
Malam Hari Kediaman Ye.
Di dalam kediaman Ye, seorang bocah sepuluh tahunan sedang memegang papan hitam kotak mengkilap. Bocah itu menulis sesuatu di papan hitam itu, dia menulis kata " Bergerak...." lalu patung prajurit perang di depannya bergerak, dimulai dari kaki melangkah, diikuti tangan dan akhirnya berjalan menuju bocah itu dengan posisi akan menebasnya. Di belakang bocah itu ada Kakek dengan muka seram mengawasi si Bocah.
" Ye Guo ! " panggilan dari kakek muka seram itu dengan suara serak - serak menakutkan.
Jari - jari si bocah yang memendarkan warna kelabu dalam keadaan menggerakkan pena gaib itu berhenti bergerak, lalu bergerak lagi, hasilnya posisi patung yang akan menebas itu berhenti dalam keadaan mengangkat pedang.
" Hu ! hampir saja !" lega si bocah dengan nama Ye Guo.
" Hem, kamu terburu buru ingin melengkapi perintah pada patung itu ! apakah ini kemampuan prajurit tahap tiga ? " seru sang kakek, dengan suara serak - serak menakutkan.
" Hu ! kakek ! prajurit tahap tiga itu bisa apa ? fisik saja yang keras sementara kemampuan jiwanya rendah ! " balas sang bocah.
" Kamu tahu itu !" serak - serak suara kakek.
" Kakek ! aku harus segera menumbuhkan dianku ! jika tidak aku bisa lemas ! butuh banyak energi dan akal , sementara akal bawaanku tidak cukup luas" pinta Ye Guo.
__ADS_1
" Baik ! besok kita cari sumber daya ! " jawab si kakek, lalu mengeluarkan energi kelabu membawa Ye Guo keluar dari ruangan seram itu.
Kakek seram ini adalah Ye Zheng, Kultivator tahap dewa dari keluarga Ye.
Malam Hari : Kediaman Keluarga Ming.
Suara seruling tunggal sedang diperdengarkan oleh seorang bocah dengan usia sepuluh tahunan. Seruling itu membawa suara dengan semangat gembira, seakan - akan orang yang mendengarkan ingin kembali ke masa kanak-kanak, berlarian mengejar layangan dan berhasil mendapatkannya.
Tepuk tangan dari pengunjung mulai menggema, ramai, lalu berhenti.
" Betul , tuan muda Ming sangat terampil" puji pengunjung lainnya. Pokoknya banyak pujian datang dari pengunjung.
" Ingin rasanya main layangan lagi !" seru pengunjung lain.
" Ayoh !" ajak pengunjung yang lain.
Bocah itu berjalan ke belakang panggung , di sana sudah ada seorang pria dengan usia empat puluh tahunan.
__ADS_1
" Ming Tao ! lumayan ! kamu bisa mempengaruhi mereka dengan serulingmu !" kata si pria.
" Terima kasih Ayah, seandainya aku bisa menumbuhkan jiwa telinga dan dianku maka hasilnya lebih dari ini " jawab si bocah.
" Pelan - pelan, terlalu cepat tidak baik, terlalu lambat juga tidak baik, sementara tengah - tangan itu susah ! sebagai seniman, kita tidak bisa hanya sekedar mengejar hasil, proses dan emosi sangatlah penting !" petuah sang ayah.
Malam Hari : Kediaman Yang.
" Yang Yue ! sudahlah ! nanti energimu habis, badanku sudah terasa enak !" saran seorang nenek yang rebahan dikursi panjang lebar. Nenek itu bernama Yang Lin, sedang menjajal keterampilan Yang Yue yang berusia sepuluh tahunan.
" Nenek ? bagaimana pusingnya ? apa sudah mendingan? tanya Yang Yue, suaranya seperti suara kanak - kanak yang harus dituntun sepanjang waktu.
" Sudah ! kamu tinggal menumbuhkan jiwamu, nenek dengar bahwa bocah - bocah nakal dari keluarga lain sudah mencapai tahap tiga prajurit , sama dengan kamu, jika kamu tidak punya keunggulan lain, maka sebagai perempuan yang akan tumbuh dewasa dengan cantik akan begitu merepotkan " puji Nenek Yang Lin kepada cucunya sendiri.
" Aku tidak takut ! jika mereka berani akan ku hajar !" tegas Yang Yue.
" Kamu masih kanak - kanak, belum tahu hati lelaki itu seperti apa, tak ada salahnya siaga dan waspada" nasehat sang nenek untuk cucunya sendiri.
__ADS_1