DI ANTARA DIA

DI ANTARA DIA
Social Butterfly


__ADS_3

Senyum merekah ketika Shadow melihat sebuah mobil mewah memasuki area apartemennya, terlebih si pengemudinya juga menyunggingkan


senyuman. Shadow pun langsung bergegas membuka pintu dan naik di kursi penumpang.


“Kau sungguh takut ketahuan dengan paparazzi, sayang.” Alexandre terkekeh lalu memasangkan seatbelt untuk gadis pujaan, nona sutradara


Shadow merenggut “Tentu saja aku takut. Kita belum ada hubungan apa-apa.”


“Jangan katakan itu.” Protes Alexandre pelan kemudian mengacak pelan rambut Shadow


“Baiklah.”


Shadow menengok ke arah bangku belakang nampak sebuah kado dengan bungkus merah dan sebotol wine merk terbaik.


“Kau menyiapkan segalanya, Alec.”


Senyuman tipis membingkai wajah pria yang masih betah memelihara rambut di wajah, bahkan Shadow tahu jika Alexandre lebih tampan jika


mencukur habis cambangnya.


“Aku akan bertemu dengan mertua dan adik iparku.” Sahut pria berusia 28 tahun itu. Alexandre sudah lama menjadi seorang aktor, bisa dia dikatakan mempunyai jalan karier yang sama dengan Sunshine. Memulai karier menjadi aktor cilik, hanya saja Alexandre merintisnya di Perancis.


Di Eropa dia sangat populer, ketika remaja Alexandre banyak mengambil film drama romantis dan action perang. Penggemarnya dari berbagai kalangan, remaja dan tua. Di Hollywood sendiri Alexandre baru bermukim sekitar 4 tahun terakhir, sebelumnya dia bolak-balik antara Perancis dan U.S.


“Terserah apa yang ingin kau katakan, Alec.” Ucap Shadow pasrah


“Seharusnya begitu, sayang. Kita telah dekat selama seminggu, walau baru bisa bertemu lagi. Aku selalu rutin mengirimkanmu pesan dan menelepon.”


Dalam hati Shadow membenarkan perkataan Alexandre, tidak sekali pun pria di sampingnya melupakan untuk sekadar mengingatkan untuk sarapan hingga makan malam. Sungguh sangat perhatian. Walau Shadow belum mengiyakan perasaan Alexandre.


“Rumah yang nyaman.” Ucap Alexandre ketika mobilnya berhenti di depan kediaman orang tua Shadow. Puluhan tahun rumah itu menjadi hunian


mereka, tak banyak perubahan pada struktur bangunan. Orang tuanya sebenarnta sangat bisa untuk tinggal di kawasan perbukitan Hollywood, tapi entah mengapa mereka tetap bertahan di rumah itu.


“Di dalam lebih nyaman lagi Alec. By the way, rumahmu sendiri seperti apa ?”


Alexandre melebarkan matanya antusias dengan pertanyaan Shadow “Tipikal rumah aktor, di perbukitan. Design modern kontemporer. Kapan kau akan berkunjung, nona sutradara ?”


Shadow mencebikkan bibirnya “Berdoalah.”


Alexandre terkekeh membukakan pintu mobil untuk Shadow tak lupa ia mengambil kado dan wine dari kursi belakang.


“Aku sangat pintar memasak.” Pamer sang aktor berjalan di belakang Shadow


“Apa kau bisa menyaingi dua pria yang akan kita temui ? Mereka memasak dengan hati.”


“Aku pun juga, sayang. Nana yang mengajarkan kepadaku ketika masih kecil. Kau tahu kan jika orang tuaku berpisah ketika aku masih berusia 5


tahun.”


Shadow menghentikan langkah menunggu Alexandre “Aku baru tahu ini darimu.”


Alexandre memindahkan barang bawaannya pada tangan kiri dan tangan sebelahnya merangkul Shadow “Kau belum membaca wikipediaku.”


Shadow mengulum senyuman dan menganggukkan kepala “Maafkan aku, Alec.”


