
Dee sedang memberikan memberikan botol susu kepada Shadow di ruang tengah ketika ia mendengar sapaan riang khas salah satu penghuni rumah.
"Shadow...." Seru Ricchi membuat Dee berbalik dan melihat raut lelah aktor tampan itu. Walau mengalami pasokan tidur yang kurang, namun senyum mematikannya tetap mengembang indah.
"Halo papi, akhirnya pulang juga.." sahut Dee yang mengikuti pergerakan tubuh Ricchi dari pembatas ruangan hingga pria tampan itu menjatuhkan bokongnya dengan pelan di sampingnya
Ricchi memandangi Shadow yang sedang mengisap dotnya, ia pun menyusuri pipi bakpao dengan telunjuk. Gadis kecil itu sempat mendelik melihat wajah Ricchi namun kembali acuh meneruskan misi mengisi perutnya.
"Gadis cantiknya papi.. dia ngantuk yah, sayang?" Ucap Ricchi mendongakkan kepalanya dan mendapatkan anggukan beserta senyuman yang dirindukannya berhari-hari
"Bangunnya pagi sekali, makanya jam 11 harus bobo lagi ya nak. Papi Ricchi juga seperti tidak tidur berapa hari."
Ricchi menghela napas dan menaikkan badannya setelah mengecup pipi Shadow "Tidur... Cuma tidak banyak, 2 minggu syuting film. Ini dikasih libur 3 hari. Cukuplah untuk memulihkan badan yang capek." Kesah Ricchi sambil menyandarkan tubuhnya pada sofa mencoba memejamkan mata
"Kakak semangat ! Vitaminnya di minum, kan? Sudah sarapan?" seru Dee
"Tadi singgah sarapan di diner dengan Mike sebelum pulang. Vitamin tentu saja, sayang. Kau juga harusnya tidur jika Shadow bobo, Dee. Lingkaran hitam bawah matamu kelihatan sekali." Ricchi membuka sedikit matanya dan menaikkan tangannya menyentuh pipi Dee, tepat pada bagian diprotesnya.
"Mau gimana lagi, kak. Shadow sukanya terbangun kalau malam. Sukanya bobo kalau siang dan lama, malam dia pengen begadang."
"Mau pergi ronda yah nak." Ricchi terkekeh dengan tawanya yang renyah
Melihat Shadow tertidur, Dee pun melepas botol susu anaknya dan menaruh di atas meja
"Kak, bisa minta tolong cucikan botol Shadow, aku mau bawa dia ke kamar."
Sambil mengulum senyum Ricchi menganggukkan kepalanya. Dee pun beranjak pelan membawa anak gadisnya menuju kamar tidur.
Dee terdiam mengamati anaknya telah terbaring di box bayinya. Tempat tidur Shadow terbuat dari kayu bercat hitam yang merupakan pilihan Ricchi, mengalahkan pilihan Liam tentu saja berwarna pink menyala.
"Dee, tidurlah juga." Ucap Ricchi tiba-tiba telah berada di sampingnya.
Ricchi menarik tangan Dee, ke tempat tidur.
"Kita tidur... Hingga Shadow terbangun." Ricchi mengambil tempat di sebelah kiri sementara Dee di kanan, akses terdekat ke tempat tidur Shadow.
"Aku tidak melihat mobil Kak Liam berarti dia lagi keluar." Gumam Ricchi menatap langit-langit kamar dengan mata meredup
Dee menolehkan kepalanya ke kiri mengamati struktur wajah Ricchi, rahang yang terpahat tajam ke bawah dan hidung menjulang tinggi.
"Kak Liam sedang meeting persiapan launch party filmnya."
"Berarti sebentar lagi Kak Liam tur promosi film. Kau akan sendirian, eh berdua dengan Shadow. Tapi aku akan berupaya pulang jika ada jadwal libur."
Ricchi membalikkan badannya dan mendapati Dee memandang ke arahnya, mereka pun saling bertatapan, dalam.
Ricchi menarik napasnya sekilas memejamkan mata selama 2 detik lalu menarik tubuh Dee dalam pelukan.
"Aku merindukanmu... Aku merindukanmu, sayang..." Ucap Ricchi pelan sambil mengecup puncak kepala wanita yang tak menolak akan perbuatannya.
"Aku mencintaimu, Belviyah Dawn Ragala, dan selamanya akan begitu.."
Kembali Ricchi mengecup puncak kepala Dee, kali ini lebih dalam dengan tangan makin mengeratkan pelukan.
...
Liam terpaku menatap posisi tidur Ricchi dan istrinya yang saling menautkan jemari, kepala sang aktor berada di bahu Dee. Hanya menelengkan kepala, ia lalu berjalan ke tempat tidur Shadow, nampak anak gadisnya sibuk dengan empengnya.
