
Sore Hari Kediaman Keluarga Zu.
" Kak Wen ? siapa yang mau menghafalkan buku itu terlebih dahulu ?" tanya Kailong, di dalam kamarnya bersama Zuwen.
" Aku dulu, nanti malam aku akan menyerahkan buku ini kepadamu. Jam satu siang adalah waktu kita untuk memperdengarkan hafalan pada Guru Yang Zi. Jadi ada waktu sekitar sepuluh jam bagiku untuk menghafal, dan ada waktu 10 jam bagimu untuk menghafal" terang Zuwen.
" Aku terima, nanti malam taruhlah buku itu di meja, aku mau mencoba sesuatu pada giok merah" jawab Kailong.
" Ya, aku pergi ! " pamit Zuwen.
Zuwen kembali ke kamarnya, kemudian Kailong keluar kamar menuju hutan kecil yang berada di selatan Kediaman Zu. Setelah dikenali oleh penjaga hutan kecil , Kailong diizinkan untuk masuk ke dalamnya dengan diberi pesan " jangan masuk terlalu jauh !".
Kailong berjalan sambil mengeluarkan giok merah yang bundar itu. Giok tidak memendarkan cahaya apapun.
Kailong meniti jalan tanjakan di hutan yang mengarah pada ujung bukit, sampai di atas bukit, Kailong tidak menemukan perubahan apapun pada Giok Merah.
__ADS_1
Di atas bukit, Kailong berhenti berjalan, kemudian mengamati hal - hal di sekelilingnya. Kediaman Zu yang terletak di utara bukit tampak kotak kecil dan diselimuti kabut.
Udara dingin dan kabut di bukit itu mulai tampak dan terasa pada tubuh Kailong. Matahari mulai terbenam dengan langit berwarna oranye kemerah - merahan.
Kailong terus berjalan ke arah timur sambil memegang giok merah. Tumbuhan lidah buaya roh berkali - kali dilewati oleh Kailong waktu itu.
Tidak ada hewan buas di hutan kecil ini, hanya ada serangga dengan bentuk dan warna yang beraneka ragam. Sesekali Kailong melihat ular kecil menyusup ke lubang atau bebatuan.
Setiap binatang lewat di sekitar Kailong, giok merah itu berpendar sekali, Kailong memperhatikannya.
" Tapi, kenapa tidak menghafal nama - nama tumbuhan sekalian ?" gumam Kailong.
Kailong lari cepat ke arah timur, suara air terjun terdengar lirih dari tempat Kailong berada. Giok merah berpendar beberapa kali. Sampai di tempat air terjun, Kailong berjalan ke tepi sungai, menyusurinya ke arah air terjun. Dalam keadaan ini giok merah berpendar beberapa kali.
" Apa maunya giok merah ini ?" penasaran Kailong.
__ADS_1
Kailong tiba di depan air terjun yang tinggi. Kailong melepas pakaiannya kecuali celana dalam, giok merah di gigit, kemudian kailong masuk ke kolam dengan mempergakan jurus belut putih.
" Byur" suara air beriak, giok merah berpendar beberapa kali. Kailong berenang di dalam air dengan cepat, berbelok - belok menghindari batu - batu cadas yang sesekali ada di tengah tengah sungai.
Malam tiba, Kailong masih berenang memperagakan jurus belut putih di dalam sungai. Tumbuhan roh memendarkan cahaya warna - warni. Di sekitar air terjun pendarahan cahaya hijau, ungu, dan kuning bersaing mengusir gelap. Tebing air terjun memendarkan cahaya hijau tipis.
Kailong melongo melihat fenomena itu. Berenang di malam hari menyenangkan dengan adanya pendaran - pendaran cahaya itu.
Di atas langit, cahaya biru melesat turun ke lokasi air terjun di mana Kailong tengah berenang. Cahaya biru masuk ke kolam air terjun dengan cepat sampai - sampai tidak banyak mengeluarkan suara.
Sementara itu Kailong yang sedang berenang di dalam sungai tidak tahu bahwa ada cahaya biru masuk ke kolam air terjun. Kailong sedang berenang menyusuri sungai ke arah barat sedangkan kolam air terjun berada di arah timur Kailong.
Dari barat , Kailong berenang cepat ala belut putih menuju ke timur, yaitu ke kolam air terjun. Cahaya Biru masih berputar - putar di dalam kolam. Kailong lamat - lamat dapat melihat cahaya biru di depannya dan giok merah berpendar satu kali.
Kailong mempercepat gerakan berenangnya, kali ini di dorong oleh tenaga dalam dari bagian jari - jari telapak kakinya. "Sut , sut" suara tubuh Kailong melawan arus air sungai.
__ADS_1
Cahaya biru yang berputar - putar di kolam itu melesat naik ke atas langit dengan cepat, meninggalkan kolam air terjun. Kailong sempat melihat ekor cahaya biru itu bergerigi sebelum menghilang ke atas langit.