DI ANTARA DIA

DI ANTARA DIA
Akhir Sebuah Cerita, Awal Sebuah Perjalanan


__ADS_3

Liam berkaca-kaca dengan pandangan terarah pada gadis kecil berusia 7 tahun yang mengenakan dress panjang berwarna hijau, rambutnya di gelung ala ibu-ibu. Gadis kecil itu tak lain Sunshine yang sedang berlakon di panggung menjadi ibu tiri dari Cinderella, gadis kecil lainnya yang mengenakan dress berwarna gading, wajah lembut berbanding dengan raut berkilat milik anaknya.


"Cinderella, kau harus membersihkan seluruh lantai rumah. Mama tekankan sekali lagi bahwa kau tidak boleh ikut pesta, jangan membuat malu keluarga kita dengan penampilanmu yang seperti itu." Lakon Sunshine yang mengundang gelak tawa para orang tua yang menonton pementasan drama sekolah sang gadis kecil yang begitu mendalami perannya.


Ricchi, Liam dan Dee tergelak tawa keras sambil bertepuk tangan sementara Shadow tersenyum lebar melihat adiknya.


"Dia mewarisi bakatku."'ucap Ricchi riang menatap Liam dan Dee, kedua orang di sebelahnya yang kemudian mengangguk menyepakati perkataannya


"Padahal kemarin Sunshine sempat drama, dia takut dengan pementasannya hari ini." Sahut Dee dengan mata tak lepas menatap anaknya yang tidak berpipi bakpao lagi


Liam tersenyum geli mengingat jelas bagaimana drama Sunshine, gadis kecil itu merajuk di pelukannya. Sunshine mengungkapkan kebimbangannya, akan ketakutan dia salah dialog. Ia pun menenangkan anaknya, bahwa semua aktor besar pernah mengalami demam panggung.


Banyak yang disampaikan Liam hingga Sunshine bisa berdiri dengan hebatnya diatas panggung, gadis kecil itu sukses pada penampilan perdananya. Ayah bermata sipit itu sangat bangga, begitu pula dengan Ricchi dan Dee, sang ibu.


...


"Oke, tiga dua satu, action!" Seru Shadow sambil memegang kamera kecil milik ayahnya, sementara sang bintang film tak lain adalah Sunshine yang berakting di atas erumputan depan rumah.


Liam, Ricchi dan Dee terkekeh melihat tingkah laku kedua anak mereka. Sejak kesuksesan Sunshine di pementasan drama, kedua gadis yang lebih memilih bermain dengan kamera pemberian Liam. Setelah itu, tentu saja Shadow meminta sang ayah untuk mengedit hasil syuting dan menyimpannya dalam flash disk.


Shadow, Sunshine penuh percaya diri meminta Liam, Ricchi dan Dee untuk menonton bersama hasil karya mereka. Pun tak segan meminta kritikan akan film pendek mereka kepada kedua ayah.


"Kita sepertinya sudah tahu kemana bakat Shadow dan Sunshine." Gumam Dee


"Maafkan kami, sayang." Sahut Ricchi


Liam pun tertawa kecil, mata sipitnya sampai hilang "Masing-masing anak itu mengikuti gen ayah, tak ada satu pun berminat di bidangmu, Wifey. Otak kanan mereka lebih dominan dibandingkan otak kiri."


"Terlebih Sunshine." Ricchi tertawa keras hingga Dee pun menyikut lengan pria berlesung pipi nan indah itu.


"Ricchi, Tidakkah kau ingin memasukkan Sunshine ke Disney Kids? Biarkan Sunshine ikut audisi, kita lihat kemampuannya menempus Hollywood di usia dini."


Raut riang di wajah Ricchi perlahan hilang, sorot mata menjadi datar ketika mengalihkan pandangannya ke arah Liam yang duduk di sebelah. Ketiga orang tua tersebut duduk di di kursi rotan berwarna putih dengan bantalan empuk berwarna coklat yang berada di beranda depan rumah.


