
Mata Ricchi nanar, hatinya teriris sakit memandang mobil kado ulang tahun untuk Dee terparkir rapi di carport Liam, mobil mewah tersebut tertutup oleh cover berwarna hitam.
Sedari tadi ia dan Liam terus mencoba menghubungi nomer Dee namun tetap dengan respon yang sama, tidak aktif.
Ricchi mengumpulkan ingatannya kapan tepatnya Dee bertingkah aneh__ yah 2 minggu yang lalu. Kekasihnya selalu menolak panggilan video dan suara dengan berbagai alasan. Ricchi pun harus puas berkirim pesan penuh cinta dengan kekasihnya, semalam pun Dee masih mengucapkan selamat malam dengan puluhan ikon ciuman dikirimkan gadis yang entah di mana rimbanya sekarang.
"Kita ke kantornya," gumam Liam pelan, bola mata sipit tanpa lipatan itu berair melirik ke arah Ricchi.
Dengan hati gamang Ricchi menganggukkan kepalanya, keduanya tanpa masuk ke rumah kembali naik ke mobil Alphard Ricchi.
"Apa kalian bertengkar?" Liam melirik Ricchi sengit. Ia tidak bisa menerima jika pria di sampingnya telah melukai hati Dee hingga gadis kecilnya menghilang seperti ini.
"Kamu boleh memukulku hingga pingsan
Bang, jika aku bertengkar dengan Dee. Lihat pesan kami semalam," Ricchi mengarahkan ponselnya ke depan wajah Liam yang membuat pria itu mendecih kasar menutupi rasa cemburunya setelah membaca pesan sejoli itu.
Liam memalingkan wajahnya menatap ke arah luar jendela mobil, hatinya gundah. Seharusnya ia menangkap arti tatapan Dee saat panggilan video mereka. Sesak di tenggorokannya membuatnya menahan air mata yang hendak keluar di pelupuk mata. Gadis kecilnya menangis saat itu, tangisan sedih yang tak tanggung-tanggung. Pikir Liam, Dee hanya merindu dan terharu akan ucapan ulang tahun darinya.
Harusnya ia lebih peka, umpatnya dengan hati semakin memerih.
...
Di saat mereka membutuhkan kecepatan waktu untuk sampai di kantor Dee, di saat itu juga ada demo besar-besaran yang melumpuhkan jalanan ibukota. Mobil-mobil tidak bisa bergerak sama sekali, di tengah panasnya matahari dan jarak yang masih jauh.
"Di saat seperti inilah aku ingin hidup di masa depan, di mana mobil bisa terbang," gerutu Liam mengibaskan tangannya seolah kepanasan sedangkan pendingin mobil sedang menyala penuh.
Ricchi memilih untuk termenung, ia bukan tipe orang suka menggerutu seperti halnya Liam. Ia harus lebih sabar apalagi menghadapi permasalahan ini, akal sehat harus tetap bekerja.
Bayangan Dee saat mereka memadu kasih, terlintas begitu saja. Percintaan yang panas, tanpa ada komitmen setelah itu.
Deg!
Dadanya seolah di hantam besi puluhan ton! Apakah Dee menyerahkan dirinya sebagai tanda perpisahan? Tidak!
"Tidak!!" Kali ini Ricchi berteriak frustasi, teriakan keras mengagetkan Liam dan Mike. Bola mata Liam membulat penuh keheranan, Ricchi sekarang mencengkeram rambutnya dengan kasar, napas sang aktor itu pun tersengal.
"Tidak!" Ricchi kembali bergumam kali ini dengan lirih diikuti dengan cairan bening jatuh di sudut pelupuk matanya.
Padahal ia telah merencanakan setelah syuting panjang ini akan mengajak Dee bertemu dengan keluarga besarnya. Ricchi ingin melamar kekasihnya, perasaannya sangat besar dan tulus kepada gadis itu.
Untuk pertama kali dalam hidup Ricchi, begitu sangat ingin menikah, memiliki sebuah keluarga kecil dengan gadis yang mempunyai jiwa yang sama dengannya. Ricchi sungguh telah sembuh, Liam juga.
...
Mobil Alphard hitam itu berhenti di depan kantor Dee, kembali mereka menginjakkan kaki di tempat yang sama namun dengan perasaan yang berbeda. Ricchi baik Liam tidak mempedulikan pandangan mata orang-orang sekantor Dee yang sedang bergegas pulang bekerja.
