DI ANTARA DIA

DI ANTARA DIA
Never Ever


__ADS_3

Shadow melirik ponselnya setiap kali sembari menunggu set syuting dalam penataan. Keberadaannya di Roma Italy telah menginjak minggu ke delapan. Tentu saja demi syuting film terbaru yang kali ini sutradara muda itu mengambil genre action comedy. Selalu genre baru di setiap film yang digarapnya, Shadow tidak


membuang peluang sebagai anak dari pemilik sebuah rumah produksi, dimana banyak sutradara muda diluar sana bergelut mencari pekerjaan, sebaliknya ia hanya duduk santai dengan puluhan skenario di depannya.


Liam yang memberikan nasehat perihal skenario-skenario yang harus diambilnya, sang ayah selalu meminta Shadow untuk menantang diri dengan genre film berbeda. Tidak berada dalam satu titik nyaman, walau semua didapatkan melalui keistimewaan posisinya.


“Kopinya Ms. Shadow.” Ucap Jayleen, asisten Shadow yang setia menyiapkan semua kebutuhannya. Sejam lalu sutradara cantik itu meminta Jayleen untuk membelikannya kopi di gerai Starbucks, tidak hanya untuk dirinya namun


semua kru hari itu. Tak lupa bagel khas negara itu sebagai teman dari minuman berkafein tinggi.


“Thank you, Jay.” Sahut Shadow menaikkan kepala menatap wajah pria berusia 3 tahun diatasnya. Jayleen mengedikkan bahu dengan senyum terkulum


“Anytime, Ms. Shadow.”


Usai membalas senyuman asistennya, Shadow mengambil gelas plastik dengan logo khas gerai waralaba kopi terbesar dunia tersebut. Menyesap kafein yang membuat semua sel tidur di kepalanya terbangun. Seutas senyum merekah di


bibirnya, melihat semua orang sejenak beristirahat menikmati hal sama yang dilakukan Shadow.


Wanita berambut ikal tersebut dikenal sebagai sutradara yang sangat baik, tidak pernah membiarkan para kru kelaparan sebelum melakukan syuting panjang. Terlebih ketika mereka diluar negeri, Shadow melonggarkan


budget untuk akomodasi para kru.


Kembali perhatian Shadow kepada benda berlayar datar di tangannya, ia sedang menunggu balasan dari Alexandre. Pria yang biasanya membalas pesannya tanpa henti, namun sejak semalam Shadow tidak menerima balasan dari aktor itu.


Semacam candu, hubungan Shadow dengan Alexandre. Ia menjadi berharap sebuah balasan pesan hingga menjadikan dirinya tidak bisa jauh dari benda canggih tersebut. Bahkan mereka belum mengikrarkan sebuah hubungan percintaan yang pasti.


Hanya saling berkabar lewat pesan, terkadang saat senggang Alexandre menyempatkan menelepon Shadow. Pria berdarah Perancis murni itu memiliki sejuta pesona membuat Shadow terkesima, jujur jika ia telah menaruh hati. Hanya


saja Shadow memilih untuk menikmati proses pendekatan yang membuat dadanya


memanas dan bertalu kencang.


Ya, sesuatu yang meredup karena Richard kembali timbul karena percikan api tersulut akan perhatian Alexandre. Sungguh Shadow tidak pernah berpikir secepat itu akan melupakan Richard, cinta pertama yang sekarang sedang menikmati masa berpacaran secara umum. Sunshine, adiknya telah


mendeklarasikan hubungannya dengan pewaris 21st Century Fox Amerika, tak lain Richard. Seluruh dunia sangat mengenal perusahaan media publik Amerika itu, Fox bukan hanya bergerak di industri film namun segala macam, termasuk produksi TV.


Richard menempuh kuliah dengan Shadow bukan untuk menjadi sutradara, walau konsentrasi studinya adalah directing film namun jalan hidupnya telah terpatri untuk  menjadi CEO dari Century Fox, walau sekarang masih bekerja dengan mendampingi orang tuanya. Shadow memperkirakan jika Richard akan menduduki di puncak Fox dalam 3 tahun ke depan.


Sunshine sudah berada di jalan yang benar dengan memilih Richard, adiknya akan menjadi nyonya Century Fox. Walau kedua pria mereka,


yakni Liam dan Ricchi telah mempersiapkan saham perusahaan Farubuh and Maheswara yang terbagi rata untuk Shadow dan Sunshine.


