DI ANTARA DIA

DI ANTARA DIA
You Are The Best Thing I Never Planned


__ADS_3

Kediaman Ragala dalam pengamatan Liam sungguh sangat menenangkan, walau rumah tidak terlalu besar hanya berkamar 4 dengan design bangunan minimalis namun view di luarnya sangat luar biasa, membuat semua orang yang datang bisa merasakan ketenangan. Liam sendiri tak menyangka jika di Bandung ia masih bisa melihat panorama sawah dan pepohonan yang rindang, memang rumah kekasihnya itu tidak berada tepat di tengah kota, melainkan agak ke timur dan harus melewati beberapa titik kemacetan di jalanan.


Datang ke sini membuka mata Liam untuk memiliki rumah dengan pemandangan alam, yang pastinya sangat bagus kelak untuk keluarga mereka, terlebih buat Dee.


Pikiran Liam sudah melanglang buana, sementara restu dari keluarga Dee belumlah ia dapatkan. Dwi Arya Ragala papa kekasihnya masih berkantor seperti biasa, hanya Chyntia Ragala yang sedikit kaget saat membukakan pintu buat mereka dua jam yang lalu. Calon mertua cantik dan kekasihnya pun sekarang sudah menyibukkan diri di dapur, demi menjamu Liam.


"Mama, tidak percaya kamu bisa pulang ke Indonesia tanpa mengabarkan kepada kami nak." Ucap Chyntia, mamanya yang menyambi celotehan dengan tumisan bumbu. Kedatangan pria jangkung sang sutradara, produser, sekaligus CEO itu beserta anak gadisnya membuat Chyntia bertanya-tanya.


"Duh mama berkali-kali tanya itu mulu." Dee memajukan bibirnya sembari tangannya membentuk perkedel kentang. Tadi Liam ingin mereka keluar makan malam bersama di restoran, namun Chyntia bersikeras untuk menjamu di rumah saja.


Wanita paruh baya itu pun berbalik memandangi Dee "Karena jawabanmu tidak memuaskan Belviyah, muter sana-sini. Mama pusing dengarnya."


Dee mengembuskan napasnya perlahan membalas tatapan mamanya lalu menyunggingkan seringaian di bibir merah miliknya.


"Aha.!" Seru Chyntia memasang wajah bahagianya


"Apaan ?" Balas Dee berseru, mamanya pun terkekeh


"Liam semakin tampan yah Belviyah, mama selalu berdoa kamu tidak melakukan kebodohan dengan melepaskan pria sesempurna nak Liam."


Dee mendecih sambil menelengkan kepalanya, dia tidak lupa jika Chyntia adalah fans berat kekasihnya. Selama di Moskow mamanya sekali pun tidak pernah lupa mengingatkan akan Liam, bahwa ada pria yang setia menunggunya di Indonesia.



...


Liam memandang secara bergantian Dwi Arya dan Chyntia yang terus menyunggingkan senyuman simpul. 30 menit setelah makan malam dengan menu masakan yang sangat enak, mereka kemudian berkumpul di ruang tengah kediaman Ragala, bersantai. Obrolan sepenuhnya basa-basi menanyakan pekerjaan Liam, dan Dwi Arya pun menjaga lisan agar tidak menanyakan kepulangan anak gadisnya.


"Pa, Ma. Dee sudah berhenti bekerja."


"Apa?" Pekik Kevin adik bungsunya yang sibuk dengan ponselnya di depan televisi "padahal aku sudah berencana mau kuliah di sana kak." lanjutnya bersungut, tatapan tajamlah yang didapat Kevin dari kedua orang tuanya.


"Apartemennya belum kakak jual kok, kamu lulus dulu baru mikir kuliah." Dee mengatupkan gigi namun bibirnya dinaikkan sebelah.


