DI ANTARA DIA

DI ANTARA DIA
Grow Old With Me


__ADS_3

Ricchi tidak sadar jika reporter cantik di depannya sedang memerhatikan gerak-geriknya. Aktor, sutradara sekaligus penulis itu sedang sibuk dengan gawainya. Riani, wanita berusia 29 tahun yang bertugas mewawancarai Ricchi merapikan rok mininya. Ia tidak datang sendiri di kafe yang terletak di Jalan Beraban, Bali. Riani terbang dari ibukota bersama dua kru, satu fotografer dan satunya team hore di tabloidnya bekerja.


“Pak Ricchi sampai kapan di Bali ?” tanya Riani dengan lembut. Ia sepenuhnya sadar jika suaranya barusan terdengar sedikit mendesah.


Pria berusia 55 tahun itu tersenyum simpul menatap ke depan.


“4 hari lagi kami akan kembali ke L.A.”


Raut sedih di wajah Riani mendengar sahutan datar Ricchi. Pria yang sangat dikaguminya. Demi wawancara dengan Ricchi Maheswara, ia harus


sikut-sikutan dengan reporter lain dan ‘memaksa’ kepala redaksinya memberikan kesempatan emas itu kepadanya.


“Selamat atas pernikahan Sunshine, pak.” Riani tulus


Ricchi pun menganggukkan kepala “Terima kasih. Sayangnya kita belum saling mengenal sebelum ini. Saya bisa mengirimkan undangan ke pesta anak kami.”


Wanita mengenakan blus berwarna merah menyala senada lip tintnya tersenyum lebar “Ah bapak bisa saja. Tapi saya sih mau banget jika


diundang. Keluarga bapak adalah panutanku. Maksudnya, Bapak Ricchi dari aktor terbaik negeri ini, sukses di Hollywood. Pak Liam juga sama. Sangat keren.” Riani tidak bisa menahan diri untuk menaikkan kedua jempolnya, sebenarnya sikapnya agak berlebihan.


Sesi wawancara formal mereka telah usai, hanya basa-basi yang tak ingin Riani berakhir. Syukurnya pria berlesung pipi sangat dalam itu,


tidak buru-buru beranjak dari kursi kayu di plitur mengkilat.


Riani sangat menyukai kebersamaan mereka. Jantungnya memompa secara berlebihan, bukan hanya sekali melap bulir keringat dingin di pelipisnya. Dua jus dan sebotol mineral


menetralisir perasaan yang melandanya.


Pria pujaannya hanya terpisahkan satu meja. Ingin rasanya Riani berdiri dan menangkup wajah tampan itu dan melabuhkan bibirnya pada bibir sempurna sang aktor berjuta fans.


Ricchi Maheswara adalah pria sempurna luar dan dalam. Bertambah usia malah membuat pria memulai karier sebagai aktor itu semakin matang dan sangat mempesona.


“Mbak Riani sendiri sampai kapan di Bali ?” tanya Ricchi sopan


“Karena ini akhir pekan, saya akan kembali ke Jakarta hari Senin pagi. Penerbangan pertama.” Imbuh Riani cepat. Jantungnya bertalu semakin kencang, suara Ricchi terdengar lebih indah didengarkan secara langsung dibandingkan lewat


layar kaca.


“Jadi akan berlibur singkat di pulau dewata.” Ricchi terkekeh kecil. Riani terpukau.


“Pastinya ini bukan pertama kali ke Bali. Tidak bosan ?” sambung Ricchi menatap lurus


“Tidak pak. Apalagi kedatangan kali ini. Sangat spesial.”


“Oh yah ? Apa yang membuat spesial ?”


Riani tersipu dengan wajah memerah “Bapak. Itu yang membuat spesial.”


Ricchi membulatkan maniknya lalu tertawa kecil.


“Kau pintar menyanjung, gadis cantik.”


Riani ingin pingsan mendengar suara renyah dibalut kekehan tawa manis dari Ricchi yang menyebutnya cantik.