Liam yang berjalan di depan menuju bangunan bertingkat lima berdinding kaca itu, ia masih mengingat nama customer service kantor akuntan ini, Lilis yang supel. Liam akan bertanya kepada wanita itu.
Sebelum mencapai lobby, mereka berpapasan dengan 4 pria yang tengah berbincang namun para pria itu menghentikan langkahnya begitu melihat Liam dan Ricchi.
"Cari Dee?" tanya Wahyu langsung berjalan mendekat ke depan membuat Liam dan Ricchi berhenti. Kedua selebriti itu pun mengangguk dengan wajah cemasnya.
"Perkenalkan saya Wahyu, teman seruangan Dee" ujar Wahyu mengulurkan tangannya yang di sambut kedua pria yang berusaha menarik senyumnya walau itu sangat tipis.
Wahyu tersenyum simpul, sambil berjalan ke pinggir, menjauh dari Team Mawar dan beberapa pegawai kantor lainnya yang tengah berjalan meninggalkan bangunan kantor.
"Dee tidak mengabarkan kepada kalian? Tidak pamit?" Ujar Wahyu menatap bergantian pria-pria tampan di depannya. Bahkan dari dekat pun wajah kedua pria itu pun tak bercela, sungguh beruntung Dee bisa melihat wajah Ricchi dan Liam tiap saat.
Kenapa aku memuja kedua pria ini, sungguh terkesan homo, rutuk Wahyu dalam hati.
"Tolong, Dee kemana? Kami baru selesai syuting di Sumatera selama 6 minggu dan barusan mendarat, saya bertetangga dengan Dee. Kami mendapatkan rumah Dee dengan spanduk dikontrakkan. Nomer ponselnya pun tidak aktif," Liam meringis selepas mengucapkan perkataannya, matanya membulat gelisah.
__ADS_1
"Dee resign, tepatnya dua minggu yang lalu" Ricchi tersentak kaget mendengar ucapan Wahyu. Hal terakhir yang ingin ia dengar, justru itulah yang terjadi.
"Dee menerima beasiswa kuliah di luar negeri, kami pun tidak tahu ke negara mana. Namun, yang jelas dia melanjutkan studinya" jelas Wahyu.
Ricchi mencengkeram bahu Liam dengan keras, wajahnya ditolehkan ke arah jalanan walau mata batinnya ke sosok kekasihnya yang entah kemana rimbanya.
Di sudut lain sesosok pria tersenyum menyeringai miring ke atas melihat Ricchi dan Liam yang galau, siapa lagi jika bukan Angga Karunasankara.
Dan aku sukses, memisahkan Dee dari kedua pria itu, Angga membatin sambil melangkahkan kaki dengan santai menuju mobil mewahnya.
...
Langkah kaki Ricchi lemas mengikuti Liam memasuki rumah megahnya, keduanya terpaku pada box putih berukuran 20x20cm di atas meja sofa.
"Buka Aku," tulisan dengan huruf kapital di atas box tersebut.
Liam membuka box setelah keduanya duduk di atas sofa berwarna coklat yang sangat nyaman.
Sebuah kunci mobil dengan gantungan spiderman yang Liam duga adalah kunci mobil di depan yang terparkir di carpotnya. Dua buah surat berwarna putih, masing-masing telah tertulis penerimanya. Liam mengangsurkan surat dengan tulisan "Kak Ricchi" ke pria di sebelahnya dan ia beranjak menuju meja bar membawa surat untuknya.
Dear Kak Liam..
Saat kakak membaca surat ini, pastinya adikmu ini sudah berada di negara ribuan kilometer jaraknya dari Indonesia. Maaf kak, aku perginya seperti ini. Aku tidak bisa bertatapan dengan kakak dan mengucapkan kata perpisahan. Sungguh pengecut bukan? Bukan Dawn yang kakak kenal.
Jika kakak bertanya kenapa aku melakukan hal ini... Ya karena aku sebenarnya dari dulu menunggu mendapatkan beasiswa untuk kuliah di luar negeri. Dan kesempatan ini datang secara tiba-tiba, aku harus mengambilnya kak. Walau aku harus meninggalkan kalian berdua.
