DI ANTARA DIA

DI ANTARA DIA
The Light and The Darkness


__ADS_3

Mendengar perkataan dingin dari Liam, sontak membuat Ricchi berbalik dari tempat duduknya. Aktor tersebut langsung setengah berdiri mengapai kerah kemeja Liam, mencengkeramnya dengan kuat.


"Apa kamu bilang, Bang?! Ini tidak benar, seenaknya saja meminta orang berpisah!" ucap Ricchi berapi-api, sementara Liam hanya pasrah dengan tindakan aktor itu padanya.


"Kak, lepaskan" kata Dee lembut sambil memegang tangan Ricchi "Kita sedang di perjalanan, ada baiknya kita menunggu sampai di rumah baru kita bahas lebih lanjut,"


Ricchi mendengar perkataan kekasihnya langsung melepaskan tangannya dan kembali duduk di kursi. Kejadian barusan membuat Mike, manager Ricchi melihat mereka dari kaca spion tengah.


Liam memilih menyandarkan badannya dengan santai, kedua tangannya bersedekap acuh. Dee menautkan jemarinya dengan jemari Ricchi, walau sepasang kekasih itu memilih untuk mengarahkan pandangan ke depan.


Sesampainya di apartemen, Ricchi, Liam dan Dee masih dengan pakaian dari pesta terduduk diam di sofa ruang tengah sang aktor, jam telah menunjukkan pukul 1 dini hari namun tiada dari orang-orang tersebut yang menguap tanda mengantuk.



Dee duduk di antara Ricchi dan Liam, tidak ada yang mau memulai berbicara, entah apa yang dipikirkan kedua pria tersebut.


"Jangan dinyalakan kak." Kata Dee melihat Liam ingin merokok, sebatang putih bernikotin telah bertengger di sudut bibirnya.


Liam pun mendengar teguran Dee, rokoknya sekarang hanya di jepit di jemari langsingnya.


Dee mengulurkan kedua tangannya ke depan Liam dan Ricchi, menatap bergantian kedua pria dengan ketampanan dan pesona yang berbeda.


"Bisakah kita kembali seperti dulu? Saling memiliki, tetap berteman, tidak diam-diaman seperti ini. Tanpa syarat, tanpa perdebatan, jika kakak berdua setuju genggam tanganku,"


Ricchilah yang duluan menggenggam tangan Dee diikuti Liam, kedua tangan pria itu sekarang mengisi relung tiap jemari gadis yang matanya memburam.


"Kak Liam cintai aku sebagai adikmu, miliki aku seperti itu. Namun aku tidak bisa melepaskan Kak Ricchi, di hatiku dia adalah seorang pria yang aku cintai. Maafkan aku. Dee hanya seorang, andai bisa terbagi aku akan membelah dua seperti amoeba untuk dimiliki kalian berdua. Aku juga bukan barang yang diperebutkan, aku tidak bisa melihat kalian berdua bertengkar hanya karena diriku, Kak. Karena aku yang datang di antara kalian, merusak hubungan Kak Liam dan Kak Ricchi. Sampai di sini kita sudah bisa saling mengerti? Jadi apakah kita berada di perahu yang sama sekarang?" Ujar Dee kembali menatap kedua pria itu bergantian, kedua tangannya masih digenggam Liam dan Ricchi.


Pria bersuit warna dark grey yang terkenal posesifnya mendekat ke tubuh Dee dan langsung menyandarkan kepalanya pelan di bahu gadis yang membuka hatinya.


Aroma maskulin manis menguar di panca indera Dee, dia pun tersenyum melihat tingkah Liam yang kembali kekanakan.


"Baiklah, Dawn. Kakak bisa mengerti keputusanmu. Tapi aku akan terus seperti ini bermanja denganmu dek, dan maafkan aku Ricchi. Ini tidak bisa ku rubah, aku bisa memeluk Dawn di depanmu" ungkap Liam jujur sambil menghirup wangi gadis kecilnya


Ricchi bertatapan dengan Dee, pria itu lalu menarik bibirnya ke dalam meninggalkan cerukan indah di pipinya.



"Selama kita kembali seperti dulu. Aku bisa menerima itu, Bang" Ricchi melayangkan senyuman khasnya kepada Dee, kekasihnya pun mengucap kata tanpa suara "i love you kak"


..


Sejam kemudian mereka terbaring di tempat tidur Ricchi. Dee berada di antara keduanya. Liam telah berganti pakaian, memakai kaos dan celana tidur milik sang aktor berjuta fans. Sementara Dee menyimpan 3 pasang pakaian tidur di apartemen kekasihnya.


Ketiganya menatap langit-langit kamar dengan pikiran melanglang entah kemana.


