
Dee memeluk tubuh Liam sembari menatap Ricchi yang terbaring dengan berbagai alat bantu, pria itu belum melewati masa kritis. Menurut dokter beberapa patahan di tulang rusuk, tangan dan kaki karena kecelakaan yang di alami sang aktor. Sebuah mukjizat Ricchi masih bisa tertolong, walau sekarang pasca operasi pria itu belum sadarkan diri.
"Dawn, saatnya keluar." Liam menuntun istrinya keluar dari ruangan ICU. Mereka hanya diberi waktu selama 10 menit untuk membezuk Ricchi.
Tangis Dee pun pecah sesaat keluar dari ruang perawatan yang ditahannya selama berada di dekat Ricchi.
"Ricchi akan melewati ini, Wifey. Dia orang yang kuat." Ucap Liam lembut sambil mengelus punggung istrinya, Dee menumpahkan kesedihannya setelah melihat kondisi sang aktor yang sedikit lagi menjadi mumi karena balutan perban di tubuhnya.
Sambil menggigit bibir bawahnya Dee menatap wajah Liam "Aku tidak menyangka kita akan bertemu dengan Ricchi seperti ini kak." Sepasang air mata meluncur di pipinya yang langsung di seka oleh pria bermata sipit
Liam menghela napas dalam, seharusnya ia memberi kabar akan kedatangannya di L.A kepada Ricchi. Namun kesibukan membuatnya menunda-nunda keinginan tersebut dan mungkin saja kejadian ini tak akan terjadi jika mereka bertemu.
"Ricchi akan baik-baik saja, Dawn." Liam kembali menenangkan istrinya.
"Aku belikan kopi yah, Wifey. Kita harus sarapan."
Setelah mendengar kabar, keduanya langsung berangkat ke rumah sakit, namun mereka harus menunggu berjam-jam untuk bisa melihat Ricchi yang sedang di operasi.
Dee terduduk sambil terisak pilu, hatinya memerih mengingat kondisi Ricchi. Pria yang terus mengirimkan pesan, hingga pesta penikahannya. Tapi setelah itu Ricchi seolah menghilang, mungkin dia sadar diri jika Dee telah memulai hidup baru dengan Liam.
Kesalahan terbesar adalah tidak pernah merespon pesan Ricchi, hanya membacanya.
Sebuah sapu tangan tersodorkan di depan Dee membuatnya mengangkat kepala, Mike manager Ricchi terlihat sendu.
"Makasih Kak Mike." Dee mengambil sapu tangan berparfum hampir sama dengan wangi tubuh Ricchi. Air mata pun menyeruak lagi dari kelopaknya.
"Aku yang salah akan kejadian ini. Kemarin sepulang syuting, Ricchi seperti melihatmu di Melrose. Ia meminta aku berbalik arah tapi tidak aku turuti. Dia berkali-kali salah lihat, wanita-wanita berambut hitam dikiranya adalah kamu Dee." Mike di penuhi rasa bersalah menyeka air matanya dengan kasar
"Iya, kemarin aku di Melrose menunggu Kak Liam menjemputku."
Tubuh Mike terguncang, pria berkulit putih tidak bisa menahan kesedihannya.
"Andai aku membalikkan mobil, ini takkan terjadi Dee. Ricchi pasti sudah bertemu denganmu. Aku telah menemaninya separuh hidup anak itu, melihatnya dari belum jadi siapa-siapa dan sekarang sudah menjadi aktor di Hollywood. Aku mengetahui semua hal baik dan tak baiknya. Sejak bertemu denganmu, dia berubah drastis. Dan aku melihat betapa hancurnya saat kamu menghilang. Oh Tuhan, betapa Ricchi sangat mencintaimu Dee !" Mike menggelengkan kepala, suaranya nyaris berbisik.
Sapu tangan tadi terus berada di mata Dee, sama halnya Mike, tubuhnya pun terguncang akan tangisan.
"Apa kamu akan di sini dek ?" Tanya Mike setelah mereka lebih tenang.
Dee mengangguk "Iya."
"Thank you Dee. Semoga Ricchi bisa merasakan kehadiranmu."
"Dawn." Liam berjalan mendekat dengan membawa kopi dan kantong kertas d tangan kirinya.
"Kak." Dee berdiri diikuti oleh Mike
Sambil menarik senyuman tipis Liam menyerahkan kopi untuk mereka. Sambil terduduk ketiganya menyesap kopi dan menggigit bagel yang di beli Liam 3 bangunan dari rumah sakit tempat Ricchi di rawat.
