
Pagi Hari : Di Akademi Cahaya.
Zuwen dan Kailong duduk berjajar menunggu kedatangan guru. Kebetulan mereka berdua adalah murid yang pertama kali tiba di kelas.
Lalu datang anak - anak dari para bangsawan, Yaitu keluarga Xia, Jian, Tang, Yang, Zu, Ming, Ye dan keluarga lainnya.
" Kak Wen ? kenapa guru belum datang ?" tanya Kailong.
" Guru memang suka terlambat" jawab Zuwen.
" Hanya guru ilmu pemulihan yang suka terlambat" susul Zuwen.
" Kenapa ?" tanya Kailong.
" Beliau suka berada di rumah bahan - bahan obat. Ada petugas khusus yang mengingatkan semua jadwal beliau, termasuk jadwal mengajar " jawab Zuwen.
" Apa itu jadwal ?" tanya Kailong.
" Jadwal itu jam mengajar yang tertulis di kertas" terang Zuwen.
" Ada waktu yang jelas di ketahui, mestinya tidak terlambat kan ?" usik Kailong.
" Ya, seharusnya begitu, tapi pekerjaan Guru Yang zi sangat memakan waktu, jadi wajar saja kalau terlambat" bela Zuwen.
Murid - murid sudah lengkap, dan Yang zi tiba di kelas. Yang zi adalah seorang pria, dia berpakaian hitam, rambut panjang sampai pinggang dengan ikatan rapi. Wajahnya tampan, serba lancip, bibir, dagu, hidung, telinga, alis, pokoknya tampan.
__ADS_1
" Murid - murid ? siapa yang bisa menjawab pertanyaan ini boleh pulang !" kata Yang zi.
" Apa nama pelajaran yang aku ajarkan ?" tanya Yang Zi.
Semua murid serentak dan terpadu menjawab "ilmu pemulihan".
" Sana !, pulang kalian semua !" kata Yang zi sambil melambaikan tangannya.
" Guru ! aku tidak menjawab !" jujur Kailong.
Mendengar ucapan itu, Yang zi melihat Kailong. Menatapnya agak lama.
" Kamu murid baru kan ? murid baru boleh pulang " pinta Yang Zi.
Kailong menoleh pada Zu Wen, mereka berdua berdiri, lalu keluar kelas, diikuti oleh murid - murid lainnya.
" Kailong ! apa kamu tidak merasa aneh, kita belum mulai pelajaran tapi sudah disuruh pulang" kata Zuwen, sambil berjalan.
" Apa anehnya ? apa ada hal khusus ?" balik Kailong, sambil jalan.
" Biasanya guru tidak begitu" jawab Zuwen, sambil jalan.
Zuwen berjalan menuju Rumah Obat bersama Kailong. Di depan pagar Rumah Obat mereka berdiri. Ada seorang perempuan paruh baya sedang menyirami tanaman yang ditanam di sekitar pagar.
" Bibi Lin ! apakah guru Yang zi gagal meracik obat lagi ?" tanya Zuwen.
__ADS_1
Bibi Lin berbalik lalu melihat kedua bocah itu.
" Ya, dia gagal lagi" jawab Bibi Lin.
" Terima kasih Bibi Lin " kata Zuwen, pergi dari rumah obat mengajak Kailong.
" Guru bertindak aneh kalau gagal meracik obat " kata Zuwen, sambil berjalan.
" Kali ini kita yang kena anehnya" sambung Zuwen, sambil jalan.
" Apa saja tindakan aneh guru setelah gagal meracik obat ?" tanya Kailong, sambil jalan.
" Ada beberapa yang ku ingat, yaitu beliau tidak membayar bahan obat pesanan, meminta bayaran dengan harga tidak masuk akal, berhutang dalam jumlah besar untuk membeli air biasa, dan menjual ampas bahan obat dengan harga obat jadi" jelas Zuwen, sambil jalan.
" Pasti itu ada tujuannya kan ?" tanya Kailong, sambil jalan.
" Tujuan apa ?" balik Zuwen, sambil jalan.
" Aku pernah merasa sangat jengkel pada giok merah, aku bisa sedikit membayangkan jengkelnya guru" jawab Kailong, sambil jalan.
" Itu mungkin, aku juga pernah jengkel pada satu buku" kata Zuwen, sambil jalan.
" Sebab apa ?" tanya Kailong, sambil jalan.
" Sebab buku itu sulit dipahami" jawab Zuwen, sambil jalan.
__ADS_1
Mereka berjalan menuju parkiran kereta kuda bangsawan.