
Yang Zi segera mengolah bahan obat yang gosong itu, tetapi bahan obat itu tetap tidak terselamatkan. Yang Zi menatap Kailong yang malu - malu.
" Aku tidak akan menjatuhkan hukuman kepadamu, asalkan kamu bisa menjelaskan penyebab dari kerusakan bahan obat ini !" kata Yang Zi, dalam keadaan menunjuk panci obat dengan jari telunjuknya.
" Aku kira tenagaku akan cepat habis kalau membakarnya selama satu jam, jadi, aku besarkan api hitam supaya lekas matang" jawab Kailong, gagal paham lagi.
" Itu alasan, Kailong, guru bertanya penyebab !" peringatan dari Zuwen.
" Kak Wen ! penyebabnya sudah jelas, yaitu dibakar dengan api besar" jawab Kailong.
" Kailong, cari alasan lain !" susul yang Zi.
Kailong diam, ada pikiran di depan wajahnya.
" Bahan obat itu tidak kuat menerima energi panas !" jawab Kailong.
__ADS_1
" Lanjutkan !" susul Yang Zi.
Kailong melihat ke arah Zuwen, sedangkan Zuwen tidak memberi tanggapan.
" Oh, begini, seandainya aku dapat mengendalikan api dan mengetahui batas kematangan bahan, bahan itu tidak akan rusak kan Guru !" terang kailong agak ragu.
" Ya, sudah ada beberapa penyebab yang telah kamu sebutkan. Zuwen, simpulkan !" pinta Yang Zi.
" Pengendalian api, batas kematangan, dan hasil nyata dari pengolahan" jawab Zuwen.
" Tentang batas kematangan, ikutilah petunjuk pada buku - buku di rak itu !" tunjuk Yang Zi pada satu rak buku di rungan itu, lalu dia keluar dari ruangan itu meninggalkan mereka berdua.
Kailong dan Zuwen mengerjakan hal yang diperintahkan oleh Yang Zi, dimulai dari pembakaran tungku obat.
" Kailong, menurutmu lebih baik mana untuk dijadikan obat, bahan mentah atau bahan matang ?" tanya Zuwen.
__ADS_1
" Kak Wen, kata guru, ' dalam setiap obat ada kotoran tersembunyi dan terkadang sedikit kotoran itu mendukung kerja kandungan bahan obat ', jadi, masalahnya tidak terletak pada mentah atau matang, tetapi terletak pada kemurnian dan kesempurnaan kerja kandungan bahan obat" ingat Kailong.
" Berarti, itu juga berlaku pada semua tahap 'Ilmu Pemulihan', semakin murni bahan obat, semakin baik isinya untuk mengusir penyakit, dan semakin sempurna kinerja kandungan bahan obat, semakin cepat waktu yang diperlukan untuk mengusir penyakit" simpul Zuwen.
" Bagaimana mengendalikan api kita ini ?" tanya Kailong.
" Api ini toh digerakkan oleh tenaga kita, semakin banyak tenaga di wadah kita, semakin lama kita mampu membakar. Asal - asalan membakar akan membuang tenaga secara percuma, jadi, kunci pengendalian api terletak pada pengetahuan batas kematangan bahan obat" jawab Zuwen.
" Seharusnya kita pelajari batas kematangan obat terlebih dahulu, sehingga tidak membuang tenaga dengan percuma seperti ini" keluh Kailong.
" Tidak apa - apalah, terlanjur. Besok kita ketahui terlebih dahulu batas kematangan obat, setelah itu mengamati bahan ketika membakar, dan terakhir hasil dari pembakaran kita" simpul Zuwen.
Sampai sore mereka berdua melatih pengendalian api, pengamatan bahan dan penilaian hasil. Tenaga di wadah energi mereka terkuras banyak, sehingga untuk mengobati kelelahan, mereka membutuhkan pemenuhan energi di dalam wadah, dengan cara menyerap energi bumi dan langit. Kailong yang kelelahan masih ada latihan lagi nanti malam, yaitu latihan memasak bersama Zubeng.
Kailong dan Zuwen telah mendapat beberapa pengalaman, yaitu memilah bahan obat, membersihkan bahan obat, mematangkan bahan obat, mengendalikan api, dan menilai hasil dari pengolahan mereka sendiri, sayangnya, mereka belum punya pengalaman meracik obat - obatan menurut "Ilmu Ketabiban" dan belum punya pengetahuan tentang macam - macam penyakit yang dapat diobati oleh " Ilmu Ketabiban".
__ADS_1