Di Atas Ranjang Om Rudy

Di Atas Ranjang Om Rudy
Karma instan Satria


__ADS_3

Satria memegang pipinya yang panas dan kemerahan, di hadapannya Liany sedang berusaha menahan tangis meskipun matanya tak dapat lagi menahan embun di ujung bulu matanya yang tertumpah. Bahu Liany naik turun, rasanya dia masih ingin mencabik-cabik laki-laki yang telah lancang menuduhnya yang bukan-bukan.


“Semoga kau ingat tamparanku sebelum kau berkata kasar pada perempuan yang tak kau kenal!” hardik Liany lagi, dengan kasar dilapnya matanya yang basah lalu mengambil napas panjang. Dia pun masuk ke toilet seperti niatnya semula, ingin ditahan tangisnya itu tetapi apalah daya hatinya sudah terlanjur sakit dan kini dia terisak dalam bilik kecil itu.


Satria yang berada di dekat pintu toilet mendengar samar isak Liany. Tatapan seorang pengunjung wanita melihat membuat Satria tersadar dan meninggalkan toilet itu segera. Ada sesal yang sedang menelusup di hati Satria yang membuatnya gelisah. Satria sengaja melewati Om Rudy untuk melihat wajahnya lebih jelas lagi.


“Iya, Papa lagi temani Liany belanja, sekalian makan siang, iya, gak lama kok bentar lagi pulang, iya Sayang. Liany lagi di toilet. Ok, love you too, Katrin Dewinta.” Laki-laki itu menutup telponnya. Sepintas kalimat itu terdengar di telinga Satria, bahkan nama Katrin pun tertangkap oleh telinganya. Satria kembali duduk dan melanjutkan makan siangnya tanpa memperhatikan apa yang tengah disantapnya. Pikirannya sibuk menerka hubungan apa Liany, laki-laki itu dan nama Katrin Dewinta, nama yang sama dengan nama wanita yang kerap mengunjunginya.


Liany memandang wajahnya di cermin, tersisa sedikit memerah pada hidung dan matanya, dirinya berharap jika om Rudy tak banyak bertanya melihat wajahnya itu. Dipandanginya telapak tangan kanannya, masih memerah dan terasa sedikit nyeri. Seumur hidupnya baru kali ini dia memukul seseorang. Dari awal Liany tak suka dengan laki-laki ceroboh yang telah menabraknya, dia tak pernah berharap akan bertemu lagi dengannya lalu beberapa menit yang lalu dengan tajamnya dia menghina dirinya. Tamparan sekeras itu dirasanya sepadan atas tuduhan yang diucapkan Satria.


Demian masih sibuk dengan ponselnya, juga Dora melakukan hal yang sama, mereka berdua menunggu Satria yang baru saja selesai makan. Demian melirik ke arah Satria yang terlihat seperti sedang menunggu seseorang.


“Engh … Pak Bos, itu pipi kenapa sampai merah gitu? Kek habis digampar,” Demian menegur pipi Satria yang tampak memerah dan ada bekas jari.


“Iya, ada perempuan gila di toilet yang nyerang aku, katanya aku mau ngintip, sialan!” gerutu Satria.


“Parah itu Pak Bos, sampai merah gitu, pasti pake kekuatan penuh tuh perempuan gamparnya,” sahut Dora juga.


“Gak perlu dibahas lagi!” hardik Satria pada kedua bawahannya. Matanya terfokus pada Liany yang berjalan mendekati om Rudy dan keduanya langsung beranjak pergi. Wajah Satria masih kusut dan memerintahkan mereka untuk meninggalkan juga tempat itu.


Dora mengekor pada Damian, dia masih sibuk membalas beberapa pesan dan ketika wajahnya terangkat pandangannya tepat pada seseorang yang dikenalnya.


“Liany! Heey… Liany!” Dora melambaikan tangannya lalu bergegas memburu perempuan yang tadi telah berseteru dengan atasannya.

__ADS_1


“Deborah?” tanya Liany memastikan, lalu keduanya saling berpelukan erat.


“Astaga, kamu apa kabar Deb?” lanjut Liany lagi setelah mereka melepaskan pelukan masing-masing.


“Ini suami kamu?” tanya Dora pada sosok di samping Liany.


“Ouh … bukan, ini pamanku, Om Rudy Hermawan, Om kenalin ini Deborah teman kampus Lia dulu.” Keduanya saling berjabat tangan dan menyapa.


“Kamu kok bisa di kota ini? Aku pikir kamu kerja di kota M,” tanya Liany antusias.


“Aku lagi ada kerjaan sama timku di kota ini, dikontrak sama Dunant, tuh bos aku!” tunjuk Dora pada punggung Satria yang menjauh tetapi Liany hanya melihat Demian saja.


“Nomer ponsel kamu berapa Li? Nanti aku hubungi kamu lagi, bosku udah jalan takut ditinggal,” minta Dora dengan tergesa. Mereka saling bertukar nomer ponsel dan saling memeluk sekali lagi kemudian berpisah.


“Iya, Om, dia itu udah tomboy dari kecil, tapi masih cewe tulen kok, maksud Lia, dia masih suka laki-laki. Aslinya dia itu cantik banget,” terang Liany. Mereka berjalan beriringan dan tanpa sadar om Rudy merangkul pinggang Liany dan membantunya untuk menuruni tangga berjalan. Keduanya memang tampak mesra seperti pasangan suami istri, perawakan om Rudy yang berbadan tegap serta paras yang tampan membuatnya sama sekali tak terlihat jika umur mereka terpaut jauh.


