DI ANTARA DIA

DI ANTARA DIA
How You Do Say Goodbye


__ADS_3

Sejak kejadian hari itu, Ricchi kembali syuting dan tak pernah kembali ke rumah. Bahkan ketika Liam tur promosi filmnya, Dee hanya berdua dengan Shadow.


Kesepian ? Tentu saja iya, namun di sela kesibukan Liam, suaminya tak lupa untuk memberinya kabar dengan menelepon atau mengirimkan pesan. Seminggu lagi dari 3 minggu jadwal tur film yang disutradarai Liam akan berakhir dan mereka bisa berkumpul lagi.


Jika mengingat hari setelah insiden Liam mengucapkan kalimat yang tak akan Dee lupakan seumur hidup. Ada kecanggungan yang sangat nampak di antara ketiganya. Mereka masih bisa duduk bersama saat makan malam, namun tak banyak bicara.


Ricchi pun ketika pagi tiba langsung kembali ke set, hanya pamit dengan mencium Shadow dan selebihnya tanpa kabar apa pun.


Dee tidak mengungkitnya begitupun dengan Liam. Semuanya seolah menguap begitu saja tanpa ada pembahasan lagi.


Ketika Shadow tertidur, adalah kesempatan Dee untuk bermain game mengisi kekosongan waktunya. Sejenak ia menatap layar datar itu, membuka aplikasi pesan dan menatap kontak Ricchi. Ia tergoda untuk mengirimkan pesan kepada pria itu, namun kembali ia mengurungkan niatnya.


...


Hari berlalu sangat cepat dan hampir 2 bulan Ricchi tidak kembali. Menurut Mike, pria tampan tersebut mengambil serial baru bergenre medical drama. Kepadatan jadwal syuting membuat Ricchi memilih tinggal di hotel dibandingkan pulang ke rumah.


Mendengar penuturan Mike di telepon meyakinkan Dee bahwa Ricchi menghindarinya dan Liam. Semua telah kusut, hubungan mereka bertiga.


"Kak.." gumam Dee dalam pelukan Liam


"Hmmm..."


"Kakak tidak ada tawaran film lagi, kan ?"


Liam membuka mata dan mengendurkan pelukan untuk menatap wajah istrinya "Ada... Tapi aku masih memikirkannya, Wifey. Yang kemarin saja masih terasa lelahnya. Tidak menerima tawaran film karena merasa inilah waktunya aku bersama dengan anakku."


"Bagaimana jika kita kembali ke Indonesia kak? Mama dan Papa rindu dengan cucunya. Kita bisa sekalian lihat rumah. Anak kita juga perlu mengenal asal muasalnya."


Liam membulatkan matanya mendengar perkataan Dee, tangannya berhenti di udara saat hendak menangkup wajah istrinya.


"Apa aku tidak salah dengar? Kau ingin pulang ke Indonesia, Dawn?"


Wanita cantik itu menganggukkan kepala "Shadow sudah lumayan untuk kita bawa-bawa kak. Dia juga tidak serewel dulu, anak gadismu semakin tenang."


Liam berbalik memandang ke arah tempat tidur Shadow, anaknya yang menginjak usia 7 bulan. Gadis kecilnya yang semakin gesit, dia tertidur karena kelelahan bermain. Saat terjaga Shadow selalu menggapai segala sesuatu yang dilihatnya. Walau belum bisa berjalan, namun semakin pintar menggunakan tangannya untuk mencengkeram kuat dan menaiki sofa di ruang tengah.


"Kau yakin, Wifey ?"


Dee mengangguk sambil menggenggam jemari suaminya.


Liam menatap dalam wajah Dee, ia melihat ada sendu di balik senyuman yang berusaha ditampilkannya. Rasa bersalah pun hinggap di batinnya karena selama mereka menikah ia lebih banyak meninggalkan Dee. Bahkan masa bulan madunya, Liam telah mengambil film itu.


Kekasihnya yang malang, betapa menderitanya dirimu.


Liam mengecup bibir Dee, lalu memeluk tubuh istrinya.


"Kita akan pulang, aku akan mengatur kepulangan kita. Secepatnya."


Dee memejamkan matanya, ia merasakan ketenangan dalam dada beraroma maskulin manis itu.


...


Segala sesuatunya telah siap, kepulangan keluarga kecil Farubun tinggal menghitung jam keberangkatan namun ada yang perlu diselesaikan Dee sebelum meninggalkan kota mimpi tersebut. Bertemu dengan Ricchi.


Atas ijin Liam pula ia bisa melangkahkan kaki menuju set tempat sang aktor tersebut sedang syuting. Mike yang mengabarkan jadwal senggang Ricchi, manajer sang aktor juga yang tadi menjemputnya di parkiran.


Dee mengembuskan napas, mengusir gugup mendera hatinya. Langkahnya sempat terhenti sesaat melihat karavan Ricchi. Sambil mengepalkan kedua tangannya, ia bergerak ragu dan perlahan mengetuk pintu berwarna hitam tersebut.