"Sudah bangun yah sayangnya ayah." Ucap lembut Liam meraih badan anaknya yang berseri melihat sosok dikenalnya.
Pria bermata sipit menggendong Shadow keluar dari kamar, dengan tapakan kaki sepelan mungkin.
Liam memilih bermain dengan anaknya, setelah mengganti pampers yang telah penuh.
Betul kata Ricchi, Shadow tidak mewarisi wajahnya. Mata anak gadisnya tidak sipit malah mempunyai lipat mata yang dalam dan teduh seperti Dee. Namun hidungnya mutlak dari Liam.
__ADS_1
"Ibu pasti lelah mengurusimu nak, semalaman."
Liam ikut terbangun saat Shadow menangis, ia ingin menggantikan istrinya namun Dee memintanya untuk kembali tidur sembari mengingatkan tentang meeting paginya.
"Ayah sudah pulang yah, kakak Shadow." Dee berjalan mendekat sambil mengikat rambutnya
"Sudah bangun?"
Sambil mengumbar senyuman Dee mendudukkan tubuhnya di samping suaminya.
"Kak Liam tidak membangunkanku."
"Kau harus tidur, Wifey. Ricchi sudah bangun juga?"
Dee menggelengkan kepala "Sepertinya dia kurang tidur dan sangat kelelahan kak.. tadi Kak Ricchi komplain lingkaran hitam di bawah mataku, dia tidak bercermin melihat wajahnya. Matanya bengkak dan memerah."
Liam tertawa kecil lalu mengusap pipi istrinya
"Apa perlu kita mempekerjakan babysitter, Wifey? Siang saja. Biar kau bisa beristirahat. Terlebih minggu-minggu depan, saat kau sendiri di rumah mengurus Shadow."
Dee bersandar pada lengan suaminya sambil mengembuskan napas ringan.
"Aku bisa kak.. terlebih aku tidak suka jika anak kita disentuh oleh orang lain."
Liam tergelak tawa "Hei Wifey.. mau tidak mau anak kita akan disentuh orang lain saat dibawa keluar. Jika di Indonesia pasti orang-orang telah bergantian menggendongnya."
"Digendong mau saja tapi diurusin oleh orang lain, aku-nya tidak mau. Selama aku masih bisa, Shadow dalam pengurusanku kak."
Liam memamerkan barisan giginya dengan kedua ujung bibirnya naik keatas.
"Kau ibu yang posesif, Dawn."
"Tidak posesif kak, aku menikmati peranku sebagai ibu full time. Ketika melepaskan karierku, demi bersama Kak Liam saat itu pula aku bertekad akan menjadi istri dan ibu sepenuhnya." sanggah Dee cepat
Liam melirik wajah istrinya yang terfokus pada Shadow, anaknya yang tertawa-tawa sambil menggengam jemari Dee.
Dee menarik kepalanya dari sandaran lengan Liam
"Pertanyaan macam apa itu kak? Tentu saja aku mencintaimu. Kau adalah suamiku."
Dee mendengus kesal menatap wajah suaminya, bibirnya cemberut.
"Ayah, aneh yah Kakak Shadow... Masa tanya apa ibu cinta ayah.." curhat Dee kepada anaknya, Liam pun merangkul badan istrinya sambil menghela napas dalam.
...
Liam memandangi kedua orang yang sedang sibuk di dapur menyiapkan sarapan, sementara ia menggendong Shadow.
Suara tawa istrinya terdengar riang saat Ricchi menceritakan sesuatu yang lucu, namun tak jarang aktor itu mendapatkan nada tajam dari Dee ketika tidak fokus dengan pekerjaannya.
Sungguh harmonis, batin Liam
Sejak kepulangan Ricchi, rumah besar itu kembali meriah penuh dengan canda dan gelak tawa. Wajah Dee pun kembali berseri, tak banyak termenung seperti ketika Ricchi tidak berada di rumah.
"Bagaimana tadi masakanku, bang?" Tanya Ricchi ketika mereka telah selesai menyantap menu sarapan nasi opor. Ketiganya kemudian memutuskan untuk bersantai di ruang tengah sembari menikmati potongan buah sebagai pencuci mulut.
"Enak." Singkat Liam menyahut
Ricchi mengerutkan alisnya tidak terima "Cuma itu? Aku berusaha keras loh bang."
Liam mendesis menatap tajam ke arah pria tampan tersebut
"Karena Dawn masih membantumu jadi penilaian juga singkat dan padat." Sahut Liam sarkastis
Dee tertawa dengan ucapan suaminya yang membuat Ricchi memberenggut. Pria tampan itu tak menimpali lagi, Ricchi kemudian memilih memakan buah di depannya dengan tatapan kepada layar televisi.
