
Hal terindah pada hubungan jarak jauh adalah momen pertemuan kembali, pelukan hangat, belaian kasih sayang, perhatian penuh yang tercurah langsung bukan lewat panggilan suara jarak jauh atau tatapan pada layar canggih berdiameter 6 inch.
Hati Dee menghangat dengan semua yang didapatkan dari Liam, kekasihnya. Pria dewasa yang mencintanya dengan sepenuh hati, begitu pun sebaliknya. Dee mencintai Liam, hati yang pernah mati untuk pria itu, kembali tumbuh seiring waktu.
Selama 2 bulan mereka terpisah, Liam kukuh meyakinkan perasaannya dengan memupuk cinta di hati Dee, dari hanya berupa tunas perlahan membesar. Sebuah pohon cinta tumbuh di hati gadis yang dibelai lembut rambutnya oleh Liam.
Dee sebenarnya sudah terbangun sebelum Liam terjaga, namun ia menikmati sensasi yang merayapi hatinya. Dulu ia pernah berdebar ragu dengan kedekatan mereka yang seperti ini. Namun sekarang debaran indah di dadanya telah dimiliki penuh oleh Liam. Hati mereka saling bertaut dengan eratnya.
"Aku tahu kamu sudah bangun gadis kecil" Liam bergumam lembut mengeratkan kedua lengannya menarik lebih dalam kepala Dee yang semalam mengucap kata cinta untuknya. Ia mengecup rambut hitam kekasihnya yang menguarkan aroma apel.
Helaan napas di dada Liam dari Dee, membuat sebuah senyuman mengembang di bibirnya.
"Jam berapa departemen store di sini buka, Dawn? Kakak harus beli pakaian. Lihat sendiri kan bawanya cuma tas sejinjing, tanpa ada pakaian untuk musim dingin" ucap Liam tetap membelai pelan rambut Dee
"Seperti di Indonesia kak, 10 pagi ke 10 malam, ada juga yang jam 9 pagi sudah buka. Tapi The Gum Mall buka jam 10" jelas Dee menarik kepalanya ke belakang
Sejenak Liam melirik jam berbentuk oval di atas meja nakas, di samping bingkai foto mereka.
"Baru jam 8 pagi, dan di luar masih sendu" ucap Liam lalu terdiam, sejak semalam ia ingin menanyakan perihal bingkai foto bertiga itu
Liam mengusap pelan pipi kekasihnya, menatap penuh cinta di iris mata Dee.
"Ricchi sudah pindah ke Hollywood." Jeda Liam menghela napas pelan "Dia tidak mau lagi menerima film Indonesia."
"Kenapa kakak mengatakan itu padaku?"
"Sebagai informasi, aku lihat kamu menyimpan foto kita bertiga sayang. Padahal kita punya foto berdua saat itu. Kenapa tidak pajang itu saja" sahutnya sedikit cemburu
"Kak, dari awal aku cuma mencetak foto ini. Sejak tiga tahun lalu. Foto itu memberiku semangat menyelesaikan kuliah, bekerja dan hidup sendiri. Kita bertiga berteman kak, tidak lebih dari itu."
"Tapi kamu lihat sendiri kan di ruang kerjaku. Aku membingkai sangat besar foto kita berdua" ucap Liam masih tersengat cemburu, ia memang mencetak foto berdua sebesar 50cm x 1 meter dan dipajang pada ruang kerjanya.
"Karena kakak lebih cinta aku." Sahut Dee dengan pelan "nanti kita foto berdua, yang terbaru."
Senyum tipis tersungging di wajah Liam "aku selalu mencintaimu Dawn, tidak pernah berubah. Sejak pertama aku sadar akan perasaanku, sejak aku mengutarakannya, hingga kamu meninggalkanku pun aku mencintaimu." ujar Liam mengecup kening Dee
"Kakak !" Seru Dee dengan jantung seolah meloncat keluar dari dadanya, wajahnya lalu ditenggelamkan ke dada Liam yang berdebar kencang
"Foto berdua? Maksudmu wedding foto?" Lanjutnya terkekeh pelan
"Terlalu cepat." cicit Dee dengan debaran yang makin tak karuan menghantam dadanya
"Memang mau menikah kapan Dawn? Kita sudah mengenal 3 tahun, aku pun telah mencintaimu selama itu. Kakak juga sudah sangat mengerti sebuah pernikahan itu seperti apa. Hidup bersama membangun rumah tangga dengan orang yang kita cintai." ucap Liam lembut
"3 tahun hidupku terombang-ambing tanpamu Dawn, aku pikir menderita melihatmu dengan Ricchi. Ternyata ditinggalkan tanpa jejak membuat hatiku lebih hancur. Dan kali ini aku tidak mau membuang waktu lebih lama. Aku ingin kamu jadi milikku, semuanya" lanjutnya dengan keposesifan tingkat tinggi
Sontak Dee bangun dan terduduk diikuti oleh Liam, mereka saling berpandangan yang kemudian sang gadis tertunduk menautkan jemarinya pada jemari kekasihnya.