"Bang, itu terlalu cepat. Sunshine masih 7 tahun, kalau pun ingin memasukkan dia ke industri film kita bisa menunggunya hingga tamat sekolah menengah. 18 tahun, saat itu Sunshine sudah dewasa. Dia sudah bisa menentukan jalan hidupnya. Kita bisa mengorbitkannya lewat perusahaan Farubun and Maheswara. Berikan dia peran utama di beberapa film dan itu sangat gampang bagi kita, bang."


Liam menggelengkan kepala sementara Dee memilih memakan buah potong dengan pandangan mata mengarah kepada Shadow dan Sunshine. Dee tidak mau terlibat dalam percakapan kedua ayah anak-anaknya, terlebih bakat Shadow dan Sunshine menurun jelas dari Liam dan Ricchi.


"Itu sangat nepotisme, baik Shadow dan Sunshine sebaiknya mereka mendapatkan impiannya dengan kerja keras masing-masing, Ricchi. Bukan karena ayah mereka mampu memberikan jalan pintas menuju sukses. Iya kalau sukses, kalau cuma tenar sebentar kemudian menghilang? Efeknya tidak bagus di mental Shadow dan Sunshine. Anak-anak kita jadi lemah, selalu berharap dari orang tua."


Ricchi mendengus pelan lalu menatap Dee dengan mata sendunya "Dee sayang, apa yang harus aku lakukan? Aku dipenuhi ketakutan bahwa Sunshine menggemaskanku akan liar dengan kerasnya Hollywood."


Liam meninju lengan Ricchi, pria bermata sipit dengan rambut abu-abu di kepala semakin nampak pun tertawa kecil "Sunshine punya dua bapak yang hebat, Ricchi. Aku pernah mengatakan jika kita bisa membuat anak-anak kita tidak akan menjadi seperti selebriti muda dan hancur karena Hollywood. Kita bisa." Ucapnya menyakinkan pria di sebelahnya sedang gamang


Ricchi menghela napasnya panjang "Berjanjilah bahwa kita bertiga akan menemani Shadow dan Sunshine meraih cita-citanya. Berjanjilah bang, untuk sabar membimbing mereka."


"Kau yang harus bersabar, bukan aku." Potong Liam


Dee mengusap lengan Ricchi menenangkannya, sang papa itu terlihat sangat mengkhawatirkan buah hatinya yang mulai beranjak dewasa.


"Ada baiknya kita mempersiapkan semuanya sejak dini. Kak Ricchi sudah mengajarkan banyak hal kepada Shadow dan Sunshine, aku juga lihat perkembangan mereka sangat bagus. Nilai-nilai ketimuran tetap tertanam di jiwa anak-anak kita. Jangan membuat lemah keduanya dengan mengiming-imingi masa depan cerah lewat rumah produksi Kak Ricchi dan Kak Liam. Mereka akan sombong, itu tidak bagus. Apalagi keduanya akan mewarisi perusahaan tersebut." Ucap Dee panjang lebar dengan tatapan serius oleh Ricchi dan Liam kepadanya


Kedua bapak muda tersebut pun mengembuskan napas panjang, di saat yang bersamaan teriakan lantang Shadow menyelesaikan syutingnya sore hari itu.


"Cut !"


...


12 tahun kemudian


"Ophelia Shadow Farubun." Panggil MC dalam rentetan nama-nama peserta wisuda New York University Tisch School of the Arts. Dee tidak bisa menahan haru bahagia melihat sosok anak gadisnya berjalan naik keatas panggung sembari terpekik ceria. Liam mengangsurkan sapu tangan untuk wanita cantik di sebelahnya dengan mata berkaca-kaca, ia pun merasakan hal yang sama.


Sementara Ricchi menggenggam jemari gadis cantik berambut hitam di sampingnya, yang tak lain Sunshine anaknya. Gadis berusia 19 tahun itu menggigit bibirnya dengan manik hitam yang memburam. Ia sangat bangga akan keberhasilan kakaknya mencapai degree di jurusan Directing Film dengan sangat memuaskan, alias cum laude.

