
Gosip tentang Dee dan Ricchi masih bertahan di kantor hingga berapa hari kemudian, itu dikarenakan beritanya pun masih dikulik di acara gosip televisi. Walau Dee tidak pernah menonton acara gosip namun dirinya dibicarakan secara terang-terangan oleh Team Mawar, kecuali Angga. Pria itu memilih menyibukkan diri ketimbang larut dalam hal yang tidak disukainya.
Dee tidak mau ambil pusing, biarlah kafilah berlalu anjing tetap menggonggong. Tidak ada salahnya jika seorang pegawai mempunyai hubungan istimewa di kantor akuntan tersebut, bahkan jika Dee dan Angga berpacaran pun tidak jadi masalah. Hanya saja Dee kebetulan saja mendapatkan "pacar" seorang selebriti, hingga gosip digosok terus tiap harinya. Seolah tidak ikhlas pegawai biasa mendapatkan seorang aktor terkemuka.
Telepon kantor berdering yang diangkat Reza, di suatu hari pagi menjelang siang.
"Dee... Dari mbak Lilis katanya ada hantaran makanan,"
Dee langsung beranjak dari kursinya
Dee : Halo mbak
Lilis : Ada driver ojol nih, bawa makanan.. buat Dee gitu.
Dee : Di antar naik atas mbak, aku tunggu depan pintu.
...
Selamat makan siang, Sayang.
R.
Dee tersenyum semringah ketika membaca kertas kecil di bungkusan paket bento yang baru dia terima. Ia lalu menaruhnya di pinggir meja kerjanya.
Klik
Bunyi kamera Wahyu mengambil foto bento
"Dari R : Ricchi, ckckck, Ini bukan gosip, tapi realita," ujar Wahyu meremas kursi Dee lalu kembali ke mejanya. Tangan lincah pria itu mengetik sesuatu, Dee sudah mengira bentonya akan menjadi bahan pembicaraan di grup gosiper kantor.
Resiko dekat dengan artis, gumam Dee sembari melanjutkan pekerjaannya.
Sejam kemudian, ketika teman se ruangannya keluar makan siang, Dee membawa bentonya ke pantry. Tak lupa ia mengambil foto dan mengirimkannya ke Ricchi.
Makasih kak
Pesan Dee, dengan ikon senyum
Dee pun menyantap menu makan siangnya yang sangat enak dengan penuh kedamaian. Dee jarang makan siang di kantor, karena ia pasti memilih keluar untuk mencari makanan yang mana di sepanjang jalanan depan kantor bertaburan rumah makan dan kedai seperti nasi padang, bakso, mie ayam dan sebagainya.
Setelah menenggak habis air mineralnya, Dee menikmati kopi panas buatannya. Masih banyak waktu senggang sebelum jam masuk kantor, ia pun bersantai.
Panggilan video Ricchi
Dee langsung mengambil ponselnya, sempat terbersit ragu untuk menjawab panggilan itu.
Halo Dee...
Senyuman khas Ricchi di layar ponsel Dee
Hai kak, terima kasih menu makan siangnya
Dee tersenyum lebar.
Menu kita sama, nih.. aku juga sedang makan siang
Ricchi memperlihatkan menu bento yang sama.
Punyaku sudah habis
Dee memamerkan tempat bentonya yang kosong.
Hahaha... Tawa renyah itu membuat hati Dee berdesir
Syukur kamu suka dek, besok aku kirimkan lagi.
Tidak usah kak.. merepotkan
Dee menggelengkan kepalanya.
No.. aku tidak repot dek, sebagai pacar harus bertanggung jawab dengan kesehatan kekasihnya. Ya kan?
Senyuman mematikan itu kembali menghiasi pipi Ricchi.
Dee menganggukkan kepalanya.
Kakak sibuk?
Dee melihat di belakang Ricchi terlihat ramai
Ini lagi istirahat, pemotretan. Nih.
Ricchi menggerakkan ponselnya secara pelan hingga Dee bisa melihat set pemotretan dan beberapa orang yang sedang berbincang dan ada pula yang sedang makan.
Jadwalku padat dek, kalau sudah kosong kita berkencan yah?
