DI ANTARA DIA

DI ANTARA DIA
Love Her


__ADS_3

“Sunny, apa kau masih ingin mendiamiku seperti ini ?” Richard melirik istrinya, Sunshine yang menolak untuk di sentuh. Di depan ayah


dan ibu selama di Indonesia Sunshine berakting seolah tidak terjadi apa-apa. Ketika di dalam kamar, Sunshine sama sekali tidak ingin di peluk ketika tidur, ada pembatas bantal yang tidak boleh Richard runtuhkan.


Sunshine terdiam sambil mengetikkan sesuatu di ponselnya.


“Sunny.” Richard mengulurkan tangannya untuk menyentuh tangan istrinya, kembali Sunshine menepis.


“Hampir sebulan kita seperti ini, Sunny,” ucap Richard lalu mengembuskan napas panjang. Matanya menyapu sudut kamar tidur yang di dominasi warna cream dan kain gorden berwarna coklat lebih gelap. Selama mereka di Asia, interior designer merampungkan pekerjaannya. Dulunya kamar tidur Richard berwarna lebih maskulin, dark gray.


Itu pula alasan Sunshine mengulur waktu untuk kembali ke rumah pribadi mereka, Richard-lah yang tersiksa karena sikap diam istrinya.


“Tolong jangan begini, sayang.” Richard terus membujuk Sunshine.


Kata sayang sepertinya berhasil, Sunshine menoleh menatapnya walau dengan sorot mata tajam.


“Sayang, kita tidak bisa seperti ini terus. Kau sedang mengandung, tidak boleh banyak pikiran apalagi hatimu harus dalam kondisi stabil.”


Sunshine memutar matanya malas, wanita yang sudah menunjukkan perut mulai membuncit itu mencebikkan bibir.


“Kau penyebabnya !” sahutnya dengan nada yang naik satu oktaf.


Richard menganggukkan kepalanya pelan “Iya aku salah, mari kita bicarakan. Aku tidak bisa didiami seperti ini lagi, Sunny.”


Sunshine tertunduk sesaat lalu menggeserkan badannya sedikit hingga dengan jelas menatap Richard.


“Aku ingin bercerai.” Lugas Sunshine mengutarakan keinginan yang terus menjadi isi kepalanya setelah mengetahui perasaan Richard terhadap kakaknya sendiri.


“Apa !” pekik Richard sembari berdiri, raut wajahnya sontak menegang tak terkira.


“Katakan ini tidak benar, Sunshine !”


Keduanya mengeraskan rahang, Sunshine mencoba tegar walau di dalam sana ia merasakan sakit. Berada di antara rasa cinta yang teramat besar namun di saat yang sama merasakan luka karena pria mengisi hatinya mencintai Shadow,


kakaknya.


“Aku ingin bercerai. Tidakkah itu jelas, Rich ?”


Richard mencengkeram kepalanya, tubuhnya mematung kaku dengan pandangan mengarah kepada Sunshine.


“Oh Tuhan, Sunny. Aku tidak akan menceraikanmu, tidak!” ucapnya dengan nada lantang


“Tapi kau mencintai kakakku ! Akhirnya aku bisa paham kenapa kalian tidak bertegur sapa, dan tidak seakrab dulu. Aku-lah penyebab semua ini,


aku yang memisahkan perasaan kalian berdua.”


Richard memijat pelipisnya, sakit kepala mendera seketika mendengar kata “cerai” keluar dari bibir istrinya.


“Sunny. Dengarkan aku.” Richard melembutkan suara.


Richard berjongkok di depan kaki Sunshine, ia meraih jemari tangan istrinya. Menggenggamnya dengan erat.


“Dengarkan aku. Tolong, kali ini saja, Sunny. Terserah jika setelah ini kau mengabaikanku.” Ucap Richard dengan tatapan menghiba, Sunshine


menggangguk sangat pelan.


Richard menghela napas lega, ia membenarkan posisi tangannya menggenggam jemari Sunshine.


