Di Atas Dewa Pedang

Di Atas Dewa Pedang
Hari Ke Tiga : Ubah Cincin Ruang


__ADS_3

Siang Hari, Di Kamar Zuwen.


" Kak Wen ? apa kamu punya cincin ruang ? tanya Kai Long.


" Punya, kakek memberiku satu cincin ruang " jawab Zuwen.


" Kamu juga punya kan ?" tuding Zuwen.


" Ya, paman memberiku satu cincin ruang " jawab Kailong.


" Mana cincinmu ? kok tidak terlihat di jarimu" tanya Kailong.


" Mana juga cincinmu ? aku tidak melihatnya di jarimu ? kata Zu Wen.


" Ada di saku celanaku, lubangnya terlalu besar, tidak bisa kupakai" kata Kailong.


" Sama" jawab Zuwen.


" Kak Wen ? adakah cincin ruang untuk anak - anak ?" tanya Kailong.


" Menurutku ada. Si pembuat cincin pasti punya cucu atau murid yang masih kecil, dia bisa membuatkan cincin untuknya" jawab Zuwen.


" Siapa pembuatnya ?" tanya Kailong.


" Kultivator di atas tingkat dewa" jawab Zuwen.

__ADS_1


" Lalu apakah cincin ruang itu bisa diperkecil ? " pingin Kailong.


" Aku yakin bisa, hanya tidak tahu caranya" yakin Zuwen.


Kailong diam, ada pikiran di depan wajahnya.


" Kak Wen ? aku ingin memperkecil cincin ruang milikku, ayo kita pelajari caranya !" ajak Kailong.


" Sebentar ! rencanaku siang ini mencari lidah buaya roh, bagaimana kalau nanti malam kita tanya kakek ?" tawar Zuwen.


" ayo !" jawab Kailong.


Zujing tersenyum menguping percakapan mereka, lalu dia pergi ke perpustakaan keluarga Zu mengambil buku.


Kailong membawa pedang biru sedangkan Zuwen membawa pedang putih. Mereka lari cepat menuju daerah terluar yang berbatasan dengan alas atau hutan.


Zuwen dan Kailong tiba di pinggiran hutan. Penjaga hutan dari masing - masing keluarga bangsawan saling berinteraksi dengan baik atas nama satu kekaisaran.


" Tuan muda Wen ! hendak mencari apa ?" tanya penjaga dari keluarga Zu.


" Kami ingin mencari lidah buaya roh ! paman ! tolong antar kami ke lokasinya ! " pinta Zuwen.


Setelah berunding dengan penjaga yang lain, penjaga itu mengantar Zuwen dan Kailong memasuki hutan. Udara sejuk dan nuansa gelap,terang, gelap terang yang berputar memasuki mata siapapun yang masuk ke hutan.


Tiba di lokasi lidah buaya roh, Kailong terkejut, tumbuhan itu memang memendarkan cahaya, cahaya hijau tua, tumbuhan itu kaku ke atas dan ujungnya lancip. Tidak ada binatang yang mendekati tumbuhan itu.

__ADS_1


" Paman ! kami akan memangkas sendiri tumbuhan ini, tolong paman berjaga saja " pinta Zuwen.


" Lidah buaya ini tidak berbahaya, silahkan tuan muda memangkasnya" jawab paman penjaga.


" Kailong ! ayo ! siapa diantara kita yang paling banyak memangkasnya !" tantang Zuwen.


" ayov! " jawab Kailong.


Mereka berdua memangkas lidah buaya roh itu tanpa hambatan alias lancar. Siang berlalu, sore datang. Potongan - potongan lidah buaya roh itu mereka masukkan ke cincin ruang, mereka kembali ke rumah, menyerahkan lidah buaya roh kepada pelayan agar diolah menjadi bahan penumbuh lidah.


Malam hari, di ruang pengunjung.


Kailong dan Zuwen menemui Zujing yang sedang duduk - duduk. Melihat mereka datang, Zujing memulai percakapan.


" Zu Wen ! ada apa ?" tanya Zujing.


" Kakek ? kami ingin belajar cara memperkecil cincin ruang" jawab Zuwen.


" Iya kakek, ini sebenarnya keinginanku" sambung Kailong, agak takut - takut pada pelototan mata Zujing tempo hari.


" Kalian bocah ! sungguh pandai memanfaatkan orang tua !" canda Zujing.


" Kakek ! bagaimana ? adakah ilmunya ?" kejar Zuwen.


" Ini ! , aku sudah mempersiapkannya ! pelajari buku itu ! tanyakan langsung padaku ! jangan coba - coba praktik sendiri !" tegas Zujing.

__ADS_1


Zuwen menerima buku itu , lalu mengajak Kailong pergi.


__ADS_2