
Setelah bertemu dengan Zulei, Kailong merasa lega tetapi juga sedih, karena tidak dapat manja pada seseorang. Apabila di dekat Zulei, semanja - manjanya Kailong,akan ada orang yang mengendalikan, dan memberi petunjuk hal apa yang harus dilakukan. Berbeda dengan saat Zulei tidak di sampingnya, Kailong seperti kekurangan suatu hal.
" Kailong dari mana ?" tanya Zubeng, memperhatikan Kailong lesu memasuki kediaman.
" Dari Hutan paman, berenang di kolam air terjun ?" jawab Kailong.
" Ayo ! ikut aku ke dapur !" ajak Zubeng.
Kailong enggan - engganan tetapi ikut juga, sungkan.
Di dalam dapur Kediaman Zu, ada beberapa orang yang masih beraktifitas di malam hari. Tukang penyedia bahan sedang memilih bahan masakan, tukang peralatan sedang mendandani dan membersihkan peralatan masak. Binatang yang dimakan oleh keluarga Zu adalah hewan ternak bukan binatang roh, karena binatang roh terdapat di Gunung Berapi yang terletak di utara kekaisaran, di sana juga ada binatang buas roh.
" Kailong ? apa kamu ingin belajar memasak ?" tanya Zubeng.
Kailong diam, ada pikiran di depan wajahnya, kelesuan hilang begitu saja ketika membayangkan makanan roh yang sangat menggelitik bagian dalam tubuh itu.
" Mau paman !" mantap Kailong, dengan bayangan, makan enak.
" Menjadi pemasak itu mudah asalkan kamu punya lidah !" jawab Zubeng.
" Aku punya !" jawab Kailong , langsung.
__ADS_1
" Kamu sudah tahu bahwa lidah juga bisa ditumbuhkan kan ?" tanya Zubeng.
" Ya, Aku tidak tahu apa manfaatnya paman ?" balas Kailong.
" Duduklah ! aku akan menceritakan sesuatu kepadamu" pinta Zubeng.
Mereka berdua duduk hampir bersamaan.
" Rasa adalah sesuatu yang sulit diukur. Satu masakan yang terolah dengan standar yang baik, pasti memiliki dua status, enak dan tidak enak !. Kamu sudah pernah makan masakanku, bagaimana menurutmu ?" tanya Zubeng, menjajal pendapat Kailong.
" Enak paman !" jawab Kailong.
" Terima kasih atas pendapatmu. Bagi pemasak, mendapatkan pujian " enak" adalah segalanya, dan mendapat celaan "tidak enak" sangat dihindari !" susul Zubeng.
" Em, tidak apa - apa kan paman ?" tanya Kailong.
" Apanya yang tidak apa - apa ?" balik Zubeng.
" Masak tidak enak" tegas Kailong.
" Itu masalah ! Kailong, kenapa masak harus enak ?" tanya Zubeng.
__ADS_1
" kalau tidak enak, aku tidak mau makan !" jawab Kailong.
" Nah itu dia ! pemasak yang masakannya tidak enak maka masakannya akan tidak dimakan, dan itu menyia -nyiakan bahan, padahal di luar sana, ada orang yang butuh makanan itu, tidak peduli enak atau tidak enak" terang Zubeng.
" Bagaimana cara masak enak terus paman ?" tanya Kailong.
" Cara memang ada, tapi keadaan pemakan juga perlu diperhatikan. Aku tidak mau memasak untuk siapapun yang sedang tidak ingin makan" jawab Zubeng.
" Ya, tidak ingin makan tidak dimasakkan, jni mudah paman, aku akan tanya mereka "apa mau makan ?"sebelum memasak " jawab Kaikong agak paham.
" Ya, itu sebagai pemasak pribadi seseorang mungkin, tapi di restoran atau warung makan, apa kamu akan bertanya begitu ?" tawar Zubeng.
" Di restoran ? ganti saja pertanyaannya paman ! kamu mau makan apa ?" usul Kailong , mulai pintar.
" Ya, itu juga baik, bagaimana dengan pelanggan yang memesan makanan tapi tidak di makan ?" susul Zubeng.
" Untuk apa pesan kalau tidak dimakan ?" tanya Kailong.
" Itulah maksudku sebenarnya. Kami repot di dapur dan masakan terbuang percuma, di kota ini, jarang ada orang yang mau makan masakan bekas pesanan orang" susul Zubeng.
" Mengingat waktumu yang padat, aku akan mengajarimu masak di waktu malam, tidak perlu teori dalam memasak untuk tingkat pemula, yang perlu kamu lakukan hanya sebanyak mungkin merasakan bahan masakan !" ujar Zubeng.
__ADS_1
" Ya paman" jawab Kailong.