“Jujur jika aku memiliki perasaan kepada Shadow. Bukan cinta pertama, karena cinta pertamaku saat di bangku sekolah. Tapi bagi Shadow, aku-lah


cinta pertamanya. Salahnya kami saling menunggu, dan aku tidak percaya diri untuk mengungkapkan perasaan kepadanya.”


Richard melihat gurat kecewa menghiasi wajah Sunshine mendengar penuturannya.


“Maafkan aku, sayang. Tapi kau harus tahu ini.” ucapnyasambil mengelus pipi Sunshine.


“Lanjutkan, Rich.” sahutnya pasrah


Richard berdiri lalu duduk pas di sebelah wanita yang mengandung bayinya.


“Ketika bertemu denganmu di acara wisuda, aku sudah bisa mengetahui dengan jelas jika kau menyukaiku, Sunny. Terlebih saat di Bali, kita


selalu bersama. Di saat itu pula, Shadow mulai menjauh. Aku bingung, aku menyukaimu tapi masih penuh harap kepada kakakmu. Ya, aku mencintainya dan akumenginginkanmu juga. Aku bimbang dengan hubungan kita karena Shadow terus menarik hatiku dengan sikap acuhnya. Jika kau mengenal kakakmu, dia gadis yang


berbeda dengan lainnya. Maaf jika kau tersinggung, sayang.”


Sunshine mendengus kasar sembari memalingkan kepalanya ke kanan, hatinya semakin nyeri mendengar perkataan Richard.


“Ya, aku adalah sebagian besar wanita itu. Wanita-wanita yang mengejarmu, yang kemudian lalu kau campakkan.”


“Tidak, aku tidak mencampakkanmu. Aku menikahimu.” Kilah Richard dengan cepat.


“Tanpa cinta, hanya rasa suka.”


Richard mengembuskan napas lewat mulutnya, ia mengangguk mengiyakan.


“Tidak, itu dulu.” Ucap Richard menyerobot, ia melihat kilatan amarah dari manik hitam Sunshine. Tangan istrinya hendak di tarik kembali


namun Richard menahannya dengan genggaman lebih erat.


“Kau menikahi hanya karena aku hamil.”


“Sunny, dengarkan aku dulu.”


Sunshine berdecih kasar “Aku memang yang salah, mencintaimu dengan diam selama bertahun-tahun. Dan terus-terusan menempel denganmu tanpa mengerti jika aku menyakiti hati kakakku sendiri. Harusnya kau dengan tegas


menolakku, bukan menjadi buaya yang menginginkan dua wanita kakak beradik. Mungkin


dengan melihat keluarga kami yang aneh, banyak pria dan mungkin termasuk kamu memikirkan hal sama. Yaitu bisa hidup dengan dua wanita. Tidak, aku tidak mau !”


“Sttttt.” Richard menggelengkan kepala agar emosi istrinya mereda.


“Shadow pun tidak mau, Sunny. Ia sudah pernah mengatakan seperti itu kepadaku, kalian sama. Dan berkat penolakannya pula aku menjalani hubungan percintaan denganmu. Ya, kita bahagia. Selama hampir dua tahun. Kemudian aku

__ADS_1


goyah kembali, melihat Shadow yang sukses dengan jerih payahnya dan tetap hidup


di apartemen itu. Di saat yang sama kau semakin sibuk. Hubungan kita merenggang.”


“Ya merenggang, tapi kita tetap bercinta. Itu pula yang membuatku hamil. Kau hanya membutuhkan tubuhku. Mungkin sekarang kau membujukku


karena kau ingin bercinta. Kepalamu ingin meledak, menginginkan pelampiasan.” Ucap


Sunshine merendahkan suaminya.


“Astaga Sunny. Ya, jujur aku merindukan tubuhmu tapi tidak seperti itu juga.”


 “Terus apa ?”


“Aku mencintaimu.” Ucap Richard tulus menatap lekat istrinya.


