DI ANTARA DIA

DI ANTARA DIA
Hari Pertama Bertiga


__ADS_3


"Dan ini di mana Dee?" Tanya Ricchi menunjuk pakaian tersusun yang diambilnya dari kotak coklat.


"Itu bajuku kak, berarti di sebelah kanan." Sahut Dee menunjuk ke bagian yang dimaksudnya.


Hanya seminggu selang percakapan di dapur perihal untuk tinggal bersama, kemudian pasangan suami istri itu resmi hidup seatap Ricchi Maheswara.


Bicara tentang rumah Ricchi walau tidak berada di kawasan perbukitan Hollywood layaknya para selebriti papan atas menetap, namun hunian sang aktor masih berada di kawasan yang sama, kota Los Angeles.


Kediaman Ricchi adalah bangunan berlantai dua, mengambil konsep arsitektur design modern contemporary mempunyai halaman depan yang luas, sangat teduh dan asri, diapit dengan dua pohon besar menjadi ciri khasnya tak lupa rerumputan hijau terpotong rapi.


Dee menempati kamar terbesar yang berada di lantai satu, luasnya saja lebih besar dari ruang tengah di apartemen lama mereka. Ricchi sepertinya telah mempersiapkan isi furniture sebelum kepindahan Dee dan Liam, terbukti isi kamar tersebut semuanya menguarkan bau khas barang baru.


Kamar Dee mempunyai walking closet yang tersambung dengan kamar mandi. Hal ini membuktikan bahwa pertama kali dalam hidup Dee, ia mempunyai sebuah walking closet layaknya seorang artis atau sosialita kelas menengah keatas.


Tidak banyak barang yang Dee bawa dari apartemen, mengingat mereka lebih lama berada di Georgia. Dan di rumah Ricchi semua telah tersedia, apapun itu bahkan sang aktor memiliki dapur canggih yang tidak pernah tersentuh.


"Kak Ricchi malah memberikan kamar kakak untuk kami." Dee memandang Ricchi yang sibuk merapikan susunan baju sementara ia hanya diperbolehkan duduk sambil meluruskan kaki.


Ricchi menoleh sambil tersenyum simpul "Kamarku di atas lebih besar daripada ini sayang, cuma kemarin lebih simpelnya berada di lantai 1." Jelasnya kemudian mendudukkan tubuh di samping wanita hamil dan cantik itu.


"Kalian bahkan belum membeli perlengkapan bayi." Ricchi bergumam sambil melayangkan pandangan kepada rak-rak yang masih kosong.


"Bukannya nanti si gadis tidur denganmu, berarti pakaiannya di walking closet Kak Ricchi."


Ricchi melirik sambil tertawa kecil "Apa boleh nanti aku bawa ikut syuting, berhubung aku adalah babysitter nya."


"Eh.. kakak sudah mau comeback ? Ada tawaran main film atau serial? Serial dokter-dokter kak bagus." saran bumil itu dengan mata berbinar, Dee sangat suka dengan serial dokter dari Amerika, House,md adalah salah satunya.


Ricchi menggeser tubuhnya agar bisa saling bertatap muka "Ada beberapa tawaran film, tapi aku masih memilah. Kakak ingin menunggumu melahirkan, sayang. Sisa 3 bulan lagi dan cutiku masih ada 6 bulan. Cukuplah melihatmu lahiran dan si gadis berusia 3 bulan."


Dee meraih tangan Ricchi dan menggenggamnya "Kenapa Kak Ricchi mau melakukan ini semua? Mulai tinggal bersama, sekarang kakak mengatakan jika ingin menungguku melahirkan. Apa tidak sayang dengan karier kakak?"


Ricchi menghela napas sambil memainkan jemari Dee "Karena aku mencintaimu Dee, aku juga sayang dengan abang. Banyak kok aktor seperti aku yang memutuskan untuk rehat sejenak, apalagi dengan kejadian yang aku alami kemarin. Aku memulai dunia ini saat masih berusia belasan tahun, wajarlah jika sekarang aku ingin istirahat walau sejenak. Di samping demi fisikku dan kamu Dee. Aku harus berada di dekatmu daripada aku mengambil satu pekerjaan dan pikiranku kemana-mana."


Pria tampan itu terkekeh ringan memberi jeda pada penuturannya.


"Abang juga sedang sibuk, kamu bakal ditinggal jika film itu selesai, tahapan berikutnya promo, karena ini skala Internasional tentu saja abang akan ke negara lain."


Dee beradu pandang dengan Ricchi, semua dipikirkannya jauh hari sementara dirinya tak mengingat hal tersebut, Liam pun tidak pernah mengungkitnya.


"Thank you kak... Sudah sangat pengertian, kami malah belum memikirkan sampai ke tahap itu."


"Itulah kenapa kita harus tinggal bersama, ketika suami pertama sedang sibuk, suami kedua ada yang menemani." Canda Ricchi memapah Dee untuk bangkit dari duduknya.


