DI ANTARA DIA

DI ANTARA DIA
I Don't Wanna Love You Anymore


__ADS_3

Sunshine tersenyum lebar melihat pria tegap mengenakan t-shirt hitam sedang bersandar di pembatas jalan, sementara mobil mewahnya terparkir di bahu jalan. Senyum semringah tersungging dari Richard ketika melihat dirinya.


“Sudah lama ?” tanya Sunshine langsung memeluk pria berambut pirang kecoklatan tersebut, walau hanya tepukan pada punggungnya, ia cukup senang karena Richard mengiyakan permintaan untuk di jemput di lokasi syuting.


“Belum lama, Sunny.” singkat Richard ketika pelukan terurai. Sunshine sangat menyukai panggilan Richard kepadanya “Sunny” bukan seperti orang di rumah dan kebanyakan mengenalnya. Sunshine. Walau itu nama aslinya, pemberian Ricchi, papanya.


Richard membukakan pintu mobil untuk Sunshine, mereka sempat berbalas senyum sebelum akhirnya Sunshine mendudukkan tubuh di kursi penumpang.


“Makan malamnya di Redbird Resto ?” ucap Richard sembari memasang seatbelt.


“Iya.” Singkat Sunshine yang terus mengamati pergerakan Richard dengan dada yang berdebar kencang.


Ya ! Sunshine jatuh cinta kepada pria tersebut, mungkin sejak pertama melihatnya. Kembali ketika ia berusia 16 tahun, saat pertama kali Shadow membawa teman kuliahnya itu berlibur di Los Angeles.


Kala itu Sunshine masih malu-malu dan hanya berani menatap Richard dari kejauhan, walau kadang akhirnya ia bisa berbincang sebentar dengan keringat membasahi tubuh karena tidak percaya diri. Richard adalah cinta pertama Sunshine, di pikiran ia terus bermimpi bisa berkencan normal dengan pria itu layaknya teman seusianya.


Sebagai aktris yang meniti karier sejak dini, Sunshine memiliki banyak penggemar baik di sosial media bahkan di kehidupan nyata. Tak sedikit yang secara terang-terangan mengatakan jatuh cinta kepadanya, terhitung para lawan mainnya di film, namun ia menolak. Sunshine tidak bisa menggantikan posisi Richard di hatinya. Dengan jadwal syuting yang sangat padat namun ketika pria itu datang berlibur, Sunshine sebisa mungkin mengosongkan 2-3 hari untuk tetap berada di rumah.


Sunshine menikmati chicken with garlic mushroom sauce – main menu dinner-nya dengan hati bahagia, tentu saja makanannya telah biasa ia santap terlebih di Redbird adalah restoran favorit keluarganya. Adalah Richard menjadi sumber kebahagiaannya malam itu.


“Aku menghubungi Shadow, tapi dia tidak membalas pesanku.” Ucap Richard menatap lurus ke arah Sunshine. Walau perkataan pria itu membuat hatinya kecewa, ia berusaha menyunggingkan sebuah senyuman tipis.


“Setahuku kakak sedang sibuk. Dia sedang memikirkan project film perdananya sebagai sutradara di Farubun and Maheswara, Rich.” Sahut Sunshine sedikit ketus. Jujur ia cemburu setiap kali pria itu mengungkit kakaknya.


Demi Tuhan, Shadow dan Richard tidak berpacaran. Mereka hanya berteman, begitu pemikiran Sunshine. Terbukti hingga menyelesaikan pendidikan, keduanya tetap berteman. Hal itu pula yang menyakinkan Sunshine untuk mendekati Richard, menjemput cinta pertamanya.


“Aku juga tahu itu, Sunny. Tapi kakakmu sama sekali tidak pernah membalas pesanku, sejak kepulangan kita dari Indonesia.” Kesah Richard sembari meletakkan sendok dan garpunya, ia kemudian meraih gelas berisi wine dan menyesap dengan pelan.


Sunshine merenggut lalu melakukan hal yang sama dengan pria di depannya, menenggak wine dengan terburu. Tenggorokannya kering, suasana hatinya mendadak berubah.