“Tapi betulan, pak. Seperti dari awal tadi saya sudah katakan jika saya adalah fans berat bapak. Saya tidak bisa tidur semalam, syukurnya menjelang pagi bisa memejamkan mata selama 3 jam. Dan menunggu bapak sejak siang di kafe ini.”


Ricchi menangkup wajah dengan tangan kanannya, lalu tertawa.


“Kau gadis yang lucu. Seperti Sunshine.”


Riani tersenyum getir, ia hanya disamakan dengan anak pria pujaannya. Tidak cukup, harusnya Ricchi menatapnya sebagai wanita yang dewasa.


“Bapak mau kemana setelah ini ?” Riani mengalihkan pembicaraan ketika melihat Ricchi mengetikkan sesuatu di gawai berwarna hitam.


Ricchi mengulum senyum menaikkan kepala “Ke Legian.  Saya ada janji dengan teman di sana.”


“Tepatnya ?” tanya Riani, melupakan tata krama.


“Cloud. Kau pasti tahu tempat itu, Mbak Riani.”


Dengan cepat Riani menganggukkan kepala “Sangat tahu. Dan juga akan kesana.”


“Oh yah ?”


Kembali Riani menganggukkan kepala dengan semangat 45.


“Ya pak.”


Senyuman berlesung pipi sangat curam yang bisa membuat siapa pun jatuh ke dalam hanya dengan sekilas memandang “Sekarang ? Kita bisa bersama kesana. Tapi saya tidak bawa kendaraan. Tadi anak saya, Shadow yang mengantarkan kesini.”


Riani mengangguk antusias “Tentu saja, saya bicara dengan kru dulu pak.” Ucap gadis itu beranjak menuju meja teman kerjanya.


Sang papa dengan dua anak itu memilih berdiri dan bergerak menuju kasir. Mengulurkan kartu platinumnya kepada pegawai kasir.


“Duh pak, kenapa dibayar ?” protes Riani mendapati Ricchi mengambil kembali kartu platinum beserta struk transaksi.


“Tidak apa-apa.” Ricchi tersenyum kepada dua pria, teman  kerja Riani.


“Kalian juga ikut ?” sambung Ricchi bertanya


“Tidak pak. Kami berpisah disini. Mereka punya jadwal sendiri.” sergah Riani tidak membiarkan temannya angkat bicara.


Aktor, sutradara sekaligus penulis itu mengangguk tanda mengerti.


“Sampai bertemu lagi, mas.” Ucapnya sopan lalu menyalami kedua pria yang tidak jauh dari usia Riani.

__ADS_1


Ricchi memimpin keluar dari kafe tersebut, dan Riani lah yang mencegat taksi.


“Punya janji juga di Cloud ?” tanya Ricchi ketika taksi mulai berjalan meninggalkan Jalan Beraban.


Gadis bermanik sedikit sipit seperti umumnya orang Indonesia mengiyakan “Saya akan menunggu teman di sana, pak.”


“Saya juga bertemu beberapa teman.” Ricchi bergumam dan menyibukkan diri dengan


gawainya. Riani tidak menyiakan momen itu untuk memandang puas pria yang tak dimakan usia. Wajah tampan ditumbuhi kumis dan janggut, tubuhnya kekar karena Ricchi Maheswara sangat rajin berolahraga, Riani tahu karena ia mengikuti akun sosial media pria di sampingnya.


Kurang lebih 30 menit kemudian mereka telah sampai di tujuan. Kehidupan malam sudah dimulai di sepanjang jalan itu, walau masih


tergolong sepi dalam tanda kutip namun beberapa pub yang buka dari siang tanlmpak ramai oleh


wisatawan asing yang menikmati bir berlogo bintang merah.


“Selamat menikmati malam minggu, Riani.” Ricchi menjabat tangan reporter cantik itu ketika memasuki Cloud Pub. Waiters yang tahu akan


kedatangannya langsung memberikan informasi jika teman-temannya telah menunggu di ruangan


VIP.


“Terima kasih Pak Ricchi.” Lidah Riani kelu, ia ingin


berpanjang lebar tapi Ricchi terlihat terburu untuk menemui temannya.


