
Kailong menyembul dari bawah kolam ke atas permukaan air, dari depan Kailong ada sinar merah lembut menuju kepadanya, Kailong terkejut, lalu masuk ke dalam kolam lagi. Sinar merah itu menukik ke dasar dalam dan melanjutkan mengejar Kailong.
Kailong dikejar - kejar sinar merah hampir selama satu jam, dia mulai kehabisan nafas simpanan, gerakan Kailong dan gaya lintasan acak yang diperagakan mulai melambat, sedikit lagi sinar merah akan mengenai ujung kaki Kailong.
Melambat, lambat dan ujung kaki kanan Kailong dilahap sinar merah, Kailong berhenti bergerak karena pingsan, perlahan tenggelam. Sinar merah memberi daya kejut yang berkesinambungan di dalam tubuh Kailong sehingga menimbulkan gerakan organ tubuh yang tidak harmonis.
Sinar merah melesat ke atas menuju ke arah barat. Sementara Kailong yang pingsan dan tenggelam terangkat ke atas oleh daya tarik dari kejauhan. Tubuh Kailong mengambang di atas air lalu melayang ke arah barat di pinggir sungai, kemudian tubuh kailong mendarat di depan seseorang.
Orang itu adalah Zulei, baru tujuh hari meninggalkan Kailong tetapi kangen dan khawatir. Kailong membuka matanya dan melihat Zulei sedang membuat api energi menambah penerangan.
" Paman !" Kailong memanggil dan segera memeluk Zulei dengan cengeng, Kailong menangis, sementara Zulei mengelus - elus kepalanya, seakan - akan ingin membalas enam jitakan ke bocah itu. Zulei membiarkan Kailong menangis, apalah arti air mata jika tidak membendung duka nestapa dan lara.
" Kailong ? kamu sudah prajurit tahap dua, di mana gagahnya ?" goda Zulei.
" Aku ingin terbang ! biarlah tidak gagah !" jawab Kailong dengan sedikit sesenggukan tanpa menghirup ingusnya.
" Aku ingin melihat kamu menjadi Kultivator yang bisa terbang dan gagah, apa kamu tidak mau memenuhi permintaanku ini !" kata Zulei.
" Em, Paman ? aku akan memenuhinya !" janji Kailong.
__ADS_1
" Paman ? apakah cahaya biru kemarin malam adalah paman ?" tanya Kailong, penasaran.
Zulei diam, ada pikiran di depan wajahnya.
" Bagaimana cahaya biru itu ?" balas Zulei.
" Aku hanya melihat ekornya, bergerigi tidak rata" jawab Kailong.
" Kailong ! aku akan memberimu nasehat , perhatikan baik - baik, kapanpun kamu bertemu orang ini, jangan pernah kamu mengaku pernah bertemu denganku ! " kata Zulei.
" Satu, dia seorang wanita dengan julukan Dewi Biru, berkendaraan naga putih biru. Dua, seorang perempuan dengan julukan Dewi Merah, berkendaraan burung merah, atau sering disebut phinik, dan tiga, seorang perempuan dengan julukan Dewi Ungu, berkendaraan kuda terbang ungu. Jika kamu bertemu mereka jangan sekali - kali kamu mengaku pernah berhubungan denganku" tegas Zulei, sampai ucapannya diulang dua kali.
Mendengar sebutan bibi dari Kailong ini, wajah Zulei terlihat sedih.
" Ya, kamu boleh memanggil mereka bibi, karena dulu mereka adalah teman akrabku" dukung Zulei.
" Mungkinkah cahaya biru itu naganya bibi yang sedang mandi ?" tanya Kailong.
" Dewi Biru punya murid perempuan sama usianya denganmu, mungkin murid itulah yang main - main ke sini." jawab Zulei.
__ADS_1
" Pokoknya hindari semua yang berkaitan dengan mereka bertiga !" susul Zulei.
" Baik ! tetapi kalau mereka kesusahan ? apa aku boleh membantu ?" jujur Kailong.
" Boleh , tapi kamu harus orang paling akhir yang membantu mereka !" balas Zu Lei.
Kailong manggut - manggut, kali ini dia paham.
" Kailong, kamu sudah tahu giok merah itu ?" tanya Zulei.
" Belum " jawab Kailong, kemudian menceritakan semua kejadian tentang giok merah.
" Carilah pelan - pelan !" sambung Zulei.
" Paman ? apakah Paman akan pergi malam ini ?" tanya Kailong siap menangis.
" Ya, ketiga dewi itu membenci paman, aku takut mereka akan membencimu juga" kata Zulei.
" Ini bawalah ! bakar kertas jimat ini jika kamu mengalami bahaya" Zulei menyerahkan kertas jimat kuning dengan pola - pola rumit di atasnya.
__ADS_1
Zulei kembali merobek ruang kosong meninggalkan Kailong di tepi sungai. Kailong berusaha menahan air matanya, lumayan banyak yang tertahan , hanya beberapa tetes saja yang mengalir ke pipinya.