Di Atas Dewa Pedang

Di Atas Dewa Pedang
Percakapan Tiga Dewa Di Gunung Es


__ADS_3

"Belut putih ! apakah kamu tahu kenapa Kai Long dipaksakan turun gunung seperti itu ?" tanya burung putih.


" Aku tidak tahu tapi aku bisa menebak - nebak, apakah kamu masih ingin tahu ?" jawab Belut putih.


" Katakan saja ! rumor lebih baik dari pada tidak waspada !" seru burung putih.


" Tuan Zu beberapa kali didatangi orang - orang dari luar gunung es. Orang - orang yang datang itu semuanya merobek kekosongan ! kamu tahu apa artinya ini ? mereka semua di atas tingkatan kita, tingkat di atas dewa !" terang Belut putih.


" Apa hubungannya dengan Kai Long ?" tanya burung hitam.


" Apakah kamu tahu ? tetua Zu selalu menemui mereka di luar gunung es ! kamu tahukan, Kai Long jarang turun gunung, dia selalu main - main di gua bagian belakang. Tetua Zu berusaha menyembunyikan Kai Long sebagai orang yang diperdulikannya ! " terang Belut putih.


" Apakah orang setingkat mereka akan mengganggu Kai Long ?" tanya burung hitam.


" Nereka sendiri tidak akan mengganggu, tapi bawahan mereka, siapa yang menjamin tidak akan mengganggu ?" tarik belut putih.


" Apa kamu masih ingat dandanan mereka ?" tanya burung putih.


" Yang paling ramah tapi agak ketus adalah seorang wanita dewasa dan bocah perempuan, si wanita dewasa terselubung cahaya biru pekat, sedangkan bocah perempuan itu sangat lucu, dijamin cantik kalau dewasa !" terang Belut putih.

__ADS_1


" Di mana bagian ketusnya ?" tanya burung putih.


" Dia bilang begini pada si bocah perempuan : " Lan - Lan ? hafalkan wajah dan gerak - gerik tua bangka ini ! dialah lelaki yang menyakiti hatiku ! gurumu ! hanya demi wanita iblis !" cerita belut putih.


" Sungguh wanita yang ketus, wanita ketus biasanya menggemaskan !" ucap burung hitam, dengan wajah tenang seakan - akan tiada seorangpun wanita di dekatnya.


" Ya ! wanita ketus amat menggemaskan !" tambah belut putih. Burung putih diam, ada kebingungan di depan wajahnya.


" Terus siapa lagi ?" tanya burung putih.


" Yang paling galak dan sengit adalah seorang wanita juga" jawab belut putih.


" Betul ! sebagai lelaki aku juga mengakui cara tetua Zu cari perhatian " kagum belut putih. Burung putih diam, ada kebingungan di depan wajahnya.


" Lalu siapa lagi ?" tanya burung putih.


" Yang paling tidak jelas juga seorang perempuan !" jelas belut putih.


" Sungguh tuan Zu, aku akan mengikuti daomu dalam hal ini" mantap burung hitam.

__ADS_1


" Betul ! dao tuan Zu ini harus kita ikuti jika kita masih mengaku sebagai laki - laki !" kata belut putih.


" Aku rasa tuan Zu ini laki - laki yang plin - plan, sana suka, sini suka, tidak mau menolak salah seorang dari mereka" tanggap burung putih.


" Jika plin - plan bisa menarik wanita seperti mereka, dao plin - plan ini harus aku lakukan !" tegas burung hitam.


" Betul ! dao plin - plan ini harus aku lakukan juga !" mantap belut putih.


" Kalian ! dasar bodoh ! plin - plan bukan dao !" bantah burung putih.


" Begitu ? tapi aku tetap akan menempuhnya, jika ini bukan dao, maka aku akan menamakannya jalan" tegas burung hitam.


" Jalan plin - plan ? nama ini ringan diucapkan dan nyaman didengar, kali ini aku akan ikut istilahmu !" mantap belut putih.


" Kalian laki - laki semuanya begitu ! mau yang mudah - mudah !" kata burung putih lalu dia melesat pergi.


" Hah, ternyata aku benar, dia jual mahal padaku" kata burung hitam.


" Yah ! itu masalahmu, kalian yang satu jual mahal dan yang satu membeli, apa yang perlu diperkarakan ?" tegas belut putih.

__ADS_1


__ADS_2