“Sebenarnya kenapa kau terus mencari Kak Shadow, Rich ? Sementara kita pulang dari Indonesia baru 2 minggu yang lalu. Apa kalian memiliki project film bersama ?” Sunshine memutar matanya malas, ia telah kehilangan selera makan.


Richard mendadak sadar akan perubahan nada bicara Sunshine, pun ia langsung mengukir sebuah senyuman lebar, kembali darah gadis berambut hitam itu berdesir kencang.


“Lanjutkan makan malammu, ya cantik. Soal Shadow biar aku pikirkan sendiri nanti juga aku akan bertemu dengannya saat mengantarmu pulang.” Bujuk Richard lembut.


Sushine mau tidak mau meraih kembali meraih sendok dan garpunya, ia menghela napas panjang sembari menatap pemilik rahang indah di depannya. Pria pujaannya yang sedang menatapnya lekat, entah apa yang


dipikirkan oleh Richard, Sunshine hanya bisa berdoa dalam benak, berharap jika perasaan mereka sama.


Mencintai secara sebelah pihak sungguh sangat menyiksa.



“Tidak !” ucap Liam dengan suara agak tinggi, mata sipitnya melebar dengan kedua tangan bertautan di dada.


Shadow ciut mendengar nada ayahnya yang tidak biasa, ia lalu mengalihkan pandangan kepada Ricchi, papanya yang duduk bersebelahan dengan Dee, sang permaisuri rumah. Papanya tidak membantu, pria paruh baya itu terlihat sepemikiran dengan Liam.


“Ayah tidak habis pikir. Dari mana pemikiran seperti itu muncul di kepalamu, Shadow . Kau bekerja di Farubun and Maheswara tapi menginginkan untuk tinggal di apartemen ? Mandiri katamu ? Tidak ! Kau masih anak bayi bagi kami, Shadow. Usiamu baru menjelang 23 tahun, tidak memiliki kekasih. Oh tidak ! Selama kau masih gadis, ayah tidak membiarkanmu tinggal di apartemen.”  Liam menajamkan setiap kata-kata yang keluar di bibirnya.


Shadow menarik napas panjang “Sepertinya aku tidak akan pernah menikah, Yah.” Ucap Shadow membeo, manik matanya beradu dengan mata sipit ayahnya yang berdiri tepat di depannya.


“Apa katamu ?” sahut Liam mendesis


Dee beranjak dari sofa dan memegang tangan suaminya, Ricchi pun menghampiri anak sulungnya.


“Kak, sudah. Kak Liam sudah terlalu keras kepada Shadow.” Bujuk Dee, ibunya sambil mengelus punggung pria jangkung tersebut.

__ADS_1


“Di New York Shadow pun tinggal di apartemen, Yah. Kenapa di L.A tidak bisa ? Shadow ingin tinggal sendiri, tidak merepotkan ayah, ibu dan papa.”


“Shadow !” pekik Liam tertahan oleh bekapan Dee pada mulutnya. Pria itu pun kemudian di seret oleh istrinya menuju ruang depan.


Ricchi hanya menggelengkan kepala melihat letupan emosi Liam, kejadian yang cukup langka dan mungkin terbilang baru semenjak anak-anak mereka dewasa. Biasanya Liam akan marah berkaitan dengan permasalahan kantor,


bukan sesuatu seperti yang terjadi sekarang ini.


“Jangan pernah mengungkit ini lagi di depan ayahmu, Shadow. Keputusannya bersifat final.” Ucap Ricchi mengusap punggung anaknya yang telah bergelung dalam dekapan.


“Tapi jika papa sendiri, apakah menyetujui jika Shadow tinggal mandiri ?” gumam Shadow lirih


Ricchi mengembuskan napas sambil menatap ke arah ruang depan, sayup-sayup ia mendengar suara Dee sedang menasehati Liam.


“Walau papa mengijinkan tapi segala sesuatunya di rumah ini diputuskan oleh suara terbanyak. Ayah dan ibumu itu seiya sekata, nak. Papa tidak bisa melawan 2 orang itu.”