"Mike, kami pulang dulu membersihkan tubuh tapi nanti Dawn akan aku antar kesini. Kalian bergantian berjaga." Pamit Liam kepada Mike. Ia telah mempunyai janji meeting pembahasan film, yang telah memasuki tahap casting para aktor yang akan berperan. Tadinya Liam ingin mengusulkan Ricchi ikut andil sebagai salah satu pemeran utama. Namun takdir berkata lain.
...
Setelah orang tua Ricchi tiba dari tanah air, mereka pun bergilir menjaga sang aktor yang belum menunjukkan perkembangan. Dee memilih menemani Ricchi di kala siang hari hingga Liam menjemputnya. Sementara Mike dan orang tua Ricchi di saat malam tiba.
Dee melihat perawat masuk membawa peralatannya, setelah 4 hari berjaga ia telah paham jadwal para petugas medis yang menangani Ricchi.
"Bolehkah saya yang melakukannya Miss Flore." Ucap Dee sopan
"Baiklah, seperti kemarin yang nyonya lihat." Flore menyerahkan handuk hangat ke tangan Dee
Setelah menerima anggukan Dee, Flore perawat bertubuh tinggi besar itu pun meninggalkan ruangan.
"Kak Ricchi, saatnya mandi ya." Dee memandang wajah Ricchi kemudian ia mulai melap tangan kanan Ricchi yang tidak mengalami patah dan tidak terbalut oleh gips, selesai bagian tangan dia pun pindah ke bagian leher. Dee terus menahan air matanya untuk tidak jatuh, hatinya tersayat melihat kondisi pria seolah tertidur namun di bantu dengan berbagai infus.
"Maafkan aku kak." Gumam Dee lirih, menyeka sepelan mungkin pada bagian wajah Ricchi.
Tangan lemah menarik ujung blusnya membuat Dee kaget,
"Kak !" Pekiknya langsung meraih tangan Ricchi menggenggamnya. Air matanya tumpah.
" Dee." Perlahan mata Ricchi membuka, pandangannya semula kabur kemudian melihat dengan jelas Dee menggenggam jemari tangannya.
"Kak, kamu bangun ." Isak Dee mencium jemari Ricchi yang lemah dan yang tak kokoh seperti sebelumnya.
"Dee, benarkah itu kamu sayang ?" Gumam Ricchi lirih, mencoba mengerakkan tangan kanan menyentuh wajah wanita yang sangat dirindukan. Dee mengerti keinginan Ricchi menaruh tangan pria itu di pipi kirinya.
__ADS_1
"Jangan menangis sayang." Ricchi merasakan cairan bening menyentuh tangannya.
Dee menarik bibirnya ke dalam dengan mata berkubang cairan.
"Kak."
Ricchi mengerjapkan mata sekali lalu kembali memandang wajah wanita yang tak hentinya mengeluarkan air mata. Di tengah nyeri mendera sekujur tubuh, Ricchi bersyukur karena dengan terbaring tak berdaya membuat Dee berada di sampingnya.
"Aku mencintaimu Dee." Ricchi menggerakkan sangat pelan tangannya di pipi Dee
"Aku tahu kak." Dee mencondongkan badannya mendekat wajah Ricchi. Dia pun mengecup lembut pipi pria itu "Terima kasih sudah berjuang untuk bangun Kak Ricchi."
Kali ini sang pria yang menitikkan air mata, yang langsung di seka Dee.
"Aku akan memanggil dokter untuk mengecek kondisi Kak Ricchi." Dee menatap wajah Ricchi
"Kamu tidak ada akan pergi kan dek ?" Ricchi mulai ketakutan jika ini hanyalah mimpi.
Dee menggelengkan kepala "Aku akan menemani kakak. Oh ya, aku juga harus mengabari papa dan mama Kak Ricchi, Mike juga."
Dee mengusap lembut bahu Ricchi kemudian ia pun beranjak keluar meninggalkan pria berwajah tampan yang hatinya menghangat setelah sekian lama.
...
Dengan patuh Ricchi menerima juluran sendok berisi bubur dari Celestina, mamanya. Wanita paruh baya itu nampak lebih berseri, anak semata wayangnya telah melewati masa kritisnya.
"Dee mana ma ?" Tanya Ricchi mengarahkan pandangannya ke arah pintu. Setelah dokter memeriksanya, dan ia pun dipindahkan ke kamar inap biasa meninggalkan ruangan ICU.