Ricchi mengulum senyum dengan mata membulat lucu.
Iya
Singkat Dee membuat Ricchi tersenyum mematikan lagi.
__ADS_1
Aku merindukanmu Dee.
Dee hanya mengangguk dan tersenyum dengan rona di pipinya.
Sampai bertemu kak.
Ricchi mengangguk sambil mengirimkan kiss bye.
Dee tak bisa menahan diri untuk tidak tersipu malu, dengan senyum merekah Dee menutup panggilan video dari Ricchi.
...
Di tengah kesibukan Dee dengan pekerjaannya yang menumpuk, dia melihat notifikasi sms m-banking. Dee pun lalu meraih ponselnya
Pada no.rek 12302322***** ada dana masuk sebesar Rp. 175.000.000,00 saldo akhir Rp. xxx.xxx. berita : transfer pay day Dawn.
Jantung Dee seolah berhenti berdetak sesaat, ia pun lalu membuka aplikasi m-bankingnya dan benar ada penambahan sejumlah uang yang bisa membuatnya membeli sebuah mobil baru.
Siapa yang mengirim uang sebanyak itu. Di bacanya lagi baik-baik sms notifikasi dan menemukan kata 'Dawn'
Kak Liam ! Siapa lagi, cuma pria itu yang memanggilnya dengan nama Dawn, apalagi Liam meminta nomer rekeningnya berapa hari lalu. Keringat dingin muncul di dahinya dalam ruangan kantor full AC, duduknya menjadi gelisah. Dee melirik jam yang baru menunjukkan pukul 2.30 diang, ia ingin cepat pulang dan mendengarkan penjelasan langsung dari Liam.
...
Dee memberhentikan mobilnya di depan pintu gerbang perumahan saat melihat panggilan telepon dari Farah Dewi sahabatnya.
Haloooo
Seru riang di seberang telepon, suara cempreng seksi milik sahabatnya Farah Dewi.
Hai cinta, apa kabarmu?
Sehat pokoknya mah aku. Dasar !! pacar aktor sekarang yah, kamu sahabat macam apa sayang? sampai merahasiakan hubungan percintaannya, aku tahunya dari acara gosip berapa hari lalu. Gila! Aku hampir jantungan tauk !
Iya, aku akan jelaskan kapan-kapan, cinta yah?
Dee membujuk sahabatnya.
Oke baiklah, ini aku juga lagi di jalan dengan Brian. Coba cek pesan yang aku kirim barusan.
Kamu kirim pesan?
Iyaaaa !! Karena kamu tidak baca makanya aku telepon. Ya sudah, aku mau singgah makan dulu . Bye sayangku. mwahh
Bye too. Mwahh
Dee lalu menekan notifikasi pesan dari Farah Dewi, pesan bergambar dirinya sedang tertidur.
Tanpa pikir panjang Dee langsung menginjak dalam gas mobilnya, melewati pos satpam tanpa memberi anggukan kepada satpam yang berjaga, sapaan khas Dee selama tinggal di kompleks ini.
Itu dia ! Liam Iben Farubun telah berdiri di depan rumahnya dengan pose modelnya. Dee sudah tidak memperdulikan cara parkirnya yang tidak lurus.
"Kak !" Seru Dee tergesa-gesa turun dari mobil
Liam tersenyum merekah.
"Apa, Dawn?"
"Tolong jelaskan ini" seru Dee lagi memperlihatkan foto dirinya dalam iklan billboard.
Liam hanya tergelak tawa.
"Kak! Jelaskan, kenapa aku bisa berakhir jadi iklan billboard" seru Dee walau nada suara dia jaga untuk tidak naik seoktaf.
"Karena aku butuh model untuk produk yang sudah dekat tenggat, saat itu aku iseng foto malah dapat feelnya. Dan ini juga, kamu ada" ujar Liam menyerahkan majalah mode dan memperlihatkan foto-foto dirinya pemotretan malam itu.
Dee gemetar memeluk majalah mode itu lalu duduk berjongkok, tubuhnya mendadak lemas. Matanya berkaca-kaca, ia bisa mati muda mendadak karena perbuatan seorang Liam Farubun.
