Di Atas Dewa Pedang

Di Atas Dewa Pedang
Bocah - Bocah Penasaran


__ADS_3

Di kamar Zuwen, Zuwen membaca buku itu, sedangkan Kailong bersila dan memutarkan tenaga keseluruh tubuhnya. Beberapa lama kemudian.


" Menurutku, pengetahuan dari buku ini dapat diringkas menjadi dua : bahan cincin ruang dan kendali cincin ruang" jelas Zuwen.


" Bahan bisa apa saja asal kuat, biasanya pakai batu ruang" sambung Zuwen.


" Batu ruang itu apa ?" tanya Kailong.


" Itu istilah untuk menyebut bahan yang sangat kuat dan cocok dengan energi penyesuaian" jawab Zuwen.


Kailong diam, ada pikiran di depan wajahnya. Sementara itu Zujing yang sedang menguping tersenyum.


" Apa ciri energi penyesuaian itu" tanya Kailong.


" Cirinya adalah energi itu berwarna ungu" jawab Zuwen.


" Apa ada ciri lain ?" tanya Kailong


" Hanya itu" jawab Zuwen

__ADS_1


" Lalu kita harus berbuat apa untuk mengecilkan cincin itu ?" tanya Kailong.


" Seandainya kita punya energi penyesuaian maka akan mudah mengecilkan cincin" harap Zuwen.


Kailong diam, ada pikiran di depan wajahnya.


" Sudahlah ! pusing sendiri ! kita jajal saja lidah buaya roh itu !" ajak Zuwen.


Zuwen berteriak memanggil pelayan yang segera mengantar olahan lidah buaya roh. Satu baki untuk Zu Wen dan satu baki untuk Kai Long.


Mereka mulai minum rebusan lidah buaya roh, lalu menempelkan daging lidah buaya roh ke lidah mereka. Mereka bersila dengan tenang mengolah lidah buaya roh sampai pagi.


" Lidahku biasa saja, seperti tidak ada perubahan apa - apa" jawab Kailong.


" Mungkin bahan ini terlalu rendah bagimu !" kata Zuwen.


Kailong kembali ke kamarnya. Dia kecewa belum bisa mengecilkan cincin ruang itu.


" Energi penyesuaian, tandanya berwarna ungu, berarti setiap ada tumbuhan , binatang, atau batu yang berwarna ungu, aku harus menyerapnya " bisik Kailong.

__ADS_1


" Sebaiknya aku menjelajah hutan lagi nanti" bisiknya lagi.


Kailong dan Zuwen berangkat ke akademi, belajar sampai siang hari.


Siang Hari Hutan Belakang Rumah Zu.


Kailong sendirian memasuki hutan. Penjaga sudah mengenalnya dan hanya berpesan jangan masuk terlalu dalam.


Kailong memasuki hutan dan terus mendekati setiap benda atau tumbuhan yang berwarna ungu, entah bercahaya atau tidak bercahaya benda itu.


Terus Kailong masuk lebih dalam, dia mengambil batu berwarna ungu. Cincin ruangnya bergerak - gerak. Kailong mengambil cincin ruang itu, dan dikagetkan oleh batu ungu yang tiba - tiba masuk ke dalam cincin ruang.


Kailong memasukkan tenaganya ke dalam cincin ruang dan mencoba merasakan kehadiran batu ungu itu, batu ungu tidak lagi berwarna ungu tapi abu - abu.


Kailong mengeluarkan giok merah, kali ini ada suara samar, suara batu - batu dari kejauhan yang menabrak batang pohon atau menembus dedaunan, dengan kecepatan yang cukup membuat kepala normal benjol.


"Krasak, thak, krasak, krasak, thak" suara banyak batu dengan irama yang acak, lalu batu ungu dari berbagai arah beterbangan ke arah Kailong, kemudian menempel di giok merah. satu, sepuluh, dan seratus batu lebih, Kailong melepas giok merah itu lalu menjauh, sambil menghindari serangan batu otomatis itu. Lebih dari seratus batu ungu menutupi giok merah.


Batu - batu ungu itu berubah warna menjadi abu - abu. Kailong heran. Aktifitas giok merah berhenti , tidak ada batu melayang lagi.

__ADS_1


Kailong mengambil batu giok merah, dan membawa tiga batu abu - abu. Bertemu penjaga, Kailong bertanya padanya. Menurut penjaga, itu batu abu - abu biasa, bahan bangunan rumah. Lalu Kailong bertanya tentang batu ungu di dalam hutan. Penjaga mengatakan batu ungu itu biasa dibuat bahan untuk penghias lampu.


__ADS_2