
Pelukan seorang aktor ternyata seperti ini, sangat hangat dan romantis. Tangan kanan Ricchi merengkuh Dee dalam pelukan, sementara gadis yang beberapa saat lalu mengiyakan untuk menjalani hubungan serius bersandar di dada pria berwangi maskulin.
"Ini bagus, ini juga" ujar Ricchi menekan tambahkan ke dalam keranjang di situs belanja online pada Ipad berwarna silver di genggaman Dee. Ia meminta Dee untuk bermalam di apartemennya, karena kekasihnya menolak untuk pergi ke pusat perbelanjaan membeli pakaian kerja untuk dipakainya besok, keduanya pun disibukkan dengan berbelanja online. Dee tidak mau masuk berita akun gosip dalam rentang waktu yang tidak begitu lama. Untungnya ia tidak punya sosial media, bisa saja Dee di serang oleh fans Ricchi atau siapa.
"Kak cuma untuk besok. Kenapa belinya sebanyak ini." protes Dee.
"Gak papa. Ini untuk pertama kalinya penghasilanku dipakai untuk seorang gadis. Cantik dan pacarku pula," ujar Ricchi menjatuhkan ciuman lembut di pipi Dee "Jangan lupa pakaian tidur, pakaian dalam." Sambungnya santai namun sukses membuat kekasihnya merona malu.
Dee langsung melepaskan diri berpindah di ujung kiri sofa, dan memilih pakaian yang dimaksudkan Ricchi.
"Ini bagus warnanya." Ucap Ricchi mendekat langsung menekan pilihan pakaian dalam berwarna merah maroon, pria itu menekan semua warna sebarisan pilihan di layar ipad.
Setelah semua telah terpilih, termasuk parfum dan segala macam perawatan Dee, Ricchi pun melakukan pembayaran dengan memasukkan nomer kartu kreditnya. Total belanja sebanyak 6 bulan gaji Dee.
"Tinggal menunggu dikirim ke sini, Sayang" kata Ricchi memasukkan kembali kartunya ke dalam dompet.
"Ini, jika kekasihku ingin membeli sesuatu." sambungnya mengulurkan kartu debit platinum kepada Dee.
"Kak. Tidak usah. Aku juga ada, kemarin Kak Liam juga ngasih bayaran iklan, jumlahnya sangat banyak" ungkap jujur Dee.
"Tabung saja dari Abang, sekarang kamu itu adalah tanggunganku, Dek. Apa pun itu sudah jadi kewajiban aku. Yah?" Ujar Ricchi berdiri mengambil tas Dee dan menyisipkan kartu platinumnya di barisan kartu penting dompet Dee.
"Kamu terlalu sempurna kak. Kak Liam juga. Aku merasa jadi pemisah hubungan kalian berdua," gumam Dee jadi serba salah.
"Hei. Belviyah Dawn Ragala," seru Ricchi sambil membaca kartu pengenal kekasihnya.
Sontak Dee menerjang Ricchi untuk mengambil dompet dan kartu pengenalnya.
"Balikin, kak." seru Dee berusaha merebut ID-nya
"Tidak mau," Ricchi mengelak dengan menahan kedua tangan Dee dengan satu tangannya.
"Kak. Please," pinta Dee dengan memelas, yang sebenarnya sudah pasrah melawan kekuatan seorang Ricchi.
"Sebentar lagi my girlfriend ulang tahun, hmmmm." Kata Ricchi menatap wajah Dee dengan berbinar "kiss dulu baru kakak kasih,"
Dee pun beringsut mendekat ke arah Ricchi dan menjatuhkan ciuman di pipi mulus sang aktor, kekasihnya.
"Ini." Ricchi tertawa bahagia mengembalikan kartu identitas Dee, ia lalu merengkuh tubuh kekasihnya dan saling menatap dengan dalam.
"Hubunganku dengan Abang sifatnya open relationship, dari awal seperti itu. Jadi kami bebas berpisah walau tanpa ada kata perpisahan. Sejak bertemu dengan kamu Dee, perasaanku kepada Abang berkurang sedikit demi sedikit dan menghilang. Aku merasa disembuhkan dengan kehadiranmu, Dek. Aku jatuh cinta dengan dirimu, merindukanmu, berdebar. Sama seperti sekarang, jantungku berdebar kencang." kata Ricchi meraih tangan Dee menyentuh dadanya dan betul saja debaran jantung pria di depannya berdetak sangat kencang, ia pun sebenarnya sama.