"Maaf yah nak Liam, mereka seperti itu." Ucap Dwi Arya mencairkan suasana


Liam tertawa kecil "tidak apa-apa Pa, wajar dalam hubungan saudara." Dee menyikut Liam yang duduk di sebelahnya


Liam menarik napasnya dalam kembali menatap kedua orang tua kekasihnya, entah kenapa dia merasakan sedikit gugup.


"Pa, Ma.. mohon maaf jika perkataan saya ada yang kurang berkenan. Kedatangan saya ke Bandung bermaksud melamar Belviyah Dawn untuk menjadi pendamping hidup. Kiranya Papa, Mama dan Kevin memberikan restu kepada kami." Ucap Liam dengan lantang, Dee menggenggam jemarinya sesaat perkataan telah berakhir


Chyntia memekik senang "Tentu saja nak, kami merestui. Justru kami berterima kasih telah membawa pulang Belviyah kembali ke tanah air. Kamu tahu papamu itu tidak pernah mengkhawatirkan keadaan dan keselamatan anak gadisnya di Rusia."


Dwi Arya menarik senyuman simpul dan manggut-manggut pelan dengan bijaknya "Dawn anak yang bisa menjaga diri, dan sekarang sudah ada Nak Liam yang akan menjaga anak gadis kita. Papa sudah bisa bernapas lega, tongkat estafet bernama Dawn saya serahkan kepada kamu nak."


"Terima kasih Pa Ma, saya berjanji tidak akan pernah mengecewakan Papa dan Mama. Dawn adalah satu-satunya wanita yang saya cintai dengan sepenuh jiwa dan raga." Liam beranjak dari tempat duduknya menghampiri kedua orang tua tersebut yang memuluskan perjalanan untuk sepenuhnya memiliki Dee.


"Papa percaya dengan ucapanmu Nak, kami berdua selama 6 bulan terakhir telah banyak membahas dan yah.. bisa dikatakan bermimpi hal ini akan terjadi. Terima kasih Liam, memilih Dawn kami yang suka berpetualang ini."

__ADS_1


Liam kemudian memeluk hangat secara bergantian Dwi Arya dan Chyntia Ragala, orang tua barunya.


"Selamat datang di keluarga kami, nak" ucap Chyntia penuh bahagia.


Setelah lamaran yang dilanjutkan dengan pembahasan pesta pertunangan yang ringan, karena Dwi Arya dan Chyntia Ragala sepenuhnya mengikuti semua keinginan anak gadisnya yang lebih berperan banyak dibandingkan Liam, mereka yang tergabung di ruang tengah kemudian memutuskan untuk beristirahat.


"Dawn. Aku tidak bisa tidur kalau pisah." Liam menarik bibirnya ke dalam, sendu. Dee mengantarkan Liam ke kamar depan, yakni kamar tamu. Sementara kamar tidurnya berada di lantai dua.


"Malam ini saja Kak, besok kita sudah kembali ke Jakarta kok." Tukas Dee menghampiri Liam lalu melingkarkan kedua tangannya pada pinggang pria jangkung itu


"Ahhh. Kamu sudah jadi milikku loh Dawn, aku sudah diberi restu ma Papa dan Mama." Ucap Liam sembari menangkup rahang kekasihnya


"Iya, tapi belum nikah. Besok pagi kalau ketahuan Papa dan Mama kalau tidur bareng, gimana? Tar malah restunya dicabut? Kita tidak jadi nikah." Dee menarik bibirnya ke dalam menahan geli yang menghampiri, kekasihnya terlihat seperti anak kecil yang merajuk


"Kamu pikir Papa dan Mama tidak tahu, kalau aku pernah ke Moskow, pastinya mereka bisa berpikir kalau nginapnya bareng di apartemen." Liam memberikan alasan, berharap Dee mengabulkan kebiasaannya.


"Bagaimana jika Papa dan Mama pikir seorang Liam Farubun yang kaya raya pasti tidurnya di hotel berbintang lima."


Liam memejamkan matanya sesaat lalu menatap sendu kekasihnya. Sebuah ciuman hangat mendarat di bibir Dee, ciuman yang disertai rengkuhan erat dari pria itu.