"Dee yang cantik sedang makan siang dengan Mike." Celestina berdarah separuh Spanyol itu pun tersenyum merekah
Wajah Ricchi pun berseri mendengar perkataan mamanya "Dee cantik kan ma?" ujar Ricchi manja, ia bertingkah seolah berusia belasan tahun membahas gadis yang disukai kepada mamanya
"Sangat cantik dan sangat baik, ia seperti malaikat. Dee terus menemanimu sayang, berada di sampingmu. Oh, mama sempat foto saat Dee tertidur memegang tanganmu." Celestina menaruh mangkuk bubur di meja nakas dan mengambil ponselnya.
"Lihat." Ucap Celestina riang menunjukkan foto Ricchi yang masih kritis dan Dee benar menggenggam tangannya sambil tertidur.
"Mungkin karena Dee aku bisa melewati ini ma." Ricchi menarik ujung bibirnya keatas.
"Bukan mungkin, tapi memang Dee lah yang membuatmu bertahan. Kamu sangat mencintainya ya nak?"
"Sayang Dee sudah me..
Ricchi menyentuh tangan Celestina menghentikan mamanya untuk tidak melanjutkan ucapannya. Pria tampan beralis indah itu pun menggelengkan kepala. Baginya dengan keberadaan Dee di dekatnya sudah lebih dari cukup, walau setelah itu wanita yang dicintanya akan kembali kepada Liam.
...
Perkembangan Ricchi pun sangat signifikan, yang tadinya hanya terbaring di tempat tidur sekarang sudah bisa keluar ke taman rumah sakit walau di bantu dengan kursi roda. Menurut dokter kakinya belum sembuh untuk memulai program terapi.
"Jadi abang berada di Georgia untuk syuting ya dek ?" Ricchi menoleh ke arah wanita yang duduk di bangku taman.
Dee membalas tatapan Ricchi lalu mengangguk "Iya."
"Kenapa tidak ikut, kamu kesepian di sini sayang."
"Aku tidak mungkin meninggalkan Kak Ricchi, Kak Liam juga pasti sibuk dan terfokus dengan filmnya. Aku tidak bisa menjadi pemecah perhatiannya." Sahut Dee
"Aku tidak tahu harus berterima kasih seperti apa padamu Dee. Selama sebulan kamu tak pernah absen sehari pun menemaniku."
Dee terdiam sambil menatap Ricchi. Wanita berpenampilan lebih casual kaos kebesaran di padu jeans denim, kembali mengarahkan pandangannya ke depan.
"Hubungan dengan abang baik-baik saja kan Dee? Maksudku, dengan membagi waktumu bisa saja abang memprotes."
Dee terlihat menggelengkan kepalanya dengan pelan "Kak Liam tahu dan mengerti. Hubungan kami pun baik-baik saja kak. Aku seperti membaca jika Kak Ricchi merasa bersalah. Please don't !" Wanita cantik itu pun tersenyum simpul
"Tapi kenapa?"
Dee mengulum senyuman sambil meraih jemari tangan Ricchi.
"Aku melihat kakak kritis dengan alat bantu. Tidak sadar selama 4 hari, kakak tahu betapa sakitnya perasaanku melihat kondisi Kak Ricchi saat itu. Kemudian sekarang, kakak masih di kursi roda. Kakak begini karena aku."
"Jadi kamu bertahan menemaniku karena perasaan bersalah, sayang."
Dee memasang muka datar menatap Ricchi, matanya memburam.
"Ya, aku bersalah meninggalkan Kak Ricchi. Aku bersalah tidak bisa memilih kakak. Aku bersalah tidak membalas pesan-pesan kakak, mencoba mengabaikan Kak Ricchi. Aku pikir kakak sudah bahagia, ternyata malah melepaskan tunangan kakak. Kak Mike yang cerita semua, tentang apa yang Kak Ricchi lewati, alami. Aku sungguh tidak tahu kak."
__ADS_1
Dee menghela napas panjang.
"Semua ini takdir Dee, kakak harus celaka begini karena kesalahan sendiri yang mabuk saat menyetir mobil. Ini peringatan buatku untuk menjauhi minuman beralkohol." Ricchi menyentuh pipi Dee yang sekarang bersimpuh di depannya.