Satria mengelus pipinya yang masih memerah, tiba-tiba kulitnya terasa gatal dan bengkak. Digaruknya dan semakin terasa gatal. Kepalanya juga mulai pusing.


“Demian! Tadi kamu pesan nasi goreng apa?” tanya Satria yang setibanya di rumah sewa mereka mendadak mengalami gatal-gatal.


“Ada apa, Pak Bos?” tanya Demian yang segera menghampiri Satria yang Nampak kulitnya kemerahan dan ada bentol-bentol yang besar.


“Di food court tadi kamu pesan nasi goreng apa?” tanya Satria yang nafasnya mulai tersengal.

__ADS_1


“Nasi goreng jamur seafood, Pak Bos,” Demian menjawab dengan ragu-ragu, jelas terlihat ada yang salah dengan atasannya itu.


“Aku alergi berat dengan jamur. Antar aku sekarang ke rumah sakit, jika aku terlambat ditangani maka kalian sudah membunuhku!” gertak Satria yang sukses membuat Demian ketakutan. Segera dia mencari kunci mobil Satria dan memapah bosnya yang sudah kesulitan untuk bernapas. Dilajukannya mobil itu dengan kecepatan penuh, Demian sadar jika bosnya terlambat ditangani maka akan berakibat sangat fatal. Di samping Demian, Satria mulai melemah dan kesadarannya mulai berkurang. Syukunya lokasi rumah sakit tidak terlalu jauh dari rumah sewa Satria dan timnya.


Satria dinaikkan ke brankar karena sudah hampir tak sadarkan diri, kulitnya mengalami ruam kemerahan. Demian pun menelpon Dora dan Chiko mengabarkan jika Satria dibawa ke unit gawat darurat karena alergi parah yang dialaminya. Perasaan Satria seperti melayang, yang diingatnya hanya wajah Liany yang marah kepadanya. Sungguh dia merasa bersalah dan seketika mendapat hukuman atas perkataannya yang telah menyakiti wanita hamil itu.


“Lia… Liany … Lia ….” racau Satria sebelum akhirnya merasa tertidur di dalam ruangan itu.


Liany merasa lelahnya menghilang ketika dia membuka kembali belanjaannya, baju-baju bayi yang dipilihnya tampak sangat lucu dan menggemaskan. Dipeluknya baju-baju itu seakan dia tengah memeluk bayinya sendiri.


“Mama gak sabar lagi ketemu dengan kamu, Nak. Pasti kamu akan terlihat tampan seperti mendiang papamu,” ujar Liany lembut sambil mengelus perutnya. Setelah merapikan kembali belanjaannya, Liany menuju dapur untuk menyimpan apa yang telah dibelinya tadi. Suasana dapur sepi tanpa bi Inah yang selalu menemaninya mengobrol. Myla belum pulang dan tante Katrin entah pergi kemana lagi setelah dari salon langganannya.


“Kenapa kamu gak istirahat, Lia?” om Rudy tiba-tiba saja sudah berada di belakangnya.


“Ouh, Om, Lia cuma mau simpan belanjaan dulu di kulkas. Om butuh sesuatu?” tanya Lia yang berdiri di depan kulkas yang terbuka lebar.


“Om cuma mau ambil ini,” jawab om Rudy sambil mendekati Liany, sekotak jus jeruk berada di belakang Liany. Jarak mereka sangat dekat, om Rudy bisa menghirup aroma tubuh Lia yang bercampur dengan parfum yang samar. Jantung Om Rudy mendadak berdetak kencang berhadapan dengan Liany sedekat itu. Liany menahan napas, dia tidak sempat menyingkir dari kulkas itu ketika om Rudy mengambil kotak jus jeruk di belakangnya. Ada perasaan aneh yang menjalari hati Liany yang segera ditepisnya kuat –kuat.


Setelah menata belanjaannya di kulkas, Liany kini benar-benar merasa lelah. Di ruang tengah dia melihat sekeliling, tak terlihat om Rudy di sekitar ruangan itu. Liany mencoba bersantai sambil menyalakan TV, diselonjorkannya kakinya yang terasa pegal dan mulai bengkak. Tak lama dia jatuh tertidur, remote itu terjatuh ke lantai. Om Rudy yang melintas di ruangan itu menatap sejenak Liany yang tertidur. Wajah cantiknya terlihat damai dalam tidurnya. Bibir merah muda alami, wajah yang jarang dipoles tetapi semua itu tak mengurangi kecantikan alami Liany. Om Rudy memungut remot yang jatuh ke lantai, Liany bergerak pelan dalam tidurnya terlihat peluh di dahi dan keringatnya. Laki-laki itu pun mencari remote pendingin udara dan menurunkan suhu agar perempuan di depannya itu merasa tidur dengan nyaman.


Om Rudy pun berbalik menuju ruang kerjanya, tetapi sebelum masuk ke ruangan itu, Liany memekik kecil sambil mengaduh kesakitan. Segera om Rudy bergegas menghampiri Liany yang sudah tampak ingin menangis.


“Kamu kenapa?” tanya om Rudy cemas.

__ADS_1


“Betis Lia, Om … awwwhhh … sakiit … sakit sekali, otot betis Lia tegang dan kaku, rasanya sakit!” seru Lia yang baru pertama kali mengalami kejang di otot betisnya. Om Rudy berjongkok, disentuhnya betis yang putih mulus itu, refleks Liany berpegang pada bahu Om Rudy dengan meringis kesakitan.


__ADS_2