"Baiklah malam ini saja, selebihnya kakak tidak mau tahu. Dawn milikku, seterusnya tidur harus dalam pelukanku."


Dee tertawa ringan menelengkan kepalanya tidak percaya.


"Aku mencintaimu Kak Liam, terima kasih sudah memilihku menjadi pendamping hidupmu."


Liam mendecih sesaat lalu mencubit pipi kekasihnya "Dari dulu kamu satu-satunya pilihanku, tidak pernah ada yang lain. Kamu satu-satunya wanita yang tidur denganku, seterusnya juga akan begitu. Aku selalu memilihmu, lagi dan seterusnya. Tanpa jeda, tanpa penyesalan dalam detak jantung. Kamu selalu menjadi pilihanku Dawn."


...


Semua orang kagum akan Dee yang sangat cantik dalam balutan kebaya berwarna merah beserta sarung batik tulis yang sengaja dipesan dari Kota Solo. Sementara Liam berpenampilan lebih modern, tubuh jangkungnya dibalut dengan suit berwarna dark gray dipadukan kemeja hitam, sangat tampan terlebih di mata Dee.



Liam melingkarkan cincin emas berlian bermodel antik di jemari manis Dee, yang mana gadis kecilnya berkaca-kaca memandangi satu ikatan baru yang lebih mendekatkan mereka berdua.


Sebuah kecupan di kening Dee dari Liam menandai prosesi pesta pertunangan telah berakhir, acara kemudian dilanjutkan dengan pesta santai yakni, foto bersama, makan-makan dan saling berbincang para anggota keluarga. Liam dan Dee yang tadinya berbaur dan bergantian mengobrol dengan orang-orang namun kemudian pria jangkung itu menarik Dee untuk terpisah dari riuhnya area pesta.


"Ganti heelsmu dengan sepatu yang nyaman tunangan cantik, bakal Nyonya Farubunku." ucap Liam mengecup mesra pipi Dee di depan pintu, sedari tadi saat acara dimulai ia sudah ingin merengkuh tubuh tunangannya, yang sejak kemarin tidak ditemuinya karena harus menemani keluarga besar Farubun di hotel.


"Mau kemana?" Tanya Dee heran, Liam tidak menerima protes pun langsung berjongkok mengganti heels bertinggi 5 centimeter dengan sepatu sport milik Dee.


"Berjalan-jalan, langkah pertama kita sebagai tunangan." Liam tertawa kecil lalu menarik tangan Dee untuk memulai jalan-jalan sore mereka yang masih mengenakan kebaya dan suit.


Liam hanya membawa Dee berjalan menikmati pemandangan alam di sekitar rumah Dee, sederhana namun membuat keduanya makin berbahagia. Liam menghentikan langkah setelah memasuki jalanan setapak kecil dan keduanya berdiri menghadap pada hamparan sawah yang menghijau.


"Cincinnya sangat cantik kak, perasaan kakak tidak pernah lepas dari aku selama seminggu ini. Kapan belinya?" Tanya Dee menengadah menatap wajah Liam yang tak berhenti mengulum senyuman


"Belinya di Moskow, saat kamu kerja dek. Sebenarnya kakak mau melamar kamu saat di sana, tapi nanti kamu merasa terbebani. Aku semacam berjudi dengan berharap kamu yang kembali ke Indonesia atau kakak yang kembali mengunjungimu di Moskow. Tapi memang rencananya setelah film tayang dan semua urusan selesai, kakak ingin melamarmu di kunjungan kedua eh taunya kekasihku yang pulang." Ucap Liam mendekap tubuh Dee, gadis kecilnya pun menyandarkan kepala dengan nyaman di dadanya.

__ADS_1


"Kamu suka tidak dengan rumah kita di Jakarta Dawn? Kakak lagi memikirkan untuk membeli rumah dengan pemandangan seperti ini. Sawah ada, hutannya juga, kali kecil. Tiap pagi bangun melihat seperti ini pasti hati lebih tenang."