__ADS_1
Ketiga terdiam tak bersuara, sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Dee sibuk dengan ponselnya, Liam bersedekap membaca koran namun sesekali ia melirik perbuatan Ricchi yang menyuapkan potongan buah kepada istrinya.
Sambil berdeham Liam menaruh lipatan koran di atas meja.
"Aku mau bicara." Ucapnya membuat Ricchi dan Dee mengarahkan tatapan kepada Liam
"Apa?" Sahut Ricchi
Liam menghela napas panjang dan bergantian menatap Ricchi dan Dee.
"Perkataanku selanjutnya hanya akan aku katakan hanya sekali dalam hidup kalian. Ini berarti kesempatan kalian cuma ini saja, setelah itu tidak ada lagi." Ucap Liam dengan nada serius
"Ada apa sih?" Sahut Ricchi bingung
Liam kembali menarik napas panjang, menatap wajah kebingungan milik Ricchi dan istrinya
"Dawn, aku akan menceraikanmu.. agar kau bisa bersama dengan Ricchi."
Perkataan Liam datar namun efeknya seperti petir di siang bolong, membuat jantung Dee seolah berhenti berdetak.
"Kak Liam ! Apa maksud kakak berbicara seperti itu?" Pekik Dee yang mendadak pias dengan bola mata menari marah, tangannya menjatuhkan ponsel ke pangkuan
"Bang !"
"Aku melihat kalian sangat bahagia penuh tawa, dan Dawn pun lebih ceria saat bersamamu, Ricchi. Jadi hanya ini kesempatanmu jika ingin mengambil Dawn dariku. Jika kau bertanya alasannya, karena aku telah mempunyai Shadow, sudah pernah menikah hingga fokusku ke depannya hanya kepada Farubun Pictures dan anakku." Ucap Liam dengan suaranya yang serak, mengeluarkan perkataan itu sekaligus menyakiti hatinya sendiri
Ricchi mengarahkan pandangan kepada wanita teramat dicintainya, Dee yang sedang menjatuhkan air mata menatap Liam.
"Tidak !" Teriak Dee dengan lantang menggema seisi rumah, wanita cantik itu pun bangkit dan berlari keluar rumah.
Dengan cepat Liam mengejar istrinya "Mau kemana ?" Ucapnya menangkap pergelangan tangan Dee sesaat hendak membuka kenop pintu
Wanita cantik itu pun jatuh bersimpuh dengan tubuh terguncang oleh raungan tangis pedih.
"Kenapa Kak Liam mengatakan hal sejahat itu? Kenapa ! Aku bukan barang kak, yang bisa kakak berikan kepada orang ketika sudah bosan! Aku punya hati."
Liam berupaya memeluk tubuh Dee namun ditolaknya.
"Jangan !" Sergah Dee menolak Liam menyentuhnya
"Dawn, maafkan aku. Sungguh aku tidak bosan kepadamu, istri. Namun aku melihatmu lebih bahagia jika bersama dengan Ricchi."
Mata Dee yang berair menatap marah kepada suaminya "Hingga mau menceraikanku? Ketika mengatakan itu, apa kakak masih punya perasaan cinta kepadaku? Hah?"
"Sampai detik ini pun aku mencintaimu, Dawn. Sangat mencintaimu. Tapi aku ingin kau bahagia."
Dee tertunduk menggeram, terluka dengan ucapan Liam.
"Aku mencintaimu Kak Liam, kau adalah suamiku. Jika kau ingin menceraikanku demi bersama dengan Kak Ricchi... Maaf aku tidak bisa, tidak mau..! Jika kakak menceraikanku, aku akan pergi jauh dari kehidupan kalian berdua dan membawa serta Shadow !" Teriak Dee dengan frustasi, badannya berguncang hebat
"Dawn ! Jangan lakukan itu, jangan pernah memisahkan aku dengan anakku." Liam menjatuhkan air mata lalu menarik tubuh istrinya memeluknya erat walau Dee awalnya memberontak namun akhirnya menyerah dengan perbedaan kekuatan di antara mereka
Ricchi berdiri tak jauh dari tempat keduanya, matanya pun berair dengan hati tersayat entah karena penolakan Dee atau ia tak tega menjadi pemisah kedua orang tersebut.
Sang aktor tampan itu pun berjalan menghampiri Liam dan Dee yang masih berpelukan, wanita cantiknya masih sesunggukan, pilu.
Ricchi berjongkok dan Liam langsung menoleh menatapnya. Ia lalu menggelengkan kepala memandang Liam
"Aku juga menolak, bang" Ucap Ricchi dengan dada yang merasakan nyeri sambil mengusap kepala Dee dengan lembut.
###
__ADS_1
kapal oleng kapten ðŸ¤ðŸ¥º