Dee tertawa, entah kenapa dia bahagia dengan ucapan Ricchi. Ia seolah menjadi seorang wanita yang rakus, ingin terus memiliki dua pria mengasihinya dan keduanya bisa hidup seatap seperti yang mereka jalani sekarang.


...


Bau daging terpanggang menyambut Liam sepulang bekerja, ia mendapati Dee dan Ricchi terlihat sibuk menyiapkan makan malam yang seharusnya menjadi tugasnya.


Mereka telah menyepakati akan merayakan hari pertama kepindahan di rumah Ricchi.


"Kalian malah sudah memasak." Liam menghampiri Dee dan Ricchi di dapur. Sang aktor sedang membuat saos steak sementara istrinya bersedekap menatap ke oven.


"Kak Ricchi mau belajar masak, makanya kita memulai duluan, Kak Liam juga pasti capek bekerja."


Liam tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya dengan lemah, ua sangat kelelahan hampir 10 jam duduk bekerja di dalam studio. Fisik maupun pikirannya terkuras berapa hari terakhir ini. Liam pun sangat berterima kasih dengan Ricchi, kehadiran pria itu sangat meringankan tugasnya sebagai suami bagi Dee yang sedang mengandung.


"Kamu kuat kan, Wifey ?" Liam mengelus perut istrinya


Dee mengangguk sambil tersenyum "Aku tidak mau manja kak dengan tidak melakukan apapun. Ini cuma memasak, bukan mengepel rumah sebesar ini."

__ADS_1


"Aku takkan membuatmu melakukan itu, sayang." Sahut Ricchi disertai kekehan


"Kak Liam mandi dulu, biar kami yang menyiapkan makanan. Ya?" Dee membelai pipi Liam, pria itu memejamkan matanya antara merasakan lelah atau menikmati sentuhan istrinya.


Ricchi berdeham membuat Liam dan Dee tertawa dan menghentikan kemesraan mereka.


"Aku cemburu." Ricchi menyeringai menatap Liam dan Dee


"Kalau tidak mau cemburu harusnya kamu tidak mengusulkan untuk tinggal bersama. Resiko jadi pria idaman lain soalnya istriku masih sangat cinta. Tidak tahu kalau cintanya hilang."


Dee menatap Liam dan Ricchi secara bergantian "Aku sayang kalian berdua, jadi jangan ada pertengkaran."


"Tadi kakak cuma bercanda kok sayang, aku sudah siap dengan kemesraan kalian berdua." Ricchi mengklarifikasi sambil menjatuhkan kepalanya di bahu Dee.


Liam berdecih "Aku mandi dulu kalau begitu."


"Kakak jangan luluran." Seru Dee membuat suaminya menoleh sambil tertawa.


...



Hanya menunggu Liam selesai membersihkan tubuh dan ketiga pun duduk berhadapan di meja makan 30 menit kemudian. New York Strip steak menjadi menu makan malam perayaan kepindahan Dee dan Liam, sebenarnya si bumil menginginkan makanan khas nusantara. Namun dengan kesibukan suaminya yang belum sempat berbelanja ke toko bahan makanan Asia. Syukurnya Mike sebagai asisten dan manager Ricchi adalah orang yang serba bisa, pria berusia sepantaran Liam itulah yang menyiapkan bahan makanan mereka untuk beberapa hari ke depan.


"Kak, kata Kak Ricchi nanti pas promo film Kak Liam bakal ikut juga ?" Ucap Dee sambil menyuap potongan daging ke mulutnya.


Liam yang duduk bersebelahan dengan Ricchi memandang lurus ke arah istrinya


"Kurang tahu, Dawn. Bisa jadi pergi tapi saat itu anak kita sudah lumayan besar. Jadwal tayangnya masih tahun depan."


"Kak Ricchi mau menemani sampai menolak kerjaan." sahut Dee


Liam menoleh ke arah Ricchi "Memang kamu mau berhenti jadi aktor? Tidak baik menolak rejeki, nanti orang-orang lupa dengan kamu. Apalagi ini Hollywood, persaingan sangat ketat."


sedang tidak bersaing dengan Brad Pitt. Sebanyak apapun film aku ambil, tidak bisa menyamai aktor setampan seterkenal Brad. Kita pekerja dari Asia, yah, bisa dikatakan pelengkap aktor-aktor yang memulai karier aktingnya di Hollywood sejak dini. Tidak bekerja berapa tahun pun, masih bisa membiayai gadisku hingga dewasa." Jelasnya.


"Kamu sepertinya sudah siap menjadi orang tua." Ucap Liam dengan tersenyum miring


"Tentu saja, ya kan sayang?" tanya Ricchi menyipitkan matanya dengan bibir melengkung ke atas


"Bang, kamu tidak berniat memindahkan atau membuka kantor baru Farubun Pictures di sini? Daripada cuma jadi sutradara saja, padahal kamu lebih dari itu." usul Ricchi


Liam terlihat termenung kemudian menoleh ke Ricchi dengan wajah berseri "Kamu mau ikut menjadi pemegang saham? Berarti kamu harus menanam modalmu."