“Ms. Shadow, semua sudah siap.” Ucap Nicky salah satu kru, menginterupsi lamunan Shadow akan berbagai hal mengisi kepalanya


“Oke, kita mulai.” Shadow dengan nada tegas diikuti tepukan tangan semangat dari para kru



Shadow dengan mata lelah mengakhiri syuting, ia sama sekali tidak mengalihkan fokusnya dari scene demi scene yang telah terjadwal pengambilan gambar untuk hari itu. Napas lega pun di tengah letih raga mendera gadis bertubuh jangkung yang meraih handbagnya. Ponsel adalah barang pertama yang diraih Shadow, sembari berjalan meninggalkan lokasi syuting.


Sayang, aku tahu kau sibuk. Maaf, aku tidak membalas pesanmu. Aku tidur semalam dan pagi buta kami sudah memulai syuting di Cornwall


yang sangat dingin. Hari ini suhu mencapai titik terendah, 7 derajat celcius. Aku membeku, sayang. Aku sangat ingin memelukmu, Shadow.


Shadow tertawa kecil membaca pesan dari Alexandre, dengan cepat ia pun membalas pesan pria itu.


Gunakan jaket jika kau kedinginan, yang tebal. Kau pasti tahu merk terbaik, bukan ? atau kau ingin aku mengirimkan jaket anti dingin untukmu, tuan aktor.


Tak berapa lama pesan kembali masuk di layar datar yang tak lepas dari tatapan Shadow.


Apakah ada yang memiliki merk Shadow Farubun ? Bertubuh tinggi, rambut ikal dengan manik coklat dan dalam. Senyumnya sangat indah. Aku sangat merindukanmu, beautiful girl. Syutingmu sudah selesai ? Apakah kita bisa


berbicara nanti ? Mungkin setelah kau berada di kamar hotelmu.


20 menit lagi, kau boleh meneleponku, Alec.


Usai mengirimkan pesan itu, Shadow naik keatas mobil yang telah dibukakan pintunya oleh Jayleen. Asistennya itu kemudian duduk di sebelah Shadow yang langsung menyandarkan tubuh pada jok mobil. Memejamkan mata, mencuri tidur selagi mobil mengantarkan kembali ke hotel yang menempuh waktu selama 15 menit.


Shadow terbangun oleh tepukan pada lengannya.


“Ms. Shadow, kita sudah sampai.” Ucap Jayleen meraih handbag Shadow yang sedang merapikan rambutnya. Setelah itu ia mengikuti asistennya.


Dalam langkah kaki, Shadow memikirkan untuk berendam air hangat di bathup dengan aroma bunga favoritnya, mungkin ia harus mengirimkan


pesan kepada Alexandre untuk memberikannya waktu lebih dari waktu yang dijanjikan sebelumnya.

__ADS_1


Berikan aku waktu sejam untuk membersihkan tubuh. See you in an hour, Alexandre.



Alarm berbunyi membuat Shadow meraba-raba benda yang mengalunkan sebuah lagu rock memekakkan telinga dari bawah bantalnya. Hanya dengan memicingkan mata ia lalu menggeser layar keatas, mematikan alarm tersebut.


Pukul 7 pagi. Waktu tertera pada ponsel, Shadow pun membulatkan mata menatap satu persatu notifikasi yang tertera, mencari segala sesuatu dari Alexandre. Namun pesan Richard-lah yang berada paling teratas.


Shadow, maaf. Tapi kau harus tahu tentang ini.


Di bawah pesan Richard terdapat tulisan berwarna biru, link sebuah berita.


Shadow pun menekan link tersebut, sumber dari media yang berada di bawah Century Fox milik Richard.


Alexandre Marais, aktor Hollywood tertangkap kamera sedang menghabiskan malam di sebuah rumah daerah Bringhton, United Kingdom. Aktor tampan yang selama ini publik yakini adalah seorang single, melainkan memiliki seorang anak berusia 2 tahun dari wanita yang dikencaninya selama 4 tahun terakhir. Sungguh mengejutkan !


Shadow tidak kuasa untuk melapalkan tulisan kecil yang seolah menari di layar ponsel, tangannya gemetar jatuh diatas pangkuan, bahkan ia masih menggunakan bathrobe berwarna putih. Shadow tertidur tanpa mengganti bathrobe, semalam menunggu telepon Alexandre. Telepon yang selama dua malam dinantinya, tak


kunjung berdering.


Shadow bingung harus melakukan sesuatu pagi itu, tubuhnya dilanda gelombang syok. Sungguh ia tidak percaya jika Alexandre yang selama dikenalnya single di publik bahkan wikipedia pun menuliskan dengan jelas statusnya, adalah


seorang pria yang memiliki kekasih bahkan seorang anak.


