
Liam berjalan perlahan keluar dari kamar tempat pemotretan yang modelnya telah jatuh tertidur dengan lelapnya. Ia terus terkekeh dan sempat mengabadikan wajah Dee secara close-up dengan telepon genggamnya. Sebuah kejadian langka dalam kariernya sebagai fotografer.
Gadis kecil yang betul-betul lucu, tapi ia juga kasihan dengan Dee, memaksa untuk mengikuti semua keinginannya. Liam lupa jika Dee bukan seorang model namun ia memperlakukan gadis kecil itu selayaknya seorang profesional.
Maafkan aku, Dawn.
Liam punya rencana besar dengan foto-foto yang diambilnya, yang tidak akan diberitahu kepada Dee sebelum project tersebut telah selesai.
...
Liam menahan diri untuk tidak langsung bekerja memilah foto Dee, meredam semangatnya. Ia memilih naik ke lantai dua kamarnya, melakukan ritual membersihkan diri, memakai cream perawatan lalu turun kembali ke kamar tempat Dee tertidur.
Liam membaringkan tubuhnya di samping Dee, ia melakukan ini karena tidak mau gadis kecilnya terbangun dini hari dan mendapati bahwa dirinya tertidur sendirian di kamar yang tidak dikenalnya.
"Selamat tidur dek...." Gumam Liam menutup matanya.
...
Dee terbangun saat cahaya matahari masuk dari sela-sela kain gorden, ia lalu tersentak kaget menatap dinding kamar yang sangat asing.
Ini bukan kamar tidurnya.
Di samping tempat tidur sebelah kiri terdapat dua lampu studio, matanya menatap ke sebelah kanannya sosok pemilik tubuh panjang membelakanginya. Punggung yang dibalut piyama bermotif garis, tubuhnya bergerak naik dan turun secara teratur.
Kak Liam!
Sontak semua kesadarannya berkumpul dadakan seperti tahu digoreng dadakan, meletup!
yah, dada Dee yang meletup!
Sial !
Dee mengumpat sepagi ini akan kecerobohannya
Aku Belviyah Dawn, baru saja tidur dengan gay ter-hot se Indonesia Raya ! Pekiknya ..
*Tidak. Ter-hot kedua setelah Ricchi, ralatnya. Mengingat fans Ricchi lebih banyak daripada fans Liam, mungkin*.
Dee lalu menggeser tubuhnya pelan, tidak ingin membangunkan Liam
"Mau kemana?" Gumam Liam membalikkan tubuhnya, mata sipit itu memicing melihat posisi Dee kedua tangannya menumpu badannya dengan kaki kiri sudah menyentuh lantai.
"Ha..i kak" sapa Dee tergagap, senyum di bibirnya bergetar.
Greb!
Tangan Liam menangkap pergelangan tangan dan menariknya hingga tubuh Dee terjatuh kembali ke tempat tidur. Satu sentakan lagi dan Dee sudah berada dalam pelukan hangat seorang Liam Farubun.
"Kakak tanya, mau kemana? Hmmmm. Ini baru jam 7. Jalanan sudah panas jika ingin lari pagi, besok saja." perintah Liam tanpa mempedulikan Dee yang tidak bisa bernapas leluasa dengan wajahnya berada di tulang selangka sang produser.
"Kak."
"Hmm."
Bahkan dehaman Liam berupa perintah agar Dee tidak mengeluarkan protes dengan perlakuan yang diterimanya. Dee memilih memejamkan mata.
__ADS_1
Mereka tertidur selama sejam, hingga Dee dibangunkan oleh sebuah kecupan di keningnya.
"Dawn." Ucap Liam lembut.
"Yah." sahut Dee mengerang lirih
"Bangunlah, kamu tidak ingin berenang?"
Seketika Dee membuka matanya, wajah Liam terpampang jelas di depannya, senyuman jahil menghiasi wajah pria itu.
"Sudah bangun, kan? Kamu pulang ambil baju renangmu dan kakak buatkan sarapan."
...