"Dawn. Aku tidak tahu di masa depan seperti apa, namun jika takdirmu menikah salah satu di antara kami, apakah kamu mau jika hidup seperti ini? Bertiga. Karena aku takkan keberatan menjalani hidup bersama, seatap" ucap Liam lirih, tangannya mencengkeram selimut di dadanya.


Ketiganya termenung dalam diam, hanya suara napas dalam dihembuskan mengisi kamar itu.


"Jika itu terjadi. Menikah salah satu dari kakak berdua, aku bisa hidup bertiga selama kita semua akur tanpa pertengkaran atau cemburu. Namun jika aku memilih pria lain, kita bisa tetap berteman dan janji tidak akan ada menggangguku dengan keposesifan Kak Liam atau apa pun dari Kak Ricchi. Atau mungkin lebih baik kita tidak saling bertegur sapa."


"Tidak !" Kata serempak keluar dari bibir Ricchi dan Liam, kedua pria itu langsung terbangun menatap lekat-lekat ke arah Dee yang membuat gadis itu tergelak tawa setelah drama kaku berapa jam yang lalu.

__ADS_1


"Baiklah, janji, kita akan hidup rukun bertiga," ucap Dee yang ikut terduduk sambil mengulurkan kedua kelingkingnya.


Ketiganya saling melempar pandangan lalu tersenyum simpul.


"Janji!" Ucap Liam dan Ricchi tegas saling menautkan kelingking di tangan Dee.


"Karena semua sudah sepakat, baiknya kita tidur," Dee menghempaskan kepalanya diikuti kedua pria mencinta dalam hidupnya. Liam memeluk lengan Dee dengan kepala di ujung bahu gadis kecilnya. Ricchi hanya menggenggam tangan kekasihnya penuh cinta.


"Kak." Kata Dee pelan yang di sambut gumam dari kedua pria yang berada di ambang mimpi


"Jika besok kalian tidak bekerja, kita berwisata bersama yah? Mumpung aku tidak kerja, kita kemana di luar sana. Makan, foto bertiga." Lanjut Dee masih menatap langit-langit yang telah gelap, sesaat lalu Ricchi telah mematikan lampu nakas yang menyinari kamar tidur bernuansa maskulin minimalis


Hanya anggukan kepala Liam pelan di bahu kiri Dee dan genggaman tangan Ricchi lebih erat menandakan kedua pria itu setuju dengan usulnya. Dee pun menutup matanya dengan hati yang damai. Ia tidak akan mempedulikan apa kata orang, jika ini satu-satunya jalan bisa mendamaikan kedua pria di sampingnya, biarlah jalan hidup yang ditempuhnya berbeda dari orang kebanyakan.


...


Setelah bangun terlambat sekitar jam 10 pagi, mereka pun berangkat menuju rumah Liam mengambil kamera canggihnya dan Dee mempunyai kesempatan untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, ia memilih salah satu dari dress yang dibelinya saat dinner pertama mereka.


Dengan menggunakan mobil mewah Ricchi mereka menuju puncak Bogor, sang aktor sebagai sopir sementara Liam duduk di samping dan Dee bersantai di belakang.


Sepanjang perjalanan mereka terus berbincang riang penuh gelak tawa tanpa mengingat lagi drama semalam, semua terurai seperti permintaan Dee.


Sesampainya di puncak, mereka pun mencari tempat untuk makan siang, karena selama di perjalanan ketiganya hanya menyantap sandwich yang dibeli di mini market pinggir jalan. Pilihan akhirnya jatuh pada restoran makanan khas Jawa Barat dengan panorama indah dari ketinggian, karena mereka datang pada akhir pekan jadinya tempat makan tersebut ramai oleh pengunjung lainnya.



Kedua pria yang notabene publik figur pun sukses menjadi pusat perhatian, Ricchi menggenggam tangan Dee diikuti Liam menuju meja yang ditunjukkan pelayan restoran. Beberapa orang mengambil foto mereka dengan sembunyi-sembunyi dan ada pula memilih hanya berbisik dengan arah pandangan kepada ketiganya.


"Kamu mau makan atau maruk dek?" Protes Liam menggelengkan kepala melihat isi pesanan Dee.


"Lapar tau kak, mengurusi kalian berdua butuh kalori tinggi. Kalau gak aku bisa kurus kering, makan hati," canda Dee memajukan bibirnya.


Ricchi tertawa melihat kekasihnya, matanya menari bahagia.


"Jadi makan hati beneran?" Tanya Liam dengan cengiran pula, matanya menghilang sebelah karena tarikan pipinya naik ke atas.


"Gak sih... Asal tidak drama lagi yah," kata Dee menyeruput jus buah naganya "Aku seperti mempunyai suami dua," bisiknya lagi membuat kedua pria di sampingnya tertawa terbahak-bahak.



...