Bunyi telepon dari ponsel menghentak Shadow dari lamunan.


“Halo” ucap Shadow dengan suara lemah, bergetar


“Ini Jayleen, Ms. Shadow. Aku hanya ingin membangunkanmu dan mengingatkan jika kita akan berangkat ke lokasi sejam dari sekarang. Apakah kau akan makan di restoran hotel atau kau menginginkan sesuatu dan memakannya dalam


perjalanan ?”


Shadow menghela napas panjang dengan sisi hatinya memerih namun ia dihadapkan oleh tanggung jawabnya sebagai sutradara. Pekerjaan ratusan orang berada di tangannya, mau tidak mau permasalahan Alexandre harus dikesampingkan.


“Apapun yang sejuk untuk tenggorokan, Jay. Orange jus mungkin dan puding. Mungkin kau harus menyiapkan menu brunch untukku.”


“Baiklah. Ms Shadow. Sesuai permintaanmu. Aku kan mengetuk pintu 20 menit lagi”


“Ya” singkat menaruh ponselnya diatas tempat tidur, dan bergerak kembali ke kamar mandi. Tempat ia menitikkan sedikit air mata ketika


Tidak. Shadow tidak menitikkan sedikit air mata bahkan banyak, rasa kecewa ia lampiaskan selama 30 menit hingga jemarinya memutih dan


berkeriput ditambah mata yang merah membengkak.


Sungguh menyedihkan ketika Shadow menatap pantulan wajahnya di depan cermin, dengan was-was Jayleen menatapnya dari belakang. Pria itu seolah ingin mengatakan sesuatu namun memilih untuk diam.


Shadow menebalkan concealer secara berlebihan pada bagian bawah mata. Bibirnya di pulas dengan lip tint berwarna merah menyala kemudian


sunglasses menutupi wajah berdukanya, sang sutradara itu pun beranjak. Melangkahkan


kaki, menegapkan badan dengan hati dikuatkan.


Ini pasti berlalu !



Mata Shadow terpaku pada sosok tampan yang berada di sofa lobby hotel, pria mengembangkan senyuman dan bergerak mendekat.


“Papa !” pekik Shadow memeluk Ricchi, mereka baru terpisah 8 minggu 3 hari namun seolah telah bertahun


“Bagaimana syutingmu hari ini ?” tanya Ricchi mengecup kening anaknya, ia bisa melihat air mata meluruh membasahi pipi Shadow


Dengan bibir menekuk menahan laju cairan bening Shadow menganggukkan kepala, tenggorokannya sakit, ada duka mengumpul di sana.


“Papa bisa menyimpulkan jika hari ini sukses, bukan tidak Shadow ?”


Kembali Shadow menganggukkan kepala. Ricchi tersenyum simpul, lesung pipi nan dalam pun kembali terpampang.


“Ayo kita ke kamarmu, barang papa sudah di sana.” Ucap Ricchi merangkul tubuh anaknya menuju lift. Anak gadisnya yang terlihat sangat


rapuh.


“Papa tidak mengatakan jika akan ke Roma.” Ucap Shadow pelan, ketika mereka telah berada di dalam suite room


Ricchi melebarkan matanya “Kejutan !” di sertai kekehan lalu kembali memeluk Shadow

__ADS_1


“Anak gadis papa sepertinya butuh pelukan, jadi inilah pria tua ini terbang selama 14 jam demi Ophelia Shadow Farubun. Oh yah, ayah dan


ibumu menitipkan salam rindu. Mungkin mereka akan menyusul kesini, karena papa sudah sangat rindu jadi terbang terlebih dulu. Jadi apa kabarmu, nak ?”


Luka itu pun menyeruak di hati Shadow, isakan kecil menjadi tangisan keras dengan tubuh bergetar dalam pelukan Ricchi.


“That’s ok, my girl. Menangislah.” Ucap Ricchi menepuk punggung anaknya dengan pelan.


Ricchi- lah yang menginginkan terbang ke Roma untuk menenangkan anak gadisnya, sementara Liam bertugas terbang ke Inggris memberi


pelajaran kepada Alexandre. Begitu mendengar kabar sang aktor yang sangat single itu ternyata seorang pria yang memiliki kekasih dan anak, membuat para ayah sangat geram. Mereka


menaruh besar harapan kepada Alexandre menjadi bagian keluarga mereka, namun tidak seindah bayangan di angan-angan. Semuanya kandas bahkan sebelum terjadi sesuatu.


