
" Zu Lei, hidupkan istriku ! aku sudah memohon kepadamu jangan membunuhnya Zu lei !" seru dan teriak pria itu.
Zu Lei sama sekali tidak menanggapi pria itu. Pria itu dijuluki Dewa Halilintar, sedangkan istrinya dijuluki Dewi Pelangi. Keduanya penumbuh yang telah mencapai puncak.
Dewa Halilintar menyerang Zu Lei, halilintar setebal lengan melesat lurus menuju kepala Zu Lei.
" Tebasan seribu bintang " bisik Zu Lei, tangannya menebas halilintar itu, dengan sekali tebas halilintar itu terbelah menjadi dua, lewat lurus di kanan - kiri baju Zu Lei.
Tenaga tebasan itu belum berhenti, cepat lalu semakin cepat mengena tubuh dewa Halilintar yang disusul dengan terbelahnya sebuah tubuh.
Zu Lei melompat, lalu terjun ke dunia manusia non-kultivator dari atas gunung yang melayang - layang. Kain di lehernya berkibar - kibar, seluruh pakaiannya bergetar ringan.
Zu Lei tiba di satu sungai yang bening, sebening angin di antara mata dan langit. Di tepi sungai Zu Lei memandang air mengalir dalam keadaan merenung. Diam setenang dasar sungai, fokus selurus meteor jatuh dari langit.
"Tak,tak,tak !" satu bocah laki - laki menjitak 'mengetuk' kepala Zu Lei dengan batu. Zu Lei tidak bergerak.
" Paman batu, Paman batu !" bocah itu memanggil - manggil Zu lei.
" Ambilkan ikan !" pinta bocah itu.
__ADS_1
Bocah itu tiga kali lagi menjitak kepala Zu Lei dengan batu, lalu Zu Lei mendesah, kemudian menoleh ke arah bocah itu.
" Tunggu, Paman ambilkan ikan !" jawab Zu Lei. Zu Lei menarik ikan dari jarak jauh dengan kedua matanya, tepatnya jiwa kedua mata yang telah ditumbuhkan olehnya, mata dewa pedang.
Ikan - ikan itu mendekati Zu Lei, satu demi satu sampai beratus - ratus ikan berkecipak di depan Zu Lei.
" Ayo, ambillah, mereka tidak akan lari darimu !" bujuk Zu Lei. Bocah itu lari dengan gembira, mengambil ikan kemudian dimasukkan ke keranjang ikannya.
Beberapa lama kemudian, keranjang ikan si bocah penuh.
" Cepat bawalah ikan - ikan itu pulang sebelum menjadi bangkai !" pinta Zu Lei.
" Jauh, ayo aku antar, tunjukkan arahnya !" pinta Zu Lei.
Zu Lei menggendong bocah itu di punggungnya, lalu melesat.
" Paman, di mana ini ?" tanya si bocah.
" Ini di langit, di mana rumahmu ?" tanya Zu Lei.
__ADS_1
" Paman, rumahku tidak di langit, tetapi di bawah !" teriak si bocah.
" Em, ya aku tahu" jawab Zu Lei.
Zu Lei terbang rendah menyesuaikan jarak pandang si bocah.
" Di sana paman !" tunjuk si bocah.
Zu Lei terbang ke arah yang ditunjuk oleh jari si bocah. Sampailah Zu Lei dan si bocah di satu kediaman keluarga besar. Keluarga "Kai Yu" terukir dengan indah di papan nama. Zu Lei mendarat dan menurunkan bocah di punggungnya.
" Paman, terima kasih !" ucap si bocah.
" Ya" jawab Zu Lei. Bocah itu lari ke rumah dengan berjingkrak - jingkrak, membawa keranjang ikan yang penuh sesak.
Zu Lei berdiri memandang punggung bocah, berbalik dan berjalan pergi. Bocah itu sempat menjitakku, kenapa aku tidak marah ? bisik Zu Lei, sambil berjalan.
"Lar, Lar, Lar !" suara serangan dengan tenaga dari kultivator tingkat puncak menyadarkan Zu Lei. Kediaman keluarga Kai Yu hancur lebur, para penghuninya terkapar, bocah itu merintih bersamaan ikan - ikan yang menggelepar.
"Biadab !" teriak Zu Lei, keadaan mengamuk penuh dimulai, alam sekitar berubah panas - dingin, tanah melayang - layang, rambut Zu Lei terurai ke atas.
__ADS_1