Berat kak, memutuskan jalan ini. Aku tidak memberi kabar ke kakak karena aku ingin melepaskan semuanya, termasuk Kak Ricchi dan Kak Liam. Aku ingin hidup untuk diriku sendiri, mencari jalanku sendiri, mencoba peruntunganku di negara orang. Terkesan arogan tapi sungguh inilah keinginanku sejak dulu. Menantang diri dengan ego tertinggiku.
Tolong, maafkan aku kak.. di mana pun aku berada akan mengingatmu kak, dan aku selalu menyayangi Kak Liam.
Ps. Jika ada sumur di ladang, kita foto-foto saja. Biarkan orang lain yang mandi.
Oh yah, tolong jaga Kak Ricchi yah kak.
Dawn
Sementara di sofa, Ricchi menatap bimbang tulisan kekasihnya di sampul surat. Berulang kali mencoba memberanikan diri untuk membaca surat dari Dee. Ia pun menghela napas panjang sebelum akhirny membuka surat tersebut dengan jemari gemetar.
Dear Kak Ricchi..
Kak.. aku mencintaimu sangat besar, tak pernah aku merasakan cinta seperti ini sebelumnya kepada seorang pria dalam waktu yang sangat singkat. Adalah kamu seorang Ricchi Maheswara membuatku terjatuh dalam pusaran cinta. Kelembutanmu, perhatianmu, jiwamu yang sama denganku, pelukanmu yang sangat hangat melindungi, senyumanmu mewarnai hariku, gelak tawamu...
oh Tuhan bagaimana sekarang aku hidup tanpa itu semua ?
Sakit kak, meninggalkanmu. Aku egois, hanya memikirkan diriku, masa depanku sendiri tanpa kehadiranmu. Jahat yah kak, Dee yang jahat.
Aku tidak akan meminta maaf, karena tahu aku melakukan kesalahan terbesar yang tak patut dimaafkan. Kak Ricchi boleh membenci Dee sepanjang usia kakak.
Aku mencintai kakak, cinta yang aku bilang sangat besar namun tidak bisa Dee perjuangkan.
Aku melepaskanmu Kak Ricchi.
Tak mengapa jika kakak bersedih hari ini, namun berjanjilah bahwa besok untuk terbang, terbanglah layaknya seekor kupu-kupu, hinggaplah pada bunga terindah di matamu.
Bergeraklah maju, jangan kembali pada masa lalu. Ambil pengalaman terbaiknya, jadilah manusia yang kuat. Aku percaya Kak Ricchi bisa karena kakak adalah pria terhebat dalam hidupku.
Semangat kak !.. Dari sini aku menyorakimu.
Dee
Teriakan panjang menyayat hati dari mulut Ricchi sesaat setelah membaca surat kekasihnya, wanita yang menghancurkan hatinya hingga berkeping-keping.
__ADS_1
"Dee.. tolong kamu di mana?" Teriak Ricchi lagi meninju dadanya yang merasakan perih dari dalam.
~~
datang akan pergi
lewat kan berlalu
ada kan tiada bertemu akan berpisah
awal kan berakhir
terbit kan tenggelam
pasang akan surut bertemu akan berpisah
Hey !
sampai jumpa di lain hari
untuk kita bertemu lagi
ku relakan dirimu pergi
meskipun
ku tak siap untuk merindu
ku tak siap tanpa dirimu
ku harap terbaik untukmu
Endank Soekamti - Sampai Jumpa
...
Moskow, Rusia..
3 tahun kemudian,
Seorang gadis berambut hitam panjang sepunggung sedang duduk manis di kursi kerjanya. Tangan lentiknya memainkan ponsel canggihnya, seutas senyum simpul menghiasi wajahnya saat membaca pesan di layar datar berukuran 6 inch di tangan.
"My lovely Dee, akhirnya akan pulang ke Indonesia. Aku akan menjemputmu di bandara, Sayang"
Dee menulis pesan
Aku harus menghadiri pernikahan pria yang sangat berjasa di kehidupanku. Tidak usah menjemputku, karena aku akan ke Bandung terlebih dahulu. Kangen dengan masakan mama. Sampai ketemu sayang, always love you.
###
Dawn
Liam
Ricchi
__ADS_1
author tidak mengiris bawang 🤞🏻