"Kenapa, Dek?" Tanya Liam yang ikut berjongkok di depannya
"Kak, bukannya macam seperti ini harus ada perjanjian kontraknya?"
"Hmmm, itu tidak berlaku buat aku. Mereka yang butuh fotoku, terserah aku mau pakai siapa saja,"
"Tapi aku?"
"Ada apa dengan Dawn?" Tanya Liam menghapus air mata Dee sambil menyunggingkan senyuman manis.
"Enggg, uangnya."
"Itu murni dari iklan billboard sama majalah. kurang? Mau kakak tambahin?"
Dee menggeleng kuat.
"Lumayan kan buat bayar listrik" kata Liam menarik tangan Dee untuk berdiri.
"Aku bisa pasang gardu listrik dengan uang sebanyak itu" sungut Dee memajukan bibirnya, Liam tertawa terbahak mendengar sungutan gadis kecilnya.
"Untuk merayakan bayaran pertama adikku, kamu harus mentraktir kakakmu ini makan dan senang-senang. Besok kan sudah Sabtu, jadi bebas kan kemana saja?" Ujar Liam merangkul Dee menuju pintu rumahnya.
"Iya" cicit Dee memutar kunci.
__ADS_1
"Malam kita panjang, kakak tunggu di sofa. kamu mandi dulu dek, kalau sudah selesai panggil aku. Biar aku pilihkan baju apa yang cocok kamu pakai untuk jalan-jalan kita malam ini"
Dee hanya bisa mengangguk lemah dan menaiki tangga menuju kamar tidurnya, hati tak karuan namun tetap berjalan masuk ke kamar mandinya.
Ia bukan gadis yang tipikal mandi pakai waktu hingga sejam, cukup 10 menit itu pun sudah dengan keramas. Setelah merasa bersih dan segar, Dee menyudahi mandinya. Memilih pakaian dalam berwarna hitam sepasang lalu memakai pakaian t-shirt dipadukan celana pendek.
"Kak, aku sudah," seru Dee di puncak tangga membuat Liam langsung berdiri dan menaiki tangga dengan semangat.
"Kamu mandi atau cuci muka?" Ujar Liam tertawa ringan.
"Mandi!" Gerutu Dee mengikuti Liam yang menerobos masuk ke kamar tidurnya, yang untuk pertama kali ia memasukkan pria ke zona pribadinya.
Pria jangkung itu menarik koleksi dress yang tak seberapa itu, tak sebanding dengan koleksinya yang berada di ruang apparel studio Liam.
"Ini saja, Sepatunya jangan heels, sneaker hitam pakai kaos kaki hitam," kata Liam meletakkan dress berwarna merah maroon model sabrina berlengan panjang, sepaha berbahan stretch. Salah satu dress yang dibelikan Liam di Milan.
Liam lalu menyalakan hairdyer mengeringkan rambut Dee yang masih separuh basah.
"Jangan tidur" protes Liam melihat Dee menutup mata.
"Enak sih kak, di sentuh kepalanya. Jadi ngantuk," Dee membuka mata sembari terkikih pelan, melihat mata Liam tajam di pantulan cermin depannya.
"Iya aku tidak tidur, ya ampun,"
"Nah gitu,"
Setelah mengeringkan rambut Dee, Liam kembali jadi MUA pribadinya, memoleskan makeup natural sembari menguliahi pengetahuan tentang merias wajah.
...
Setelah makan malam di restoran makanan khas Indonesia yang tempat itu diiringi dengan live band, Liam kemudian mengajak Dee masuk ke bagian senang-senangnya.
"Aku pernah melihatmu dance jingkrak-jingkrak, sekarang praktekkan di tempat ini," kata Liam menggenggam jemari Dee masuk ke pub yang musiknya menghentak mampu merobohkan dadanya.
Sial ! Gerutu Dee, yang dikatakan Liam pasti kejadian beberapa malam lalu ketika ia mengikuti lagu Taylor Swift. Liam dengan jelas melihat kelakuan gila Dee dari kamarnya, karena malam itu ia lupa menutup gorden jendelanya.