Sunshine tersenyum miring, meremehkan perkataan pria bermanik abu itu.


“Aku tidak akan termakan akan rayuanmu, aku tetap bulat dengan perkataanku tadi.”


“Sunny. Sungguh aku mencintaimu.” ucap Richard mencoba sekali lagi menyakinkan istrinya.


Richard menarik napas panjang lalu menaruh tangannya di atas perut istrinya “Aku bersumpah demi anak kita. Aku mencintaimu, Delilah


Sunshine. Ini aku rasakan ketika kau mendiamiku. Akhirnya aku jatuh cinta dengan sebenar-benarnya kepadamu.”


Tubuh Sunshine naik turun, air matanya lalu mengalir tak terbendung. Richard pun menarik Sunshine ke dalam dada, mendekapnya dengan hati yang bahagia.


“Maafkan aku, sayang. Selama ini tidak menyadari ketulusan cintamu, walau dulu aku sangat bimbang ketika menikah tapi melihatmu menderita dengan morning sickness yang kau alami, kemudian mendiamiku membuatku sadar


jika aku sangat membutuhkanmu, Sunny. Terlebih ada anak kita yang terus tumbuh di dalam perutmu.”


“Kau adalah pria jahat, Richard Wirabrada. Dan aku sangat mencintaimu.” Ucap Sunshine dalam pelukan suaminya. Masih menangis,


mengeluarkan perasaan yang menyiksanya selama mereka perang dingin. Tepatnya perang dingin sepihak dilancarkan Sunshine.


“Aku mencintaimu, Sunny. Maafkan aku.”


Sunshine menatap wajah suaminya, memerah dengan kelopak mata sedang menampung cairan bening. Pria yang dicintainya akhirnya merasakan perasaan yang sama.


“Ini bukan karena Kak Shadow sudah menemukan pria baru.” tebak Sunshine sekenanya, ia tidak ingin menahan lagi isi hatinya.


Richard tersenyum tipis sembari menghapus air mata di pipi istrinya “Termasuk itu. Salah satu hal yang membuatku sadar jika Shadow semakin


jauh dengan kehadiran Kai Navarro.”


“Kau cemburu, love ?” tanya Sunshine kembali bisa memanggil sebutan kesayangan kepada Richard. Bukan nama yang sering di dengarnya ketika Shadow memanggil suaminya.


“Cemburu melihat pria yang sangat kaya raya namun hidup dengan santai. Aku pernah mengatakan jika tidak menyukai warna rambutnya.”


Sunshine mendengus “Aku pun jika di posisi Kak Shadow pasti akan memilih Kai dibandingkan dirimu, love.”


Richard melebarkan manik abunya “Apakah kau berkata jujur, sayang ? Atau hanya mengerjaiku ? Maafkan aku, tapi kisahku dengan Shadow sudah


Sunshine tergelak tawa dengan mata berkaca


“Ya, aku jujur. Seumur hidup tidak akan mendapatkan pria yang mengejarku, maksudku pria yang hampir tiap hari datang berkunjung ke


rumah. Aku malah sebaliknya, mengejar pria yang mencintai wanita lain. Sungguh bodoh.” gerutunya


“Tidak, aku sudah mengejarmu, Sunny. Hampir sebulan aku mengejarmu, dengan perasaan cinta yang perlahan semakin mengakar di hatiku. Sungguh akulah yang bodoh jika menyiakanmu, istriku yang sedang mengandung. Hukumlah aku


sepanjang usia, tapi kau harus berjanji selama hukuman berjalan, kau harus tetap berada di sisiku.”



Richard menghela napas ketika mobil yang membawa Shadow pergi, wanita cantik yang menjadi sahabat sekaligus kakak istrinya itu meninggalkan rumah orang tua mereka bersama dengan Kai Navarro.


“Bagaimana menurutmu bang ?” tanya Ricchi yang berdiri bersisian dengan Liam, Richard menoleh melihat orang tuanya.