"Kak, honestly, i'm not virgin anymore" ucapnya sangat pelan, Dee harus jujur begitu mendengar penuturan Liam tentang arah hubungan mereka.
"Dawn." Liam menangkup wajah Dee dalam jemari langsingnya "aku mencintaimu sebagai Dee yang dulu dan sekarang. Virgin or not, bukan hal penting mengenai perasaanku kepadamu dek. Aku juga tidak mempedulikan dan tidak ingin tahu siapa yang menjadi pertama di hidupmu. Biarkan itu kamu simpan sendiri Dawn. Kakak tidak ingin hidup di masa lalumu, tapi masa sekarang dan masa depan kita. Kamu juga tahu bagaimana kelamnya masa laluku dan kamu masih mau menerimak, kan sayang?" Dee mengangguk sambil mengurai senyum manis di bibirnya mendengar penjelasan Liam yang panjang dan membuatnya tenang
"Kita berdua tidak hidup di masa lalu Dawn, apa yang di belakang hanya sebagai pelajaran hidup ke depannya. Jadi pikirkan dengan baik dan matang, tentang hubungan kita. Kakak cuma menunggu kamu mengatakan "YA" untuk jenjang hubungan kita selanjutnya. Karena aku sudah siap, bahkan untuk menetap di kota sendu seperti ini pun aku mau, asalkan bersamamu."
Jantung Dee bertalu dengan cepatnya, suara husky rendah dengan mata sipit itu kekasihnya sebentar lagi membuatnya hilang kesadaran karena terlalu bahagia.
"Aku ingin tidur denganmu Dawn." Liam menatap tajam menembus dari mata hingga ke hati Dee
__ADS_1
"Bukannya kita selalu tidur bersama kak" ucap Dee menundukkan pandangannya pada celana tidur berwarna maroon miliknya
Tuhan, tolong. Kekasihku ingin membunuhku dengan kata-katanya, jantungku sebentar lagi lepas. Pekik Dee dalam hati.
"Bercinta..." Bisik Liam di telinga Dee membuat kekasihnya meremang "jangan membuatku menunggu lama, karena kakak adalah pria normal yang tersadarkan dan hanya bergairah kepada kamu dek"
"Ya ampun kak!" Pekik Dee dengan muka memerah "kamu ingin membunuhku?"
"Membunuhmu? Aku justru pria pertama di garis depan yang akan melindungimu"
"Kata-kata kakak itu loh, jantungku sudah mau lepas! Kenapa kakak sekarang ganjen orangnya" protes Dee dengan bola mata membulat, wajah memerah seperti tomat
"Kamu kekasihku, calon istriku. Kamu sudah jujur tentang dirimu dek. Kakak juga harus jujur dengan perasaanku, keinginanku. Ganjen? Semua pria normal pikirannya kesana Dawn, dan aku merasakan hal yang sama. Bahkan 3 tahun lalu aku sudah ingin "tidur" denganmu. Tapi aku menahan diri untuk tidak melakukan hal yang membuatmu benci kepadaku. Bisa saja dulu kamu menyerahkan diri saat aku memaksa mengikuti nafsu setan yang membisikiku ketika kamu dalam dekapanku. Namun cinta yang besar selalu menjadi pemenang, kamu adalah hal terindah yang harus aku jaga. Walau perasaanku tidak berbalas."
Mata Dee mulai tergenang air mata lalu jatuh di pipi pualamnya. Pria posesif dan arogan mencintainya dengan sepenuh hati, mungkin melebihi cinta kepada dirinya sendiri.
"Terima kasih sudah menunggu kak" Dee mengalunkan kedua tangannya di leher Liam.
"Kamu layak untuk ditunggu Dawn, karena kamu cinta dalam hidupku. Yang pertama dan satu-satunya"
...
Perasaan Dee semakin membuncah bahagia setiap melihat gerak-gerik Liam, tangan kekasihnya sangat cekatan sekaligus hati-hati setiap meraih coat musim dingin yang berharga ratusan ribu ruble Rusia dari gantungan. Beberapa pasang pakaian bermerk itu telah berada di meja kasir terlipat rapi tinggal dibayarkan, namun bukan Liam namanya jika tidak tertarik dengan fashion. Karena sejak dulu kekasih Dee itu dari bawah ke atas, selalu bergaya jutaan untuk penampilan kesehariannya. Dee pun ikut menjadi korban, ia tidak bisa menghitung lagi berapa pasang pakaian yang telah dipilih oleh Liam untuknya.
Liam tidak menerima bantahan dengan apa yang telah menjadi pilihannya, pria itu sangat tahu apa yang serasi dengan tubuh kekasihnya.
Walau gaji Dee memadai untuk sesekali membeli pakaian bermerk, namun ia tidak pernah memasuki toko berasal dari negara Italy ini. Dan sekarang Liam membelanjakan pakaian untuk mereka berdua seolah membeli kacang rebus di penjual gerobak keliling.