Pub atau bisa dikatakan diskotek itu yang telah ramai oleh para penikmat dance music yang mencari kebahagiaan dengan bergoyang di bawah kerlap-kerlip lampu.
Liam terlihat berbicara pada seorang pria dan orang tersebut mengarahkan mereka pada sofa yang tidak terlalu besar.
Dee duduk patuh di samping Liam sembari memperhatikan puluhan orang telah bergoyang liar mengikuti pilihan lagu dari sang DJ.
Liam sendiri sedang sibuk membalas pesan-pesan di ponselnya.
"Sana, turun goyang" hasut Liam berteriak pelan di telinga "Kakak lihat dari sini tapi jangan dekat sama pria lain,"
Ini hanyalah sebagian kecil dari dunia gemerlap seorang Liam Farubun. Mungkin ke diskotek sudah hal yang membosankan bagi pria itu, sementara clubbing buat Dee bukan sesuatu yang baru, ia dan Farah Dewi pernah menjadikannya sebagai tempat untuk bersenang-senang.
Kamu harus menikmati hidup, bukan? Setidaknya pernah mencoba dan tidak terjerumus.
Dee memilih menyesap air mineral dan mencemil french fries yang tersaji di meja depannya.
Liam hanya memesankan air mineral kepada gadis kecilnya, sementara ia sendiri memilih berbagai macam minuman berwarna mengisi meja mereka.
"Sini kakak temani," Liam menyesap isi gelasnya hingga habis dan menarik Dee menuju pusat tempat para pengunjung bergoyang
Mereka berdiri diam saling berpandangan di tengah orang-orang yang bergoyang, Liam mengoyangkan kepala sekali kode untuk Dee memulai dancenya.
"Malu?" Teriak Liam di telinga Dee, yang langsung dibalas anggukan gadis kecilnya.
"Ikuti aku saja," seru Liam, memulai bergoyang. Tubuh tinggi jangkung dengan luwesnya mengikuti musik berdentum, seirama dan gerakannya bagus seolah seorang idol kpop. Dee bergerak malu-malu yang kemudian terlena mengikuti ritme lagu.
Liam harus sesekali menarik Dee agar pemuda-pemuda di dekat gadis kecilnya yang berjingkrak riang untuk tidak mendekat. Dee yang sangat cantik, berpakaian tidak seksi dengan makeup natural tentunya lebih menarik dibanding wanita yang berpakaian mini dengan dandanan menor.
Keringat telah membasahi pelipis Dee dan Liam pun langsung menarik gadis kecilnya kembali ke sofa.
"Puas?" Teriak Liam mengulurkan botol air mineral kepada Dee
Gadis itu tersenyum semringah dengan ngos-ngosan.
"Ini namanya olahraga malam," seru Liam terbahak tawa, ia kembali menyesap minuman berwarnanya.
Teriakan riang pengunjung saat DJ memutar lagu Martin Garrix "No Sleep", Dee pun ikut bersenandung
I don't need no sleep
'Cause I'm already dreaming, already dreaming
Say you'll never leave
Because I love the feeling, I love the feeling
Saat itu pula Liam menarik tubuh Dee masuk dalam pelukannya, pria jangkung tersebut menunduk membisikkan kata di telinga gadis itu.
"Dawn... " Suara parau Liam menggelitik telinga Dee "Maukah kamu jadi yang pertama bagiku?"
Dee menengadah menatap heran ke wajah Liam, satu kerjapan mata pria itu menangkup rahang gadis kecilnya.
Sambil memiringkan kepala Liam menyentuhkan bibirnya dengan bibir Dee, sebuah ciuman dari bibirnya yang bergetar ragu namun kemudian menikmati manisnya ciuman mereka.
Dee menangis, air matanya jatuh di pipi. Bahkan setelah Liam menyelesaikan ciuman 2 menit mereka, Dee memilih membenamkan kepalanya di dada hangat sambil memeluk erat sekaligus mencengkeram bagian belakang blazer pria itu.
"Aku tidak ingin malam ini berakhir, Dawn," bisik lembut Liam.
__ADS_1
###