__ADS_1


Shadow, kakaknya sangat pintar mewarisi isi kepala Dee, mamanya. Dan bakat dari Liam, ayah mereka. Selama menempuh pendidikan, Shadow telah membuat 3 film indie dan 1 film telah berhasil masuk ke Cannes Film Festival. Walau belum berhasil memenangkan kategori film indie di ajang tersebut, namun nama Shadow telah mulai menjadi pembicaraan di kalangan industri yang sama. Terlebih Shadow akan masuk ke dalam Farubun and Maheswara, dia akan menjadi sutradara muda yang nantinya menjalankan perusahaan ayah mereka.


"Papa sangat bangga dengan kalian berdua, Sunshine." Gumam Ricchi sembari mengambil foto sebanyak-banyaknya pada gadis mengenakan toga hitam yang sangat sadar kamera papanya.


Sunshine tersenyum lebar menganggukkan kepala, ia paham maksud perkataan Ricchi, papanya.


Sunshine sendiri adalah aktris muda yang merupakan jebolan Disney kids. Ia berhasil masuk di usia 8 tahun, dan langsung mendapatkan peran di series anak-anak. Hingga beranjak remaja, Sunshine telah membintangi berpuluh series, dan selama 2 tahun lalu ia telah keluar dari tempat yang membesarkannya kariernya.


Sunshine telah memasuki usia dewasa, ia mulai mengambil film genre remaja, tentu saja tak lepas dari pantauan kedua ayahnya yang sangat ketat. Sunshine sebenarnya malu menceritakan ini, namun momen ciuman pertamanya disaksikan oleh Liam dan Ricchi. Ciuman pertama yang tanpa latihan dan langsung on take di lokasi syuting. Yah, ciuman pertamanya di renggut oleh Brad Sweeten, lawan main di film ketika ia berusia 16 tahun.


Sangat memalukan menurutnya, karena hingga usianya yang sekarang ia pun masih ditemani oleh Liam dan Ricchi di lokasi syuting.


Kedua ayahnya yang telah merajai industri film, tak segan menggunakan nama besarnya jika mendapatkan adegan yang menurut mereka vulgar dalam script Sunshine.


Baik Liam dan Ricchi sangat over protectif kepada Shadow dan Sunshine. Dua anak gadisnya tumbuh dewasa tanpa pernah menjalin hubungan asmara.


Sunshine tersenyum simpul melirik Ricchi, ia sangat mencintai papanya itu.


Sepertinya ia dan Shadow tidak akan pernah menikah.


...


"Ayah Ibu." Pekik Shadow ketika acara wisuda telah berakhir, gadis bertubuh jangkung seperti Liam itu pun menghambur kepada kedua orang tuanya


"Kami sangat bangga padamu, nak." Ucap Liam membagi pelukan Shadow dengan istrinya yang terisak


"Ibu jangan menangis ini kan hari bahagia Shadow." Gadis mempunyai senyuman indah seperti milik Ricchi, Shadow lalu menghapus jejak air mata Dee


Wanita paruh baya itu pun menganggukkan kepala "Ibu sangat bangga padamu, Shadow."


Senyum merekah itu tidak pernah lepas dari wajah Shadow "Semua berkat doa ibu dan didikan ayah dan papa." Ucapnya sambil menoleh ke arah Ricchi dan Sunshine yang berjalan sambil bergamitan


"Papa." Seru Shadow bergerak kepada Ricchi dan memeluknya erat


"Terima kasih, pa. Shadow sayang papa." Gumamnya dalam dada Ricchi.


"Kak Shadow, aku tidak disayang ?" Protes Sunshine merajuk tidak sabaran akan giliran pelukan kakaknya yang lebih lama daripada seharusnya


Shadow tertawa keras mengurai pelukannya pada Ricchi dan berpindah memeluk adiknya. Sunshine hanya bertinggi 175 cm sementara ia memiliki tinggi lebih 5 cm daripada adiknya.


"Aku mencintaimu, Sunshine." Serunya mendekap tubuh adiknya dengan gemas, hal yang sering dilakukan mereka sejak kecil.