“Tidak apa-apa, sayang. Aku akan menceritakan semuanya kepadamu.”


Shadow baru saja hendak memencet bel namun pintu terbuka dan sosok Ricchi, papanya tersenyum semringah melihat kedatangan tamu sore itu yang tak lain adalah anaknya sendiri.


“Jadi teman yang kau katakan akan ikut denganmu adalah Alexandre Marais ?” tanya Ricchi bergantian menatap Shadow dan aktor tampan nan jangkung.


“Apa kabar Mr Maheswara ?” Alexandre menjulurkan tangannya


“Baik, sangat baik.” Ricchi menanggapi tangan Alexandre. Ia pun mengedipkan mata ke arah Shadow yang di respon dengan bibir dimajukan.


“Silahkan masuk, yang lain sedang di ruang tengah.”


Alexandre mengulurkan wine ke Ricchi “Maaf hanya membawa ini.”


Richhi tertawa kecil “Kau sangat merendah, Alexandre. Wine ini lebih tua dari anakku.” Ucapnya sambil memberikan ruang pada tangannya agar Shadow memasukkan tangan dan bergelayut. Kebiasan favorit anak sulungnya.


“Dia tampan.” Bisik Ricchi kepada anaknya


“Papa, Alec bisa mendengarmu.” Balas Shadow membisiki pria tampannya, baginya Ricchi selalu menjadi yang tertampan melebihi Liam, sang


ayah.


Ricchi tertawa kecil membuat Alexandre menoleh dengan alis sedikit bertautan “Aku akan belajar bahasa kalian, agar aku paham apa yang kalian bicarakan.”

__ADS_1


Ayah dan anak itu tergelak tawa mendengar sungutan Alexandre “Maafkan kami, aku pikir kamu orang Indonesia juga. Sudah berbisik berharap kau tidak mendengarnya. Jujur aku mengatakan kepada Shadow jika kau tampan. Alec, ini pertama kali anak sulung kami membawa pria yang bukan temannya ke rumah.” ungkap Ricchi menghibur sang aktor


Alexandre tersenyum lebar, sungguh ketampanannya semakin terpancar. Sangat menyilaukan, mau tidak mau Shadow mengakui pesona sang aktor.


“Aku sungguh tersanjung, Mr Maheswara.”


Ricchi mengedutkan alisnya kepada Shadow “Kalau boleh tahu, apa hubungan kalian ? Apakah ini dinamakan cinta lokasi ?” tanyanya sekalian


“Papa !” seru Shadow membulatkan manik indahnya


“Kami saling belajar satu sama lain, Mr Maheswara.” Sahut Alexandre penuh kemantapan yang ditanggapi senyum lebar sang papa


“Wow sungguh kabar bagus.” Suara husky menginterupsi percakapan ketiga orang di ruang tamu. Liam dan Dee menghampiri lalu bersalaman hangat dengan Alexandre.


Film terbarunya dengan Shadow adalah film kedua ia bekerja sama dengan rumah produksi Farubun and Maheswara. Sebelumnya malah disutradai


langsung oleh Liam, tentu saja box office walau kalah bersaing mendapatkan Oscar sebagai film terbaik.


Alexandre pun berbincang akrab dengan Liam Farubun dan istrinya, wanita mewarisi bola mata yang indah kepada Shadow.


“Yang ulang tahun kemana, yah ?” tanya Shadow tidak melihat wujud cantik adiknya di dalam rumah ketika mereka mencapai ruang tengah


“Love birds nya lagi di halaman belakang. Cuma kalian kami tunggu, semuanya telah siap di meja belakang.”


Shadow menarik napas panjang, perlahan ia mendekat pada tubuh Alexandre. Pria yang tidak membuang kesempatan dengan sigapnya menautkan jemari.


“Adik-adik ipar.” Bisik Alexandre menurunkan kepala tanpa tahu apa yang bergejolak di benak Shadow.




