DI ANTARA DIA

DI ANTARA DIA
Tameng


__ADS_3

Dee membelokkan kemudi mobilnya masuk ke blok rumahnya, dari jauh ia melihat mobil Ricchi terparkir di tempat yang sama beberapa hari yang lalu. Sebuah senyuman menghiasi wajah Dee.


Bisa main game lagi, pikirnya riang.


Setelah memasukkan mobil ke dalam garasi, Dee berjalan menuju mobil Ricchi, belum pula sampai ia telah mendengar suara agak tinggi berbalasan dari dalam rumah Liam.


Apa Kak Liam sudah kembali, gumam Dee sambil berjalan sedikit cepat menuju pintu rumah megah yang berwarna coklat dari kayu terbaik hutan Kalimantan.


"Aku pikir kamu hanya bertanya soal Dee sudah kembali dari Kalimantan, ternyata kamu bawa ke mall, di foto, divideoin oleh orang-orang. Masuk akun gosip! Sadar tidak, Dee bukan dari dunia kita. Dia tidak tahu bagaimana menghadapi kejadian seperti sekarang. Kamu tidak pikir apa, bagaimana jika para reporter gosip itu mendatangi kantor atau rumah Dee. Harusnya kamu bisa melindunginya. Sadar diri Ricchi, kamu itu aktor papan atas, apa pun yang kamu sentuh bisa berkilau atau sebaliknya!" suara Liam naik 2 oktaf terdengar dengan jelas di depan pintu.


"Terus cuma abang saja yang boleh jalan dengan Dee? Sampai mengantar Dee sampai ke kantor. Abang juga selebriti! Dee juga tidak menolak saya ajak ke mall. Kami menikmatinya! Jangan terlalu mengekang seperti ini, Dee bukan siapa-siapa abang, dia bebas kemana saja! Dee sudah dewasa, sudah tahu mana yang benar dan buruk, dan terlebih aku menyukainya!"


"Siapa kamu berhak menyukai Dee! Aku yang mengenalkanmu dengannya! Dan sejak kapan kamu menyukai seorang wanita? Kamu menyukai untuk dijadikan apa?" Liam mencengkeram kerah kemeja Ricchi, matanya berkilat.


Ricchi sudah mengepalkan tangan ingin melayangkan pukulan.


"Kak." Dee menghampiri keduanya dengan mata berkaca-kaca "Jangan bertengkar hanya karena aku,"


Liam spontan melepaskan cengkeraman tangannya dan beranjak menuju ke arah Dee langsung memeluknya.


"Dawn..."


"Kak. Aku tidak apa-apa jadi tameng kalian berdua. Biar media tidak mencium hubungan Kak Liam dan Kak Ricchi," Suara serak Dee mendongak menatap ke wajah Liam.


Ricchi menggenggam jemari Dee, sementara Liam masih memeluk posesif gadis kecilnya. Ini seperti adegan film india dengan tulisan "intermission"


Liam menatap ke arah Ricchi yang menggelengkan kepalanya, sang sutradara muda itu pun melepaskan pelukannya.


"Ehem. Kamu sudah makan dek?" Liam bertanya menundukkan kepalanya mensejajarkan pandangan mereka.


"Belum," sahut Dee jujur.


"Mau ganti baju dulu, atau pakai itu saja kita keluar makan bertiga,"


"Aku mandi dulu kak... Kak Liam juga pasti baru sampai," Dee melirik koper berwarna hitam di dekat tempat mereka berdiri.


"Ya sudah, 30 menit semua sudah siap," perintah Liam.


Dee menyunggingkan senyuman tipis dan mengangguk pelan.


"Aku temani, Dek." Ricchi langsung meraih tangan Dee, berjalan bersisian. Sebuah pemandangan yang membuat nyeri di hati Liam. Perasaan yang tak pernah hadir sebelumnya.


Liam menghembuskan napasnya dengan kasar lalu meraih kopernya, ia perlu membongkar pakaiannya beserta buah tangan buat Dee. Tas branded dan beberapa potong dress yang diperagakan di Milan. Kali pertama dirinya membelikan sesuatu untuk seorang wanita saat ia keluar negeri. Hal tabu dulunya, namun kemarin Liam seperti lupa diri saat memilih sesuatu yang cocok dipakai gadis kecilnya.


...


Dee serba salah ketika dua pria di dekatnya saling diam-diaman, baik Liam dan Ricchi memilih memotong steaknya dan menyuapnya dengan santai, tidak ada yang memulai percakapan.

__ADS_1


"Maafkan aku kak. Karena aku, kalian berdua seperti ini. Apa perlu aku pindah dari perumahan itu?" Tanya Dee menatap lurus ke arah Liam, pria itu tersentak mendengar ucapan gadis yang sangat feminin dengan dress floral membalut tubuhnya, sangat memukau.


"Tidak Dee. Jangan pernah berpikir seperti itu lagi. Aku yang memulai untuk dekat denganmu dan dia itu ikut-ikutan!" Liam dengan sengit.


Ricchi ingin membalas perkataan Liam tapi Dee menahannya dengan sebuah sentuhan pada tangannya.


"Bisakah kita kembali seperti semula, berteman? Kakak dan Kak Ricchi tetap sebagaimana semestinya. Tapi jika di luar aku akan menjadi tameng sebagai orang yang dekat Kak Ricchi. Tidak masalah bagiku dijadikan pacar bohongan," pandangan Dee sekarang menatap Ricchi Maheswara, aktor itu terlihat gusar.


Liam mengurut pelipisnya.


