"Shadow, tolong.. ada aku di depanmu. Bisakah kau melihatku, aku sedang berbicara denganmu."


Shadow meringis matanya berkilat pada pria yang tidak memiliki hati di depannya, Richard berlagak tidak terjadi apa-apa di antara dia dan Sunshine.


"Tidakkah kau sadar jika aku tidak menginginkan kehadiranmu? Kau pengganggu ketenangan, Rich." Sungut Shadow tidak membiarkan dirinya takluk pada sorot mata teduh dari Richard


"Aku mencarimu, Shadow. Sejak tiba di Bali, kau sama sekali tidak punya waktu untuk berjalan bersamaku."


Mendengar ucapan Richard, ingin rasanya Shadow melemparkan kobokan ke tubuh pria itu.


Dasar pria tidak mempunyai perasaan ! Bukannya Richard tidak lepas dari Sunshine.


Menampik nyeri hebat di dadanya Shadow mengisi nasi ke dalam piringnya, pandangan matanya tertunduk menahan air mata yang hendak meluruh.


"Aku akan ke toilet." Ucapnya bergegas tak menampakkan wajahnya pada Richard. Shadow mengusap air mata di pipi setelah langkah kelima dari tempatnya duduk.


Ia terus merutuk, bahkan lapar yang tadi hadir telah menguap entah kemana. Shadow menatap nanar pada pantulan wajah gadis di dalam cermin, gadis yang tidak pernah berani mengungkapkan jelas akan perasaannya. Harusnya ia tadi mengatakan dengan jujur kepada Richard, semua hal yang mendera batinnya.


Pengecut ! Tapi haruskah ia jujur sementara Sunshine adiknya terlihat sangat bahagia di samping Richard?


Kembali matanya memburam, Shadow menggigit bibirnya hingga nyaris luka.


Bertahan Shadow, sebentar lagi liburan neraka ini akan berakhir.


...


3 tahun lalu, di bangku taman kampus, Shadow duduk bersantai dengan Imelda, teman seangkatannya.


"Pacarmu mana, sayang ?" Tanya Imelda gadis perpaduan Filipina Amerika, tertawa kecil sembari menyikutnya


"Siapa yang kau maksud ? Richard ? Please babe, berapa kali aku katakan, jika Rich adalah sahabatku, teman seperti halnya aku dan kamu.. Selamanya akan begitu, kami hanyalah teman." Sahut Shadow berbohong, hatinya berdenyut indah melapalkan nama pria yang mengajarinya berciuman, tepatnya dua minggu yang lalu


Ucapan Shadow cukup keras hingga terdengar pada pria yang sontak menghentikan langkahnya, Richard berbalik arah dengan hati terluka. Seharusnya nanti malam ia akan mengungkapkan perasaannya terhadap Shadow, gadis yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.


Walau ia pria, pun hati Richard ibarat bunga yang semestinya mengembang bukan layu sebelum waktunya.


Ah Shadow, tidakkah kau tahu bahwa perkataan ringanmu telah melukaiku ?


###




alo kesayangan ☔


Jogja sedang gerimis..


bagaimana dengan kota kalian ?


tetap sehat semua, hindari keluar rumah yang tak penting 😊


[tokoh novel ini belum muncul semua, sayang]


Love,


D 😘

__ADS_1


__ADS_2