Di Atas Dewa Pedang

Di Atas Dewa Pedang
Giok Merah Pindah Dunia


__ADS_3

Kailong yang ditahan oleh kepompong dan jaring cahaya tertawa, sampai mau menangis. Begitu pula, jutaan penduduk Kekaisaran Cahaya.


Energi merah yang memberi rasa digelitiki ini berhenti meluas, tetapi tidak menunjukkan tanda - tanda menghilang.


Suara tertawa dan perkataan setengah jadi menjadi aktifitas dengan rekor tertinggi saat ini.


Kailong mrengut dalam keadaan duduk bersila semampunya, dalam keadaan goyang ke kanan - kiri.


Wadah energi di pusar Kailong dan lingkaran merah disekitarnya bereaksi. Lingkaran merah itu berputar dan menarik energi merah kembali ke tubuh Kailong.


Kolam energi merah meluap, bercampur dengan kolam energi yang lain. Wadah energi Kailong mulai penuh secara perlahan - lahan.


Beberapa lama kemudian, Zulei datang dari pintu langit. Melihat keadaan Kailong dari langit. Zulei tidak segera turun ke bawah setelah mengetahui bahwa Kailong baik - baik saja.


Zulei bergerak ke sana - sini di atas langit, mengamati wabah " Tertawa Paksa Bersama - sama " ini.


Wadah energi Kailong penuh, dan membengkak, siap meledak. Kolam kuning emas terus - terusan memasok energi ke wadah energi agar tidak meledak, atau Kailong akan meledak juga.


Di atas langit Kekaisaran Cahaya , pintu - pintu langit terbuka, lebih dari 1000 sosok memunculkan diri, para Kultivator tingkat "Di Atas Dewa".


Sebagian dari para Kultivator tingkat "Di Atas Dewa" itu turun ke bawah, tetapi setelah bersentuhan dengan energi merah, mereka tergelitik juga.


Energi merah mulai naik ke langit mengejar para Kultivator tingkat "Di Atas Dewa" seperti air mancur menyemprot serangga. Tiga ratus kultivator di langit itu tertawa semuanya.

__ADS_1


Jumlah terus meningkat ; 400, 500, 600, 700 - 1000 kultivator tergelitik intens dan tertawa.


Zulei menyalakan kemampuan matanya, "Mata Dewa Pedang". Mata dewa pedang melihat bahwa udara dan bumi di Kekaisaran Cahaya berwarna merah semuanya, kecuali titik kecil tertentu dari wilayah itu. Qi bumi dan langit dengan alot saling dorong - mendorong dengan energi merah sedangkan Kailong yang berwarna merah seluruhnya menjadi sumber dari energi merah.


Di bawah dan di langit Kekaisaran Cahaya , para manusia itu tertawa - tawa.


" Dewa Pedang Mencincang Angin


" Dewa Pedang Mengiris Iblis " bisik Zulei, tak lama sesudahnya, energi merah terpotong kecil - kecil dan tipis.


Suara tawa dari jutaan orang berangsur - angsur hilang, orang - orang masih kelelahan serta lemas karena perut mereka mengencang dan sempat kram.


Kailong yang tubuhnya merah menyala, berangsur - angsur pulih. Para kultivator "Di Atas Dewa" mulai lega.


Kailong masih terbungkus kepompong cahaya dalam keadaan yang sama dengan jutaan orang itu, lelah dan lemas. Zulei mendekati Kailong dan mengamatinya.


" Bagaimana keadaanmu ?" tanya Zulei. Kailong tidak menjawab secara lisan, hanya menggelengkan kepala dan memegang perutnya.


" Serap kembali irisan energi merah itu, aku ingin tahu apa jadinya" kata Zulei.


Kailong manggut - manggut dengan enggan - engganan. Setelah Kailong menyerap kembali energi merah, tubuhnya pulih seperti sedia kala, bahkan energi merah yang ter-cincang dan teriris - iris itu diserap oleh energi panas , dingin, terang, gelap, kuning emas, merah dan penawar racun yang terdapat di dahi Kailong.


Tujuh energi kailong mengalami peningkatan dan pemadatan besar - besaran karena diseimbangkan oleh irisan dan cincangan energi merah yang mudah diserap dan ditelan oleh energi lainnya. Wadah tenaga Kailong semakin kuat, akibat dari kolam kuning emas yang dipaksa bekerja lebih berat.

__ADS_1


" Kailong, giok merahmu itu bencana bagi dunia ini. Aku akan mengajakmu ke dunia lain, dimana energi bumi dan langit di dunia itu sangat mampu menekan energi giok merah" tawar Zulei.


" Baik, Paman" Jawab Kailong.


Zulei mengajak Kailong untuk berpamitan pada Zujing, Zubeng, Zuwen, dan Yang Zi.


" Kailong, bawalah buku " Misteri Masakan Surga" ini. Aku belum sempat mengajarkan apa - apa padamu" kata Zubeng.


" Terima kasih, Paman" jawab Kailong. Dia menerima buku itu.


" Kailong, kita bertanding lagi ketika dewasa !" mantap Zuwen.


" Baik" jawab Kailong.


" Zulei, kami selalu menerimamu" antar Zujing.


" Terima kasih Tetua Zu" jawab Zulei.


" Da, Da, Kakek, Paman , Kak Zuwen !" pamit Kailong sambil melambaikan tangannya di pintu langit.


Zulei menggendong Kailong di punggungnya dan menghilang.


------TAMAT 500-an kata -------

__ADS_1


__ADS_2