“Sama-sama.” Ucap Ricchi mengurai senyuman lalu berjalan mengikuti waiters pub. Tinggallah Riani menatap punggung Ricchi menghilang masuk ke ruangan yang bertuliskan VIP Rooms.


Sekarang Ia tidak tahu apa yang akan dilakukannya, tidak ada teman ditemui di pub ini. Reporter itu dengan sembunyi-sembunyi


membuka satu kancing atas blusnya, rasa percaya diri tumbuh setelah melakukan itu. Dengan berlenggok Riani berjalan menuju bar, beberapa pria asing meliriknya. Tetap saja hatinya penuh harap jika Ricchi yang memberikan perhatian


seperti itu.



Ricchi berjalan keluar dari toilet pria, ia melirik jam


tangan di pergelangannya. Pukul 11 malam, sudah 4 jam ia berbincang dengan teman-teman seperjuangannya di dunia film. Ricchi sudah mengantisipasi dengan meminta Shadow mengantarnya keluar, ia tahu jika malamnya akan panjang dengan mereka. Ricchi pun menenggak beberapa gelas minuman beralkohol, walau tidak sampai mabuk berat.


“Pak.” Tangan Ricchi di tarik masuk ke dalam salah satu ruangan VIP ketika ia hendak kembali ke ruangan tempat temannya berada.


Kepala Ricchi sedikit menggeleng untuk fokus kepada wanita yang memeluknya dengan erat. Wangi bunga menguar bercampur alkohol dari tubuh sintal yang membuat otaknya bekerja menuruti nafsu.


“Riani.” Ricchi mendesah kasar ketika wanita yang tadi sore mewawancarainya itu berisiatif terlebih dulu menyatukan bibir. Alkohol menjadi raja di pikiran Ricchi, ia larut dan membalas pagutan Riani. Memperdalam ciuman, pun tangannya ikut bergerilya.


Suara desahan Riani terdengar keras penuh gairah ketika mereka berada diatas sofa, tubuh Ricchi menyentak ketika melihat dengan jelas wajah wanita yang berada di bawahnya.


Sontak Ricchi berdiri, dengan wajah pias. Mabuknya hilang dalam seketika.


“Pak, kenapa berhenti ?” Rajuk Riani tanpa mau menurunkan blus dan roknya yang bentuknya sudah tidak beraturan.


Ricchi mengembuskan napas panjang “Maafkan saya, Riani. Saya khilaf. Ini tidak boleh terjadi. Saya memiliki wanita yang sangat dicintai.”


Riani mendecih keras lalu mendudukkan badan “Jadi benar seorang Ricchi Maheswara menjadi orang ketiga dalam hubungan Pak Liam. Seberapa


hebat wanita itu hingga bapak tidak bisa meninggalkannya ? Saya lebih muda pak, tubuh saya seperti ini. Kencang dimana-mana.” pamernya membusungkan dada berukuran 36 B.


Ricchi menggelengkan kepala sambil terkekeh, sepenuhnya otaknya bekerja dengan normal setelah mendengar perkataan Riani.


“Kau mau tahu, Riani ? Seberapa hebat istriku ?”


“Istri ?” cicit Riani


Aktor tampan itu mengangguk “Ya, Dee adalah istriku. Dia adalah ibu dari anak-anakku. Kami memang tidak menikah seperti pasangan pada umumnya. Tapi jiwa kami saling terikat. Saling mencintai. Kami tiga orang yang saling


mencintai satu sama lain. Aku mencintai abang, kami mencintai wanita yang sama." potong Ricchi menatap Riani


"Mukamu terlihat aneh, kau pasti memikirkan jika kami adalah keluarga yang aneh. Ya, kami memang keluarga yang sangat jarang ditemukan di muka bumi. Tapi inilah kami, tetap bersama. Oh Tuhan, sebentar lagi saya akan menjadi kakek dan masih melakukan perbuatan tidak senonoh. Sekali lagi maaf, Mbak Riani.”


Reporter itu memberenggut kesal, jengkel dan sangat sedih mendera batinnya.


“Oh ya, bukan bermaksud pamer. Tapi saya sudah pernah tidur dengan berbagai model tubuh wanita. Dan Dee memiliki tubuh yang sangat indah. Ketika


berada di usia 20an, saat kami pertama kali tidur bersama.”


