
Menjelang tengah malam Om Rudy baru pulang ke rumah, tampangnya kusut, jasnya hanya disampirkan di bahunya dan dasinya sudah tidak terpasang lagi di lehernya. Rumahnya sudah gelap, hanya lampu ruang tengah saja yang menyala. Om Rudy mengambil air dingin dari kulkasnya, segelas itu habis tetapi belum bisa menghilangkan rasa berat di kepalanya akibat minuman keras. Tante Katrin yang tahu suaminya pulang segera keluar kamar dan heran melihat tampang suaminya yang kusut masai.
“Papa dari mana sampai pulang-pulang kayak gini?” tanya Tante Katrin lembut.
“Tadi ada klien dari luar, kami berhasil membuat kesepakatan besar dan Papa diundang untuk merayakannya,” jawab Om Rudy sambil melepas dasinya. Tante Katrin bergerak pelan dan mendekati Om Rudy, diendusnya baju suaminya yang bau minuman keras.
“Papa sepertinya minum banyak, ingat, Papa harus jaga kesehatan, jangan ikuti mereka yang terbiasa seperti itu.” Tanta Katrin mengelus dada suaminya. Sesaat mereka saling bertatapan, Tante Katrin mendekatkan wajahnya dan mendaratkan bibirnya pada bibir Om Rudy. Tante Katrin sedang menunggu balasan suaminya tetapi sepertinya Om Rudy sedang tidak ingin dan ciuman itu hanya berlangsung singkat.
“Papa ada masalah ya? Akhir-akhir ini Papa terlihat gelisah dan jadi pendiam. Apa perusahaan ada masalah, Pa?” pancing Tante Katrin agar suaminya mau berbicara jujur kepadanya.
“Perusahaan baik-baik saja, Ma, gak ada masalah. Papa baik-baik saja kok, Mama gak usah khawatir.” Om Rudy menghela napas panjang tentu perkataannya itu sangat kontras dengan apa yang dilihat Tante Katrin.
“Rud, aku kenal kamu bukan kemarin, kita sudah bersama sudah lama, berbagi susah senang sama-sama, aku tahu kamu tidak sedang baik-baik saja.” Tante Katrin akhirnya tak dapat menahan diri lagi.
“Kat, aku sedang capek, jangan sekarang,” elak Om Rudy yang kemudian berdiri dan meninggalkan Tante Katrin menuju kamar mereka.
“Rud, tunggu!” Tante Katrin pun menyusul suaminya yang berjalan gontai, tetapi Om Rudy tidak mempedulikan panggilan Tante Katrin.
Om Rudy sedang berganti pakaian, dia hanya mencuci mukanya dan mengenakan celana piyama tidurnya saja.
“Rud, ada apa? Apa ada yang salah sama aku? Apa ada yang tidak beres dengan kita? Atau ada yang tidak beres sama kamu?”
“Kamu gak usah mikir yang macam-macam, Kat. Aku bilang gak sekarang, jangan sekarang, aku benar-benar sedang cape!” Suara Om Rudy agak tinggi yang membuat Tante Katrin terkejut.
“Kamu gak pernah seperti ini dua dekade belakangan ini, Rud. Tetapi setelah Liany keluar dari rumah ini kamu berubah, kenapa? Kamu menyukai janda muda itu? Kamu merindukannya ‘kan Rud?”
“Katrin! Kamu ngomong apa sih? Kenapa kamu bawa-bawa nama Liany?!”
“Kamu jangan pura-pura gak tahu, Rudy! Kamu diam-diam suka berkunjung ke rumah dia ‘kan? Untuk apa, karena Rangga atau mamanya?!” suara mereka berdua semakin sengit.
“Jangan menuduh tanpa alasan yang jelas, Katrin!” sergah Om Rudy mulai emosi.
“Alasan yang jelas? Aku punya alasan yang jelas Rudy! Kamu mulai bohong sama aku, hati kamu sudah tidak setia lagi dengan pernikahan kita! Kenapa harus Liany, Rudy, kenapa harus dia?!” pipi Tante Katrin mulai basah dengan air matanya. Om Rudy terhenyak dengan apa yang didengarnya barusan.
“Kat, please, hentikan ini. Aku mau istirahat.” Om Rudy melunak. Dia mengambil baju piyamanya dan mengambil bantal yang biasa dipakainya. Om Rudy membuka pintu dan menuju ruang kerjanya, malam ini dia butuh sendiri. Dia hanya ingin sendiri dulu, menjernihkan pikirannya yang kalut dan tersulut emosi.