Mereka berhenti di pinggir jalan setelah mencari spot untuk berfoto, adalah naluri Liam menjatuhkan pilihan pada padang rerumputan tinggi yang menguning karena kemarau yang panjang. Dengan cekatan pria jangkung itu menyiapkan kamera beserta tripodnya. Setelah bergantian berpose solo ala model, sesaat kemudian Dee di gilir oleh Ricchi dan Liam untuk foto berdua.


"Foto bertiga, Kak," kata Dee menatap ke arah Liam, pria itu langsung mengambil tripodnya dan meletakkan di sebelah spot tadi yang telah terinjak maksimal oleh ketiga orang tersebut.


"Aku sudah atur jepretannya 20 detik dan akan mengambil 10 foto" kata Liam langsung berjalan ke tempat Ricchi dan Dee berdiri.


Pose pertama mereka seolah model berakhir tidak jelas namun tetap dengan gelak tawa ketiganya.


Bunyi ponsel Dee membuat mereka menghentikan kenarsisan untuk sementara. Gadis itu pun langsung meraih ponselnya yang diletakkan di samping tas kamera Liam.


"Mama." Gumam Dee melihat layar ponselnya, dia pun berjalan dua meter dari tempat Liam dan Ricchi berdiri.

__ADS_1


"Halo, Ma." Sapa Dee melambaikan tangannya setelah melihat wajah mamanya.


"Belviyah! Mama hampir masuk rumah sakit melihat kamu dengan Ricchi masuk berita infotainment! Ya ampun nak, apa betul kamu pacaran dengan aktor itu? Sejak kapan? Lihat papamu cuma mesem-mesem melihat putrinya dekat selebriti," cerocos Chyntia Ragala, mamanya sambil mengarahkan ponsel menyorot ke arah papanya yang melambaikan tangan lalu mengirimkan kiss jauh.


Dee membalas kiss jauh papanya sambil tertawa kecil.


"Jadi?" Tanya Chyntia lagi, mata lebar dengan bulu mata lentik yang diturunkan ke Dee itu lalu menyipit.


"Apa sih, Ma?" ucap Dee menggerakkan ponselnya.


"Hei, kamu di mana Belviyah? Sedang apa di semak-semak?" Tanya mamanya dengan penasaran level emak-emak kepo.


"Kami lagi foto, Ma." Kata Ricchi langsung masuk ke dalam fokus video call Dee, tak lupa senyuman menghiasi wajah tampan pria tersebut.


"Akh" pekik histeris Chyntia membuat layar ponselnya langsung bergoyang membuat Dee dan Ricchi tertawa geli.


"Astagaa!! Benar yah kalian pacaran?" Teriak mamanya sambil menutup mulutnya tidak percaya.


"Hai, Mom." Ucap Liam langsung mengambil ponsel Dee dan melambaikan tangannya.


"Tuhan! Pa, ada Liam Farubun!" Pekik tertahan Chyntia langsung berdiri dari tempat duduknya menuju sofa tempat suaminya duduk.


Dari situlah Dee paham jika mamanya fans berat seorang Liam-sang sutradara, terbukti 10 menit berikutnya kedua orang tersebut terlibat perbincangan seru.


Ketika Liam disibukkan segala pertanyaan dari Chyntia Ragala, Ricchi mengambil kesempatan itu untuk memeluk kekasihnya.


"Aku rindu." Gumam Ricchi mencium puncak kepala Dee, semalaman ia menahan diri tidak memeluk kekasihnya di depan Liam.


"Maafkan aku, Kak." kata Dee menengadah menatap wajah Ricchi.


"Kenapa minta maaf? Tentang keputusan semalam? Sayang, yang kamu lakukan adalah yang terbaik. Aku pikir tadinya kamu akan memutuskanku," kata Ricchi terhenti saat manik mata mereka saling mengunci "Dan ternyata tidak. Terima kasih Dee, mempertahankanku. Kamu lebih dewasa dari kami berdua," sambungnya mengecup pipi kekasihnya.


Dee menarik senyuman manis di bibirnya, betapa dia mencintai pria yang mendekapnya erat.


"Oi, Mama mau bicara" teriak Liam memanggil keduanya.


Dee dan Ricchi pun berjalan menuju tempat Liam dan duduk di samping pria itu.


"Jadi siapa di antara kedua pria ini pacarmu, Belviyah?" Tanya mamanya mengembalikan topik pembicaraan.


Liam, Ricchi dan Dee pun terkikih ringan melihat tingkat penasaran Chyntia Ragala.


"Jika aku adalah mama, yang mana mama pilih? Kak Ricchi atau Kak Liam?" Tanya balik Dee sambil melirik kedua pria yang masing-masing mengembangkan senyuman indah di wajah mereka.


"Hmmm. Pilihan yang sulit. Bagaimana jika keduanya, mama pilih dua-duanya,"


###


The Light



The Darkness

__ADS_1



kalian rindu Liam, Ricchi atau author sih 😂


__ADS_2