“Tapi pa, teman-temanku yang seumuran telah tinggal mandiri. Mereka malu jika masih seatap dengan orang tuanya.” Dalih Shadow sambil mengerucutkan bibirnya.


“Ya. Teman-temanmu tinggal mandiri, Shadow. Tapi dengan pasangannya. Tanpa menikah.” Ucap Ricchi menggeram, ia tidak bisa membiarkan buah hatinya hidup sebebas itu, bahkan mereka tinggal di Amerika hal seperti itu merupakan sesuatu yang biasa.


“Shadow bisa menjaga diri, Pa. Toh Shadow tidak memiliki pacar. Setidaknya sampai sekarang.”


Ricchi mendorong pelan badan anaknya supaya ia bisa melihat raut wajah Shadow dengan jelas


“Di sini.. Tidak perlu label pacar untuk hidup bersama, Shadow. Ketakutan papa adalah jika ada pria yang kau kenal sesaat, kemudian


pria brengsek itu memamfaatkan kesempatan dirimu yang tinggal sendiri. Kau terjerumus dalam hidup bebas. Di saat seperti itu, kau tidak akan mendengarkan kami lagi. Hidupmu hanya akan berkutat pada cinta buta pria itu.”


Shadow meremas puncak kepalanya dengan gemas “Ya ampun, Pa. Shadow tidak berpikir sejauh itu.”


“Terus apa yang membuatmu ingin hidup mandiri, nak ? Sementara pekerjaanmu masih perlu bimbingan dari kami berdua, di kantor pun kita pasti bertemu.”


Mata Ricchi melotot, ia menggelengkan kepala tidak percaya perkataan anaknya itu “Sejak kapan rumah ini tidak memberimu ketenangan, Shadow ?”


Dehaman merdu membuat Shadow menahan balasan pertanyaan papanya, ia menolehkan kepala menatap dua sosok berdiri sambil bergamitan tangan.


Ya ! mereka-lah alasan Shadow ingin keluar dari kediaman orang tuanya, Richard dan Sunshine.


Richard yang akhir-akhir ini kerap kali mengantarkan adiknya pulang syuting, membuatnya lelah menghadapi hatinya yang sakit melihat kemesraan pasangan tersebut.


“Pa, Shadow lelah. Nanti kita bicarakan lagi dengan ayah dan ibu.” Ucapnya sekilas mengecup pipi Ricchi kemudian beranjak dari sofa. Shadow terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun kepada Richard, Sunshine sendiri bergerak ke arah dapur entah mengambil sesuatu dari lemari pendingin.


Shadow baru saja hendak menutup daun pintu kamarnya, namun Richard telah berdiri dan menahan laju pintu dengan tangan kokohnya. Pria tinggi kekar tersebut menerobos masuk ke dalam kamar Shadow tanpa meminta ijin terlebih dahulu dari sang pemilik.


“Kita perlu bicara, Shadow.” Richard mendudukkan tubuhnya di tepian tempat tidur nan empuk milik gadis jangkung yang sedang bersandar di pintu kamar dengan tatapan mata berkilat.


“Tidak ada yang perlu dibicarakan, Rich.” Sahut Shadow dingin


Richard berdiri dan menghampiri gadis yang tidak pernah lepas dari pikirannya, sekilas Shadow hendak menghindar namun dengan sigap ia memerangkap Shadow dalam kungkungan tangannya.


“Kenapa kau menghindariku, Shadow ? Sejak di Bali kau tidak memberiku alasan yang tepat. Sekarang kembali ke Los Angeles pun kau bersikap sama. Aku selalu mengantar Sunny pulang agar bisa bertemu denganmu. Tapi apa yang kudapat ? Kau tidak pernah menunjukkan wajahmu di depanku.” Ucap Richard mendekatkan kepalanya pada wajah cantik Shadow. Gadis yang mendadak terdiam.


“Sebenarnya salahku dimana, baby ?” Richard memberanikan diri menyentuh pipi mulus Shadow. Saat itu pula manik mata mereka bertemu, Shadow mengerjap indah.