Ricchi menundukkan badan dan memandang lurus ke wajah Riani  yang kehilangan kata-kata.


“Sekali lagi aku minta maaf. Semoga ini pertemuan kita yang terakhir.” Ucap Ricchi lembut lalu menyunggingkan senyuman khasnya. Ia tahu semua wanita akan melupakan amarah ketika senyuman itu terpampang di wajahnya.



Ricchi berjalan mengendap memasuki kediamannya. Penuh harap tidak ada orang yang terjaga di rumah itu.


“Kakak baru pulang ?” suara lembut membuat Ricchi terjengkit. Sosok Dee mengenakan dress bermotif pantai sedang memegang gelas di


tangannya.


Pun Ricchi berjalan menghampiri Dee lalu memeluknya dengan erat.


“Kak Ricchi mabuk ?” tanya Dee menaruh gelas di atas meja. Aroma minuman keras bercampur wangi maskulin dan wangi lembut bunga.


Dee memegang tangan Ricchi, agar pria itu melepaskan pelukannya.


“Tidurlah kak.” Wanita yang tadinya bernada riang menjadi datar kemudian berjalan tergesa meninggalkan Ricchi.

__ADS_1


Sang aktor itu menatap bingung kepergian sosok Dee, tanpa berpikir panjang Ricchi berjalan menuju kamar tidurnya.



Datar. Cenderung menghindari sebuah percakapan, begitulah sikap kepadanya. Sikap Dee seperti itu telah di terimanya sejak Ricchi bangun, sarapan, makan siang yang mana Dee tidak mau semeja dengannya. Pun ia telah bertanya kepada Liam, dan pria itu hanya mengedikkan bahu tidak tahu menahu akan perubahan sikap istrinya.


“Dee sayang.” ucap Ricchi ketika Dee hendak meninggalkan area kolam renang ketika melihat kedatangannya.


“Tolong, katakan apa salahku. Jangan menghindar seperti ini. Anak-anak kita melihat.” Ricchi memegang pergelangan tangan Dee setelah


berhasil mengejar langkah panjang wanita paruh baya yang masih sangat cantik di mata dua pria.


“Kak lepaskan.”


Ricchi menggeleng “Tidak. Aku tidak akan melepaskan tanganmu hingga kau mengatakan apa salahku. Sejak pagi hingga hampir sore kau


mendiamiku, sayang. Katakan dengan jujur.”


Dee menatap tajam Ricchi “Kakak habis tidur dengan wanita lain tadi malam!” serunya lalu bergetar dengan isakan tangis.


“Ya ampun, Dee. Kau mencium wangi parfum di kemejaku semalam ?”


“Aku tahu semua wangi parfummu kak. Tapi semalam itu ada parfum wanita melengket di kemejamu.”


Ricchi terkekeh manis “Kau cemburu sayang ? Bukankah kau selalu menyuruhku untuk menikah.”


“Ya. Aku menyuruh kakak menikah itu puluhan tahun lalu. Ketika Sunshine kecil. Tapi tidak masalah jika sekarang Kak Ricchi ingin menikah. Asal Kak Ricchi jujur, tidak main sembunyi-sembunyi. Jika kakak menikah, kita tidak akan bertemu lagi. Aku dan Kak Liam akan tinggal di tempat lain. Kami akan pindah meninggalkan L.A. Sekarang sudah ada Shadow yang akan mengurus Farubun and Maheswara, jadi Kak Liam bisa pensiun.”


“Dan kalian melupakanku ? Begitu yang kalian mau ?”


“Ya ! Kak Ricchi sudah punya istri bukan ? Kakak tidak memerlukanku dan Kak Liam.”


Ricchi memegang lembut kedua bahu Dee “Itu tidak akan terjadi, sayang. Aku sudah memiliki istri, dan itu kamu. Jujur semalam aku hampir meniduri reporter yang mewawancaraiku, tapi tubuhku dalam pengaruh alkohol. Tidak ada yang terjadi selain ciuman dan tanganku meraba.” Ungkapnya jujur.