"Masuk." Suara khas riang Ricchi dari dalam membuat Dee mematung beberapa saat


Kriet...


Daun pintu di buka dari dalam, sosok Ricchi muncul menggunakan t-shirt berwarna hitam dengan rambutnya acak-acakan.


"Dee ?" Mata keduanya saling bertatapan


"Kak." Ucap Dee dengan suara yang mendadak serak, mungkin menahan air mata yang hendak membobol tanggulnya


"Dee..." Ricchi langsung meraih tangan wanita yang terlihat pucat masuk ke dalam karavannya.

__ADS_1


Sang aktor yang terlihat lebih kurus dari 2 bulan lalu.


Setelah keduanya duduk di sofa berwarna camel dan berbahan dari beledu nan halus. Kurang lebih 10 menit Ricchi dan Dee hanya duduk bersisian namun tak mengeluarkan suara apapun.


Dee memainkan kukunya dengan wajah tertunduk, perlahan setelah mengumpulkan kata-kata yang telah disusunnya di rumah, ia menatap wajah Ricchi.


"Entah Kak Ricchi sudah tahu atau belum, tapi kami akan pulang ke Indonesia.. Besok sore." Ucapnya dengan nada sepelan mungkin


Mata Ricchi yang sontak membulat dan wajah tegang menyakinkan Dee bahwa ini kali pertama, sang aktor mendengar berita yang disampaikannya.


"Kenapa ?"


"Apanya kenapa?"


"Maksudku, untuk apa kalian pulang? Berapa lama?"


Sambil menarik napas panjang Dee meremas tangannya sendiri


"Kak Liam belum tahu.. tapi aku akan berencana untuk menetap di tanah air saja, kak. Demi Shadow dekat dengan papa dan mama. Dan... Aku merasa lebih tenang berada di sana daripada di sini."


Dee menatap sekilas wajah Ricchi kemudian tertunduk, pria yang kemudian berdiri dari duduknya.


Dee melihat punggung Ricchi yang berdiri di tak jauh darinya, tangan pria itu seperti sedang memijit pelipisnya.


"Jadi kau datang hanya ingin mengucapkan salam perpisahan, Dee ?" Ucap Ricchi berbalik dan berjongkok di depan lutut wanita berambut hitam


"Bukan salam perpisahan, kami akan pulang. Itu saja." Sahutnya kaku


"Kau akan meninggalkanku, itu intinya!" Air mata Ricchi menetes tanpa permisi seolah ia berakting pada adegan film drama


Dengan bibir bergetar napas pendek-pendek Dee menantang manik mata Ricchi


"Siapa yang duluan meninggalkan ? 2 bulan 17 hari ! Kakak pergi dari rumah tanpa kata-kata. Bahkan janji Kak Ricchi akan pulang saat Kak Liam tur, tidak ditepati.. aku dan Shadow hanya berdua selama 3 minggu. Bahkan aku tahu jika jadwal kakak tidak padat, karena Kak Mike yang mengatakannya." Kali ini Dee yang meloloskan cairan bening di pelupuknya, tersedu.


"Kau tidak menghubungiku.. tidak pernah meneleponku, Belviyah Dawn!" Balas Ricchi bergerak mundur menjauh, menyugar rambutnya dengan gusar


"Dee..." Ricchi kembali, kali ini ia telah berani menggenggam jemari wanita teramat sangat dirindukannya.


"Aku pikir kakak marah, aku memberikan waktu untuk meredakan perasaan itu. Namun aku hanyalah seorang wanita kak, selalu menunggu.. menunggu kakak untuk memulai, namun yang aku dapatkan.. Kak Ricchi yang makin menjauh. Pria macam apa tidak pernah pulang ke rumahnya sendiri. Hingga aku merasa jadi penghuni tak diinginkan. Kami hanya menumpang di rumah kakak."


Kata-kata Dee seperti sembilu menyayat hati Ricchi.


"Maafkan aku, sayang.." ucap Ricchi menangkup kedua jemari Dee dan membawa ke dadanya.


"Kak Ricchi jahat.. " pekik Dee


Ricchi mengembuskan napas yang sesak di dadanya.


"Iya.. aku jahat." Ucapnya lirih


Ricchi duduk di sofa dan langsung mendekap tubuh Dee dalam pelukannya, wanita makin meraung akan tangisan.


Ia pun larut dalam momen keharuan yang menyesakkan jiwa. Sambil mengusap punggung Dee, Ricchi menjatuhkan satu persatu air mata di pelupuknya.


Kenapa cinta yang tertanam di hatinya tak bisa hilang selama 4 tahun 2 bulan 17 hari, malah makin menguat. Ricchi berupaya menjauh, namun perasaan itu menariknya kembali.


Tanpa sepengetahuan orang di rumah, selama 2 bulan ia mencoba mengencani wanita yang ditemuinya. Namun hanya setelah dua kali tidur bersama, Ricchi tak punya keinginan untuk melanjutkan lagi hubungan yang tak punya arah.