"Apa kakak pernah dekat dengan wanita sebelumnya?" tanya Dee dengan wajah polosnya
"Pernah. Jaman sekolah, cinta monyet. Aku dulu salah jalan saat masuk dunia hiburan. Dee, jujur kenapa mau jadi pacar kakak? Kamu tidak jijik dekat dengan pria seperti aku ini?" Tanya Ricchi sendu.
Dee meraih membelai wajah Ricchi penuh puja.
"Aku suka kakak, sejak kita main game semalaman, saat jalan bersama. Seperti sedang berkencan pada umumnya. Perhatian kakak kepadaku, yang aku pikir semua hanya sandiwara yang kakak lakoni. Dan aku tidak jijik kak, jangan bicara seperti itu. Semua orang punya masa lalu, yang penting masa sekarang dan masa lalu hanya pembelajaran bersikap ke depannya, bukan?" ujar Dee lugas.
"Mine.." Kata Ricchi memeluk erat tubuh kekasihnya "Itu yang aku rasakan.. menemukan belahan jiwa.. Belviyah Dawn Ragala, terima kasih sudah lahir di muka bumi. Terima kasih sudah menemukanku.. Tolong jangan pernah dengar kata orang-orang di luar sana, cukup percaya aku. Kamu siap kan punya kekasih yang selalu diliput media? Selalu dibicarakan lebih banyak berita salahnya dibandingkan benarnya? Kamu siap di sorot berita infotainment? Jadi pembahasan di kantor juga misalnya. Karena itu semua yang akan kamu hadapi, Sayang."
"Iya, aku siap, Kak." Ucap Dee dengan yakin "Aku cinta sama kakak berarti sudah siap dengan semuanya,"
"Ya ampunn." Kata Ricchi tertunduk di pangkuan Dee sambil menciumi kedua tangan kekasihnya "Jantung kakak seperti mau meledak, seperti ini yah rasanya jatuh cinta," sambungnya terkekeh penuh bahagia.
...
Semalam mereka habiskan dengan bermain game dan makan di depan televisi, dan keduanya baru tertidur pada pukul 12 kurang. Itu pun keduanya tidur di atas karpet, dengan posisi kelelahan dan tidak bisa lagi pindah ke dalam kamar. Ricchi bukanlah Liam yang posesif seenaknya memeluk Dee saat tidur. Sang aktor dengan senyum mematikan adalah pria yang gentleman, hanya sebuah kecupan lembut di kening sebagai ucapan selamat tidur lalu Ricchi pun berbaring di samping Dee, tanpa pelukan sampai pagi tiba.
Ricchi menjadi perhatian lagi ketika mereka tiba di kantor, kekasihnya tetap mengantarkan dengan menggunakan mobil Dee. Sang aktor mengatakan ada syuting iklan, hingga membuatnya harus keluar pagi.
"Sayang tidak bosan kan dengan menu makan siangnya? Jika mau ganti, tinggal bilang saja. Banyak kok restoran lain" kata Ricchi sambil berjalan bersisian menuju jalan raya di mana mobil Alphard menunggu sang aktor.
"Enak kok kak, menu bentonya ganti tiap hari, gak itu melulu,"
"Baiklah. Katakan saja jika sudah bosan yah, Dek" ujar Ricchi sambil mengetuk jendela kaca mobil bagian depan, tak lama kemudian kacanya turun "itu Kak Mike, managerku. Sejak merintis karier dialah yang menemaniku, Dek" sambungnya menunjuk ke arah pria berkulit putih dan wajahnya dibingkai kacamata bergagang hitam tebal.
"Halo Dee. Mike " sapa pria berusia sepantaran Liam dengan ramah, lalu menyalami Dee walau tetap berada di belakang setir.
__ADS_1
"Hai, Kak." Dee mengumbar senyum termanisnya.
"Nanti aku kasih nomer ponsel Kak Mike, misal aku tidak merespon pesan atau telepon, langsung hubungi dia saja yah, Sayang,"
Mike manajer Ricchi pun tersenyum sambil manggut-manggut tanda setuju.
"Selamat bekerja, Mine. Nanti kita berkabar via pesan" kata Ricchi mengusap lengan Dee dengan lembut.
"Ponselku belum aku nyalain." Cicit Dee pelan, kekasihnya mengangguk mengerti ucapannya
"I love you." Bisik Ricchi sebelum naik ke atas mobil, sebuah senyum mematikan tersungging di wajahnya membuat Dee rindu hanya sesaat setelah mobil membawa kekasihnya pergi.