"Penyebabnya adalah aku kak. Waktu kakak sedang kritis, aku terus berdoa agak kakak bisa bangun. Aku telah berjanji pada Tuhan jika mengabulkan doaku, aku tidak akan meninggalkan Kak Ricchi lagi." Dee menarik napasnya perlahan sembari memandang wajah Ricchi. Pria yang sedang tersenyum merekah.
"Bagaimana dengan abang ?"
"Ada apa dengan Kak Liam ?" Tanya balik Dee
"Kamu akan meninggalkan abang demi aku ?" Canda Ricchi yang sudah menemukan sisi humoris.
Dee memajukan bibirnya lalu mencubit pinggang Ricchi.
"Auw sakit dek. Di sini ada luka loh." Erang Ricchi pura-pura kesakitan.
"Janji Kak Ricchi cepat bisa berjalan, berlari lagi. Kakak harus sembuh." Ucap Dee mengepalkan tangannya memberikan dukungan kepada pria tampan tersenyum simpul
"Kayaknya lebih enak jika terus seperti ini. Biar kamu perhatikan aku terus dek." Ricchi menyunggingkan senyuman miringnya. Jiwanya sekarang telah sembuh dengan Dee berada di hari-harinya. Tiada lagi sesak melanda di bagian dalam tubuhnya. Semua terasa ringan.
"Sepertinya waktu kita masih pacaran, kakak tidak pernah menggendongku, aku mau kakak kembali kuat dan menggendongku di pesisir pantai." Ucap Dee manipulatif, ia harus melakukan ini agar Ricchi bisa kembali seperti semula. Dee ingin pria itu kembali pada dunianya, bekerja dan kembali bersinar dalam kerlipan lampu blitz paparazzi.
"Ucapanmu telah aku simpan di sini." Ricchi meraba dadanya "Tunggulah sayang, aku pasti menggendong tubuhmu yang seringan kapas itu."
...
Dee baru saja selesai mandi dan mendengar pintu apartemen tertutup. Dengan cepat Dee keluar dari kamar tidur masih dengan kimono mandinya.
"Kak Liam !" Pekik Dee melihat sosok suaminya sedang membuka sepatunya
Pria bermata sipit itu menoleh memandangi binar indah mata kekasihnya. Wanita yang sangat dirindukan selama 2 minggu ini. Sementara para kru film di beri libur syuting selama 2 hari, Liam menyempatkan pulang ke Los Angeles untuk melepas kerinduan.
"Wifey." Liam langsung berdiri menyambut tubuh yang menghambur ke pelukannya
"Kakak tidak mengatakan jika mau pulang. Tadi pagi masih berkirim pesan." Dee mendongak memandang wajah letih Liam.
"Kejutan !" Liam berseru dan langsung menciumi wajah istrinya
Dee pun tertawa akan kejutan besar dari Liam, pria yang tidak pernah berhenti mencintainya.
"Bagaimana dengan Ricchi, Wifey ?" Liam menggenggam jemari istrinya menuju kamar tidur mereka.
"Hari ini ia mulai latihan berdiri kak, sedikit mulai berjalan. Semangatnya untuk sembuh sangat tinggi."
Seutas senyum dari bibir Liam "Kamu melakukan semua yang aku perintahkan kan, Dawn ?"
Dee mengangguk dengan mata menyipit dan lalu tersenyum
"Kadang aku berpikir kenapa kakak melakukan ini semua."
Liam mendudukkan tubuh istrinya di tepian tempat tidur, keduanya saling menatap dalam. Rasa cinta yang sama terpancar dari manik mata masing-masing.
"Karena kita berdua yang membuat Ricchi seperti itu, Wifey. Dengan kehadiranmu di dekatnya adalah obat untuknya."
"Kakak seolah membagi istri."
Liam tergelak tawa "Aku mempercayaimu, Dawn. Iya, aku memang sedang membagi istriku. Sungguh tidak masuk akal, mengingat dulu aku sangat ketakutan Ricchi mengambilmu dari sisiku. Tapi begitu melihatnya terbaring antara hidup dan mati, membuka mataku bahwa akan lebih baik jika Ricchi hidup normal dan menghantui ketenanganku dibandingkan melihatnya tak sadar. Sungguh sangat menyakitkan." ucap Liam lalu mengecup ringan bibir istrinya.
###
semangat sembuh ganteng ♥️
best hubby 💕
alo kesayangan 🥰,
kalian para pembaca novel ini, selalu sehat yah..
jaga kesehatan, sering cuci tangan dan minum banyak air putih.. berolahraga demi menguatkan sistem kekebalan tubuh..
love,
__ADS_1
D 😘