Dan kali ini, ia harus dihadapkan wanita yang berada di posisi puncak hidupnya akan pergi, sesak beribu sesak menghimpitnya.


"Bisakah dek kau tidak pulang? Batalkanlah... Aku akan kembali ke rumah." Gumam lirih perih Ricchi mengeratkan pelukannya, ia sungguh tidak siap akan kehilangan Dee


Gelengan kepala dalam dekapan, menghujam dada Ricchi.


"Tidak adakah kekuatan yang bisa menahanmu untuk tinggal di sini?"


Kembali gelengan kepala lemah dalam dekapan membuat Ricchi melepaskan pelukannya. Ia menangkup wajah memerah karena tangisan, milik Dee.


"Kau membenciku, sayang ?"

__ADS_1


Dee menggelengkan kepala, wanita berdeham "Mungkin aku lebih membenci diriku kak.. aku adalah penyebab semua kecanggungan kita, aku adalah muara kehidupan kita bertiga yang berakhir seperti ini. Harusnya aku tidak dekat Kak Liam, harusnya tidak kenal dengan Kak Ricchi, harusnya tidak berada di antara kalian berdua. Harusnya aku tetap berada di jalur hidupku, bukan terlena masuk ke gemerlapnya hidup kalian. Harusnya aku tidak kembali ke Indonesia setelah hidup di Moskow, harusnya memastikan kalian sudah bahagia baru menampakkan diriku. Harusnya aku menikah dengan Andrey saja.. akulah penyebab semua ini."


Ricchi bisa melihat rembesan air mata Dee seperti mata air di pegunungan. Ia pun sama.


"Kita takkan memiliki Shadow jika kau mengambil jalan lain, sayang."


Tubuh Dee terguncang mendengar perkataan Ricchi.


"Maafkan aku Kak.. maafkan aku Kak Ricchi." Pekik Dee histeris, Ricchi kembali memeluk wanita itu.


"Mungkin jalan hidup kita.. sudah seperti ini.. bisa apa kecuali menjalaninya."


Ricchi merasakan bagaimana hangat air mata Dee membasahi bajunya.


"Kak.. jika aku pulang... Kakak semangat di sini.. aku selalu mendoakan agar Kak Ricchi kuat."


Ricchi menggigit bibirnya "Bagaimana bisa aku kuat, jika yang menguatkanku berada jauh."


Sakit... Itu yang dirasakan keduanya..


Ricchi mengalihkan perasaan dengan mengikat rambut wanita yang masih betah di dadanya.


Dee menarik tubuh dan mengusap sisa air matanya. Menaikkan pandangannya kepada wajah Ricchi, menarik napas ringan.


"Dee.... "


Ricchi mengunci manik hitam Dee.. lalu menghela napas yang sangat panjang.


"Dee.. apa kau mencintaiku ?"


Ia melihat kilatan di mata Dee, wanita yang kemudian menunduk pandangan.


"Terima kasih sayang.. aku tahu jawabannya. Walau aku tidak tahu besaran rasa itu dihatimu.. setidaknya perasaanku berbalas."


"Aku terlalu rakus menjadi wanita.. tapi hanya satu yang bisa kumiliki." Ucap Dee menarik senyuman tipis


Pria di depan Dee menarik bibirnya masuk dan bergetar, mata menjatuhkan cairan bening.


"Maafkan aku, bang." Ucap Ricchi lirih sekilas memejamkan mata, ia pun menaikkan kedua tangannya menangkup wajah Dee. Tanpa ijin, ia menyatukan bibirnya dengan bibir Dee.


Dua orang memagut dengan air mata berjatuhan di pipi, meluapkan akan perasaan yang salah dan menyesakkan kalbu.


"Kak Ricchi.. harus bahagia.. " ucap Dee setelah bibir berpisah dengan bibir pria di depannya. Dengan lembut ia menyeka air mata Ricchi.


Pria itu hanya mengangguk pelan.. menatap wanita yang tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun.


"Aku mencintaimu Kak Ricchi.. Aku juga mencintai Kak Liam.. Besok jika aku mati, aku akan berada di neraka karena perasaan ini." Ucap Dee dengan mata menyipit, seutas senyum tipis di bibirnya.


Ricchi menggelengkan kepala "Tidak.. aku akan menggantikanmu, jika itu terjadi."


Sambil tertawa kecil dengan mata berair Dee memandang aktor tampan itu


"Di kehidupan berikutnya.. aku akan memilihmu Kak Ricchi.. aku janji."


###




alo kesayangan🥺..


kembali author ingatkan, jangan terlalu didalami novel ini, seolah ini terjadi di kehidupan nyata.. tidak, ini hanya hasil pikiran gila author..


nikmati saja dramanya, air matanya.. menuju tamat... 😊


love,


D 😘

__ADS_1


__ADS_2