"Dawn. Kamu tidak perlu berkorban seperti ini, Dek. Gosip itu pasti akan hilang dengan sendirinya. Semua akan berlalu dengan gosip lebih besar dari artis lain," kata Liam.


"Tapi, sudah seheboh ini, bahkan di kantor pun aku jadi pembicaraan,"


"Nanti akan mereda, apalagi kalau Ricchi mengklarifikasinya di media."


"Tidak, aku tidak akan berbicara ke media, biarkan berjalan seperti ini. Dee adalah pacarku dan dia setuju. Jadi Abang terimalah."


Liam menatap tajam ke arah Ricchi dan berubah sendu saat mengalihkan pandangannya ke gadis kecilnya.


"Kak Liam, ini hanya bohongan, berapa bulan kemudian Kak Ricchi bisa menghapus foto-fotoku, dan media akan berpikir kita telah pisah. Dan kita semua bisa kembali dengan kehidupan masing-masing."


Hati Liam penuh penyesalan, andai saja ia tidak tertarik dengan Dee, andai ia mengacuhkan saja dengan kertas komplain gadis itu, andai hatinya tidak tertangkap oleh satu kerjapan mata Dee.


Aku menyukaimu, Dawn. Jerit hati Liam melihat Dee dan Ricchi saling berpandangan penuh arti.


Hanya Dee yang mengangguk, Ricchi menatap datar ke arah Liam.


Setidaknya publik tahu Dee adalah pacarku, hibur Ricchi menyunggingkan senyuman miring penuh kemenangan.


...


"Dawn... Aku minta nomer rekeningmu, Dek" pinta Liam setelah Ricchi mengantarkan mereka kembali ke rumah, sang aktor itu pun memutuskan untuk pulang kembali ke apartemennya. Sungguh hari yang melelahkan bagi ketiganya, lebih menguras emosi dibandingkan tenaga.


"Buat apa?"


"Itu salah satu yang perlu aku ketahui," Liam menaikkan tangannya meminta ponsel Dee. Dengan buru-buru Dee membuka notes tempat menuliskan akun-akun bank pribadi lalu menyerahkan ponsel pintarnya ke atas tangan Liam


"Aku bawakan beberapa buah tangan dari Milan, masuklah duluan. Semua aku taruh di meja sofa tengah," Liam bergumam sambil menyalin nomer rekening Dee mengirimkan ke nomer ponselnya.


Dee menggunakan kunci pribadi yang diberikan Liam sebelumnya. Gadis bersurai hitam itu melangkahkan kaki dengan tidak sabaran menuju sofa yang dimaksud pria yang mengekor dari belakang.


"Kak, Aku mau pakai kemana tas semahal ini? Dress seperti ini dipakai artis-artis Hollywood di karpet merah atau perjamuan high sosialita."


"Pakai dalam rumah saja, tidur atau pakai ke sini dari rumahmu, Dawn. Jika tidak tahu mau pakai kemana," ujar Liam dengan nada sedikit kesal seolah pemberiannya tidak dihargai.


"Ya ampun kak, jangan marah gitu, hahaha. maksudku ini sangat cantik dan mewah, terlalu berlebihan untukku. Kak Liam." bujuk Dee menggoyangkan lutut Liam yang terlihat sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


"Hm."


"Berjanjilah mengajakku ke pesta atau kemana pun yang cocok dengan dress ini,"


Sontak raut wajah Liam berubah menjadi cerah, ia pun berdiri dan tersenyum menyeringai.


"Sekarang?"


"Kemana jam 10 malam begini kak? Besok aku masih harus kerja,"


"Oh iya. Baiklah mungkin lain kali. Aku antar sampai di depan kalau begitu," ujar Liam membantu Dee memasukkan oleh-olehnya ke dalam paperbag berwarna emas.


"Setiap aku keluar dari rumah kakak, pasti aku membawa sesuatu." Dee bergumam, mengingat kosmetik yang langsung memenuhi meja riasnya, dan masih berlebih padahal ia telah mengirimkan juga ke Farah Dewi, sahabatnya. Pakaian pemotretannya juga telah mengisi lemarinya.


"Apa pun yang kamu inginkan, Dek" sahut Liam santai.


"Kulkas kakak" canda Dee tergelak tawa.


"Besok aku minta orang mengangkatnya ke rumahmu, aku serius!"


"No, aku cuma bercanda, kulkas kakak itu terlalu besar untuk dapurku, dan tidak sesuai dengan pola kitchen set. Gak muat," Dee terkikih ringan.


"Dawn." Kata Liam menahan bahu Dee saat di depan pintu rumah, gadis kecilnya hendak memasang kunci.


"Ya. " Dee mendongakkan wajahnya menatap raut wajah Liam yang beda melihatnya.


"Aku merindukanmu."


Sebuah pelukan hangat melingkupi tubuh Dee, aroma wangi maskulin dan manis pun menguar di indera penciumannya.


Nyaman, ia rindu tidur dalam pelukan dan dada ini, kata Dee dalam hati


"Jika rindu kenapa tidak membalas pesanku, Kak"


"Maaf Dawn, kakak sibuk saat itu dan aku berharap kamu menghubungiku lagi,"


"Jadi kita saling berharap?"


"Kamu merindukan aku yah, Dek?"


Dee mengangguk lemah.


"Hanya saja aku terbiasa saat pulang kerja melihat kakak, makan bersama dengan Kak Liam. Hanya saja, aku mulai bergantung denganmu, Kak,"


###


__ADS_1



__ADS_2