Di Atas Dewa Pedang

Di Atas Dewa Pedang
Giok Merah Menggila


__ADS_3

Hari Ke - 8 : Malam Hari : Dapur Zu


Aroma ayam panggang masuk ke hidung Kailong. Dia menghirupnya dengan kuat. Aroma itu menggetarkan pangkal hidung dan tenggorokan Kailong. Giok merah di dalam cincin ruang memberi tanggapan pada aroma itu, jadinya, sebagian aroma masuk ke cincin ruang dengan cepat.


Kolam merah di pusar ' wadah energi' Kailong be-riak, berputar lalu membentuk pusaran,menyedot aroma dari ayam panggang tingkat " Dewa". Energi merah merambat dan bercampur dengan darah Kailong,sehingga membuat tubuh Kailong kaku sedikit demi sedikit.


Zubeng menyangka kekakuan Kailong itu disebabkan oleh kekaguman Kailong pada ayam panggang spesial masakannya.


Energi merah bocor keluar dari giok merah, dengan cepat melesat kemudian memasuki lubang hidung dan telinga Kailong. Tangan Kailong yang sedang memegang pintu lemari mencengkram kuat pintu lemari itu, menahan rasa aneh yang terjadi di dalam tubuhnya.


Kailong mulai menggeliat - geliat menahan keri yang sangat di dalam tubuhnya.


" Pam ... Pam ... An ... Akhh !" panggilan setengah jadi dan teriakan dari Kailong yang tidak dapat menahan kedahsyatan keri mulai menggema ke seluruh penjuru Kediaman Zu.

__ADS_1


Zubeng mendekat dan mendekap Kailong yang terus bergerak - gerak dan menjerit - jerit. Di dalam dekapan Zubeng, Kailong kejet - kejet menahan keri.


Energi merah secara gaib ' tanpa terlihat mata ' berputar - putar di dalam tubuh Kailong seperti putaran angin lesus yang sangat kecil dengan putaran yang sangat cepat.


Zujing, Zuwen dan orang - orang di Kediaman Zu berdatangan ke dapur, menyaksikan Kailong yang menggeliat acak, ditahan Zubeng.


Energi merah berpendar mulai dalam sampai luar tubuh Kailong secara gaib 'tidak terlihat mata', kemudian meluas ke sekitarnya. Zubeng merasa digelitiki secara terus - terusan, begitu juga orang - orang yang hadir di dapur, maupun di sekitarnya.


Energi merah bocor dan meluas secara gaib, orang - orang tergelitik intens dan berlarian.


Tanpa menentukan arah, Kailong bergerak ke Utara menuju pusat keramaian kota Kekaisaran Cahaya. Energi merah yang bocor semakin meluas, di mulai dari Kediaman Zu, lalu ke selatan ke arah hutan, sedangkan Kailong berlarian cepat ke Utara.


Penduduk yang terdiri dari orang awam 'bukan kultivator' di sekitar Wilayah Zu merasakan keri 'digelitiki'. Pusat keramaian kota, penduduknya juga merasakan keri 'digelitiki'.

__ADS_1


Energi merah yang saat ini menyebabkan keri 'serasa digelitiki' mulai menyebar ke Wilayah keluarga Yang, Fang, Sun, Tang, dan Ming di timur.


Energi merah juga menyebar ke Wilayah Keluarga Wu, Li, Jian, dan Ye di barat .


Energi merah yang di bawa Kailong mulai meluas ke Akademi dan Istana Kekaisaran Cahaya, kemudian ke Utara menyebar ke Wilayah Keluarga Xie, dan Xia.


Kekaisaran Cahaya bergetar, orang - orangnya. Suara orang - orang yang merasakan keri 'serasa digelitiki ' mulai berdengung.


Energi giok merah yang menyelubungi Kekaisaran Cahaya secara gaib'tidak terlihat mata' semakin tebal.


Kailong yang berlarian acak mengambil jimat yang diberikan Zulei. Dalam keadaan menahan keri yang intens itu, Kailong membakarnya.


Garis - garis dengan pola rumit, tetapi rapi mulai bersinar, melebar ke empat arah mata angin. Sebagian garis cahaya melesat ke arah Kailong dan membalutnya, mulai badan, kepala, kaki dan seluruh tubuh Kailong.

__ADS_1


Akhirnya Kailong terselubungi oleh kepompong cahaya yang alot sebagai perisai. Pola rumit itu membentuk garis seperti jaring laba - laba yang luas, dan kepompong cahaya pelindung Kailong sebagai pusatnya.


__ADS_2