Dee menepis tangan Ricchi.


“Tidak terlambat jika Kak Ricchi ingin menikah lagi.” Sahut Dee dengan ketus


Ricchi tergelak tawa keras “Sayang, anak-anak kita sudah dewasa. Sunshine sudah menikah, sebentar lagi kita akan menjadi kakek dan nenek. Jadi buat apa aku menikah ? Semua sudah aku dapatkan. Anak-anak dan cintamu. Menikah lalu melepaskan keluarga besarku ?”


“Daripada kakak menyewa hookers di L.A demi melampiaskan gairah.”


Ricchi mengedikkan bahu “Semua aku lakukan karena aku mencintaimu, Dee. Karena aku adalah pria normal, walau pertemuan dengan wanita-wanita itu tidak seintens dulu. Kita semua telah menua, sayang. Gairah sudah tidak sebesar dulu. Rasa kasih sayang di ujung usia lebih dibutuhkan dibandingkan sekadar pelepasan nafsu. Aku berjanji tidak akan menerima wawancara dari wanita dan berujung memberikannya tumpangan ke pub.”


Dee mendengus kasar, merajuk meninggalkan pria tampan yang masih kalut karena upaya membujuk wanitanya gagal total.


“Wah, Riani mengirimkanku pesan.” Seru Ricchi sengaja agar Dee mendengarkan ucapannya. Ia pun menatap antusias ponselnya.


Dengan berderap Dee kembali berjalan menghampiri Ricchi. Dengan paksa ia merebut benda pipih di tangan Ricchi lalu melemparkannya masuk ke dalam kolam.


“Seumur hidup kau adalah milikku kak !” ucap Dee dengan lantang.


Ricchi terbahak tawa yang sangat keras, hingga matanya mengeluarkan air “Ya, begitu pun dirimu Belviyah Dawn. Milikku yang kubagi dengan abang.” Ucapnya memeluk tubuh Dee yang meluapkan kesedihan dengan air mata.


“Kau apakan istriku ?” tanya Liam yang kedatangannya tidak disadari oleh Ricchi dan Dee.


Ricchi hanya menoleh menatap Liam dengan tangan tak mengurai melepaskan tubuh Dee dari dekapannya.


“Dee cemburu dan memintaku menikah dengan wanita yang hampir aku tiduri tadi malam.”


“Bagus dong jika kau menikah. Kami akhirnya bisa hidup berdua tanpa ada pria idaman lain.” Ucap Liam dengan sarkartik.


Ricchi mencebik lalu menggeleng “Itu tidak akan terjadi, bang. Kita bertiga sudah ditakdirkan untuk hidup bersama. Abang, aku dan Dee sudah melewati masa muda bersama, usai tua pun kita akan habiskan bersama dengan menimang cucu. Kemudian saling menguatkan ketika sakit mulai mendera tubuh. Kita seterusnya akan bersama.”



Mata Richard tidak bisa lepas pada gerak gerik Shadow yang terlihat sangat semringah ketika pria bersurai putih itu menjemputnya. Terdengar tawa renyah Shadow ketika Kai membukakan pintu mob. Sekilas Shadow berbalik dan melambaikan


tangan dengan riang kepadanya.


“Aku pergi dulu.” Teriak gadis jangkung itu dengan riang.


Tangan Richard mengepal di sisi badannya. Ia sangat cemburu.


“Rich. Apa kau mencintai Kak Shadow ?” tanya Sunshine yang berdiri di sampingnya.


Pria bertubuh tinggi dan kekar itu tersentak kaget, ia melupakan jika Sunshine ada bersamanya.


“Eh.” Sahut Richard serba salah.


###




alo kesayangan 💕,


ada yang nanya apakah ini sudah ending, makanya aku UP.. bagi yang belum tahu kemana Shadow, gadis jangkung itu pindah ke novel "Cute Mafia"


dan novel ini entah apakah aku akan tamatkan atau berlanjut kisah kacau keluarga Liam, Dee, dan Ricchi.. plus Sunshine dan Richard..


masih perlu aku pikirkan 😊


love,

__ADS_1


D 😘


__ADS_2