Dee sudah melupakan tidur barengnya dengan Liam, ia memilih menikmati sesi berenangnya. Toh juga tidak terjadi apa-apa, Liam adalah pria terakhir yang akan berbuat tidak-tidak kepadanya.
Yang perlu Dee tanamkan dalam hati adalah Liam tidak melihatnya sebagai wanita. Pria itu hanya membutuhkan teman, saudara yang bisa mendengarnya, yang bisa menasehatinya dan tadi malam tak lebih dari sebagai teman tidur.
Dee tidak terlalu paham dunia yang telah dilalui Liam tapi pastinya pria itu bertahun-tahun hidup kesepian. Tidak tahu pula perkembangan hubungan Liam dengan Ricchi, yang akhir-akhir ini sang aktor tidak pernah berkunjung. Dan Liam lebih banyak di rumah.
"Sarapan dulu. Kamu sudah 30 menit di kolam." seru Liam membawa nampan menuju meja bertudung di samping kolam renang
Mendengar seruan Liam, Dee langsung naik dari kolam renang dan berjalan menuju meja tempat Liam menaruh 2 piring nasi goreng dan orange jus. Tak lupa melilitkan handuk putih di pinggangnya walau baju renangnya bukan sebuah bikini seksi melainkan legging pendek dengan atasan tanpa lengan.
Tiap akhir pekan di manja seperti ini asyik juga, pekik riang dalam hati Dee
"Terima kasih makanannya." ucap Dee berdoa kemudian mulai menyendok nasi goreng seafood buatan Liam
"Enak!" Lanjutnya dengan menyunggingkan senyuman merekah kepada pria yang menatapnya lekat-lekat
"Kakak mau di suap lagi?" Tanya Dee menatap Liam yang berpangku tangan
Pria itu menggelengkan kepala.
"Kamu pasti capek berenang." sahut Liam terkekeh.
"Baru mikir sekarang kalau aku capek, kemarin tidak." sungut Dee "Ini belum kerasa, mungkin nanti malam"
"Aku pijit kalau badanmu pegal dek."
Dee menatap Liam tajam sambil menaikkan alisnya sebelah
"Pijit murni loh, bukan pakai plus-plus. Percaya deh."
Dee sangat percaya dengan perkataan Liam.
"Aku percaya kak, tapi kalau aku capek obatnya cuma tidur." sahut Dee datar sambil menghabiskan nasi gorengnya.
"Jujur dek. Aku tidak pernah tidur dengan wanita sebelumnya, kamu adalah yang pertama, Dawn. Jika sekedar pemotretan dan memeluk model sebenarnya sudah sering. Aku juga tidak pernah berciuman dengan wanita apalagi melebihi itu. Kenapa yah, mungkin karena aku tidak suka wanita. Tidak tertarik secara seksual, jadi tenang saja aku tidak akan berbuat seperti pria pada umumnya," ungkap Liam jujur, Dee hanya tersenyum tipis mendengarnya. Sebuah kejujuran yang menyakitkan di hati Dee, benar pria di depannya hanya butuh seorang teman.
Beruntunglah Dee, pria sehebat Liam memilihmu menjadi teman dan menganggapmu adik.
...
Kebersamaan Liam dan Dee berlangsung hingga Minggu sore yang mana pada hari Sabtu dihabiskannya menemani Liam bekerja di ruang khusus yang pernah disebutkan sebelumnya. Sebuah ruangan yang berada di dalam kamar tidur Liam, tidak luas hanya berukuran 3x2, terdapat sebuah meja kayu besar dengan dua monitor komputer brand Apple yang mana harga 1 monitor mencapai ratusan juta rupiah. Sebuah harga yang fantantis namun hasil dari pekerjaan Liam jauh melebihi dari angka sebuah monitor.
__ADS_1
Sang fotografer itu terlihat serius melakukan editing foto, sementara Dee memilih bersantai di sofa berwarna hijau, memasang handsfree dan bermain game. Ia memang tidak mempunyai akun sosial media selain Twitter, namun Dee memilih hobbynya memainkan game action secara online di telepon genggamnya.
Sesekali Liam melirik gadis kecilnya yang terlihat asyik memainkan game di ponselnya, terkadang ia kaget mendengar seruan bahkan umpatan dari Dee yang membuatnya tersenyum bahagia.