"Aku juga mencintaimu, Kakak Shadow." Sahut Sunshine lalu tertawa kecil.


"Ayo kita harus berfoto." Ucap Liam meminta perhatian, Shadow pun berbalik menatap kepada sang ayah yang mengenakan pakaian terbaiknya, suit semi formal sementara Dee mengenakan dress berwarna peach.


"Iya, ayo berfoto." Seru Shadow ceria melayangkan pandangannya mencari sosok yang akan dijadikan sebagai tukang foto.


"Richard !" Panggilnya kepada pria yang berdiri tak jauh dari tempat keluarganya berkumpul


Pria bertubuh tinggi kokoh yang telah melepaskan toganya berjalan menghampiri. Richard Wirabrada, teman kuliahnya yang menempuh jurusan sama, pria yang memiliki seperempat darah Indonesia di darahnya.


"Tolong foto kami." Pinta Shadow tertawa kecil mengangsurkan kamera milik papanya


"Maafkan dia." Ucap Ricchi kepada Richard, pria muda yang telah menjadi bagian keluarga mereka.


Tak jarang Richard berkunjung ke Los Angeles bersama dengan Sunshine ketika masa libur perkuliahan tiba.


"Bukan masalah, dad." Sahut Richard menyunggingkan senyuman tipis


Kelima orang anggota keluarga tidak lazim itu pun berpose dengan mesra. Sunshine berdiri diapit Liam dan Dee. Sementara Ricchi bergenggaman dengan Shadow.


"Yeah, sudah berakhir." Seru Shadow ketika sesi foto-foto berakhir.

__ADS_1


"Sekarang sudah siap masuk ke Farubun and Maheswara?" Ucap Liam kepada Shadow, anak gadisnya yang spontan menggelengkan kepala.


"Shadow mau liburan, yah. Ke Bali."


"Kulitmu makin coklat, nak." Sahut Dee


Shadow tertawa kecil lalu mengecup pipi ibunya "Karena aku gadis Indonesia, bu. Itu tidak bisa aku hilangkan."


Dee pun menggelengkan kepala akan kebiasaan anaknya yang suka berjemur di pantai, terlebih di pantai Bali.


"Papa akan menemanimu." Ucap Ricchi


Liam mendengus kasar "Kau pikir dia cuma punya kamu, kami pun akan ikut."


Shadow tergelak tawa akan ucapan ayahnya, ia tumbuh dengan ucapan-ucapan spontan seperti itu. Shadow pun kemudian menoleh ke arah Sunshine yang sedang berdiri di samping Richard. Entah apa yang dibicarakan keduanya, namun sukses membuat senyuman di wajahnya menghilang.


Richard terlihat mendekati adiknya.


Shadow mengembuskan napas panjang kemudian menggamit tangan Ricchi.


"Aku punya papa." Hiburnya dengan bergumam walau hati memerih menyaksikan cinta pertamanya sedang tertawa bahagia dengan Sunshine, adiknya.


###


papa



ayah



Shadow



Sunshine



Richard



alo kesayangan 😊,


masuk fase Shadow dan Sunshine yah 😄..


yep, tetap di novel ini. Masih dengan judul yang sama "di antara dia"


siapakah yang akan menjadi pasangan Richard, tentu saja hanya salah satu dari anak Liam n Ricchi. coz author anti poligami yes !


by the way.. author tidak jadi berhenti menulis, dasar plinplan 😂, gak sih soalnya kepadatan pekerjaan membuatku down.


so, kalian yang author sayangi pake banget #akucumagombal , wajib paham jika tangan author cuma dua, kaki dua, mata dua, otak kecil yang harus terbagi 4 novel dan pekerjaan menumpuk.


kesibukan ini bisa teratasi, sama halnya dengan badai corona yang pasti bisa berlalu 🙏🏻♥️.


selamat berpuasa bagi yang menjalankan, tetap sehat, tetap semangat, tetap bekerja 💕.


love,


D 😘

__ADS_1


__ADS_2