Di Atas Dewa Pedang

Di Atas Dewa Pedang
Hari Ketujuh : Memaksa Jika Ada Mau


__ADS_3

Siang Hari. Mendengar Ucapan Yang Zi, Kailong kaget. Tanpa banyak bicara, Kailong maju berdiri di depan Yang Zi dan menyerahkan buku kepadanya.


Kailong mulai membacakan hafalannya, seperempat buku dibaca dengan suara yang lantang dan santai, seakan - akan Kailong telah menghafalnya berhari - hari.


Masuk pada dua perempat buku, Kailong masih santai membacakan hafalannya. Dua perempat buku telah dilalui dengan baik, sekarang masuk tiga perempat buku.


Tiga perempat buku, santai - santai Kailong membacakannya, lancar jaya sampai memasuki perempat terakhir.


Seperempat terkahir buku, dibacakan Kailong dengan lancar, lancar sekali.


" ...kut...kut ...kut...." suara baca Kailong mulai tersendat - sendat, padahal itu tumbuhan terakhir di buku.


Hampir lima belas menit Kailong menyuarakan kata - kata itu.


" Tinggal bagian terakhir ! apa sulitnya !" seru Yang Zi.


" Guru ! tadi aku sudah hafal, gara - gara sentakan itu, aku jadi lupa !" keluh Kailong.


" Sih ! kembar nakal ! kalau hafal tidak akan lupa ! lupa bukti kamu tidak hafal ! gara - gara sentakan ? dalih yang lugu !" jawab Yang Zi.


" Benar ! aku hafal tadi ! kalau tidak percaya , bolehkah aku melihat sekali saja bagian terakhir itu ! aku akan menyebutkannya lengkap dengan kegunaannya !" tawar Kailong.

__ADS_1


" Ha ! ha ! ha ! tentu saja kamu hafal kalau melihat sekali lagi ! siapa yang tidak akan hafal kalau melihat ?" goda Yang Zi yang tampan serba lancip.


" Bagaimana ini Guru ? apakah kurang satu saja tidak lulus ?" tawar Kailong lagi.


" Sebenarnya itu cukup, aku bukan orang yang suka memaksa kalau tidak ada maunya, jadi kamu lulus. Mulai besok siang kalian datang ke sini, bantu aku mengipasi obat" Jawab Yang Zi.


Mendengar jawaban Yang Zi, Kailong langsung senang, berbeda dengan Zuwen, dia diam, ada pikiran di depan wajahnya. Karena senang, Kailong mengajak Zuwen berpamitan lalu keluar, sedangkan Zuwen masih kepikiran jawaban Yang Zi tadi.


" Kailong ? apa kamu tidak mendengarkan jawaban Guru tadi ?" tanya Zuwen.


" Dengar, memang ada apa ?" tanya Kailong.


" Oh, maksudmu Guru akan memberi kita tugas yang sulit ?" tanya Kailong.


" Semoga saja tidak !" jawab Zuwen, harap - harap cemas.


" Kak Wen ? apakah kamu pernah menemukan sesuatu yang aneh di hutan ?" tanya Kailong.


" Tidak ? apakah kamu menemukan hal aneh di sana ?" balas Zuwen.


" Tadi malam, aku menemukan cahaya biru naik ke langit dengan cepat !" jawab Kailong, kemudian Kailong menceritakan apa yang dialaminya.

__ADS_1


" Cahaya biru bergerigi ? bagaimana jelasnya ?" tanya Zuwen.


" Aku hanya melihat cahaya biru, itupun ekornya saja !" jawab Kailong.


" Apakah maksudmu ekor binatang atau ujung cahaya ?" tegas Zuwen.


" Ekor binatang ? aku tidak tahu, ujung cahaya biru itu bergerigi, tidak rata " jawab Kailong.


" Tidak ada binatang buas di hutan itu, jadi jika itu ekor binatang tidak mungkin, tetapi jika itu bukan ekor binatang, lalu apa ?" bingung Zuwen.


" Sudahlah kak Wen ! mungkin itu manusia hebat yang mau mandi dan tidak mau menunjukkan diri !" mantap Kailong.


" Kak Wen ? ayo kita ke Bidang Cahaya Kuning, aku ingin melihat peralatan di sana ! "ajak Kailong. Zuwen mengangguk dan memimpin Kailong menuju ke tempat itu.


Bidang Cahaya Kuning terletak di utara Akademi. Gedung itu sangat megah, bertingkat lima dengan atap lancip lurus ke langit. Gedung itu memendarkan cahaya kekuningan walaupun siang hari.


" Kak Wen ? ini tempatnya ? " tanya Kailong.


" Ya, sementara ini kita hanya melihat - lihat saja, harga barang di sini mahal - mahal ! " jawab Zuwen.


Masuk ke gedung itu, Kailong melongo tanpa ragu, tolah - toleh ke sekitarnya tanpa berkedip. Zuwen menjauh dari Kailong , agak malu.

__ADS_1


__ADS_2