Hidup terasa indah dan sempurna saat itu juga.
Sebelum badai bernama Liam Farubun datang!
...
Dee berhasil melewati hari yang penuh gunjingan di kantor tentang kemarin di jemput oleh Ricchi dan paginya di antar lagi oleh sang aktor.
Mentalnya sudah ditempa oleh kekasihnya dalam semalam, ia pun tidak segampang itu untuk dijatuhkan.
Semua akan bosan melihat Ricchi datang ke kantor, dan suatu hari orang-orang bisa menerima hubungan mereka. Ini semua hanya persoalan waktu saja.
Dari kejauhan Dee melihat Liam duduk berjongkok di depan rumah megahnya sambil merokok, begitu melihat mobil Dee, pria itu langsung berdiri dan menginjak rokoknya. Sang mangsa lalu menelan saliva dengan susah payah.
"Dawn dari mana? Kenapa ponselmu mati, tidak bisa di hubungi! Aku kirim pesan dan telepon tapi tidak tersambung, hah! " Kata Liam frustasi, pria itu langsung menarik tangan Dee menuju rumahnya.
Sejak kemarin ponselnya sengaja dimatikan Ricchi dan hingga pulang kantor pun Dee tidak berani menyalakannya.
"Aku tanya dari mana? Kamu tahu betapa pusingnya aku semalaman dek, kamu tidak pulang! Aku bahkan tidak bisa tidur! Sampai semua pekerjaanku selesai karena tidak tahu mau ngapain lagi!" Cecar Liam dengan mata sendu sekejap kemudian tajam menatap Dee.
"Rumah teman. Sahabatku, Farah Dewi. Aku lupa mencharger ponselku, Kak" kata Dee yang sekarang bisa berbohong dengan lancar. Dia tidak berani jujur jika semalam bersama dengan Ricchi, apalagi mengatakan resmi berpacaran dengan aktor tersebut. Bisa terjadi Perang Dunia Ketiga.
Sejak kapan Liam bertindak sebagai seorang orang tua, mengkhawatirkan diriku.
"Maafkan aku, Kak" ucap Dee pelan, sungguh ia sedikit merasa bersalah.
"Aku merindukanmu bahkan baru semalaman kamu sudah membuatku seperti ini" kata Liam langsung memeluk Dee dengan erat posesif khas pelukan sang sutradara itu.
Dee berusaha melepaskan diri, karena ia ingat kekasihnya -Ricchi.
"Kak jangan begini, tolong lepaskan"
"Sejak kapan aku tidak boleh memelukmu"
"Kak."
"Tidak. Aku tidak akan melepasmu, titik!"
...
Sejak kejadian itu Dee berusaha mencari cara agar bisa bertemu Ricchi tanpa diketahui oleh Liam. Menolak untuk bermalam di apartemen kekasihnya, melarang Ricchi datang kerumahnya, mereka hanya berkencan dengan dinner bersama selepas kerja dan di antar pulang Ricchi hanya sampai di blok sebelah.
Ricchi sebenarnya ingin berkencan secara terang-terangan di depan Liam, namun Dee mengaku belum siap. Ia takut hubungan kedua orang tersebut hancur, mengingat sifat Liam yang sangat posesif dan kadang kekanakan.
"Kamu sangat cantik, Sayang " seru Ricchi melihat Dee dalam balutan gaun berbahan sutra bermodel halter neck warna hitam tanpa lengan, rambutnya dibiarkan tergerai namun tertata. Makeup minimalis tetap menonjolkan di area mata, 5 jam lamanya Dee di permak oleh 4 asisten yang sengaja di bawa ke apartemen. Perawatan dari bawah hingga ke atas membuat Dee seolah menjadi ratu sehari.
Pria yang memujinya juga sangat tampan dengan suit berwarna navy dengan leather shoes berwarna hitam.
Dee akan menemani Ricchi ke acara "Malam Penganugrahaan Bintang Perfilman". Saat inilah Dee akan semakin dikenal sebagai pasangan resmi sang aktor. Yang mana cepat atau lambat ia pasti menghadapinya.
"Tetaplah di sampingku. Dan tersenyumlah, Sayang" ucap Ricchi lembut menggenggam tangan Dee berjalan di atas karpet merah melewati panitia acara yang mengarahkan mereka menuju ke bagian para fotografer dan wartawan yang telah menunggu.