Sambil tersenyum merekah Liam menyerahkan kartu platinumnya kepada pegawai kasir, seluruh staff toko berdiri di belakang kasir terlihat sangat bahagia penuh puja kepada kekasih Dee. Bukan kenapa, pembelian Liam sehari menutupi mungkin setengah dari target omzet bulanan mereka.
Liam lalu meminta semua barang yang dibelinya untuk dikirim ke apartemen jam 8 malam. Kekasihnya itu masih ingin berkeliling The Gum Mall, semoga Liam tidak tergoda untuk kembali menyesaki lemari pakaian Dee.
Kekasihnya itu terlebih dulu membetulkan syal merah rajutan miliknya di leher Dee, karena sang gadis sangat menyukai syal tersebut dan Liam dengan perasaan bahagia memberikan kepada gadis pemilik hatinya.
"Kamu tidak berpikir untuk membeli mobil Dawn? Kakak bisa belikan mobil jika kamu mau, daripada berjalan ke kantor atau menggunakan kereta"
"Aku juga bisa beli sendiri kak, tapi sewa parkiran sebulan di sini sangat mahal. Lebih mahal dibandingkan membayar tiket kereta selama sebulan, kadang juga aku diantar pulang oleh teman kantorku" ucap Dee sambil bergayut manja di tangan kekasihnya
"Pria itu? Yang tampan itu? Hish." desis Liam cemburu dengan bibirnya mengerucut kesal
Dee tertawa ringan berhasil memancing perasaan cemburu sang pria bermata sipit itu.
"Dia menyukaiku loh kak, malah sudah pernah mengutarakan perasaan" jujur Dee, membuat Liam menghentikan langkah dan menatap lekat-lekat kekasihnya yang mengulum senyuman.
"Mulai sekarang aku akan mengantarmu ke kantor dan menjemputmu. Dan katakan kepada pria itu untuk berhenti menggoda istriku. Ya?" ujar Liam menundukkan tubuhnya sejajar dengan wajah kekasihnya
Dee terkesiap dengan ucapan Liam, ia masuk ke dalam jebakannya sendiri. Pria itu sukses membuatnya berdebar kencang lagi, seharian ini jantungnya terus bekerja sangat keras.
Liam menarik tubuh Dee dengan kedua tangannya, mata kedua sejoli itu berpadu. Dee mengerjap indah dengan tatapan dalam kekasihnya.
Tak lama kemudian bibir Liam mencecap bibir Dee untuk kedua kalinya. Pertama 3 tahun yang lalu, kemudian hari ini.
...
Hollywood, USA.
__ADS_1
Ricchi sedang break syuting sambil memainkan ponsel canggihnya. Notifikasi dari Elvira di instagram membuatnya membuka aplikasi sosial media tersebut. Foto berdua berapa bulan lalu diunggah oleh tunangannya.
I miss you @ricchimaheswara
Tulisan caption Elvira yang tidak ditanggapi oleh Ricchi.
Sejak bertemu kembali dengan Dee perasaan yang separuh menjalani hubungan dengan Elvira pun lenyap tak berbekas. Menguap seiring waktu, walau Elvira tetap dengan kebaikan, kelembutannya kepada Ricchi.
Hati tidak bisa berbohong dengan jelas, kini seluruh perhatian Ricchi kembali mengarah kepada gadis polos yang menyentuh hatinya sedemikian dalam.
Dee, hanya ada gadis itu di hatinya !
Unggahan Liam di bawah unggahan Elvira di instagram membuat Ricchi hampir menjatuhkan ponsel berwarna hitam itu dari tangannya.
Kembali Liam mengabadikan video gadis yang sangat dirindukan Ricchi. Liam yang notabene seorang sutradara sekaligus produser itu mengambil video berdurasi 0.59 detik seolah film pendek tanpa getaran dalam slow motion. Punggung Dee kemudian berbalik hanya setelah 2 langkah kaki, kepala bersurai hitam mendongak ke langit dengan tangan dinaikkan.
"Kak, salju !" Seru Dee dengan wajah sangat bahagia, suara tawa khasnya yang indah.
Liam menuliskan caption "my life @dawnragala"
Dengan cepat tangan Ricchi menekan akun sosial media Dee.
Akhirnya gadis itu mempunyai akun sosial media, ucap Ricchi lirih
Sebanyak 66 foto di akun sosial media Dee dan unggahan terakhirnya adalah foto dua tangan bercincin sama sebulan lalu dengan caption "BF"
"Moskow" ucapnya pelan ketika membuka satu foto Dee yang menegaskan tempat pelarian gadis itu.
###
abang liam yang jangkung ♥️
tidak ada bahu, masih ada tiang untuk bersandar #Ricchi 😍
alo kesayangan 🎉🥰,
I'M BACK !!!! dengan badan remuk redam menempuh ribuan kilometer perjalanan 😂
maaf, aku baru update Liam 🙏🏻
satu-satu yah, karena kerjaan author juga menumpuk untuk diselesaikan dan rumah yang berantakan ditinggal selama 6 hari 😔
kangen kalian semua 😙
kangen liam ricchi
hugo
rien
January, 28 2020
love,
__ADS_1
D 😘