“Sudah merasa lebih baik ?” tanya Ricchi menangkup wajah memerah anaknya, Shadow menarik tubuh setelah 30 menit lamanya terisak dalam pelukan


“Iya.” Shadow mengangguk membiarkan papanya menyeka jejak air mata


Ricchi menarik napas ringan “Apakah dia sudah meneleponmu, nak ?”


“Sudah. Tapi aku tidak mengangkatnya, pa. Beritanya sudah naik diberbagai media, bahkan kru film pun membahasnya. Aku merasa malu dengan para kru-ku. Karena brengsek itu mengatakan cinta di depan mereka.”


Ricchi tergelak tawa mendengar umpatan anaknya “Ya, dia memang brengsek !” ucapnya menambahi


Shadow menatap wajah papanya lalu terkekeh kecil dengan mata berkaca “Alexandre kau brengsek !” teriaknya memenuhi ruangan kamar suitenya


Anak dan papa itu tergelak tawa menyumpahi sang aktor yang entah nasibnya seperti apa di tangan Liam.


“Syukurnya aku tidak menerimanya, pa. Kami masih dalam masa pembelajaran karakter masing-masing dan semua kebohongan tentang dia terungkap dengan sendirinya.” Gerutu Shadow, ada amarah terbakar di manik coklatnya


“Bangkai disimpan serapat apapun pasti akan tercium, nak. Kalian juga belum pernah muncul bersama di depan media.”


“Tapi rasanya sakit, pa. Dibohongi oleh pria yang aku pikir baik, tapi nyatanya adalah seorang brengsek seperti itu.”


“Sebenarnya bagi kami andai dia seorang pria yang hanya memiliki seorang anak dari mantan kekasih mungkin bisa papa dan ayahmu bisa terima. Tapi Alexandre masih berhubungan dengan wanita itu, terbukti bagaimana mereka


sangat mesra dalam foto yang tersebar.”


Shadow menggelengkan kepala dengan kuat “Tidak pa, Shadow tidak mau mengencani pria yang telah memiliki anak. Bahkan jika Alec sudah berpisah. Tidak, Shadow masih muda. Masih banyak yang ingin kukejar. Alec menginginkan sebuah pernikahan, itu masih jauh dari radarku. 23 tahun, tangga dunia baru aku tapaki.”


Ricchi menganggukkan kepala dan menggenggam jemari anaknya “Ini baru anak kami, 3 kepala dalam pemikiran satu gadis yang sangat cantik. Ya, jangan pernah memilih pria yang gampang menjatuhkan hati ke wanita baru. Cinta harus


disertai logika, biarkan ia mengarahkan hatimu, nak. Seorang pria yang menginginkan wanita kedua, tidak akan pernah berhenti pada cinta itu saja. Ia akan terus mencari ketiga dan keempat. Cinta tidak akan kekal dihatinya, hanya bertahan


berapa tahun dan kemudian sirna oleh waktu. Kau akan menemukan pria terbaik, Shadow. Pria yang hanya mencintai dirimu seorang. Seperti kami mencintai satu wanita, yaitu ibumu. Tapi jangan pernah memilih jalan hidup kami, tidak ada keadilan dalam mencintai, sayangku."


Shadow melipat bibirnya lalu mengangguk dengan menguraikan airmata, lagi.


“Jangan pernah menjadi orang ketiga dalam sebuah hubungan, tidak ada surga di hatimu. Kecuali jika cintamu bisa sebesar papa kepada Dee. Dan ibumu yang mencintai papa tapi terbagi kepada Liam. Hanya kami yang bisa menjalaninya. Anakku, carilah pria yang hanya menjatuhkan hati hanya pada Ophelia Shadow, tidak terbagi. Karena sejatinya cinta hanya dirasakan oleh dua orang, bukan tiga. Cinta bukan sebuah kompromi perasaan, Shadow.”


###




alo kesayangan 💕,


selama 2 hari author tidak up novel 🙏🏻


sangat sibuk ! sebagai grab wkwkwk


kata kalong berdaster dan nyamuk2 menguing di GC.


yep, author kaleng2 ini sangat sibuk. maafkan aku..


aku akan membayarnya saat akhir pekan. ingat aku takkan kemana, hanya terdiam di sudut hatimu.. wkwkwk


oh yah, novel ini sdh lolos kontrak awal tp Mangatoon minta aku revisi menggunakan puebi, tp krn kesibukan mungkin akan batal.. but, nanti akan aku ajukan lagi jika ini gagal 😊


buat GC gombal gembel, LOVE U ladies 😘😘😘


love,


D 😘

__ADS_1


__ADS_2