Di Atas Dewa Pedang

Di Atas Dewa Pedang
Rasanya Seperti Tidak Gagal Bersin


__ADS_3

Malam Hari : Kediaman Zu


Kailong dan Zuwen kembali ke Kediaman Zu dalam keadaan tubuh mereka segar - bugar. Kailong duduk bersila di kamarnya untuk mengisi wadah energi dengan menyerap qi bumi dan langit. Dua jam kemudian Kailong mencari Zubeng untuk berlatih memasak.


Di dapur, Zubeng sudah mempersiapkan peralatan dan bahan latihan memasak.


" Paman, aku datang !" kata Kailong.


" Masuk !" jawab Zubeng.


" Lihat bahan masakan ini ! Bagaimana menurutmu ?" tanya Zubeng.


Kailong melihat bahan masakan itu, ada ayam hidup, sayuran, dan bumbu - bumbu mengkilap seterang bintang. Melihat itu, Kailong diam, ada pikiran di depan wajahnya.


" Paman, apakah ayam itu juga harus kurasakan ?" tanya Kailong, menunjuk ayam hidup dengan telapak tangan kanan, sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan kiri.


" Iya, tetapi dalam keadaan setelah disembelih" jawab Zubeng dan tersenyum.


" Kailong, apa perbedaan antara bahan obat dan bahan masakan ?" tanya Zubeng.


" Beda Paman, bahan obat untuk melawan penyakit dan bahan masak untuk melawan lapar !" mantap Kailong.


Mendengar itu, Zubeng serba - salah.

__ADS_1


" Bagus, kamu tahu perbedaan, yang aku sendiri, baru tahu sekarang" puji Zubeng.


" Apa perbedaan lainnya ?" susul Zubeng.


" Apa, ya, Paman ?" mandeg Kailong.


" Bahan obat untuk memperbaiki tubuh, sedangkan bahan masak untuk mempertahankan tubuh" jelas Zubeng.


" Apakah orang lapar akan kenyang kalau diberi makan obat ? " tanya Zubeng.


" Tidak, Paman !" jawab Kailong.


" Tetapi, Kalau makan, orang sakit akan sembuh kan, paman ?" tanya Kailong.


" Kailong, itulah gunanya bahan masakan, terkadang bisa menjadi obat, tetapi bahan obat tidak bisa menyembuhkan lapar, karena lapar bukanlah penyakit" terang Zubeng.


" Siapa bilang ? Walaupun Kultivator dapat mengatasi kelaparan dengan Qi, sifat dasar tubuh mereka tidak akan hilang !" mantap Zubeng.


"Maksud Paman adalah lapar kan" Jawab Kailong.


" Betul, jika tidak, mereka tidak akan selalu mencari sumber daya untuk pengisian wadah energi dan penumbuhan dunia mereka" jawab Zubeng.


" Aku paham sedikit, paman !" jawab Kailong.

__ADS_1


" Sudahlah, semua bahan masakan ini, rekam rasanya !. Aku akan kembali nanti, oh, iya, sembelih ayam itu dengan cepat ! " pinta Zubeng.


Kailong mulai mengenali bahan masakan itu. Selain ayam, semua bahan masakan itu tumbuhan.


Kailong menyembelih ayam, kemudian mengolahnya sehingga tersisa bagian yang bisa dimakan. Setelah itu Kailong mulai mengolah bahan yang berupa tumbuhan, dimulai dari membersihkan.


Semua bahan masakan sudah terolah, tertata dan bersih. Kailong mulai merasakan bahan masakan dari jenis tumbuhan dengan lidahnya, setelah itu Kailong merasakan ayam olahan.


" Bagaimana Kailong ?" tanya Zubeng.


" Aku sudah dapat merasakan bahan masakan ini paman" jawab Kailong .


" Oh, iya, Kailong, bahan mentah dan bahan mentah yang terkena api itu rasanya berbeda. Cobalah perubahan rasa dengan berbagai macam cara !" pinta Zubeng.


Kailong mulai memanaskan bahan masakan dari jenis tumbuhan, kemudian ayam olahan. Dia merasakan semua bahan masakan yang telah dipanaskan itu. Tidak lama kemudian , Zubeng bertanya, " Bagaimana Kailong ?".


" Rasanya beragam Paman, manis, asam, asin dan pahit !" simpul Kailong.


" Apa hanya itu ?" tanya Zubeng.


" Ada rasa lain, banyak sekali !" jawab Kailong.


" Baik, aku anggap kamu telah selesai merekam semua rasa bahan masakan itu di lidahmu" kata Zubeng.

__ADS_1


" Setelah mengenal rasa, sekarang kita masuk tahap mengolah bahan masakan. Makanlah makanan di lemari itu, kenali rasanya, lalu masaklah bahan masakan dengan rasa yang sama dengan makanan itu" perintah Zubeng.


Kailong mendekati lemari itu, lalu membukanya. Aroma ayam panggang tingkat " Dewa" langsung membuat Kailong bersin, seperti bersin akibat menghirup aroma sambal digoreng, melainkan aroma pedas yang menggaruk hidung.


__ADS_2