Di Atas Dewa Pedang

Di Atas Dewa Pedang
Diskusi Sungguh - Sungguh Oleh Pemula


__ADS_3

Siang hari di kediaman keluarga Zu.


" Ayo Kailong ! apa kultivasi menurutmu ?" tanya Zuwen.


" Aku tidak tahu, aku hanya ingat kata - kata paman ! dua dunia adalah sepuluh dunia dan dua dian adalah hati dan akal !" jawab Kailong.


Mendengar itu Zuwen diam, ada pikiran di depan wajahnya.


" Apakah pamanmu menjaskannya ?" tanya Zuweng penasaran.


" Paman menjelaskan panjang sekali , aku lupa. Aku hanya ingat bahwa semua itu dunia !" jawab Kailong.


" Coba ingat - ingat lagi !" Zuwen sangat penasaran.


Di dalam suatu ruangan Zujing tersenyum, menguping dengan santai pembahasan kedua bocah pemula itu, sambil menikmati teh sepat, dan makanan ringan.


" Kalau tidak salah paman berkata : Mata adalah dunia, telinga adalah dunia, tangan adalah dunia, kaki adalah dunia, hidung adalah dunia, dan lidah adalah dunia " jawab Kailong.


Zuwen diam lagi, ada pikiran di depan wajahnya.


" Cobalah ingat - ingat lagi ! aku akan membelikan pedang untukmu !" bujuk Zuwen.


" Benarkah ? aku ingat sekarang !" sambung Kailong.


Di dalam ruangan itu, Zujing menyemburkan tehnya saat mendengar kata - kata Kailong "aku ingat sekarang".

__ADS_1


" Bukankah aku yang akan keluar uang ?" bisik Zujing.


" Tadi dunia pertama, dan dunia ini ada lima, oh ya, dunia pertama adalah dunia tubuh sedangkan dunia kedua adalah dunia jiwa. Dunia jiwa ini ada lima, dunia pengelihatan , penciuman , perabaan, perasa dan pendengaran " ingat Kailong.


Zuwen diam, ada pikiran di depan wajahnya.


" Aku mulai mengerti teori ini , bukankah kedua dunia ini harus terhubung ? jika kedua dunia ini putus maka jasad keras tidak berguna atau berguna tapi lemah " jawab Zuwen.


" Itu juga kata - kata paman, jadi kan belikan aku pedang ?" tagih Kailong.


" Ya aku akan minta uang ke kakek nanti " tegas Zu Wen.


Di dalam ruangan itu Zujing mendesah sambil mengelus - elus jenggot putihnya.


" Berarti kultivasi adalah menumbuhkan " tegas Zuwen.


" Kailong ! ayo kita bertanding !" ajak Zuwen.


" ayo !" jawab Kailong.


Mereka berdua pergi ke lapangan beladiri keluarga Zu, lapangan itu sangat keras dan luas, cukup untuk menampung ribuan pasukan.


Zuwen memukul dan Kailong menangkis, begitu seterusnya sampai keduanya lelah.


" Kailong ! tubuhmu keras !" kata Zuwen.

__ADS_1


" Sama, tubuhmu juga keras !" jawab Kailong.


" Ayo lomba lari !" ajak Zuwen.


" Ayo !" siap Kailong.


" Satu ! dua ! tiga !" kata Zuwen.


Zuwen lari cepat, Kailong lari cepat, mereka sejajar dan setara dalam kabur cepat. Akhirnya mereka sama - sama berhenti.


" Zuwen ! Kailong ! hentikan pertandingan ! kemari !" panggil Zujing dengan nada yang mantap dengan membawa pedang bersarung biru.


Kedua bocah itu segera mendekati Zujing.


" Kailong ! kamu tinggal di gunung es, ini pedang tenaga es, terimalah sebagai bayaran dari Zuwen !" Zujing melotot pada Zuwen yang malu - malu.


" Terima kasih kakek !" jawab Kailong dengan mengulungkan tangan ke pedang biru itu.


" Sebentar lagi akan ada pertemuan para keluarga bangsawan, dan biasanya akan ada pameran pertandingan dari generasi muda, jadi sering - seringlah kalian berlatih ! tapi jangan sampai terluka ! " tegas Zujing.


" Ya kakek !" jawab kedua bocah itu.


Sementara itu di kediaman keluarga Jian, seorang bocah bernama Jian Chen sedang berlatih memutar tenaga dalam di dalam tubuhnya. Di sampingnya ada pria delapan puluh tahunan bernama Jian He


" Cucuku ! santailah ! jangan terlalu memaksakan diri !" pinta Jian he.

__ADS_1


" Tidak apa - apa kek ? ini masih dalam wilayah kemampuanku" jawab Jian Chen.


Persiapan untuk pertemuan keluarga bangsawan juga sudah dimulai oleh keluarga bangsawan lainnya.


__ADS_2