Liam mengedikkan bahu “Itu terserah mereka berdua, tapi aku melihat anak kita jatuh cinta pada pria itu.”


Ricchi tertawa riang “Akhirnya anak kesayanganku bisa melupakan Alexandre.”


Liam menggelengkan kepala lalu mengarahkan pandangan kepada Richard “Bukan Alexandre tapi suami anak kita.”


“Saya ?” tanya Richard dengan mata melebar maksimal ketika tatapan dua pria paruh baya itu mengarah kepadanya.


Liam mengedutkan alisnya “Iya. Kami semua tahu jika kau adalah cinta pertama Shadow.”


Jantung Richard berdegup kencang bukan karena perasaan cinta melainkan was-was.


“Ayah, Papa. Kami tidak ada hubungan apapun.” Richard membela diri.


Ricchi spontan merangkul Richard “Ayo kita ke ruang tengah, mari bicara tentang ini. Sebuah pembicaraan dewasa di antara pria. Sunshine juga sudah dikamar dengan Dee.”


“Ya, aku setuju.” Liam menyahut sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


Jantung Richard berdebar semakin tidak karuan. Ia tidak pernah berharap akan di sidang oleh Liam dan Ricchi.


“Baiklah, Richard.” Pria yang memiliki lesung pipi dalam bahkan ketika tidak tersenyum itu memulai pembicaraan.


“Ya, pa.” sahut Richard bergantian menatap wajah Liam dan Ricchi.


Liam menoleh menatap ke arah Ricchi, pria itu hanya menganggukkan kepala


“Abang saja.” Ucapnya sembari bersandar pada sofa dengan santai.


Tampak Liam menghela napas dalam sembari melayangkan pandangan datar ke arah Richard.


“Richard. Shadow sudah move on, ada baiknya kau memfokuskan diri pada Sunshine. Berhentilah mencari perhatian Shadow, walau kalian pernah


saling menyukai tapi sekarang semakin tidak memungkinkan untukmu mendapatkan anak

__ADS_1


pertama kami.”


“Ayah.” Richard sontak melirih sambil menggelengkan kepala.


“Kau pikir kami tidak tahu jika beberapa kali kau menggoda Shadow. Untungnya anak gadis kami bukan tipe perempuan yang gampang jatuh hati.”


“Maafkan aku, yah, pa.” bergantian Richard menatap dua pria paruh baya yang memandang dengan sorot menghakimi. Sungguh canggung dan sedikit tegang atmosfer mengisi di ruangan tersebut.


“Kami termasuk orang tua yang santai, mengenai hubungan asmara Sunshine dan Shadow. Bahkan ketika mengetahui jika kalian sering menginap bersama ketika masih berpacaran, kami tetap diam. Hanya ibu kamu yang menasehati Sunshine. Tapi itu adalah masa lalu, sekarang kau adalah bagian keluarga ini. Kau sudah menikah dengan Sunshine dan Shadow tetap adalah temanmu. Tadi kita melihat sendiri bagaimana Shadow melihat pria itu, Kai.” Ucap Liam


Richard mengangguk bersamaan ketika Ricchi menatapnya.


“Jadi posisikan dirimu sebagai anggota keluarga yang memberikan dukungan kepada Shadow. Besar harapan kami jika pria tadi adalah pasangan


Shadow.” sambung Liam dengan nada bijak


“Ya, Kai sepertinya bisa mengontrol dan meluluhkan keras hati Shadow, ya kan bang?” Ricchi menyahut dijawab anggukan oleh Liam.


“Sebenarnya jujur, yah pa. Pernikahanku hampir berakhir karena perasaan yang terpendam kepada Shadow.”


“Apa ?” serentak Liam dan Ricchi berseru.


“Tenang pa, yah.” Richard menaikkan kedua tangannya, memberi isyarat agar emosi kedua pria paruh baya tidak naik.


“Aku akan menghancurkanmu jika melukai hati anakku.” Geram Ricchi dengan mata membulat penuh ancaman.


