
Zuwen dan Kailong mendekati Yang Zi yang sedang kipas - kipas dengan sangat bersungguh - sungguh.
" Selamat siang Guru !" sapa Zuwen, sedangkan Kailong berdiri di belakang Zuwen dalam keadaan tolah - toleh, melihat benda - benda yang ada di dalam ruangan itu.
Yang Zi tidak menanggapi sapaan Zuwen, dia fokus , seakan - akan di ruangan itu hanya ada panci obat dan dirinya . Dia kipas - kipas terus, api tempat pembakaran pil masih stabil.
Kailong menepuk bahu Zuwen, Zuwen menoleh, kemudian tangan Kailong menunjuk ke arah kursi tamu yang ada di ruangan itu.
Zuwen tahu maksud isyarat itu , hanya saja kenapa Kailong mengajak dia untuk duduk di kursi itu. Mereka mendekati kursi itu lalu duduk.
" Kailong ! ada apa ?" tanya Zuwen dengan suara lirih.
" Itu, Guru tenang sekali" jawab Kailong dengan suara lirih.
" Beliau sedang menggodok obat" sambung Zuwen, lirih.
" Mana obatnya ?" tanya kailong, lirih.
" Itu di dalam panci obat " jawab Zuwen.
" oh, di dalam panci obat. Kenapa guru tidak langsung membakar obatnya ? " tanya Kaiong, lirih.
__ADS_1
" Bahannya mungkin tidak tahan api " jawab Zuwen lirih.
" oh, sampai kapan kita akan menunggu ?" tanya Kailong, lirih.
" Sampai selesai, kita ikut mengamati saja, kata kakek : melihat pembuatan obat dari ahlinya, lebih berguna seribu tahun daripada belajar sendiri " terang Zuwen, lirih.
" oh, berarti kita akan menunggu sampai seribu tahun kan ? Guru pasti membuat obat bagus sampai butuh seribu tahun" susul Kailong, lirih.
Api di tempat pembakaran pil mulai tidak stabil. Api yang semula tegak lurus , kini bergoyang - goyang acak. Yang Zi kipas - kipas dengan tangan kanannya , sementara tangan kirinya mengambil besi putih mengkilat kotak.
Besi kotak putih itu dipencet lalu keluar api merah yang tegak lurus, kemudian di masukkan di tempat pembakaran pil, api kembali stabil.
Yang Zi menoleh ke arah dua bocah yang sedang duduk itu , tangannya berhenti kipas - kipas karena api sudah stabil dengan bantuan besi putih kotak. Yang Zi masih dalam keadaan jongkok di depan tempat pembakaran pil.
Zuwen berdiri mendekati Yang Zi, Kailong ikut - ikutan berdiri lalu berjalan di belakang Zuwen.
" Guru ! maafkan kami, kami ingin belajar dari Guru" kata Zuwen, langsung pada intinya, sepertinya kelamaan menunggu.
" Kamu ! bocah ! (menunjuk Kailong ) mau belajar juga !" seru Yang Zi.
Kailong agak sembunyi - sembunyi di belakang Zuwen.
__ADS_1
" Iya Guru ! belajar !" mantap Kailong walaupun agak sembunyi - sembunyi.
" Kamu tadi bilang "obat bagus sampai butuh seribu tahun", kamu sengaja apa tidak !" seru Yang Zi.
" Sengaja Guru !" jawab Kailong.
" Jelaskan !" pinta Yang Zi, masih dalam keadaan itu.
Kailong diam, ada pikiran di depan wajahnya.
" Guru ! maksud Kailong adalah obat bagus, butuh waktu banyak untuk membuatnya" bela Zuwen.
" Ya Guru ! seperti itu " susul Kailong.
" Oh ! jadi menurutmu, obat yang jelek tidak butuh waktu banyak untuk membuatnya ?" tawar Yang Zi.
" Benar Guru !" jawaban yang hampir bersamaan datang dari Zuwen dan Kailong.
" Kalian anak kembar ! pergi ! aku tidak mau mengajari kalian !" usir Yang Zi.
Zuwen segera menarik tangan Kailong untuk berlari cepat keluar dari ruangan itu. Di luar rumah obat , tepatnya sampai pagar pintu masuk , mereka berhenti.
__ADS_1
" Kak Wen ? kenapa guru sangat marah ? " tanya Kailong.
" Aku tidak tahu, kita temui kakek saja" ajak Zuwen. Mereka kembali Ke Kediaman Keluarga Zu.