Dee mengecup bibir Liam dengan ringan, hatinya dipenuhi bahagia, suka, senang, nyaman dan damai berlipat-lipat berada di dalam pelukan pria miliknya.


"Suka.Tapi kalau pemandangan seperti ini sangat susah di Jakarta Kak Liam, kita harus tinggal di pinggiran kota. Mungkin untuk sementara waktu kita bertahan di perumahan yang mempertemukan kita."


Keduanya tertawa bahagia, bola mata Liam menari memandang kekasih hatinya.


"Aku tidak pernah menyangka jika gadis kecil yang menyimpan pesan di mobil akan menjadi pendamping hidupku. Tapi jujur Dawn, pertama kali melihatmu saat itu kakak sudah tertarik. Setelah itu aku selalu menunggumu pulang kantor, hanya untuk melihat matamu yang indah, wajahmu yang cemberut, tawamu yang riang, suapanmu yang penuh kasih walau disertai celotehan. Apa itu berarti sejak awal aku sudah jatuh cinta sama kamu dek?"


Dee mengedikkan bahu dan mengulum senyuman


"Kalau aku jujur dari awal suka Kak Liam. Cuma Kak Liam saja yang meragu, apalagi setelah ciuman pertama kita. Coba dari situ kakak saying "I Love You Dawn, would you be my girlfriend ?" Pasti aku terima. Eh malah disuruh pelan-pelan. Dasar ma."


Dee mencebikkan bibir namun dengan sigap Liam melabuhkan ciuman.


"My bad, darling. Saat itu aku masih bingung dengan perasaan yang hadir, tidak berani melangkah. Atau bisa dikatakan tidak tahu memulai hubungan dengan seorang wanita. Di satu sisi aku ragu, tapi di sisi lain aku sangat menyukai kedekatan kita. Kakak mulai bertanya-tanya dalam hati apakah pernikahan normal seperti ini, melakukan semua bersama-sama. Hatiku sungguh nyaman saat tidur denganmu Dawn. Melihatmu di sampingku saat makan bersama di rumah, sangat menyenangkan. Tapi itu belum cukup membuatku yakin untuk memilikimu, hingga Ricchi mengambilmu."


Baik Liam dan Dee menghela napas dalam ketika menghadirkan sosok sang aktor di percakapan mereka.


"Kalian pacaran di depan mata seolah mimpi yang sangat buruk bagiku. Kemudian kamu menghilang Dawn. Selama waktu itu, aku terus berharap bisa menemuimu sekali lagi, entah itu kamu sudah menikah dengan pria lain. Karena besar di pikiranku kamu telah menikah karena selama 3 tahun tidak menemukanmu. Tapi takdir Tuhan dan keberuntungan memihak kepadaku. Cukup semalam saat kamu mengatakan tidak terikat dengan siapa pun membuatku kembali ke jalur awal menuju cintamu."


Dee terbatuk kering mendengar penuturan tunangannya, gadis berkebaya merah itu pun kemudian tertawa keras dalam dekapan Liam.


"Kamu adalah yang terbaik yang pernah terjadi di hidupku, kak"


...



liamfarubun wanita tercantik di hidupku. My fiance @dawnragala


Tak lama setelah melihat unggahan sosial media Liam, pria bersweater hitam melemparkan ponsel canggihnya ke dinding tembok kamar tidurnya hingga berserakan tak berbentuk.


"Aku tidak bisa mengikhlaskan kalian untuk bersama !" Teriak Ricchi memenuhi rumah megahnya yang belum lama ini iabditempati. Pria tampan itu pun lalu terduduk di tepian tempat tidur menangkup wajahnya. Tak lama kemudian bahunya naik turun tersengal tangisan perih menghujam dada.


"Aku mencintaimu Dee. Aku mencintaimu !!"


###


yang tidak bisa move on



sudah bertunangan



bonus foto, dari si kaki panjang 😚

__ADS_1



__ADS_2