Di Atas Dewa Pedang

Di Atas Dewa Pedang
Semua Yang Hidup Bisa Kultivasi


__ADS_3

Malam Hari Di Kediaman keluarga Zu.


Kai Long berada di kamarnya sendiri , tepat di depan kamar Zuwen, posisi kamar diminta oleh Zuwen dengan pikiran bahwa kelakuan Kailong masih belum terbiasa dengan tata hidup dan pola perilaku para bangsawan. Ringkasnya, Zuwen ingin memperkenalkan etika bangsawan dan pergaulan para bangsawan pada Kailong, sekaligus Zuwen ingin makan secara bar - bar (tidak pakai etika makan bangsawan) di dalam kamar Kailong.


Kai Long bersila mengisi wadah tenaga di pusarnya. Di dunia Kailong ini tenaga diperoleh dari Qi (gaz) yang berasal dari tanah dan dari udara , biasa di sebut Qi langit dan Qi bumi. Tubuh kultivator sudah punya tenaga bawaan sejak lahir, tenaga bawaan ini ada yang kuat dan ada yang lemah, lalu keduanya bisa diperbanyak dengan bantuan dari luar dengan cara tertentu, misalnya memakan suatu tumbuhan, dan di dunia Kailong ini ada satu Qi yang unik dan langka disebut Qi Merah, lalu apa guna Qi Hong itu ?


Kailong telah selesai mengisi tenaganya, lalu dia mengambil giok merah yang diberikan Zulei. Dia menggosok giok merah bundar pipih itu dengan ibu jarinya. Tidak ada tanggapan apa - apa dari giok merah sebab aksi Kailong itu.


Kailong menempelkan giok merah di dahinya, lalu memunculkan titik hitam kemerahan yang tersembunyi di dahinya itu. Tidak ada reaksi dari giok merah. Tidak lama setelah melakukan itu ada ketukan pintu.


" Kailong ! ayo diskusi !" ajakan setengah memohon ini datang dari Zuwen, memang keluarga Zu ini terkenal dengan haus ilmu pengetahuan.


Di dalam kamar , Kailong melihat giok itu berpendar merah sebanyak tiga kali. Mata Kailong terbelalak, penasaran. Kailong lalu memasukkan giok itu ke cincin ruang yang ada di kantongnya.


Kailong membuka pintu lalu duduk di kursi depan meja belajar, begitu juga Zuwen.

__ADS_1


" Kailong ! aku ingin menumbuhkan lidahku !" kata Zuwen.


" Apakah kamu ingin mengeraskannya sekeras logam ?" tanya Kailong.


" Kuat sekeras logam boleh tapi juga harus lentur dan berfungsi lebih baik dari sifat bawaannya" tegas Zuwen.


" Iya, aku juga tidak mau memasukkan potongan besi ke mulutku lalu ku bawa ke mana - mana" dukung Kailong.


" Benda apa yang digunakan untuk menumbuhkan lidah ini ? " tanya Kailong.


" Bermacam - macam, kata paman Zu beng" jawab Zuwen.


" Dia kultivator dewa, juga seorang pemasak keluarga kami !" jawab Zuwen. Kailong diam, ada pikiran di depan wajahnya.


" Paman Zu beng mengatakan bahwa menumbuhkan lidah bisa didukung oleh tanaman lidah buaya yang memiliki arwah" jawab Zuwen.

__ADS_1


" lalu bagaimana cara menggunakannya ?" tanya Kailong.


" Itu di cuci, direbus, air rebusan diminum, dagingnya kita tempelkan di lidah kita selama semalam" jawab Kailong.


" Apakah tidak kasihan merebus arwah itu ?" tanya Kailong.


"kak kak kak" Zuwen tertawa cekakaan mendengar itu. Kailong menatap Zuwen dengan penasaran.


" Arwah atau roh itu maksudnya bukan nyawa atau jiwa seperti jiwa kita. Itu istilah untuk tumbuhan tertentu yang dagingnya memancarkan cahaya " terang Zuwen.


" Tapi apakah tumbuhan bisa berkultivasi ?" tanya Kailong.


" Semua yang hidup bisa kultivasi" jawab Zuwen, wajahnya menunjukkan keraguan dan penasaran.


" Di mana kita mencari benda itu ?" tanya Kailong.

__ADS_1


" Besok aku akan mengajakmu ke alas di belakang rumah, kata paman Beng lidah buaya roh ini, banyak di sana" jawab Zuwen.


Zuwen pergi , menutup pintu, sedangkan Kailong berusaha untuk meredakan rasa penasarannya terhadap giok merah.


__ADS_2