Dirinya merasa tidak bosan bahkan sebaliknya, hingga jam 4 sore semua pekerjaannya telah selesai.
"Dawn. Ayo keluar makan" kata Liam yang telah berdiri di samping sofa tempat Dee berbaring.
"Sudah kelar kerjaannya?" Tanya Dee spontan bangun dan berdiri mendongak menatap wajah tampan Liam
"Hu um." Balas Liam mengangguk "Saking fokusnya hingga jam makan siang kita lewati. Jadi, mau makan apa, dek?"
"Junkfood? Apa boleh?"
"Ya sudah, jika itu yang kamu mau. Besok juga kita olahraga." kata Liam sembari mengacak rambut Dee lembut.
...
Tidak ada yang spesial selama dua minggu di Kalimantan kecuali cecaran dari Wahyu meminta penjelasan dari Dee tentang hubungannya dengan Liam.
Angga? Pria itu seperti menarik diri. Kembali seperti sebelumnya, dingin. Mereka berbincang tak lebih dari soal pekerjaan. Tidak adalagi permintaan jalan dari pria itu padahal bisa dikatakan kota tempat mereka dinas adalah tempat asal seorang Angga Karunasankara.
Saat akhir pekan di sana Dee memilih berkeliling sendiri, ia tak memikirkan lagi tentang Angga yang tidak kelihatan batang hidungnya di hotel tempat Team Mawar menginap. Dee memilih tidak memikirkannya sampai di hati, mereka juga tidak mempunyai hubungan apa-apa.
...
Anggota Team Mawar pun terpisah di bandara setelah bersenda gurau menunggu taksi masing-masing, kepulangan mereka full team ke ibukota kecuali Angga yang memilih untuk tinggal di Kalimantan.
Dee kembali membaca pesan di ponselnya, berulang kali. Tak akan ada Liam menunggunya seperti hari biasa, pria itu mengabarkan 3 hari lalu jika sedang dalam perjalanan ke bandara dan akan terbang ke Italy menghadiri fashion show di sana.
Hati Dee sedikit sedih ketika mendapat kabar itu, namun ia hanya bisa membalas pesan Liam dengan kata 'take care, Kak'.
Setelah itu Liam tidak membalas, dan Dee juga tidak mengabari apapun kepada pria tersebut.
"Sudah sampai, Mbak." kata pak sopir taksi yang menyadarkan Dee dari lamunan, selama itukah dirinya termenung hingga jarak bandara dan rumahnya yang melewati kemacetan hari Sabtu sore pun tak disadarinya. Taksi berhenti di depan bloknya, tempat biasanya Dee minta diturunkan.
"Ini, Pak" kata Dee menyerahkan dua lembar seratusan ribu "Kembaliannya tidak usah,"
"Makasih banyak, Mbak." sahut pak sopir dengan riang langsung buru-buru membuka bagasi mobil mengeluarkan koper dan bawaan lain Dee.
Tatapan Dee terpaku pada pria yang bersandar di mobil mewahnya, sosok tinggi itu terlalu asyik dengan ponselnya hingga bunyi "tek-tek" dari koper yang ditariknya menggerus paving blok dengan keras tak membuat menoleh melihat kebarahnya.
"Kak.!" Sapa Dee memanggil pria berkaos putih dan bercelana pendek warna biru memamerkan kaki jenjangnya.
"Deeee !" Teriak riang Ricchi dengan senyuman khas mematikan menyambut Dee.
Ricchi langsung memeluk tubuh Dee di pertengahan jalan antara rumahnya dengan rumah Liam.
"Selamat datang," Gumam Ricchi "aku rindu." Lanjutnya dalam hati
"Hehee makasih, kakak sedang apa di sini ? Kak Liam kan sedang di Italy"
Karena itulah aku datang, karena dia tidak ada. Selama ini Liam menolak jika aku ingin berkunjung. Dia tahu, aku ingin menemuimu ! Tapi tidak kali ini. Aku bebas dan inilah kesempatanku!!
###
__ADS_1