Alexandre adalah tipikal pencuri perhatian, kupu-kupu sosial. Dia menguasai percakapan saat makan malam. Alexandre bertemu dengan


dua pria yang sama persis dirinya, yaitu Liam dan Ricchi. Sementara para wanita hanya ikut mendengar sesekali tertawa akan pembicaraan pria-pria itu. Dan ada satu pria memajang muka tegang dan sorot mata tajam ketika melihat Shadow, yang tak lain Richard.


Dengan kehadiran Alexandre membuat Shadow tidak terlalu menanggapi apapun yang dipamerkan di depan mata kepalanya, kemesraan pasangan burung cinta itu. Adiknya tidak tahu dengan perasaannya, pun Richard.


“Apa kau ingin terus bekerja sama dengan kekasihmu ?” canda Liam kepada Alexandre yang membantu Shadow memotongkan steak


Alexandre menaikkan kepala dan menatap Liam “Saya akan ke Inggris untuk film terbaru. 6 bulan lagi baru mendapatkan libur, tapi jika bekerja


Shadow tersipu dengan wajah memerah, mereka pun beradu mata “Alec, tolong.”


Empat orang melihat momen itu tertawa kecil dan tersenyum lebar kembali kecuali satu orang yang memilih meraih gelas winenya dan menandaskan isinya dalam satu kali tegukan.



Meja belakang sudah bersih, pesta ulang tahun Sunshine telah berakhir setelah memberikan kado masing-masing. Para orang tua sudah kembali ke


ruang tengah menyisakan Shadow dan Alexandre berdiri menikmati halaman belakang yang menghembuskan udara yang segar.


“Bagaimana penampilanku hari ini ?” tanya Alexandre lalu menyesap wine dari gelas di tangannya


Shadow terkekeh “1 dari 10, kau mendapatkan angka 8.”


Sang aktor membulatkan manik abunya yang indah “Kau terlalu pelit sayang, harusnya aku mendapatkan angka 9,5.”


“Terlalu sempurna.”


“Tentu saja harus sempurna.” Sahut Alexandre tak mau kalah


“Angka dua itu karena kau tidak memberikanku hadiah.” Gerutu manja Summer


Alexandre tidak menyangka ucapan itu keluar dari bibir wanitanya, dengan wajah berseri ia menaruh gelasnya di atas meja lalu meraih


tubuh Shadow masuk ke dalam pelukannya "Maafkan aku sayang. harusnya aku


membelikanmu juga kado.”


Shadow terus mengingkari debaran jantung ketika melihat Alexandre menjemputnya, pun akan semua perhatian pria itu selama sesi makan malam. Namun ketika tangan kokoh itu melingkar pada pinggangnya, Shadow seolah kekurangan oksigen dengan jantung memacu diatas normal.


Shadow memegang bagian depan jas berwarna gray dengan gugup, mereka saling menatap intens.


“Tidak perlu, Alec. Aku hanya bercanda.”


Gelengan kepala dari si pemilik manik abu dengan kedua ujung bibir ditarik keatas


“Selama dua hari kedepan aku sudah punya jadwal yang padat, Nona Sutradara. Setelah itu apakah kau akan mengundangku untuk makan malam di apartemenmu ? Kau pasti tidak ingin bertamu ke rumahku, bukan ?” ucap Alexandre lembut membuat hati Shadow meleleh ibarat lahar dingin sebuah gunung berapi

__ADS_1


“Iya, tapi aku tidak tahu memasak. Maksudnya kemampuanku sangat jauh jika mendengar ceritamu tadi dengan Ayah dan papa.” Sahut Shadow tertawa kecil sekilas menundukkan wajahnya lalu kembali menatap wajah rupawan


sang aktor


“Aku akan memasak di apartemenmu, asal jangan memintaku memasakkan masakan Indonesia. Aku perlu ke negaramu untuk belajar terlebih dulu.”


“Masakkan aku makanan favoritmu.”


Alexandre tidak bisa menahan diri untuk mengecup ringan bibir merah yang sangat dekat dari jangkauannya.


“Boeuf bourguignon.”


