
Setelah Kai Long berhasil melatih ringkasan tenaga dalam, dia mempelajari buku yang diberikan oleh Zu Lei. Setengah tahun telah berlalu, sejak Zu Lei membawa Kai Long ke gunung es, usia Kai Long saat ini sekitar tujuh tahun, yang jelas lebih dari tujuh tahun dan belum masuk delapan tahun.
Judul buku itu adalah " Buku Dewa Pedang". Kai long membuka halaman pertama, ada puisi di atas bagian halaman :
" Menatap Langit
" Menyembunyikan tangan
" Menatap Bumi
" Menyembunyikan Tangan
" Tangan Tampak, Langit Runtuh
" Tangan Tampak, Bumi Terkoyak
" Hanya Aku .... Aku hanya ...."
Kai Long, membacakan puisi itu dengan suara yang agak keras, Zu Lei mendengarnya lalu tertawa terbahak - bahak, lalu Kai Long menoleh ke arah Zu Lei.
" Paman, apakah aku salah membaca ? tanya Kai Long.
" Tidak , tidak " jawab Zu Lei. Mencoba menahan tawanya.
" Kamu tidak salah baca, hanya saja dengan suaramu membaca, puisi itu terdengar aneh dan lucu, puisi itu jadi tidak berasa" lanjut Zu Lei.
__ADS_1
" Ah Paman, ajari aku cara menyuarakan yang benar, aku malu !" pinta Kailong.
" Tidak perlu, biar begitu saja, aku jarang tertawa, aku wajibkan semua puisi yang ada di dalam buku itu, kamu baca dengan suara yang keras" pinta Zu Lei.
Kai Long tidak menanggapi permintaan Zu Lei, dia terus membaca anak judul setelah puisi itu.
" Lima gerak dasar pedang :
"Keluarkan Pedang
"Tangkis Serangan
"Tebaskan
"Tarik pedang
Setelah membaca itu, Kai Long meneruskan membaca baris di bawahnya.
" Lima dasar mengatur tenaga pedang :
"Keluarkan dengan tenaga besar
"Alirkan ke bawah memutar
"Keluarkan dengan tenaga sedang
__ADS_1
"Alirkan ke atas dengan memutar
"Alirkan dengan tenaga kecil dan mati"
Setelah membaca baris terakhir itu, Kai Long merenung, manggut - manggut tidak paham.
" Paman, alirkan dengan tenaga kecil dan mati itu bagaimana ?" tanya Kai Long.
" Ha ha ha ! " Zu Lei tertawa lagi.
" Kamu akan paham setelah melakukan sembilan cara itu dengan sempurna, yang jelas itu bukan untuk bunuh diri !" jawab Zu Lei.
Setelah itu Zu Lei melemparkan teratai salju pada Kai Long untuk diserap saripatinya, yaitu saripati tenaga dingin.
Kai Long mulai menyerap teratai salju itu. Seluruh tubuhnya mengeluarkan asap putih samar seperti es, titik hijau di dahinya mulai berubah warna, hijau putih susu. Tubuhnya mulai kebal dengan hawa dingin tingkat tinggi.
Sejak hari itu Kai long melatih tenaga dalam, gerakan dasar dalam buku "Dewa Pedang" dan kekebalan terhadap hawa yang sangat dingin. Kai Long sudah mulai mencari - cari makanan sendiri.
Tiga bulan telah berlalu, Kai long sudah lancar memperagakan gerak dasar dewa pedang, tenaga dalam dan kebal hawa dingin serta racun. Katakanlah usianya tujuh tahun lebih enam bulan.
" Kai Long, ambillah cincin ruang ini, kamu akan membutuhkannya untuk menyimpan sesuatu !" pinta Zu Lei.
" Peganglah cincin itu, masukkan tenagamu ke dalamnya, kaitkan tenagamu dengan kait tenaga di dalam cincin itu, setelah itu tenaga akan mengalir ke otak dan hatimu, lalu kendalikan pintu tenaga di dalam cincin itu !" jelas Zu Lei.
Kai long menerima Cincin ruang itu, lalu mempraktikkan keterangan Zu Lei, beberapa waktu kemudian dia berhasil. Kai Long mencoba memasukkan salju ke dalam cincin ruang itu,wajahnya gembira.
__ADS_1
" Paman, lubang cincin ini terlalu besar, aku tidak bisa memakainya !" keluh Kai Long.
" Kantongi saja kan, sama saja !" jawab Zu Lei, agak sebal.