
Dalam keadaan mengamuk penuh, Zu Lei melesat ke langit. Seorang penumbuh tingkat puncak dengan cahaya hitam meliputi tubuhnya sedang melayang, berdiri dengan tegak, Iblis Kristal julukannya.
Tusukan Zu Lei ditepis, "Clang, Clang, Clang !" suara benturan dan gesekan tangan sekeras besi sedang beradu. "Crenk, krak, krek, krak,krek !" suara dada yang berlubang beserta tulang - tulang patah dan retak menggema.
" Sampah - sampah biadab !" seru Zu Lei, memandangi tubuh Iblis Kristal yang jatuh ke bawah.
"Cring, serr !" suara senjata rahasia tingkat atas sedang berputar dan mengebor permukaan punggung Zu Lei, kemudian cahaya setipis daun bawang, tetapi rapat mulai terlihat melapisi punggungnya. Satu, sepuluh, seratus, dan seribu senjata rahasia tingkat tinggi melesat cepat ke arah Zu Lei.
" Tabir Dewa Surya ! " seru Zu Lei.
Cahaya tipis di tubuh Zulei meluas dan menebal, tumbuh sedemikian rupa membentuk lingkaran tameng raksasa. Tameng itu berputar dan menggugurkan laju seribu senjata rahasia yang tercakup.
" Telapak Dewa Mencengkram Semesta ! " seru Zu Lei.
Angkasa beriak, angin bergejolak,
ratusan penumbuh tingkat tinggi di sepanjang garis pandangan Zu Lei tergenggam oleh pancaran tenaga sangat kuat kemudian meledak.
" Sampah ! " teriak Zu Lei.
Melihat bocah yang merintih kesakitan, Zu Lei dengan cepat turun menuju padanya. perut telapak tangan Zu Lei ditempelkan ke dada bocah itu.
" Telapak Dewa Menghalau Duka" bisik Zu Lei, lalu cahaya putih, hijau dan kuning memancar bergantian dari telapak tangan itu.
__ADS_1
" Telapak Iblis Membentuk Tubuh" bisik Zu Lei, lalu cahaya merah memancar dari telapak tangan itu. Tidak lama kemudian, Zu Lei menghentikan perbuatannya, mengamati tubuh si bocah.
" Paman, aku tidak sakit lagi !" ucap si bocah, lalu dia melihat ke sekelilingnya yang porak poranda, mayat - mayat tergeletak acak di tanah.
" Menangislah !" bujuk Zu Lei. Bocah itu menangis, dan memeluk Zu Lei.
" Menangislah sepuasmu !" bujuk Zu Lei.
Orang - orang berdatangan, menyaksikan keadaan itu. Ringkik - ringkik kuda mengisi kekosongan suara di puing - puing kediaman keluarga Kai.
" Tuan, aku Mu Bing ! pihak berwenang di daerah ini, aku memohon , Tuan sudi berkunjung ke gubukku ?" pinta Mu Bing.
" Tidak perlu, rawatlah bocah ini !" pinta Zu Lei. Bocah itu berhenti menangis.
Zu Lei diam, ada pikiran di depan wajahnya. Zu Lei penumbuh beladiri sejak kecil dan tebiasa sendiri sejak kecil.
" Boleh, tetapi katakan kenapa kamu ingin mengikutiku" pinta Zu Lei.
Wajah bocah itu lesu walau belum mengatakan apa - apa. Bocah menatap Zu Lei.
" Aku ingin ikut paman !" jawab bocah itu.
" Baiklah, itu cukup, hanya ingin, itu cukup" jawab Zu Lei. Bocah itu senang, ada kebahagiaan di depan wajahnya.
__ADS_1
" Tuan, sudilah mampir ke gubukku !" pinta Mu Bing.
" Ya, bocah ini juga lapar" jawab Zu Lei.
" Bocah, siapa namamu ?" tanya Zu Lei.
" Namaku Kai Long paman" jawab bocah itu.
" Kamu ingin menjadi orang biasa atau kultivator ?" tanya Zu Lei.
" Apa itu kultivator paman ?" tanya Kai Long.
" Kultivator adalah penumbuh satu kemampuan " jawab Zu Lei.
" Ya, aku ingin bisa terbang seperti paman !" seru Kai Long.
" Mu Bing, ambil cincin ruang mereka yang tersisa !" pinta Zu Lei.
Beberapa lama kemudian. Mu Bing memandu Zu Lei dan Kai Long menuju kediamannya. Zu Lei berjalan kaki menuntun kuda sedangkan Kai Long duduk di atasnya.
Di langit dengan ketinggian tertentu, seseorang mengawasi mereka, lalu
Zu Lei berbisik : " Tebasan ruang kosong ", lalu tangan orang itu terpotong, kemudian orang itu terbang dengan cepat.
__ADS_1
" Sampah di mana - mana" bisik Zu Lei lagi.