Tante Katrin memandangi pintu kamarnya yang tertutup, jantungnya berdebar keras dan lututnya terasa lemas. Dia tidak percaya dengan yang terjadi barusan, sudah lama mereka tidak bertengkar seperti ini. walaupun mereka pernah bertengkar tetapi bukan karena perselingkuhan, mereka hanya bertengkar soal lain. Bahu Tante Katrin berguncang, dia duduk di tepi ranjangnya yang dingin dan memeluk dirinya sendiri. Rasanya dia tak percaya jika suaminya bisa mendua hati seperti ini, hatinya begitu terluka dan kecewa.
Myla menatap papa dan mamanya bergantian,sarapan di meja makan pagi ini benar-benar tanpa suara dari keduanya. Bahkan mamanya berusaha berdandan agak lebih untuk menutupi matanya yang bengkak dan menyamarkan kantung matanya. Papanya pun meski terlihat sudah rapi tetapi tak bisa menyembunyikan kerut pikiran di dahinya.
__ADS_1
“Papa dan Mama kenapa sih? Biasanya Papa dan Mama cerita apa aja di meja ini tetapi kok ini kayak kuburan, sepi banget,” ujar Myla mencoba memecah kebisuan ketiganya. Mendengar putri mereka menyadari sikap mereka, Tante Katrin dan Om Rudy mencoba mengelak.
“Mungkin kepala Papamu masih pengar karena minum-minum semalam dengan kliennya,” jawab Tante Katrin sambil menyodorkan roti bakar untuk suaminya juga kepada Myla.
“Mama habis nangis yaa semalam? Mata mama bengkak begitu,” selidik Myla lagi. Tante Katrin menatap Om Rudy yang juga sedang melihat ke arahnya.
“Aahh enggak, kamu tahu kan kalau Mama sakit kepala kadang mata Mama sampai berair gitu? Habiskan sarapannya cepat, jangan sampai kamu telat ke kantornya.” Tante Katrin masih berusaha menutupi pertengkaran mereka semalam.
“Oh iya, Myla, Papa tunggu laporan kantor kamu nanti siang ya, supaya bisa melengkapi laporan lainnya. Papa berangkat duluan.” Om Rudy berdiri dan mendekati Myla lalu mengecup puncak kepala putrinya. Om Rudy mendekati Tante Katrin dan mengecup sekilas pipinya, tetapi Tante Katrin menanggapinya dengan dingin. Hal yang tidak biasa dilihat oleh Myla. Papanya pun menghilang dari ruang makan sesaat setelahnya terdengar raungan mobil Om Rudy meninggalkan halaman rumah.
“Ma, bener Mama gak apa-apa?” tanya Myla mendekati Tante Katrin sambil memindai wajah mamanya.
“Mama baik-baik saja, kamu gak perlu khawatir, berangkat gih nanti telat lagi.” Tante Katrin menyunggingkan senyumnya. Myla pun tersenyum dan memeluk mamanya sesaat.
“Myla jalan dulu ya, Ma,” ujar Myla setelah mengecup kedua pipi Tante Katrin.
“Hati-hati di jalan, Sayang.” Tante Katrin pun kembali ke kamarnya, mematut dirinya di depan cermin. Dilihatnya ponselnya, dirinya menimbang sesaat.
“Aku harus menyelamatkan pernikahanku, aku tidak percaya jika Liany sudah menggoda suamiku, pasti ada penjelasannya.” Tante Katrin menekan kontak Liany.
“Lia, kamu ada waktu nanti siang? Tante mau ketemu tapi di restoran saja ya sambil makan siang. Iya, iya nanti Tante share loc di WA kamu. Tante tunggu ya, bye.”
“Suamiku hanya mengalami puber kedua, ini tidak akan lama, dia harus kembali kepadaku dan Myla segera.” Tante Katrin pun menghela napasnya lalu bersiap menuju kantornya.
Myla menatap layar komputernya, tetapi pikirannya sama sekali bukan pada angka-angka yang ada di depannya melainkan pada kedua orang tua mereka yang terlihat aneh pagi ini. Terlebih pada papanya yang dirasakannya beberapa waktu ini seperti sedang menyimpan sesuatu. Semalam dia mendengar jika papanya pulang sangat larut malam.
“Ada apa dengan mereka yaa?” gumam Myla pelan. Dicobanya lagi untuk berkonsentrasi tetapi malah ingatannya jatuh pada Satria dan Liany yang pernah terlihat bersama.
“Apa mereka saling kenal? Kenapa mereka terlihat begitu akrab? Duuuuh … kok jadi banyak pertanyaan begini siiiih?” Myla menepuk dahinya dengan keras. Ponsel Myla mendentingkan suara notifikasi, sebuah pesan masuk. Myla melihat pengirimnya, Demian.
