Di Atas Dewa Pedang

Di Atas Dewa Pedang
Sifat Belut Putih


__ADS_3

Dua jam kemudian, belut putih muncul di lubang yang dibuat oleh Kai Long. Belut itu bentuknya seperti belut biasa, dua kumis panjang menempel di kanan dan kiri kepalanya, panjangnya selengan orang dewasa, dan tebalnya selengan anak - anak, mata belut itu bundar seperti mata ikan.


" Hei bocah ! kamu berteriak pada siapa !" seru belut putih. Melihat belut putih itu, Kai Long bergerak cepat memegangnya, tapi ketika terpegang, tangan Kai Long tergelincir ke arah ekor belut putih kemudian belut putih itu lepas.


" Hei bocah ! mau sepuluh ribu kali kamu memegangku, tanganmu akan tetap tergelincir" sesumbar belut putih.


" Belut putih ! ayo ikut aku menemui burung putih , dia ingin bertemu denganmu !" pinta Kai Long. Mendengar itu, belut putih berkedip, kemudian mata ikannya berkedip - kedip.


" Kenapa aku harus menurut ?" kata belut putih.


" Ayolah ! ikut !" ajak Kai Long.

__ADS_1


" Apakah ini perintah pamanmu ?" tanya belut putih.


" Tidak, aku sendiri yang ingin kamu menemui burung putih" jawab Kai Long.


" Bocah ! kamu berbohong terang - terangan ! jelas - jelas burung putih yang ingin bertemu denganku !" seru Belut Putih.


" Aku juga ingin kamu bertemu burung putih !" susul Kai Long.


" Baik ! aku akan ikut denganmu menemui burung putih , tapi tangkap aku dulu " kata belut putih, masuk ke dalam air, melesat cepat berbeda dengan kedatangannya.


Benar bahwa dingin tidak berpengaruh banyak padanya tapi menahan nafas di dalam air adalah hal baru bagi Kai Long. Kai Long duduk di pinggir lubang itu, sementara belut putih wira - wiri tampak dari atas lubang. Kai Long memasang wajah lesu, lalu Kai Long merogoh kantong celananya mengambil cincin ruang yang tidak dipakai sebab lubang cincinnya terlalu besar.

__ADS_1


Dia terlihat ragu - ragu, cincin itu dikantongi lagi. Dia diam lalu memegang pedang kayunya. Begitu belut tampak di lubang itu, Kai Long menusuk dengan cepat dan kebetulan tepat sasaran di kepala belut putih, kemudian belut putih oleng dalam keadaan melambat seakan - akan mudah untuk ditangkap. Kai Long senang, dia langsung terjun ke dalam lubang dan berusaha mencekal belut putih, tangannya sudah memegang belakang kepala belut putih dengan cepat, tetapi secepat itu pula belut putih dengan licin melepaskan diri.


Kai Long naik ke atas lubang lagi. Dia berjalan menjauhi danau, menuju arah ke gua untuk pulang sambil menenteng pedang kayunya.


" Biarlah aku meminta bantuan paman untuk menangkapnya " bisik Kai Long putus asa.


Belut putih telah mencapai tahap dewa, mendengar bisikan itu, belut putih menjelma jadi manusia. Sosoknya tampan, dengan dua kumis panjang di samping bibirnya.


" Jei bocah ! aku ikut ! walaupun kamu tidak berhasil menangkapku tetapi kamu sudah berusaha" hibur belut putih.


Kai Long tidak membalas ucapan belut putih, dia terus berjalan naik ke atas gunung, membawa amarah kekanak-kanakannya. Kai Long marah pada diri sendiri karena tidak dapat menangkap belut putih dengan kedua tangannya.

__ADS_1


Kedua orang itu terus berjalan sampai mulut gua. Kai Long berhenti di mulut gua sedangkan belut putih menemui burung putih. Kai Long memulihkan tenaganya dalam keadaan duduk bersila. Empat jam telah berlalu, Kai Long tidak tahu apakah belut putih sudah kembali ke danau atau belum.


" Aku akan meminta paman untuk mengajariku cara menangkap belut putih dengan tangan" bisik Kai Long, ada tekad dan kesebalan di depan wajahnya.


__ADS_2