Shadow meremang mendengar Alexandre menyebutkan menu makan seolah pria itu mengucap dua kata romantis. Hanya setarikan napas dan Shadow pun merasakan bibir panas sang aktor menjelajahi bibirnya. Cengkeraman pada suit Alexandre menguat menahan ribuan kupu-kupu beterbangan di dadanya.



“Mereka sangat serasi yah, love.” Ucap Sunshine melihat kemesraan kakaknya dan aktor tampan yang memiliki nama yang mendunia. Sunshine sempat tidak percaya akan penglihatannya ketika melihat seorang Alexandre Marais menghadiri


pesta ulang tahunnya, terlebih pria yang memiliki bayaran setara dengan para pemain Avengers memberikannya kado. Sang aktor sungguh memuja Shadow, kakaknya.


Richard tidak menyahut, tangan kirinya mengepal sementara tangan kanannya mengenggam kuat jemari mungil kekasihnya.


“Mungkin kita bisa mengajak kakak dan pacarnya untuk makan diluar selama kau ada di sini, love.”


Richard mendengus “Tidak usah. Shadow juga pasti akan menolaknya. Kau melihat tadi kan sayang, sekali pun dia tidak mengajakku berbicara.”


Sunshine menengadah menatap rahang kekasihnya mengeras “Aku bingung, sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian.”


Dada Richard membara melihat ciuman panjang Shadow dan Alexandre. Setelah itu usai keduanya saling tertawa bahagia. Cemburu memanaskan


indera Richard, ia masih mengingat rasa bibir Shadow bahkan ciuman mereka telah berlalu sekian tahun lalu.


“Aku tidak tahu.” Ucapnya membalikkan tubuh dengan gusar dan kecewa



Shadow baru saja menyelesaikan makan malam di apartemennya, menu sederhana tercepat yang bisa dimasak olehnya setelah bekerja seharian di


studio, spagetti carbonara. Bunyi pintu apartemen berbunyi dengan pelan, bukan di pencet secara tidak sabaran membuatnya menahan gelas di bibirnya.


“Tunggu.” Teriak Shadow bergegas menuju pintu. Adalah papanya yang selalu mengingatkan untuk melihat di layar canggih, melihat orang yang


menjadi tamunya. Badannya tersentak kaget melihat sosok Richard berada diluar . Ia menahan


diri untuk tidak membukakan daun pintu.


“Shadow.” Panggil Richard


Wanita yang menggelung rambutnya menangkup bibir dan melangkah mundur


“Shadow, kau telah menjawabku tadi. Kenapa kau tidak membukakan pintu ? Aku tahu kau ada di dalam.”


Keringat dingin membasahi pelipis Shadow dengan mata bergerak ke kanan dan kiri. Ia di landa kecemasan yang luar biasa.


“Please Shadow. Kita perlu bicara.” Teriak Richard semakin tidak sabaran sembari memencet bel hingga telinga Shadow mulai sakit mendengarnya


“Apa maumu !” Shadow membalas teriakan yang sama kencangnya, ia besyukur setelah tahu para tetangganya adalah seorang entertainer. Shadow yakin Jam 8 malam dua tetangga apartemennya tidak berada di tempat, mereka tidak akan ada terganggu dengan teriakan Shadow dan Richard


“Bicara. Kita perlu bicara !”


Kembali Shadow melangkah mendekat ke arah daun pintu dengan hati gamang. Ia berdiri tanpa tahu apa yang harus dilakukannya. Haruskah meluangkan waktu untuk pria itu, sementara Shadow tidak ingin terlibat lagi dengan Richard.


Tapi Richard adalah sahabatnya, mengabaikan pria itu selama pesta ulang tahun Sunshine menimbulkan sesal tersendiri di benak Shadow.


Haruskah ia menjelaskan segalanya kepada Richard ?


###



Alo kesayangan 💕,


mumpung aku masih libur, hajar dua novel perhari..


walau harus melawan ngantuk 😑


love,


D 😘

__ADS_1


__ADS_2