Pria pemilik rahang kokoh itu akhir menggeram kecil sebelum melabuhkan bibirnya pada bibir merah gadis yang tak pernah menginginkan ikatan lebih dari sekadar teman dengannya.


“Aku merindukanmu, Shadow.” Erang Richard memperdalam ciumannya, lidah menjelajah dan saling bertautan di dalam sana. Shadow merespon ciumannya, ini sebuah kemajuan teriak batin Richard.

__ADS_1


Cairan bening jatuh di pipi Shadow, emosi dan segala kekesalannya meluruh dalam satu ciuman yang belum lepas dari Richard. Pun kendali dirinya hilang akan sentuhan pria itu.


“Richard ? Apa kau ada di dalam?” ketukan di pintu menyadarkan Shadow dan langsung mendorong keras tubuh pria itu ke belakang. Suara Sunshine mengembalikan kesadaran Shadow, ia pun bergegas masuk ke dalam kamar


mandi. Ia tidak mempedulikan Richard lagi, terlebih jika adiknya berhasil mengambil alih kepemilikan pria itu.


Cukup lama Shadow berada di kamar mandi, ia menatap wajahnya dalam pantulan cermin berbingkai minimalis.


Tidak ada kata yang tepat untuk mendefenisikan perasaannya saat itu. Kalut ? kacau dan mungkin murahan.


Setelah menyakinkan diri bahwa Richard dan Sunshine telah pergi, ia pun keluar dari kamar mandi. Betul saja, tak ada siapa pun di ruangan berukuran 4x6 meter persegi selain diri dan kegalauan hatinya.


Shadow berjalan menuju jendela kaca kamarnya yang sangat lebar, ia bisa memandang pekarangan rumah sekaligus jalan depan dari tempatnya berdiri. Mobil mewah Richard terparkir pas di jalan kecil berbatu yang mengarah langsung ke pintu besar kediaman mereka.


Tunggu ! Shadow mengucek matanya untuk memastikan pemandangan yang terpampang samar di bawah sana.


Richard sedang berciuman dengan Sunshine adiknya ! Ciuman yang sama setengah jam yang lalu ia rasakan.


Brengsek ! pekik Shadow dengan pandangan mengabur. Seketika perasaan emosi kembali merajai pikirannya, ia pun membenci dirinya yang sangat murahan telah larut dalam kubangan dosa sesaat lalu.


Gadis berambut hitam itu mengepalkan tangan dan bergegas kembali masuk ke dalam kamar mandi, ia mengambil sikat gigi dan menyikat giginya setelah menaruh pasta berwarna putih di atas benda itu. Sambil menangis Shadow terus-terusan menggosokkan sikat gigi hingga ia tak sadar telah melukai gusinya sendiri.


Ia harus keluar dari rumah ini ! jeritnya.


Bahkan jika ia harus melawan Liam, ayahnya pun akan ditempuh Shadow.


Cukup sudah ia melihat Richard. Shadow tidak ingin memiliki hidup seperti ketiga orang tuanya, berbagi kasih sayang dalam satu atap. Ia jelas tidak memiliki jiwa selapang Ricchi, sang papa. Hatinya sakit, bahkan Shadow belum tahu jelas hubungan Richard dengan Sunshine.


Cinta pertamanya telah kandas, ia tidak akan membiarkan Richard mendekatinya lagi. Biarkan pria itu menjadi milik Sunshine. Shadow akan mencari pria lain.


Ya, cinta baru mungkin lebih cocok dalam kondisi seperti ini.


###


si brengsek, eh puasa ding 🤭





kali ada kangen papa Ricci dan Ayah Liam




alo kesayangan 😌,


aku akan terus berupaya menulis pesan-pesan gak jelas di setiap chapter novel. yahh, mungkin sekadar menyapa kalian, agar tahu nih authornya bukan robot 😄.


maaf jika banyak komen kalian belum sempat aku jawab, yah beginilah dengan 4 novel sedang running, sementara pekerjaan di dunia nyata juga jalan.


btw, next week akan ada novel baru.. sebuah project yang sempat terhenti. hmmm... di baca yak 😁


love,

__ADS_1


D 😘


__ADS_2