[Pagi, kalau kamu ada waktu siang ini temani aku kontrol lagi ya, obat penghilang nyeriku sudah habis]
Myla menghembuskan napasnya panjang, Demian menambah rasa gemas di hati Myla pagi ini.
[Ok, baik, nanti aku jemput di kantor kamu.] balas Myla cepat.
“Aaarrgghhh menyebalkan banget sih hari ini?!” gerutu Myla di depan komputernya.
Kepala Liany sedikit pusing, setelah terbangun dari mimpinya semalam dia tidak bisa tertidur lagi. Pagi ini badannya merasa tidak enak tetapi karena baru bekerja rasanya tidak etis jika dia meminta izin karena sakit. Untungnya Rangga bukan tipe bayi yang rewel sehingga dia tenang saja dibawa ke tempat penitipan anak. Ruangan kantornya yang bersama Satria sudah dibereskannya, bahkan dia sudah membuatkan kopi krim kesukaan Satria.
__ADS_1
Liany sedang menatap layar laptopnya untuk menyusun berbagai surat ketika Satria tiba di ruangan itu. Ada bungkusan yang dibawa Satria dan mengeluarkan aroma khas.
“Pagi Pak Bos, untuk hari ini kita hanya punya satu janji dengan klien dan—“
“Ayo temani aku sarapan!” potong Satria sambil mengeluarkan roti lapis yang masih panas. Liany hanya memandangi roti lapis yang diletakkan di mejanya.
“Lia, roti ini tidak akan habis jika hanya dipandangi saja!” seru Satria lagi.
“Sa-saya sudah sarapan tadi di rumah, Pak Bos. Terima kasih.” Liany kembali memandangi layar laptopnya tanpa berkedip, kepalanya semakin terasa berdenyut.
Tiba-tiba Satria mengambil satu kursi di pojokan lalu duduk di depan meja Liany dengan dia potong roti lapis yang dibelinya tadi.
“Aku bilang temani aku sarapan, terserah kalau kamu mau makan atau tidak.” Satria mulai menyantap rotinya itu dengan nikmat. Roti dengan berbagai isian yang bentuknya memanjang. Liany menghela napas, dia berjalan ke arah dispenser dan mengambilkan segelas air putih.
“Terima kasih, sekretarisku yang cantik,” ujar Satria dengan mulut yang penuh, wajahnya dibuat jenaka agar bsia melihat senyum Liany yang belum terlihat pagi ini. Namun, yang terjadi justru Lainy hanya mendelik dan tidak tersenyum sama sekali.
“Ayolah, makan sedikit saja, ini roti yang enak,” bujuk Satria lagi sambil menyodorkan roti yang masih utuh itu. Liany akhirnya mengalah dan mulai menggigit roti yang sudah dibuka oleh Satria. Selera mereka tidak jauh beda dan Liany setuju jika roti itu memang enak.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Satria yang memperhatikan Liany yang sedikit lesu.
“Semalam aku kurang tidur, jadi aku—“
“Apa Rangga sakit?” potong Satria cepat.
Liany sedikit terhenyak, perhatian Satria begitu besar pada Rangga hingga menyangka kurang tidurnya Liany karena Rangga sakit.
“Engh … tidak, dia tidak sakit, dia baik-baik saja.”
“Lalu ada apa sampai kau gelisah dan tidak bisa tidur?”
Liany sesaat berpikir, ini jam kantor, rasanya tidak etis jika dia membicarakan masalah pribadinya.
“Mungkin lain kali saja aku cerita, ini jam kantor sebaiknya kita bekerja saja sekarang.”
“Ini kantorku dan sebagai pegawaiku aku berhak tahu masalah apa yang tengah terjadi, aku tidak mau sampai kinerja pegawaiku terganggu karena masalah yang dihadapinya.” Satria berkata serius sambil melipat tangan di dadanya. Mata Satria penuh selidik yang membuat Liany salah tingkah.
“Sat, kamu tahu ‘kan kalau selama ini aku ditampung oleh Tante Katrin dan Om Rudy. Masalahnya, Om Rudy ternyata menyukaiku dan memintaku jadi istrinya, aku belum pernah menghadapi kegilaan ini sebelumnya. Aku tidak mungkin menjadi wanita kedua di antara mereka. Aku takut, Sat.”
“Jalan satu-satunya agar aku bisa melindungimu penuh adalah kita menikah, Liany,” ujar Satria. Laki-laki itu mengambil tangan Liany dan menggenggamnya dengan erat. Disaat yang sama Demian masuk bersama Dora dan mereka melihat jelas Satria yang tengah menggenggam mesra tangan sekretarisnya itu.
__ADS_1