
Malam Hari : Kediaman Zu
Setelah mendengar lima puluh ribu emas, kedua bocah itu menuju lapangan latihan dan memperagakan jurus pukulan , cengkraman , totokan andalan masing - masing.
Kailong sedang menyerang dengan totokan jari telunjuknya mengincar tenggorokan Zuwen. Zuwen menepis dengan cengkraman ke arah samping. Tidak ada pancaran tenaga dalam dari kedua bocah itu karena akan melukai salah satu dari keduanya, dan dilarang oleh Zujing.
Zuwen mundur menepis totokan Kailong, sikunya gantian menyerang dada Kailong, perut telapak tangan kiri kailong sudah dipersiapkan untuk menahan laju siku Zuwen. Benturan terjadi, Kailong mundur sedangkan Zuwen tertahan, jarak mereka hanya setebal tubuh manusia dewasa. Mereka lari cepat terpisah berputar - putar saling mengincar kelemahan lawan tandingnya.
Daya tahan dari rasa pusing sangat dibutuhkan dalam keadaan ini, mata yang kuat lagi awas juga sangat menentukan. Keduanya sama - sama melesat ke depan, adu tenaga fisik melalui cengkraman tangan sedang terjadi. Kedua kaki mereka bertahan dan saling mendorong tubuh sekaligus lengan yang mencengkram. Satu jam telah berlalu dalam keadaan itu. Inilah perbedaan antara pertandingan dan pertarungan sampai mati, jika hanya uji keterampilan tanpa niat membunuh, maka pertandingan ini bisa berlangsung berhari - hari.
" Hentikan ! kalian seimbang ! itu sudah bagus !" suara Zujing memisah ketegangan. Mereka berdua sepakat menghentikan pertandingan itu dengan anggukan kepala.
__ADS_1
" sut, sut" suara pijakan kaki dua kali dari masing - masing kaki Kailong dan Zuwen terdengar. Mereka bersila, memutar tenaga untuk mengusir kelelahan.
" Tetua ! makanan roh telah siap dihidangkan !" kata Zu beng melaporkan hasil kerjanya.
" Zubeng ! makanlah bersama kami ! " pinta Zujing.
" Baiklah Tetua !" jawab Zubeng.
Mereka berempat menuju ke ruang makan. Wadah - wadah dan peralatan makan yang serba mengkilap sudah terpasang rapi di atas meja yang panjang dan lebar. Kailong duduk bersama bersebelahan dengan Zuwen, sedangkan Zujing dengan Zubeng.
" Ayo makan !" ajak Zujing. Lagi - lagi Kailong melongo melihat makanan roh itu. Ini pertama kali Kailong makan masakan roh , yang diolah oleh pemasak tingkat Dewa. Semua makanan hampir memendarkan cahaya emas kemerahan.
__ADS_1
Kailong memakan salah satu makanan, arus tenaga pemulih berdenyut hangat mulai lidah Kailong, merambat ke dinding mulut, gigi, rahang , dan tengkorak kepala Kailong.
Makanan itu ditelan, arus tenaga berdenyut ke semua organ halus Kailong, lambung, hati, jantung , paru - paru dan meresap ke otot dan bercampur dengan darah.
Acara makan telah selesai, malam sedang gelap - gelapnya. Kailong bergerak menuju hutan kecil di selatan Kediaman Zu.
Para penjaga membiarkan Kailong masuk hutan. Kailong mendaki bukit lalu ke timur di mana air terjun berada.
" sut, sut, sut" suara pijakan kaki Kailong semakin mendekati air terjun. Pendaran Cahaya tumbuhan membantu Kailong mengetahui medan hutan, suara air terjun telah terdengar, dan pendaran hijau dari tebing air terjun sudah terlihat.
Di kolam air terjun tidak ada cahaya biru itu, dan sepi. Kailong menuju tepi sungai, melepas pakaian, menggigit giok merah, lalu menceburkan diri ke dalam sungai. Ilmu belut putih dijalankan. Giok merah tidak memendarkan cahaya, sepertinya dia telah hafal semua binatang yang hidup di hutan itu.
__ADS_1
Kailong berenang ke timur menuju kolam air terjun, menyelam ke dalam, kali ini ada ular kecil loreng merah berusaha menyusup ke celah batu, hanya kelihatan buntutnya. Kailong cepat bergerak mencengkram ekor ular loreng merah, lalu menarik buntutnya. Ular loreng merah tercabut, lalu berbalik dan menggigit tangan Kailong. Titik hitam kemerahan di dahi Kailong bereaksi, memendarkan cahaya merah samar mengumpulkan bisa. Kailong melepas ular itu, dan menyembul ke atas permukaan kolam.