Di Atas Dewa Pedang

Di Atas Dewa Pedang
Burung Putih Dan Burung Hitam


__ADS_3

Kai Long menghembuskan napas, uap putih tipis keluar dari mulutnya. Dia mencari - mencari Zu Lei, dan tidak menemukannya. Kai Long teingat kejadian sekitar tiga bulan lalu di gua belkang. Ada sosok orang bercahaya tipis yang dilahap oleh bayangan hitam.


Kali ini Kai Long kembali menuju gua belakang, sampai di tempat kejadian dulu itu, dia berhenti. Setelah diamat - amati, ada dasar lanjutan dari tempat terakhir kali Kai long jatuh. Setelah melongok ke dasar lanjutan itu, Kai Long berhenti, tempat itu gelap gulita, jurang yang sangat dalam sepertinya.


Kai Long menyusuri tepian jurang. Pendaran cahaya berwarna - warni mulai tampak di sebagian tempat. Tumbuh - tumbuhan bertenaga es tumbuh di satu tempat.


Kai Long mendekatinya, teratai es menjadi pusat di tengah kolam es. Di sekitar teratai es itu ada batang putih setebal jari dengan jumlah yang banyak, seperti selang bening mengarah ke bawah kolam.


Air kolam beku, sesekali mencair tetapi beku dengan cepat. Hawa dingin di tempat itu lebih tinggi tingkatnya daripada di tempat lain.

__ADS_1


" Apakah teratai ini yang paman berikan kepadaku ?" bisik Kai Long.


Rumput - rumput putih bergoyang pelan, di gerakkan oleh pembekuan dan pencairan air kolam. Lipan - lipan hijau giok sesekali muncul di sekitar air kolam. Kai Long merinding, tubuhnya sempat menggigil, jijik melihat lipan - lipan itu.


Ada sosok putih susu melesat ke arah teratai itu, sosok itu seperti burung emprit, dengan jambul di kepalanya. Jambul itu ngacrak. Burung itu bertengger di daun teratai es, membuka mulutnya lalu keluar uap putih di serap oleh teratai es.


Setelah menyerap uap putih itu teratai es bersinar putih susu samar - samar, dan mengeluarkan cairan ke dalam kolam tetapi langsung membeku. Beku, cair,beku,cair sehingga laju cairan menuju kolam berjalan tersendat - sendat.


Kai Long membuka pakaiannya dan tampaklah thithitnya (alat kelamin) yang masih kekanak - kanakan.

__ADS_1


"Byur" suara Kai Long menceburkan diri ke dalam kolam, mengepaskan waktu air kolam mencair. Kai Long macet, lalu berenang menyesuaikan tempo pencairan air kolam. Akhirnya Kai Long sampai di satu batu dan duduk di atasnya, kini hanya kepala Kai Long yang tampak dari atas kolam.


Kai Long mulai memperagakan penyerapan tenaga dalam di kolam teratai itu. Burung itu tidak pergi, dia masih bertengger di daun teratai mengawasi kelakuan Kai Long.


Lalu dari dalam jurang ada burung berwarna hitam terbang ke arah daun teratai berada. Burung itu sama persis bentuknya dengan burung putih itu. Burung itu bertengger di daun teratai es. Kedua burung itu saling bercuit dan terdengar oleh Kai Long.


" Burung yang sama, hanya beda warna. Jika burung putih itu di teratai es berwarna putih, lalu apakah burung hitam itu di teratai es berwarna hitam ?" gumam Kai Long.


Setelah bercuit - cuit, burung hitam itu terbang menuju ke dalam jurang. Tanpa pikir panjang karena penasaran, Kai long bergegas ke luar kolam. Setelah memakai pakaian dia menuju ke arah jurang di mana burung hitam itu menghilang. Setelah mencari - cari pijakan dan tempat berpegangan, Kai Long turun melalui tepi jurang. Angin berhembus membentur dinding - dinding jurang, mengganggu Kai Long yg sedang turun.

__ADS_1


Semakin turun, hawa dingin semakin berkurang, digantikan oleh hawa hangat perlahan - lahan.


" Aku tidak bisa turun sekarang, besok saja, paman akan khawatir" bisik Kai Long, dia kembali naik ke atas jurang.


__ADS_2