Kilatan blitz menyerbu mata saat keduanya saat tiba di spot para fotografer, tak sekali pun Ricchi melepaskan tangannya, bahkan menolak untuk foto solo tanpa Dee.
__ADS_1
Mereka bergerak lagi menuju bagian para wartawan yang langsung diserbu ratusan pertanyaan tentang hubungan Ricchi dengan wanita yang digandengnya.
Dengan fasih dan terbiasa Ricchi melayani tiap pertanyaan para wartawan walau terkadang memojokkan, namun kekasihnya berpuluh tahun berkecimpung di dunia hiburan, adalah hal kecil menjawab dengan jawaban yang bijak dan tertata.
"Jadi kapan Mas Ricchi dan Mbak Dee meresmikan hubungan dalam ikatan pernikahan?" Tanya salah satu wartawan
"Doakan. Semoga secepatnya" kata Ricchi singkat melayangkan pandangan ke wajah Dee, mereka lalu saling melemparkan senyum simpul.
Ricchi pun mengambil kendali menuntun Dee untuk memasuki area gedung tempat acara akan berlangsung.
Dee sempat berbalik dalam langkahnya, ia melihat Liam terpaku dengan sorot mata yang tajam menatap mereka atau lebih tepatnya menatap kekasih seorang Ricchi, dirinya!
Ini bukan sandiwara lagi, teriak Liam dalam hati dengan pose muka datar tak bergeming dari tempatnya berdiri.
...
Dee merasa sangat tersanjung saat Ricchi menerima penghargaan sebagai aktor terbaik , kekasihnya menyebut namanya dengan lengkap "Dan buat Belviyah Dawn Ragala terima kasih atas dukungannya, I love you." perkataan Ricchi tersebut disambut tepukan dan suara riuh dari para tamu malam itu.
Jantung Dee seolah berhenti berdegup, melihat Ricchi dari panggung menatap ke arahnya.
Aku juga sangat mencintaimu, Kak. Gumam Dee dengan mata memburam.
...
Selepas malam penganugrahaan Ricchi masih harus menghadiri afterparty untuk para aktor, aktris, sutradara dan tamu undangan.
Dee bisa melihat bagaimana Liam tidak berbaur dengan para tamu, dan tidak pula mendekat kepada mereka. Pria jangkung itu hanya mengamati dari kejauhan dengan mata menyipit tanpa senyuman di bibirnya.
"Kamu masih mau di sini?" Teriak Ricchi merangkul bahu Dee, suara musik beat menghentak memekakkan telinga mereka, beberapa selebriti yang Dee lihat di layar televisi nampak sudah asyik bergoyang dengan gelas minuman di tangannya
"Aku ingin kita pulang kak, apakah boleh?" Ujar Dee berjinjit membisikkan kata itu di telinga kekasihnya.
"Mari kita pulang. Aku pikir kamu suka, Dek" kata Ricchi tertawa ringan menggamit tangan Dee keluar dari ballroom pestanya para bintang.
"Aku lebih suka di depan televisi dan bermain game denganmu, kak" gerutu Dee di sambut gelak tawa oleh kekasihnya.
Mereka pun berjalan ke depan, di bagian lobby tempat mobil Alphard hitam terparkir.
"Jadi ke apartemen, kan?" Tanya Ricchi membantu Dee untuk naik ke atas mobil
"Iya. Tapi malam ini kita istirahat yah, besok saja baru kita seharian tanding" sahut Dee tersenyum miring.
"Hmmm. Besok kamu akan jadi hambaku, Sayang, hahahaa" tawa Ricchi membayangkan taruhan apalagi yang akan mereka sepakati bersama.
"Tunggu !" Teriak Liam menahan pintu geser mobil Ricchi, tanpa permisi pria jangkung itu langsung duduk di belakang. Suasana riang tadi berubah menjadi kelam, Ricchi dan Dee terdiam, berusaha untuk bernapas normal dan pelan
Mobil telah menembus jalanan ibukota yang mulai lengang menuju apartemen Ricchi.
"Kalian berdua harus pisah." Ucap Liam datar dan dingin layaknya es di kutub utara, memecah keheningan yang penuh kecanggungan di dalam mobil.
"Eh !" Dee dan Ricchi serempak bersuara
"Dawn, putuskan Ricchi !" Geram Liam.
"Kak." Dee berbalik menatap wajah Liam bak harimau yang terluka.
"Aku mencintaimu, Dawn"
###
putuskan gak yah demi si arogan posesif.
enak saja 😒
__ADS_1