"Berdua kita lebih kuat, tentu saja.. Bagaimana jika 50 50 ?" Ricchi mengulurkan tangannya


"Wifey, kamu jadi saksinya.. hari ini Farubun Pictures L.A mempunyai mitra." Liam menjabat tangan Ricchi


"Tapi kalian harus membuat surat perjanjian, buat legalnya." Sahut Dee


Liam dan Ricchi tertawa geli,


"Tentu saja Dee, kita berdua profesional di bidang ini. Sedekat apapun dalam hal kerjasama semua harus di atas hitam dan putih." Ucap Ricchi memamerkan senyum indahnya


...


Dee menatap nanar langit-langit kamar tidurnya, tadi dia tertidur namun anaknya seolah bermain di dalam membuatnya kembali terbangun.


Ceklek !


Pintu terbuka membuat Dee menaikkan kepalanya sedikit.


"Kamu belum tidur dek ?" Tanya Ricchi kembali menutup pintu dan berjalan ke tempat tidur.

__ADS_1


Dee mengerti akan kehadiran Ricchi pun menggeser badannya. Tempat tidur mereka berukuran super king size bed yang bisa memuat hingga 6 orang.


"Aku terbangun kak." Dee menoleh melihat Ricchi perlahan membaringkan tubuhnya "Kak Ricchi sendiri ?"


Ricchi menghela napas ringan sambil bersedekap dan melakukan hal yang sama dengan Dee, menatap langit-langit kamar.


"Aku menonton film di kamar, tadinya cuma mau mengecek kalian. Malah kamu belum tidur sayang. Apa karena gadisku ?" Tanya Ricchi merubah posisi memiringkan badannya ke kanan dan menumpu kepalanya dengan tangan.


"Iya. Aku jadi sering terbangun akhir-akhir ini." kesah Dee


"Hamil sesusah itu ya? Ini baru mau masuk bulan ke 7, gimana nanti sisa bulan berikutnya."


"Mungkin aku harus banyak bergerak di saat siang, jadi malam sudah kelelahan dan bisa tidur lelap."


"Atau olahraga pagi, misal jalan santai. Ada loh olahragawan masih hamil tapi tetap ke Gym."


"Kak Liam tidak bakal ijinkan Kak. Apalagi ini anak pertama." lanjutnya berkesah


"Ada juga syukurnya jadi pria, tidak perlu hamil." Ricchi mengusap perut Dee mencoba menenangkan gadisnya yang terus aktif.


"Kak aku pernah baca, jika pasangan transgender bisa punya anak." Seru Dee yang tidak merasakan kantuk lagi


Ricchi terkekeh kecil "Itu mungkin mereka tidak merubah sistem reproduksinya." Sahut Ricchi yang mengalami hal yang sama dengan Dee, kantuknya menghilang.


"Eh kak. Bukan menyinggung masa lalu, tapi kakak berdua kan "itu" malah kalau dari luar tidak ada yang tahu jika menyukai sesama. Apa Kak Ricchi tidak pernah berniat menjadi wanita?"


Ricchi tergelak tawa keras sampai harus menutup mulutnya dengan bantal. Tempat tidur pun ikut bergoyang karena tawa aktor itu.


"Kalian itu mau tidur atau mengobrol ?" Erang Liam dengan suara seraknya


"Kak Liam bangun ? Maaf, soalnya si gadis kasih


rewel lagi jadi tidak bisa tidur."


Liam menggeram sementara Ricchi masih terkikik belum bisa menguasai diri akan perkataan spontan kekasih hatinya.


"Sejak awal kalian berbicara aku bangun, Wifey. Perlu kamu ketahui jika gay dan transgender itu beda. Gay tetap dengan penampilan maskulin walau ada yang agak melambai, tidak menyukai wanita, tapi transgender memang ingin merubah diri dan berpenampilan wanita. Walau sebenarnya tetap saja sama, keduanya adalah pria yang salah jalan." Ucap Liam ikut terbawa dengan alur pembicaraan Dee dan Ricchi


Ketiga kemudian terdiam tanpa bergerak atau bersuara


"Selain ciuman, Kak Liam dengan Kak Ricchi sudah ngapain saja ?" Tanya Dee memecah kesunyian


"Wifey !"


"Sayang !"


Kedua pria itu sontak terduduk dari posisi baring dengan seruan yang tak tanggung-tanggung, Dee pun terbahak tawa hingga air matanya keluar.


###




alo kesayangan..


segala sesuatu gak berjalan seperti yang aku inginkan, harusnya part ini kamis aku up.. tapi disebabkan kesibukan hingga magrib, dan part ini masih harus di revisi.. jam 9 malam baru di up😏


author mungkin sama capeknya dengan abang Liam sekarang 🤭😂


maaf finlay n rien semoga bisa aku kerjakan, tapi mungkin finlay duluan ? rien biar gantung kalian dulu 😂..


love,

__ADS_1


D😘


__ADS_2