Liam mendengus kasar menatap tajam ke arah Richard.


“Itu keinginan Sunny, pa. Saya sama sekali tidak punya keinginan berpisah darinya. Terlebih Sunny sedang mengandung. Saya sangat mencintai


Sunshine, Shadow bagiku adalah keluarga. Saya mengaku jika dulu masih belum melepaskan


perasaan kepada Shadow, pa. Tapi beberapa kejadian membuatku sadar jika ada Sunny adalah yang terbaik.”


Liam meringis “Mungkin karena sadar Shadow tidak bisa kau gapai jadi kau menyerah, anak kami satu itu berbeda dengan Sunny-mu.”


“Bang.” Protes Ricchi


“Iya aku tahu. Aku tidak pernah membedakan Shadow dan Sunshine, mereka adalah anak-anakku. Tapi kita sangat tahu kepribadian Shadow dan Sunshine.” Liam memberikan penjelasan.


Ricchi berdeham sedikit keras dengan tajam maniknya menatap ke arah Richard “Aku bersyukur kau memiliki pikiran panjang dan menghargai ikatan pernikahan. Walau papa sudah setua ini dan tidak pernah merasakannya, tapi papa berharap tidak ada perpisahan di antara kalian. Ayahmu dulu pernah memberikan kesempatan untukku menikahi Dee, papa menolak. Pernikahan itu sakral, tidak semua orang bisa menjalani dan mempertahankannya. Seiring waktu kau akan belajar banyak menjadi pria dewasa yang memiliki tanggung jawab,


banyak kejadian akan kau hadapi. Walau kasus


kita berbeda, tapi melihat orang dicintai bahagia cukup membuat hati menjadi tenang. Papa harap kau juga begitu ketika melihat Shadow bersama dengan pria yang mendekatinya. Sebagai keluarga kita harus menjadi support system bagi satu


sama lain.”


“Saya mengerti pa. Perhatianku sepenuhnya kepada Sunny. Kami pasti akan hidup penuh bahagia mulai hari ini.”


Liam bertatapan dengan Ricchi kemudian mengarahkan tatapan kepada Richard.


“Ayah memegang kata-katamu anak muda.” Ucap Liam.


Ricchi mendesah kasar “Ya beginilah jika menikah muda dan tidak memiliki pondasi kuat. Kita sebagai orang tua sedikit kewalahan.”


“Bukannya kau sangat santai.” Sindir Liam


“Kelihatannya santai, tapi aku menyimpan sendiri di dalam kepala. Syukurnya tidak sampai membuatku ubanan.” Sahut Ricchi sambil menatap rambut Liam yang hampir sepenuhnya berwarna abu-abu.


Richard hanya bisa menggelengkan kepala dengan pelan, tadinya ia sangat was-was akan diminta berpisah dari istrinya. Malah sekarang berakhir dengan perdebatan dua pria yang akan menjadi santapannya setiap kali berkunjung di


rumah itu.


“Kau tahu bang, apa yang membuatku awet muda ?”


Liam melirik dengan ekor mata malas ke arah Ricchi.


“Hmmm.” Deham pria bermata sipit tajam menyahut


Ricchi tertawa “Karena aku tidak menikah. Itu membuatku awet muda, memiliki wanita dicintai dan anak tanpa pernikahan itu sungguh hebat


sekali. Aku adalah orang terpilih.” Pamernya sebelum tinju mendarat agak keras


di lengannya.


###





alo kesayangan 💕,


aku tidak tahu isi chapter ini, seolah aku hanya menulis tanpa tujuan..


sebulan vakum membuat isi kepalaku ambyar mengingat jalan ceritanya..


maaf jika ada typo or salah kalimat, aku menunggu koreksi kalian..


satu chapter lagi novel ini akan berakhir..


btw, novel baru sudah ada posternya


hmmmm...


siapa yah tokohnya 😁


love,


D 😘

__ADS_1


__ADS_2