Di Atas Dewa Pedang

Di Atas Dewa Pedang
Pemantapan Tubuh Dan Tenaga


__ADS_3

Bangun tidur,Kai Long menyesuaikan peningkatan tenaga dan kekebalan tubuhnya. Bergerak mengikuti jurus - jurus dari "Buku Dewa Pedang", Kai Long terlihat seperti angin yang menggerakkan arah jatuh dedaunan.


Pedang khayalan dicabut, menangkis, memutar, menarik, lalu menusuk dengan kecepatan di atas praktisi beladiri non kultivator. Berat pedang biasa tidak masalah bagi Kai Long, tetapi pengalaman mencabut, memutar, menarik, lalu menusuk tidak bisa dirasakannya. Melihat itu Zu Lei melemparkan pedang kayu pilihan pada Kai Long.


" Berlatihlah dengan pedang kayu itu, kayu itu tidak mudah patah, tetapi jika berbenturan dengan pedang mustika tingkat puncak, dengan tenaga yang sama, maka akan patah" terang Zu Lei.


" Paman ! aku suka pedang ini ! warnanya mengkilap !" jawab Kai Long.


" Sudah saatnya kamu membuka lembar selanjutnya dari buku itu, pelajari sebelum menjelajah ke belakang gua ! " perintah Zu Lei.


" Baiklah paman !" jawab Kai Long.


Kai Long membuka buku Dewa pedang. Ada puisi di bagian atas halaman :


" Tajam tidaklah kuat "


" Kuat adalah kena"


" Tumpul tidaklah lemah"


" Lemah adalah pasrah"


" Kena adalah aku"


" Pasrah adalah kamu"


Kai Long membaca puisi itu dengan suara yang keras, kali ini Zu Lei tidak tertawa. Kai Long menoleh ke arah Zu Lei.

__ADS_1


" Paman tidak tertawa ?" tanya Kai Long.


" Tidak, kali ini suaramu agak pas,mungkin karena puisi itu bertema semangat, kamu bisa merasakannya dengan tepat" jawab Zu Lei.


Lalu Kai Long membaca anak judul di bawah puisi itu.


Lima tekad pelajar pedang :


" Diam dan awas"


" Bergerak dan bebas"


" Samar melebihi gelap"


" Terang melebihi cahaya"


Lagi - lagi membaca baris terakhir itu Kai Long menoleh pada Zu Lei.


" Paman ? ragu dan yakin ini apakah bisa di gunakan untuk bertarung ? tanya Kai Long.


" Ya, itu bisa digunakan untuk bertarung" jawab Zu Lei singkat dan tegas.


" Kamu belum punya jurus untuk kabur dengan cepat, bukalah halaman berikutnya dari buku itu, lalu pelajari !" suruh Zu Lei.


Kai Long membuka halaman selanjutnya, dan tertulis :


" Langkah Dewa Meninggalkan Iblis"

__ADS_1


Lima langkah dewa meninggalkan Iblis :


Lari cepat tahan cepat


Belok cepat lurus cepat


Lari lambat tahan lambat


Belok lambat lurus lambat


Lompat tinggi turun rendah


Setelah membaca itu, Kai Long menoleh ke Zu Lei.


" Paman ? mana puisinya ?" tanya Kai Long.


" Bagian itu memang kosong, cepat berlatih !" perintah Zu Lei, lalu dia segera menghilang.


Kai Long mulai berlatih ilmu kabur cepat. Empat jam kemudian, Kai Long sudah berhasil membiasakan diri dengan rumusan itu, tinggal praktik di medan yang berliku.


Tubuh Kai Long ada di tahap tiga kultivator pelajar, wadah tenaganya ada di tahap pertama kultivator prajurit, kemampuan bertarungnya mencapai tahap tengah dari " Buku Dewa Pedang" dengan miskin pengalaman, lari cepatnya baru tahap pembiasaan "Langkah Dewa Meninggalkan Iblis".


Kai Long melompat dan meliuk - liuk menuju belakang gua ke arah kolam teratai es. Di turunan, Kai Long lambat, cepat, lambat, sedangkan di tanjakan , Kai Long cepat, lompat, lambat,lompat, semua itu untuk menghemat tenaga.


Tibalah Kai Long di kolam teratai es, burung putih bertengger di daun teratai.


Kai Long melepas pakaiannya kecuali celana dalam. Kai Long terus mengalirkan arus tenaga dari luar untuk disimpan di wadah tenaganya. Wadah tersebut terletak di pusar jika dilihat dari luar. Seluruh tubuh Kai Long berpendar dengan cahaya putih susu yg samar, kulitnya semakin halus dan lembut.

__ADS_1


__ADS_2